
Jessica turun dari mobil dan menghampiri lelaki yang terkapar di jalan itu. Matanya tertutup rapat dan tubuhnya tak bergerak sama sekali, tapi bukan berarti Jessica tertipu oleh tipuannya. Pria itu masih hidup dan baik-baik saja. Dia menggunakan cara lama untuk mendapatkan mangsa.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Jessica mencoba mengguncang lengan pria itu, namun tak ada respon. Dia tetap tak bergerak.
Tiba-tiba Steven turun dari mobilnya dan menghampiri Jessica. Dia bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. "Ada apa dengan pria ini? Apa dia masih hidup?"
Jessica menggeleng. "Aku sendiri tidak tau, iya tak bergerak sama sekali." Jawabnya. Tiba-tiba Jessica membulatkan matanya."Omo!! Apa jangan-jangan dia benar-benar sudah mati? Sepertinya akun harus memastikannya,"
Steven memicingkan matanya dan menatap Jessica penasaran. Iya benar-benar tidak tahu dengan apa yang direncanakan oleh istrinya ini. "Kau mau apa?" Alih-alih menjawabnya. Jessica malah tersenyum. Senyumnya sangat misterius dan penuh teka-teki.
Wanita itu mengangkat kaki kanannya yang terbalut heels dan... "AARRKKHH...!! TELORKU!!" Dan ajaib, orang yang tadinya mati langsung berteriak dan bangun seketika setelah telurnya diinjak oleh Jessica. Melihat hal tragis yang dialami pria itu membuat Steven meringis ngilu.
"Hehehe, bagaimana aksiku? Sangat luar biasa bukan? Dan hebatnya lagi, aku bisa membangunkan kembali orang yang sudah mati!!" Ucapnya penuh percaya diri.
"Be..Betina!! A..Apa yang mau lakukan? Kau sengaja Ingin membunuhku ya?!" Ucap pria itu terbata-bata.
"Upss. Jadi kau masih hidup? Aku pikir kau sudah mati, habisnya dipanggil tidak menyahut dan tidak bergerak sama sekali sih." Jessica menyeringai.
Steven tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya ketika sepatu berhak tinggi milik Jessica menginjak dan memecahkan telornya. Steven ngilu sendiri membayangkannya.
Derap langkah kaki menyita perhatian mereka berdua, Steven dan Jessica menoleh dan orang-orang yang sedari tadi berdiri dibalik semak-semak menghampiri keduanya. Jumlah mereka lebih dari lima orang, dan semuanya bersenjata.
Jessica mengikat rambut panjangnya dan merobek bagian bagian bawa gaunnya supaya dia bisa bergerak dengan bebas ketika menghadapi orang-orang ini. Dia begitu bersemangat dan berapi-api, berbanding balik dengan Steven yang terlihat tenang.
"Bedebah!! Betina, berani sekali kau membuat anak buahku menjadi orang yang tidak berguna lagi!! Apa kku sudah bosan hidup, hah?!" Bentak seorang pria dengan bekas luka memanjang di bawah bibirnya. Dan orang itu adalah pemimpin dari para pecundang ini.
"Bukan hanya anak buahmu, tapi kau dan semua orang-orang yang ada di belakangmu itu. Kebetulan sekali aku sudah lama tidak mengirim orang masuk rumah sakit apalagi kuburan!!" Jessica menjawab dengan santainya.
__ADS_1
"Brengsek!! Maju dan bereskan wanita itu!!"
Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi, orang-orang itu menyerang secara bersamaan dan berusaha mengeroyok Jessica. Namun tak dibiarkan begitu saja oleh Steven. Dia menguasai perkelahian itu, lima dari tujuh orang itu dia yang mengajarinya, dan dua lainnya adalah Jessica.
Steven tak bisa menempatkan istrinya dalam bahaya meskipun dia sendiri tau bila Jessica memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik.
Baik Steven maupun Jessica tak kesulitan sama sekali menghadapi orang-orang itu yang hanya preman rendahan. Meskipun mereka semua bersenjata, namun hal itu tak cukup untuk mengimbangi kemampuan Steven dan Jessica yang jelas-jelas sudah sama-sama terlatih.
Dorrr...
Dorrr...
"Omo!!"
Jessica terlonjak kaget setelah mendengar suara tembakan dari samping kanannya. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Steven. Steven melepaskan dua tembakan dan membuat dua lawannya tumbang seketika.
"Yakkk!! Apa kau sengaja ingin membuatku jantungan?!" Bentak Jessica sambil mengusap jantungnya. "Kenap tiba-tiba menggunakan senjata?"
"Hati-hati," seru Jessica dengan lantang.
Dari jarak lima meter, Jessica terus memperhatikan jalannya perkelahian. Dia benar-benar terperangah dan terkagum-kagum melihat kemampuan Steven. Dia memiliki kemampuan bela diri yang sangat sempurna.
Dan kurang dari lima menit, Steven berhasil membereskan mereka bertiga. Semua meregang nyawa setelah tubuhnya tertembus oleh peluru yang dia lepaskan. Steven menyimpan kembali senjatanya lalu menghampiri Jessica.
"Kau tidak apa-apa?" Steven memastikan.
Jessica menggeleng. "Aku tidak apa-apa, tapi kau yang tidak baik-baik saja. Kau terluka dan lukamu perlu di obati," dia menunjuk luka gores di tulang pipi kanan Steven.
__ADS_1
"Hanya luka kecil saja, tidak perlu cemas. Ayo, kita sudah hampir terlambat," Jessica mengangguk. Steven merangkul bahu istrinya, keduanya berjalan beriringan menuju mobil Steven. Dan Luka itu hanya di tutup plester.
Dan halangan kecil yang baru terjadi membuat mereka berdua hampir saja terlambat tiba di acara pameran.
-
-
Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya Jennie tiba di Korea, berkat bantuan ibunya ia bisa kembali ke negara asalnya. Saat ini Jennie sedang dalam perjalanan menuju kediamannya, iya dijemput oleh sopir ibunya.
Dan saat berhenti di lampu merah, tanpa sengaja Jennie melihat Jessica bersama seorang lelaki tampan. Mereka berdua terlihat dekat dan akrab, namun sayangnya Jennie tidak tahu siapa lelaki itu. Jennie benar-benar dibuat pesona oleh ketampanannya, sangat berbeda jauh dengan kebanyakan pria yang ia temui dan kencani selama ini.
"Nona, bukankah itu Nona Jessica dan suaminya,"
Jennie memicingkan matanya. "Suaminya?" Dia mengulang ucapan sopirnya. Lelaki paruh baya itu mengangguk. "Kau pasti salah mengenali orang, tidak mungkin itu adalah suaminya. Karena yang di Jessica nikahi adalah pria lumpuh dan berwajah buruk rupa, sedangkan dia tampan rupawan."
"Justru Anda yang salah, Nona. Karena pria yang dinikahi oleh Nona Jessica bukanlah orang lumpuh dan buruk rupa seperti yang selama ini kita ketahui. Tuan Muda Steven adalah lelaki yang normal, dia tidak cacat apalagi buruk rupa. Awalnya saya juga terkejut dan tidak percaya, tetapi memang itulah faktanya. Fakta jika Tuan Muda tidak cacat dan dia adalah seseorang yang sangat tampan." Ujar sopir itu menuturkan.
Rasanya Jennie tidak percaya, bahkan setelah pria itu menjelaskan. Sungguh mustahil, bagaimana bisa seorang pria cacat dan berwajah buruk rupa tiba-tiba menjemput lemah menjadi lelaki tampan dan normal. Atau mungkin memang dia yang telah salah menilai selama ini.
Dan jika benar lelaki yang bersama Jessica itu adalah Steven, itu artinya Jennie telah melepaskan sebuah berlian demi pada batu kerikil. "Tepikan mobilnya. Aku ingin menyapa mereka sebentar."
Sopir itu mengangguk. "Baik, Nona."
Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, tentu saja Jennie tidak akan membiarkan mereka berdua terus bersama. Dia akan berusaha memisahkan Jessica dari Steven, Karena bagaimanapun juga dialah yang awalnya akan di jodohkan dengannya. Dan itu artinya, Steven adalah miliknya!!
-
__ADS_1
-
Bersambung.