Pengantin Pengganti Si Lumpuh

Pengantin Pengganti Si Lumpuh
Bab 19: Harus Dihukum


__ADS_3

Jessica terus memeluk putri kecilnya sepanjang perjalanan pulang. Setelah tiga tahun, akhirnya dia bisa bertemu dan memeluk putrinya yang selama ini dia kira telah tiada. Dan kebahagiaan yang Jessica rasakan saat ini tak mampu dia gambarkan dengan kata-kata lagi.


Jika saja ibunya tak bersikap egois. Pasti dia dan Aster tidak akan berpisah dan gadis kecil itu juga tak akan menerima perundungan dari orang lain. Dan Jessica sangat menyesalkan semua hal buruk yang menimpa putrinya.


Gyutt..


Tangan Jessica terkepal kuat. Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkannya. Bagaimana bisa dia membiarkan orang lain merinding putrinya sementara si perundung tidak mendapatkan imbalan apapun. Dan sebagai seorang ibu, tentu saja Jessica tidak terima ada orang lain menyakiti putrinya.


Lalu pandangannya bergulir pada Steven."Putar balik mobilnya, kita pergi ke Busan!! Aku akan memberi peringatan keras pada anak-anak nakal itu!! Enak saja mereka bisa menyakiti putriku, dan sebagai ibunya, aku tidak terima Aster dirundung oleh lain.


-


-


"Sekarang kau pilih, aku atau ****** itu!!"


Lisa memberikan pilihan pada suaminya untuk memilih antara dirinya atau Jennie. Wanita itu benar-benar tidak tahan dengan sikap Gabriel akhir-akhir ini, dia mulai berubah dan selalu berbohong padanya.


"Lisa, aku baru saja pulang kerja!! Bukannya menyiapkan kopi atau teh untukku, kau malah mengajakku bertengkar!!"


"Untuk apa juga aku menyiapkan kopi ataupun teh untukmu, sedangkan kau sudah tidak menganggapku lagi. Setiap hari kau membohongiku, pulang larut malam beralasan lembur tapi pergi ke hotel dengan ****** itu!!"


Gabriel menggeleng. "Tidak, Lisa. Itu tidak seperti yang kau bayangkan, aku pergi ke hotel bersama Jennie bukan untuk menginap bersama. Jennie membutuhkan bantuanku, dan sebagai seorang teman, mana mungkin aku tidak membantunya disaat dia membutuhkan bantuanku!! Apalagi dia tidak memiliki sanak saudara di sini,"


Lisa tersenyum meremehkan. "Memangnya harus ya, kau sampai sepeduli itu pada orang asing?! Aku sudah muak denganmu, kita tidak bisa melanjutkan rumah tangga ini. Rumah tangga kita sudah tidak sehat lagi sejak Kau memasukkan wanita itu ke rumah ini. Untuk itu, sebaiknya kita bisa saja. Kemasi semua barang-barangmu, dan tinggalkan rumah ini!!"


"Tapi, Lisa~!!"


Lisa pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia mengemasi semua barang-barang suami nya lalu melemparnya keluar."Sekarang kau pergi dari sini, aku sudah tidak Sudi hidup dengan bajingan tak setia sepertimu!!" Lisa melempar semua barang-barang milik Gabriel lalu mengunci pintu rumahnya dari dalam.

__ADS_1


"Lisa, tunggu!!"


Gabriel terus menggedor pintu di depannya, dan memohon supaya Lisa berubah pikiran lalu memaafkannya. Tapi nihil, Lisa tetap tidak mau membukakan pintu itu untuknya.


-


-


Setelah menempuh hampir dua jam perjalanan. Mereka tiba di Busan. Steven menghentikan mobilnya di sebuah panti asuhan yang menjadi tempat tinggal putrinya selama ini.


Steven kemudian turun diikuti Jessica, wanita itu berdiri bersebelahan dengan Steven. Mereka berdua saling bertukar pandang. Sungguh miris, selama ini Jessica dan Steven tinggal dan hidup dalam kemewahan, akan tetapi Putri kecil mereka malah tinggal di tempat yang tidak layak dan serba kekurangan.


Tanpa terasa, Jessica meneteskan air matanya. Dadanya rasanya seperti dihantam bongkahan batu besar, begitu sesak hingga membuatnya nyaris tidak bisa bernafas.


Dan bagaimana bisa masih ada saja yang menyebut bukan salah ibunya sepenuhnya, jelas-jelas dia bersalah dan egois. Demi menjaga nama baik keluarga Valerie dan masa depannya, wanita itu malah mengorbankan Aster. Dan itu yang membuat Jessica tidak terima.


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Membalasnya, atau memberinya pelajaran? Apa kau bisa melakukannya, karena yang melakukannya adalah ibumu sendiri!!"


Jessica menoleh dan membalas tatapan Steven. "Jika dia saja setega itu, Lalu kenapa aku tidak?! Apa hanya dia saja yang boleh mengambil keputusan sepihak dan bersikap seenaknya, dia sudah mengorbankan seorang anak yang tidak bersalah?!"


"Coba Kau bayangkan saja, seorang bayi merah yang baru saja dilahirkan dipisahkan dari ibunya secara paksa lalu ditempatkan di tempat asing. Hidup dengan orang-orang asing, ketika dia mulai tumbuh lalu diperlakukan tidak baik oleh orang lain?"


"Pikirkan!! Memangnya ibu mana yang tidak hancur mengetahui putrinya hidup menderita?!" Ujarnya panjang lebar. Jessica terlihat menyela air matanya. Ini pertama kalinya dia menangis di depan Steven.


Steven menarik Jessica ke dalam pelukannya. Dia memahami betul apa yang wanita itu rasakan. Dia tidak bisa menyalahkan Jessica yang kecewa pada ibunya. Karena jika ia berada di posisinya, Steven pun pasti merasakan hal yang sama.


"Mama kenapa menangis?"


Jessica menggeleng. Wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum di depan Putri kecilnya, meyakinkan padanya jika ia baik-baik saja."Mama tidak menangis, Sayang. Hanya sedikit kelilipan saja. Ayo, sekarang tunjukkan pada Mama anak mana saja yang selalu merundungmu, biar mama jewer telinganya supaya merah seperti tomat."

__ADS_1


Aster mengangguk. "Ayo, biar Aster tunjukkan anak-anak nakal itu pada Mama dan Papa."


Baru juga hendak masuk ke dalam. Seorang wanita tiba-tiba muncul dan menarik lengan Aster dengan kasar, membuat gadis kecil itu seketika langsung menangis kencang. "Hua.. Bibi Minna, sakit!!"


"DIAM KAU!!"


PLAKKK...


Kedua mata Jessica dan Steven membelalak sempurna melihat perempuan bernama Minna itu tiba-tiba menampar Aster dengan keras. Membuat tangis gadis kecil itu semakin keras karena rasa sakit pada pipinya. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Jessica dan Steven langsung naik pitam.


"Brengsek!! Berani sekali kau menampar putriku!!" Bentak Jessica penuh emosi.


Tubuh Minna tersungkur setelah mendapatkan tendangan telak pada ulu hatinya. Tak hanya tendangan saja, tetapi tamparan juga. Jessica menampar pipi Minna sebanyak empat kali sebelum akhirnya menendangnya hingga tersungkur ke lantai.


"Yakk!! Wanita gila, apa yang kau lakukan, hah?!!" Bentak Minna emosi. "Aaahhh!!"


Ketika Minna hendak berdiri Jessica kembali membuatnya tersungkur dengan menendang dadanya. Jessica benar-benar sudah hilang kewarasannya melihat putrinya diperlakukan buruk di depan matanya.


Mendengar keributan di luar. Si pemilik panti pun buru-buru keluar. Untuk melihat apa yang terjadi, dan alangkah terkejutnya dia melihat Minna yang babak belur dihajar oleh Jessica.


"Yakk!! Apa yang kau lakukan pada putriku?! Cepat lepaskan dia!!" Serunya menghentikan aksi bar-bar Jessica, namun di tahan oleh Steven.


"Kau tidak perlu ikut campur urusan mereka berdua. Putrimu layak mendapatkannya, dan kau...!! Sebaiknya segera persiapkan dirimu untuk bertemu denganku di meja hijau!! Aku tidak bisa mentoleransi perbuatanmu pada Aster. Untuk itu, kau harus dihukum!!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2