
Dimalam yang dingin dan sunyi, terlihat seorang dara jelita sedang berdiri sendirian di balkon kamarnya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah langit malam yang tak ditemani bintang-gemintang. Hanya ada bulan di sana, memberi sinar dengan pendar cahaya pucatnya.
Cuaca malam ini memang tidak secarah malam-malam sebelumnya, sebagian langit malam tertutup awan hitam. Membuat bintang-bintang tersembunyi dan membiarkan sang Dewi malam raja langit sendirian.
Angin malam berhembus mengusik kedua matanya yang tertutup, mariuhkan bulu mata lentiknya dengan lembut, menyapa wajah cantiknya dengan desiran dinginnya angin malam. Perhatiannya sedikit terusik oleh kedatangan seseorang, wanita itu menolak dan mendapati seorang pria tanpa berjalan menghampirinya.
Iya memperhatikan pria itu dari ujung rambut sampai ujung kepala. Sebuah celana panjang hitam dan singlet putih yang tak mampu menyembunyikan seberapa bidang dada pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Steven.
Mengabaikan kedatangan suaminya, perhatian Jessica kembali tertuju pada langit malam. Steven berdiri di sampingnya, turut ikut menyaksikan langit tanpa bintang. "Apa yang membuatmu betah berdiri di sini? Malam ini angin cukup kencang sebaiknya kau masuk dan segera beristirahat," pinta Steven.
Jessica menggeleng. Menolak permintaan suaminya. Dia masih ingin menikmati langit malam. "Nanti saja, aku masih ingin disini." Jawabnya menimpali.
Kemudian Steven mendekati Jessica dan membunuh jarak di antara mereka berdua. Pria itu menarik Jessica dan menempatkannya di depan ia berdiri. Kedua tangannya memeluknya dari belakang. Dan apa yang Steven lakukan memunculkan desiran aneh di dada ibu satu anak itu.
Jessica menutup kedua matanya dan bibirnya mengeluarkan geraman pelan ketika bibir Steven mengecupi leher jenjangnya. "Sica, aku menginginkanmu," Steven berbisik pelan dan nyaris tak terdengar, namun telinga tajam Jessica menangkapnya dengan jelas.
"Steven, aku~!!"
Steven melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Jessica, posisi mereka saling berhadapan. Sepasang biner mata milik Steven manik Hazel milik Jessica. "Apa yang kau ragukan? Apa kau masih tidak yakin padaku?"
Jessica menggeleng. "Bukan begitu, hanya saja aku~"
"Aku tidak akan meninggalkanmu apalagi melepaskanmu. Aku tahu kau hanya seorang pengganti, tapi percayalah bagiku kau adalah pengantin yang sebenarnya. Aku justru ingin berterima kasih padamu, apa saja yang aku nikahi hari itu bukan dirimu aku tidak akan menemukan arti sebenarnya dari kata mencintai. Kau hanya perlu mempercayaiku, jika aku benar-benar tulus padamu," Tutur Steven tanpa mengakhiri kontak matanya.
Jessica mencoba menemukan kebohongan dari sepasang bola mata itu, namun tak ada. Hanya ketulusan yang dia lihat. Apakah itu artinya yang Steven katakan adalah perasaan dia yang sebenarnya? Apakah dia benar-benar tulus mencintainya? Jujur saja Jessica masih merasa ragu dan juga takut. Dia takut jika apa yang dialami oleh ibunya juga menimpanya.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan. Dan jangan pernah sia-siakan kepercayaanku ini, dan sekali saja kau menghianatiku. Jangan harap aku akan memaafkanmu, dan dengan tanganku sendiri aku akan membunuhmu!!!"
Steven tersenyum mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Jessica. Steven menarik tengkuk Jessica lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Bagaimana mungkin Steven akan menghianatinya, apalagi Jessica yang membuatnya mendapatkan gelar seorang ayah.
__ADS_1
"Kau hanya perlu mempercayaiku. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu." Bisik Steven sambil mengeratkan pelukannya.
Dengan ragu Jessica mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Steven. Semoga saja pilihannya tepat, Jessica tidak membutuhkan yang sempurna, namun yang dia butuhkan adalah orang yang benar-benar tulus mencintainya.
"Sudah larut malam, ayo masuk." Wanita itu mengangguk. Steven merangkul Jessica dan keduanya meninggalkan balkon.
-
-
"Apa, ada hantu di rumah ini? Dan hantu itu ada di kamar yang aku tempati dan mama kalian?"
Kepulangan Dastan langsung disambut aduan oleh kedua putranya. Mereka memberitahunya jika ada hantu di rumah dan hantu itu berada di kamarnya. Dan tentu saja Dastan tak percaya.
"Jangan membohongi, Papa. Papa pernah tinggal dan tumbuh di rumah ini, dan tidak ada hantu. Jadi jangan mengada-ada!!" Namun Dastan tak percaya dengan aduan kedua putranya.
"Kami berdua tidak berbohong, Pa. Di rumah ini benar-benar ada hantu, dan hantu itu ada di kamar Papa. Bahkan Mama sampai pingsan tadi, hantu itu adalah hantu tuyul. Mama kehilangan uang-uangnya setelah kemunculan hantu itu."
"Dastan, ayo pergi saja dari sini. Aku tidak mau tinggal lebih lama lagi di rumah berhantu ini. Aku mau pergi dari sini, pokoknya aku mau pergi!!"
Dastan menggeleng. "Kita tidak akan kemana-mana, Sayang. Tidak ada hantu di rumah, mungkin itu hanya ilusimu saja."
"Bukan!! Aku tidak berhalusinasi, karena aku melihatnya secara langsung dan hantu itu muncul di depan mataku. Anak-anak saksinya. Pokoknya aku mau~"
Monik tak melanjutkan ucapannya saat tanpa sengaja dia melihat sosok putih berdiri di balkon kamarnya. Sosok berpakaian putih itu berambut panjang dan dia menari-nari sambil melotot kearahnya. Kedua mata Monik membelalak sempurna, dengan kaku dia menunjuk kearah balkon.
Dastan yang penasaran lalu menoleh kebelakang dan tak mendapati apapun di sana. Tapi kenapa istrinya terlihat ketakutan."Ada apa?"
"Ha..Hantu itu ada disana. Pokoknya aku mau pergi, aku tidak mau lagi disini. Aku mau pergi!!"
__ADS_1
"Hantu apa, jelas-jelas tidak ada apa-apa."
Hantu yang Monik maksud selalu menghilang setiap kali Dastan menoleh kebelakang dan muncul lagi setiap kali Monik yang melihatnya. Dan yang dia lihat sekarang sosoknya begitu tinggi dan rambutnya sangat panjang. Dia meliuk-liukkan tubuhnya sambil melambai-lambai ke arah Monik.
"Aaarrkkkhhh!!! Setan!!" Monik berteriak histeris dan akhirnya jatuh pingsan.
Melihat keadaan istrinya Dastan sangat yakin jika Monik mengalami gangguan mental. Dan dia harus segera memeriksakannya ke rumah sakit sebelum Monik benar-benar gila.
Dan sementara itu...
Tubuh Dua pemuda yang cosplay menjadi hantu, Felix dan V oleng kesana-kemari. V menggendong Felix di pundaknya agar mereka terlihat tinggi. V mulai kehilangan keseimbangan karena berat tubuh Felix yang tak ringan.
"Yakk.. Yakk... Yakk..! Jangan banyak bergerak!!" Teriak Felix mulai panik. "Omo, Omo, Omo!!" Felix semakin panik karena V semakin hilang keseimbangan sampai akhirnya ..
Gubrakk...
Keduanya jatuh bersamaan. Akibatnya pantat Felix mendarat dengan sangat mulus di balkon kamar yang mereka tempati. Posisi balkon kamar mereka dan kamar Dastan bersebelahan jadi mereka lebih gampang untuk mengerjainya.
Gubrakk...
"OMO!!" Dan keduanya di kejutan dengan suara keras dari sisi kanan itu. Mirip seperti benda jatuh. Sontak keduanya menoleh dan mendapati sosok berbaju putih yang tersingkir di lantai dengan posisi yang sangat tidak elit.
"Aduh, Suketi jatuh lagi!!"
"HUAAA!!! SETAN!!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.