
Dave menggendong tubuh Juwita yang masih tertidur memasuki kediaman sang adik.Ia membawa Juwita menuju salah satu kamar yang telah disiapkan oleh Daveena.
"Kak Juwita ketiduran di mobil Mas?",tanya Daveena saat Dave keluar dari kamar mereka.
"Di pesawat",jawab Dave.
"Hah?,selama itu?",tanya Daveena.
"Satu jam yang lalu lah",jawab Dave.
"Oh ya Davee...Mas ada keperluan sebentar.Mas titip Juwita ya",ujar Dave.
"Ya Mas...jangan lama,dua jam lagi aku mau berangkat kuliah",jawab Daveena.
"Ya...",jawab Dave melangkah kembali keluar dari kediaman sang adik.
"Mark...kita berangkat sekarang!",ujar Dave memasuki mobilnya dan duduk di bangku penumpang.
"Baik Tuan",jawab Mark ikut masuk dalam mobil dan duduk dibalik kemudi.
"Kau sudah pastikan rumah ini aman Mark.Aku tidak ingin mereka kenapa-napa selama kita pergi",tanya Dave.
"Aku sudah meminta anak buah kita untuk berjaga-jaga dari jauh Tuan agar tidak mengundang kecurigaan musuh",jawab Mark.
"Bagaimana dengan pengiriman senjata kita?",tanya Dave.
"Semuanya lancar Tuan,mereka ingin bertemu langsung dengan Tuan karena mereka puas dengan senjata yang kita kirimkan",jawab Mark.
"Kau tau aku bukan Mark",ujar Dave.
"Saya sudah mengatakan jika Tuan tidak bisa ditemui",jawab Mark.
"Perketat keamanan gudang persenjataan kita Mark.Aku tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi.Oh ya kau sudah menangkap orang yang mencuri senjata kita?",tanya Dave.
"Sudah tuan.Saya mencurigai ada orang kita yang memuluskan rencana mereka",jawab Mark.
"Menurutmu ada yang mencoba mengkhianatiku",tanya Dave.
"Ya Tuan.",jawab Mark.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan kan Mark?,aku serahkan padamu karena aku tidak ingin melakukan hal buruk sekarang.Istriku tengah mengandung",ujar Dave.
"Ya Tuan",jawab Mark yang sudah tau apa yang terjadi pada tuannya itu.
"Aku tak ingin ada kata pengampunan untuk seorang pengkhianat Mark", sambung Dave.
"Ya Tuan,saya mengerti",jawab Mark yang kini harus menggantikan Tuannya untuk mengeksekusi musuh.
Tak lama mobil yang ditumpangi Dave tiba di sebuah gudang besar.Kedatangannya di sambut oleh orang orang yang ada disana Mereka terlihat tegang karena Dave sangat jarang mengunjungi mereka kecuali ada sesuatu yang terjadi.Ya sesuatu telah terjadi yaitu pencurian beberapa senjata yang ada di gudang itu.
Mereka semua mengikuti langkah Dave menuju sebuah ruangan yang cukup luas.Semuanya terlihat menegang saat Dave menatap satu persatu dari mereka dengan tatapan tajam dan dinginnya.
__ADS_1
"Bagaimana ini bisa terjadi?,kalian disini cukup banyak kenapa bisa dua orang bisa menyusup masuk ke dalam sini, kecuali--ada yang mencoba mengkhianatiku",ujar Dave dengan dengan ekspresi iblisnya menatap satu persatu anak buahnya.
"Jawab...?",teriak Dave membuat mereka tersentak kaget.
"Maaf Tuan,saat itu para penjaga persenjataan kita di alihkan oleh salah satu pelaku dengan membuat kerusuhan di bagian samping gudang hingga mereka leluasa masuk",jawab salah satu dari mereka.
"Siapa yang menjaga malam itu, silahkan maju",ujar Dave.
Tiga orang dari mereka maju dengan tatapan lurus kedepan.Keringat dingin sudah membasahi pakaian mereka.Walau terlihat tenang bohong jika mereka tak takut jika sewaktu-waktu Dave membunuh mereka dengan kejam.
"Bukankah gudang dikunci dan kunci itu hanya satu orang yang aku percaya untuk memegangnya yaitu kau Dominic",ujar Dave menunjuk Dominic yang dari terlihat pucat pasi.
"Maafkan saya Tuan",ujar Dominic duduk bersimpuh dihadapan Dave.
"Kau mengkhianatiku Dom?",tanya Dave dengan tatapan tajamnya.
"Saya terpaksa Tuan,saya--
"Kau tau hukuman apa yang akan kau terima jika mengkhianatiku Dom?.Siapa saja yang ikut berkomplot denganmu Dom?",tanya Dave dengan suara meninggi.
"Saya sendiri Tuan",jawab Dom.
"Mark....lakukan sekarang,kirim organnya ke pasar gelap",ujar Dave.
"Ampuni saya Tuan,saya salah...berikan saya satu kesempatan lagi Tuan",mohon Dominic.
"Mark ... sekarang!", teriak Dave.
"Kau tau Dom,aku membenci yang namanya pengkhianat dan kau tau itu",ujar Dave menahan emosinya.
"Untuk kerugian aku tak mempermasalahkannya tapi kau membuatku kecewa Dom.Aku sangka kau akan setia padaku tapi kau menusukku",ujar Dave.
"Mark..."
Dor dor dor
Brug
"Kalian lihat ini akibatnya jika berani mengkhianatiku.Tak akan ada pengampunan walau kalian sudah bertahun-tahun setia padaku",ujar Dave ia diam diam menjatuhkan senjatanya di dekat mayat Dominic membuat semuanya hanya mengangguk.
"Jason..."
"Ya Tuan...",jawab pria berkepala pelontos itu.
"Aku percayakan kunci gudang senjata padamu.Aku harap kau bisa setia padaku",ujar Dave memberikan kunci itu pada Jason.
"Baik Tuan",jawab Jason tersenyum smirk tanpa disadari Dave.
Dave tersenyum iblis membuat semuanya bergidik ngeri.
"Kau salah orang Dave,aku muak dengan tingkah busukmu itu",ujar Jason tiba tiba menodongkan senjata ke kepala Dave membuta semuanya orang terkejut dengan sikap berani Jason.
__ADS_1
Dave tersenyum tipis dengan wajah datar yang mendominasi.Matanya bergerak liar menatap satu persatu musuh yang menyamar diantara anak buahnya.
Dave mengedipkan matanya pada Mark yang berdiri tak jauh dari sana memegangi senjata airsoft gun nya.
"Sekarang!", teriak Dave.
Dor dor dor
Jason jatuh tersungkur saat seseorang menembaknya dari belakang.
"Dominic...",gumam Jason menatap pria itu yang ternyata masih hidup.
"Jason...kau ingin aku seolah olah yang menjadi pelakunya bukan tapi kau salah orang Jason.Tak semudah itu mengelabui seorang Dave.Lihatlah anak buahmu dengan mudahnya kami menangkapnya",ujar Dominic yang harus membuta sandiwara demi membuktikan keterlibatan Jason yang menjadi pengkhianat.
"Siksa dia hingga dia sendiri yang menginginkan kematiannya.Dan untuk anak buahnya kirim organnya ke pasar gelap?",ujar Dave lalu melangkah meninggalkan ruangan itu seiring dengan erangan dari Jason.
"Mark kau tau ikut?",tanya Dave saat Mark mengikutinya dari belakang.
"Itu bagian Dom,Tuan",jawab Mark membukakan pintu untuk Dave.
"Kita pulang Mark",ujar Dave diangguki Mark yang masuk kedalam mobil dan duduk dibelakang kemudi lalu melajukan mobil itu meninggalkan gudang.
***
"Mas...kenapa lama sekali?", sungut Daveena.
"Ini belum dua jam Davee",jawab Dave melangkah memasuki kamar.
"Ck... selalu saja begitu", ketus Daveena keluar dari rumah.
"Kak Mark... ayo kita berangkat",ujar Daveena.
"Baik Nona",jawab Mark.
Sementara Dave langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya mengabaikan Juwita yang menatapnya tajam.
Juwita mengembuskan nafas panjangnya,ia kesal Dave meninggalkannya.Tapi ia sadar Dave tak akan peduli dengan Sikapanya ini.
"Kamu sudah lama bangun?",tanya Dave saat ia keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe.
"Satu jam yang lalu,kamu dari mana Mas?",tanya Juwita.
"Ada sedikit pekerjaan",jawab Dave duduk di hadapan Juwita.
"Kamu mau makan apa?",tanya Dave.
"Ayam lada hitam",jawab Juwita.
"Baiklah,semoga bahannya ada",ujar Dave melangkah keluar dari kamar.
...****************...
__ADS_1