
Juwita menatap punggung Dave yang tidur membelakanginya.Percakapan mereka terhenti begitu saja karena Dave menerimanya telepon dari asistennya.
Juwita sangat malu saat ini, ungkapan cintanya tak bersambut namun ia tidak marah karena ia tau Dave tidak akan bisa membalasnya.
Entah bagaimana ia besok bersikap pada Dave.Jika bukan permintaan dari Zavier ia tak akan mau menikah dengan Dave meski ia cinta sekalipun.Jika akhirnya Dave tak akan pernah terjadi membalas perasaannya.Untuk saat ini ia akan bertahan sampai nantinya ia lelah sendiri dan pergi meninggalkan semuanya.
Matanya malam ini enggan terpejam padahal besok mereka akan berangkat pagi pagi sekali.Rasa kantuknya menguap begitu saja,ia memutuskan untuk turun dari ranjang melangkah keluar kamar untuk turun kelantai dasar.
Juwita membuka lemari penyimpanan makanan untuk mengambil keripik yang ia simpan.Ia melangkah menuju ruang tengah menyalakan televisi menikmati keripik kentang kesukaannya.
Dave yang saat itu tengah tertidur lelap belum menyadari sang istri tak ada disebelahnya.Pria itu sebenarnya ingin menjawab pertanyaan Juwita tapi ponselnya berdering dan ia harus mengangkat panggilan itu.
Paginya Dave tak menemukan Juwita disebelahnya.Pria itu tampak panik takut Juwita pergi meninggalkannya karena ia tak menjawab ungkapan perasaan wanita itu.
Dave segera beranjak dari tempat tidur memeriksa kamar mandi yang ternyata kosong.Begitu juga di ruang ganti ia tak menemukan keberadaan Juwita.
Pria itu tak menemukan keberadaan Juwita id kamar itu.Dave makin panik namun matanya melirik nakas,disana terdapat ponsel milik Juwita.
Dave melangkah keluar kamar menuju lantai dasar berharap Juwita bangun lebih awal dan memasak di dapur.Tapi bukankah ia sudah melarang Juwita untuk tidak melakukan apapun di sini selama kehamilannya.
Dave tak menemukan keberadaan Juwita didapur selain kedua pelayan yang sibuk memasak.
"Ada yang bisa di bantu Tuan?",tanya salah satu pelayan.
"Tidak ..",jawab Dave.
"Apakah Tuan mencari Nyonya?",tanya pelayan itu lagi.
"Ya...", angguk Dave melangkah meninggalkan dapur.
"Nyonya tidur diruang tengah Tuan",ujar pelayan.
Dave langsung menuju ruang tengah dan benar saja Juwita tidur dengan posisi meringkuk diatas sofa dan televisi yang masih menyala.Dave menatap bungkusan keripik diatas meja, sepertinya Juwita tadi malam menonton disini dan ketiduran.
Dave bernafas lega jika Juwita tidak meninggalkannya.Ia butuh waktu untuk semua pertanyaan yang di ucapkan Juwita semalam.Dia ingin memastikan dulu apa yang ia rasakan saat ini.Dia tak ingin menyakiti Juwita.
Dave mendekati Juwita lalu mengusap lembut pucuk kepala wanita itu."Juwita...ayo bangun!", ucap Dave pelan.
__ADS_1
Merasa tidurnya terganggu Juwita membuka perlahan kedua matanya.Dave adalah orang pertama yang ia lihat.
"Mas...",ujar Juwita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kenapa tidur disini,hm?",tanya Dave.
Juwita menatap sekeliling dan ia teringat jika semalam ia menonton disini ternyata ia ketiduran.
"Jam berapa Mas?",tanya Juwita tanpa menjawab pertanyaan Dave.
"Jam 04:30 pagi",jawab Dave.
"Aku belum menyiapkan pakaian yang akan kamu bawa Mas",ujar Juwita berdiri dari duduknya.
"Eits... nanti saja.Kita akan berangkat menggunakan pesawat pribadi jadi tak masalah jika terlambat.Mandilah!,biar aku saja yang menyiapkan",ujar jawab Dave.
"Tapi Mas--
"Jangan membantah Juwita",ujar Dave kembali dengan wajah dinginnya.
"Baiklah...",jawab Juwita melangkah pergi menuju kamar mereka di lantai atas.
***
Dave dan Juwita diperjalanan menuju Bandara.Keduanya saling diam dan tak ada pembicaraan antara keduanya.
Juwita juga merasa canggung pada Dave setelah pengakuannya tadi malam.Tapi setidaknya ia sudah mengakui semuanya dan tak ada lagi yang perlu ia tutupi.
Mengenai Dave yang merupakan seorang mafia tak masalah bagi Juwita.Itu lebih sedikit menantang bagi Juwita.Ia yakin Dave pasti menjaganya dari musuh musuhnya.
Hingga pesawat kini mengudara keduanya tetap saling diam.Dave sibuk dengan laptop dipangkuan sedangkan Juwita bermain game diponselnya.
"Kamu lapar?",tanya Dave tiba tiba.
"Hmmm sedikit", angguk Juwita.
"Kamu mau makan apa?",tanya Dave.
__ADS_1
Juwita menoleh."Apa yang ada saja Mas",jawab Juwita.
Dave meminta salah satu pramugari untuk menghidangkan makanan untuk mereka.Perjalanan ke New York cukup lama,meski ia tak merasa lapar tapi ia yakin Juwita pasti sangat lapar karena ada janin yang kini ikut makan bersamanya.
Juwita memakan makanan yang dihidangkan oleh pramugari dengan lahapnya.Ia bersyukur tak mengalami mual selama kehamilannya.Tidak tau esoknya apakah ia akan mual atau malah sebaliknya doyan makan.
Dave tersenyum tipis melihat Juwita yang makan dengan begitu lahap berbeda dengan dirinya yang tak bisa makan apapun saat ini karena pagi tadi tiba-tiba ia merasakan mual yang begitu hebatnya membuat mereka harus menunda keberangkatan mereka.
Dan kini lagu lagi perutnya rasanya diaduk aduk karena aroma makanan yang ada dihadapannya.Ia menyingkirkan makanan itu dengan memindahkan kehadapan Juwita.
Sudah lama ia tak tak merasakan mual entah kenapa tadi pagi sebelum mereka berangkat ia memuntahkan isi perutnya.
"Mas...kamu gak makan?", tanya Juwita.
"Untuk kamu saja",jawab Dave.
"Aku sudah kenyang Mas",ujar Juwita.
"Makanannya bikin aku mual",jawab Dave menutup hidungnya dengan telapak tangannya.
"Ha?,tapi kamu belum makan apapun dari tadi pagi Mas.Sarapan kamu berakhir diwestafel karena mual",ujar Juwita.
"Mau bagaimana lagi",jawab Dave.
"Kamu menyiksa Papamu sayang?",batin Juwita mengusap perutnya.
Juwita meminta pramugari untuk membawa kembali makanan milik Dave.Ia tak ingin Dave kembali memuntahkan isi perutnya.
Setelah beberapa jam Juwita tampak tertidur,Dave mengatur kursi Juwita agar sang istri tidur dengan nyaman.
Dave kembali melanjutkan pekerjaannya, sesekali ia melirik Juwita yang kini tidur dengan pulasnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya sampai di New York.Dave dan Juwita sudah dalam keranjang menuju kediaman sang adik.
Dave menatap datar Juwita yang masih tertidur.Wanita itu sudah seperti putri tidur saja yang tidurnya tak terganggu oleh apapun.
Perlahan tangan Dave bergerak menyentuh pipi Juwita yang tampak sedikit berisi.Posisi Juwita yang berbantalkan paha Dave membuat pria itu leluasa menatap wajah polos Juwita saat tidur.
__ADS_1
Dave mengusap lembut pipi Juwita dengan ibu jarinya agar ia tidak menganggu tidur wanita itu.Pria itu tersenyum tipis sangat tipis hingga sopir yang ada didepan yang merupakan anak buahnya tak menyadari jika Dave baru saja tersenyum.Padahal sopir itu diam diam melirik Dave yang tak biasanya membawa wanita dalam kunjungannya.Ini adalah kali pertama ia melihat Dave berdekatan dengan wanita.
...****************...