Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 15: Tidak Tau Malu


__ADS_3

Menunggu... Adalah hal yang paling Jessica benci dalam hidupnya, dan sekarang dia harus menunggu Steven yang pamit pergi sebentar dan tidak kunjung kembali. Jessica tidak tahu kemana perginya lelaki itu, dia hanya memintanya untuk menunggu sebentar namun nyatanya sudah hampir 30 menit tapi yang ditunggu kunjung kembali.


Dan ketika Jessica hendak meninggalkan cafe, sosok yang sedari tadi ia tunggu pun akhirnya datang juga. Namun perempuan itu sudah terlanjur kehilangan moodnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Steven sambil menahan lengan Jessica, namun segera dihempaskan olehnya.


"Pulang!! Aku sudah tidak selera makan lagi!!" Jawabnya dan pergi begitu saja. Namun Steven tak membiarkannya, Jessica belum makan apapun dari pagi dan itu bisa mengganggu kesehatannya. "Apa-apaan kau ini?! Lepaskan aku, Steven Nero!!"


"Kau boleh pulang setelah sarapan. Kau belum makan apapun. Maaf, karena aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama, aku salah."


Melihat Steven yang tulus meminta maaf padanya, membuat Jessica akhirnya luluh juga. Dia mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali ke mejanya. Steven memanggil pelayan untuk memesan, karena Jessica benar-benar sudah kehilangan mood-nya. Meskipun sebenarnya dia sangat lapar, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.


"Kau ingin memesan apa?" Tanya Steven sambil membolak-balik bulu menu.


Jessica mengangkat bahunya. "Terserah kau saja, aku sudah tidak selara lagi. Jadi samakan saja dengan pesananmu!!" Jawabnya sedikit ketus. Steven menghela napas, akhirnya dia memesan menu yang sama untuknya dan Jessica. Perempuan itu sedang ngambek dan kesal padanya.


Tak lama berselang, pelayan datang membawa pesanan mereka. Beberapa kali terlihat si pelayan mencuri pandang pada Steven, wajahnya memerah melihat wajah tampannya. Namun disisi berbeda dia juga terlihat cantik.


"Kenapa kau masih disini?" Tegur lelaki itu melihat si pelayan yang belum beranjak juga.


Pelayan itu pun terhenyak kaget, pertanyaan Steven menariknya kembali ke alam nyata setelah melamun selama beberapa saat. "Apa ada yang ingin Anda pesan lagi, Tuan?" Pelayan itu mencoba bersikap tenang dan biasa saja. Meskipun sebenarnya dia sangat gugup.


Wajah tampan Steven-lah yang membuat pelayan tertarik. Cafenya memang sering kedatangan pria-pria tampan dari kalangan atas, tapi baru kali ini ada kedatangan pria yang auranya sangat berbeda. Perasaannya terasa sangat tenang ketika melihat wajah tampannya, dan poin utamanya jantungnya kini berdetak cepat.


"Tidak!! Kau boleh pergi," jawab Steven tanpa menatap lawan bicaranya. Dan pelayan itu pun pergi.


Jessica tersenyum sinis. "Aku heran pada wanita jaman sekarang, ada saja cara untuk menarik pria yang memikat hatinya, jelas-jelas pria itu sudah beristri!!"


Steven menaikkan alisnya mendengar komentar Jessica yang sedikit menohok itu. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis di wajah tampannya. "Cemburu eh?" Ucapnya dengan seringai yang sama.

__ADS_1


"Dalam mimpimu!! Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk cemburu padamu. Aku hanya tidak suka dengan sikap murahan para pelakor, karena sudah banyak rumah tangga yang hancur karena ulah mereka. Banyak wanita yang tersakiti, banyak anak yang menjadi korban. Seharusnya para wanita murahan seperti mereka dimusnahkan!!"


Steven melihat kebencian yang begitu besar Dimata Jessica. Dia seperti memiliki kenangan buruk dengan wanita penggoda. Mungkinkah dia pernah dikhianati oleh orang yang dicintainya demi wanita lain? Penuh teka-teki.


"Bukan aku, tapi Mama. Saat aku dan Jennie berusia 10 tahun. Orang tua kami bercerai, papa meninggalkan mama demi wanita simpanannya. Dan hal itu yang membuatku tak percaya pada cinta, apalagi cinta sejati. Itulah kenapa aku tidak pernah membina hubungan dengan hati, karena jika memakai cinta sekalinya dikhianati pasti akan terluka. Karena di dunia ini tidak ada pria yang bisa dipercaya!!" Ujarnya membalas tatapan Steven.


"Kenapa kau berpikir demikian? Tidak semua pria itu sama, karena apa yang kau lihat baik belum tentu baik dan yang kau lihat buruk belum tentu buruk. Karena pada akhirnya, kau tetap membutuhkan kehadiran seorang pria untuk menemani masa tuamu."


Jessica mengangkat bahunya. "Entah, aku belum memikirkannya. Dan berhentilah bicara, aku lapar jadi biarkan aku makan sekarang!!"


Steven tersenyum seraya mengacak rambut Jessica. Membuat rona merah seketika muncul dikedua pipinya, seketika Jessica menjadi gugup. Belum pernah Steven memperlakukannya selembut ini. Dan hal itu membuatnya merinding sendiri.


Selanjutnya mereka berdua menyantap sarapannya dengan tenang tanpa perbincangan lagi.


-


-


Perempuan itu terkejut bukan main melihat kedatangan Nyonya Valerie dikediamannya. Dan perempuan itu adalah suster yang saat itu membantu persalinan Jessica, dan orang yang dia suap untuk berbohong mengenai kematian bayinya.


Wanita itupun mempersilahkan Nyonya Valerie untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka berdua kemudian berbincang di ruang tamu. "Bagaimana keadaan bayi itu sekarang, Nyonya? Apakah dia tumbuh dengan baik?"


"Ya, cucuku tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik dan menggemaskan."


"Jujur saja, Nyonya. Selama bertahun-tahun saya tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan bagaimana perasaan putri Anda. Dia pasti hancur saat mengetahui jika bayinya yang baru dia lahirkan ternyata tidak selamat."


"Dia baik-baik saja dan sudah merelakannya. Jadi kau tidak perlu memikirkan tentang perasaannya lagi. Aku datang untuk mengambil cetakan kaki cucuku yang saat itu aku titipkan padamu. Apa kau masih menyimpannya?"


Mantan perawat itu mengangguk. "Ya, saya masih menyimpannya sampai sekarang. Dan jika saya boleh tau, kenapa Anda harus memisahkan bayi itu dari ibunya?"

__ADS_1


"Karena aku ingin putriku memiliki masa depan yang cerah. Pada saat itu dia masih kuliah dan aku tidak ingin orang memandangnya dengan sebelah mata jika mengetahui Jessica memiliki anak sebelum menikah. Dan itu bisa mencoreng nama baik keluarga Valerie," ujarnya.


Wanita itu mengangguk paham. "Tunggu sebentar nyonya, saya ambilkan dulu cetakan kaki itu."


Nyonya Valerie akan terus menyembunyikan tentang identitas Aster dari Jessica. Dia tidak boleh tau jika sebenarnya putrinya masih hidup, dan semua itu semata-mata dia lakukan untuk Jessica juga. Dia tidak ingin putrinya terusir dari keluarga Valerie karena memiliki anak diluar nikah.


-


-


Steven dan Jessica saling bertukar pandang melihat sebuah mobil asing terparkir dihalaman utama Mansion Nero. Keduanya kemudian turun dan melenggang masuk ke dalam. Baik Jessica maupun Steven sama-sama penasaran dengan tamu yang datang.


Dari teras depan. Jessica mendengar suara yang begitu familiar dari dalam sana. Wanita itu bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah tamunya adalah orang yang dia pikirkan? Tapi rasanya tidak mungkin.


Dan setibanya di dalam. Jessica terkejut melihat siapa yang sedang berbincang dengan ibu mertuanya. Wanita itu menyeringai kearahnya. Sepertinya dia sudah tau siapa lelaki yang sedang berbincang dengannya itu.


"Sam, sedang apa kau disini?!"


"Nah, itu Jessica sudah datang. Sica, ada tamu untukmu. Dia sengaja jauh-jauh datang kemari untukmu. Jadi jangan kecewakan dia!!" Kemudian Nyonya Mona bangkit dari duduknya dan pergi dari sana.


Tiba-tiba langkahnya terhenti disamping Steven. Dengan seringai yang sama, dia berbisik di telinga putra tirinya tersebut. "Dia bukanlah wanita baik-baik seperti yang kau pikirkan. Jadi berhati-hatilah!!" Ucapnya dan berlaku begitu saja.


Nyonya Mona sudah tidak sabar menunggu drama selanjutnya. Pasti akan ada adegan yang sangat menyenangkan setelah ini, dan dia sangat menantikannya!!


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2