
"Sica, Ayah mohon padamu. Lepaskan ibu mertuamu. Ayah tahu dia memang bersalah, tapi kau tidak perlu sampai membunuhnya!!"
Jessica menyeringai. "Oke, tapi aku punya satu syarat. Ceriakan dia dan usir wanita ular ini dari sini!!"
Sontak kedua mata Tuan Nero membulat sempurna. "APA?!" Dia memekik dengan keras setelah mendengar permintaan gila Jessica. Wanita itu memintanya untuk menceraikan dan mengusir nyonya Mona dari rumahnya.
Tuhan Nero menggeleng, menolak permintaan gila menantunya. "Tidak!! Aku tidak bisa melakukannya, bagaimana hidupku jika tanpa dia? Kami berdua saling mencintai dan tidak bisa terpisahkan!!" Jawab Tuan Nero menegaskan.
Mendengar jawaban ayahnya membuat Steven tertawa sinis. Dia begitu hebat dalam mencintai istri mudanya, dan saking besarnya cinta Tuan Nero pada Mona, sampai-sampai dia menolak syarat yang diberikan oleh Jessica padanya.
"Sica, jangan!!" Teriak Tuan Nero melihat cengkraman Jessica pada leher ibu mertuanya yang semakin erat.
"Waktumu untuk berpikir sudah tidak banyak lagi, Ayah Mertua. Nyawa wanita ini ada di tanganmu!!" Jessica menyeringai.
Mona menatap Jessica dengan sinis. Wanita di depannya ini benar-benar berbahaya dan sulit dihadapi, begitukah dia berpikir. Dia benar-benar tidak bisa membiarkan dirinya terus terjebak dan menjadi boneka tawannya. Ia harus bisa melepaskan diri.
"Satu menit. Jika dalam satu menit kau masih tidak bisa mengambil keputusan, maka bersiap-siaplah untuk kehilangan istri tercintaku ini!!"
Tuan Nero menggeleng. "Ayah mohon padamu jangan lakukan itu!! Dia tidak bersalah, Ayahlah yang bersalah. Demi bisa bersamanya lagi, Ayah sampai mengorbankan segala hal termasuk Ibu Steven dan sekarang kau malah ingin membunuhnya?! Tidak Jessica, tidak!! Jangan renggut dia dari sisi Ayah!!" Tuan Nero terus memohon pada Jessica, hingga tanpa sengaja dia membuka rahasia besarnya.
Jessica tersenyum puas setelah mendengar jawaban dari Tuan Nero. Lalu pandangan Jessica bergulir Steven. Dia terlihat mengepalkan tangannya. "Kau sudah mendengarnya? Demi bersama sampah ini, dia sampai mengorbankan ibumu, dan ada kemungkinan jika dialah pembunuh yang sebenarnya!!
"Brengsek!! Jadi kau menjebakku!!" Amarah Tuan Nero memuncak setelah mendengar apa yang Jessica katakan pada Steven. Dia membuatnya membuka rahasianya sendiri secara tidak sadar, dan itu membuat Tuan Nero benar-benar marah besar. "Wanita sialan, kemari kau. Biarkan aku membunuhmu!!"
Tap....
Tuan Nero menghentikan langkahnya saat sebuah pistol mengarah padanya. Dengan refleks, dia mengangkat kedua tangannya sampai sebatas dada. Tuan Nero mundur beberapa langkah kebelakang melihat Steven yang semakin mendekat.
"Yakk!! Apa yang kau lakukan, Steven Nero?! Cepat turunkan senjatamu, dia itu ayahmu!! Jangan berbuat gila!" Teriak Dante melihat apa yang Steven lakukan.
"Jangan ikut campur!!"
__ADS_1
Dorrr...
Steven melepaskan tembakannya kearah Dante, lebih tepatnya kearah lantai tempatnya berpijak. Itu hanyalah tembakan peringatan saja, karena jika Steven memang sengaja membunuhnya, peluru itu pasti sudah menembus jantungnya.
Tubuh Dante gemetar hebat akibat ketakutan. Steven membuatnya nyaris terkena serangan jantung dadakan. Tubuh lelaki itu sampai tersungkur di lantai dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Dante, kau tidak apa-apa?!" Buru-buru Mona menghampiri putranya setelah dia lepas dari cengkraman Jessica. Dante menggeleng, lalu pandangan Mona bergulir pada Steven. "Kau benar-benar sudah tidak waras. Kalian berdua pasangan yang tidak waras!!" Teriaknya emosi.
Mengabaikan ibu dan anak tersebut. Fokus Steven kembali pada Tuan Nero. Tubuh lelaki paruh baya itu sampai gemetaran karena ulah putranya sendiri. "Steven, jangan lakukan ini padaku. Karena bagaimana pun juga aku adalah ayahmu, ayah kandungmu!!"
"Katakan padaku, kenapa kau membunuh mama? Kenapa kau harus menghabisinya?!" Tanya Steven, dia mencoba mempertahankan kewarasannya. "Karena wanita itu, hanya karena dia kau merenggutnya dariku?!"
Tuan Nero menggeleng. "Bu..Bukan begitu, Nak. Kau sudah salah paham pada, Papa. Se..Sebenarnya Papa~!!"
"Aku tidak butuh penjelasanmu, tapi aku butuh kejujuranmu. Iya atau tidak?!"
Tuan Nero akhirnya mengangguk, membenarkan jika kematian ibu Steven memang karena perbuatannya. Awalnya dia berencana menyingkirkan keduanya, tetapi Steven malah berhasil selamat.
"STEVEN, JANGAN!!"
DORRR...
Steven melepaskan tebakannya kearah Mona, namun dihadang oleh Dante yang tiba-tiba berdiri di depan wanita itu dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi ibunya. Alhasil Dante pun tersungkur dengan darah segar yang mengucur dari dada sebelah kirinya.
Nyonya Mona yang terkejut langsung histeris melihat putranya meregang nyawa di depan matanya. Parahnya lagi itu demi melindungi dirinya. "Tidak, tidak, tidak. Dante, cepat buka matamu. Jangan menakuti, Mama. Dante, Mama mohon."
"Steven, kau benar-benar keterlaluan. Kau iblis, kau membuat seorang ibu kehilangan anaknya!!" Teriak Tuan Nero emosi.
Steven menyeringai dingin. "Kalau begitu akan ku kirim dia untuk menemani putranya!!" Kembali Steven mengangkat senjatanya dan mengarahkannya pada Mona. Tuan Nero menggeleng dan berseru kencang.
"STEVEN, JANGAN!!"
__ADS_1
DORRR...
Terlambat, peluru itu lebih dulu menembus kepala Mona dan membuatnya tumbang seketika. Lelaki itu tersenyum lebar. "Ups, terlambat. Tanganku bergerak sendiri," ucapnya tanpa bersalah sedikit pun. Dia baru saja menghilangkan dua nyawa.
Dan sementara itu, Jessica yang melihat kebrutalan suaminya langsung syok. Dia tidak menyangka jika Steven akan membunuh mereka berdua. Dan parahnya lagi, dia tak merasa ragu sama sekali ketika melepaskan tembakan tersebut.
"ARRKKHHH... MONA!!" Tuah Nero memeluk tubuh Nyonya Mona yang sudah tak bernyawa.
Steven pergi begitu saja. Dia tidak peduli dengan teriakan dan tangisan brutal Ayahnya yang begitu kehilangan istri mudanya. Dan apa yang Steven lakukan setimpal dengan apa yang dia lakukan padanya dimasa lalu. Steven baru saja menyingkirkan dua hama yang selama ini menghancurkan keluarganya.
Lelaki itu mendekati Jessica lalu mengajaknya untuk pergi dari sana. Keduanya menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Karena Aster sudah menunggu mereka disana.
-
-
"Akhirnya aku memiliki uang juga. Dengan begini aku tidak perlu jadi gembel dan tidur di kolong jembatan lagi. Dan jika saja aku tau pekerjaan itu benar-benar menguntungkan dan bisa menghasilkan banyak uang, pasti sudah kuambil dari dulu."
Jennie mencium uang-uang ditangannya lalu meninggalkan hotel tempatnya menginap semalam. Jennie yang benar-benar membutuhkan uang akhirnya mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya, yakni dengan menjual diri.
Wanita itu menghentikan langkahnya saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Terlihat pria yang tidur dengannya tadi meminta Jennie untuk masuk. "Kemana kau setelah ini?" Tanya lelaki itu.
"Mencari tempat tinggal, selama ini aku hidup terlunta-lunta dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap." Jawabnya dengan muka memelas.
"Kasihan sekali. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu. Asalkan kau mau menjadi sugar baby-ku!!"
Jennie menyeringai mendengar permintaan pria super kaya di sampingnya ini. Karena memang itu yang dia ingin dengar darinya. Menjadi sugar baby dan hidup mewah dengan segala fasilitas yang memadai. "Tentu saja aku mau. Aku bersedia menjadi sugar baby-mu, Daddy!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.