Pengantin Untuk Mafia Dingin

Pengantin Untuk Mafia Dingin
#54


__ADS_3

Hari ini adalah hair terakhir Juwita melakukan cek up di rumah sakit.Dia sudah diizinkan pulang tiga hari yang lalu namun harus cek up rutin untuk setiap hari mengenai rasa pusing yang masih Juwita rasakan.


Dave dan Juwita untuk sementara waktu pulang ke apartemen yang di sewa Dave beberapa bulan yang lalu.Pria itu bisa saja membeli tapi untuk apa ia tak memiliki perusahaan di negara ini.Lebih baik menyewa saja dari pada membuang uang.


"Masih pusing,hm?",tanya Dave saat mereka akan memasuki rumah sakit.


"Hanya sesekali Mas,mungkin bawaan hamil juga",jawab Juwita.


"Tidak ada hubungannya baby,kamu dengar apa yang dikatakan dokter kemarin kan?",tanya Dave.


"Ya...", angguk Juwita.


"Kita akan tunda dulu kepulangan kita ke tanah air jika kamu belum dinyatakan sembuh total",ujar Dave.


"Tapi aku sudah merindukan orang orang disana Mas?", rengek Juwita.


"Siapa?,si Ardi sialan itu",jawab Dave dengan wajah datarnya.


"Mas kamu kenapa sih.Bahkan Dokter Ardi tak pernah menghubungiku",ujar Juwita.


"Jangan menyebut pria lain saat bersamaku baby",jawab Dave merangkul bahu Juwita.


"Ck...pria dingin sepertimu tak cocok bersikap seperti itu Mas", sindir Juwita.


"Aku gak peduli",jawab Dave berjalan lurus menuju ruangan Dokter neurologi.


Juwita merasa sedikit aneh dengan sifat Dave yang tiba-tiba seperti ini.Pria yang biasanya datar dan dingin itu kini tiba-tiba bersikap posesif padanya.


Juwita diperiksa secara menyeluruh oleh Dokter.Dave ingin memastikan sang istri benar benar sembuh total sebelum kembali normal tanah air.


***


Dave dan Juwita kembali pulang,hasil pemeriksaan Juwita akan keluar besok.Dan Dave berharap tak ada yang serius dengan hasil pemeriksaannya.

__ADS_1


Juwita menggeleng pelan melihat Dave bersikap dingin seperti saat ini.Entah kenapa tiba-tiba saja suaminya itu menyebut Dokter Ardi.Apakah Dokter Ardi pernah menghubunginya saat ia mengalami koma.Tapi bukankah Dave mengatakan jika ponselnya tak bisa diselamatkan saat kecelakaan itu terjadi.Lalu bagaimana bisa Dokter Ardi menghubunginya.


"Mas..."


Hening


Dave tak menjawab saat Juwita memanggilnya.Hal itu membuat Juwita menghembuskan nafas panjang.Apakah suaminya itu cemburu?. Benarkah Dave saat ini cemburu pada seorang Dokter Ardi yang Juwita tau tak ada apa apanya di bandingkan pria itu.


"Mas... apakah Dok--


"Kamu menyukainya?",tanya Dave tiba-tiba membuat Juwita menoleh.


Juwita mengerutkan keningnya."Kamu bicara apa sih Mas?",tanya Juwita.


"Aku bertanya, apakah kamu menyukai pria sialan itu",tanya Dave lagi dengan suara datarnya.


"Tidak.puas kamu Mas",jawab Juwita yang kesal dengan suaminya itu.Dia bahkan tak memiliki perasaan apapun pada Ardi itu dan Dave tau itu.Tapi pria itu malah menuduhnya secara tiba-tiba.


"Maaf...", lirih Dave.Kata yang hampir tak pernah ia ucapkan selama ini pada seorang wanita.


Juwita tak menggubris, tuduhan Dave membuatnya kesal.Bertemu saja ia tak pernah dengan Ardi tapi suaminya malah menuduhnya menyukai pria itu.Wanita itu memalingkan wajahnya ke arah jendela menatap jalanan yang mereka lewati.


Dave memarkirkan mobilnya di basement apartemen.Pria itu tak langsung turun.Ia mematikan mesin mobilnya lalu menatap Juwita yang masih mendiamkannya.


"Baby,maafkan aku yang menuduh kamu yang tidak tidak.Aku--aku tak suka pria itu terus mencari keberadaanmu ditanah air sana",ujar Dave.


Juwita menoleh dan menata datar Dave."Tapi kamu gak bisa menuduhku dengan mengatakan aku menyukainya.Jika aku menyukainya mungkin saat diawal pernikahan kita aku sudah meninggal kamu Mas", jawab Juwita membuat Dave bungkam seketika.


Juwita benar benar kesal dengan suaminya itu.Lihatlah cemburu seperti itu tak cocok untuk pria datar seperti Dave.


"Bukain pintunya Mas, aku mau turun",ujar Juwita.


"Tidak, sebelum kamu memaafkanku",jawab Dave.

__ADS_1


"Baiklah aku memaafkanmu",ujar Juwita.


"Terimakasih baby", jawab Dave tersenyum lebar.


Entah kenapa pria itu sangat takut jika Juwita marah padanya.Padahal dulunya ia tak akan takut pada siapapun.Tapi kini berbeda pria itu sangat takut Juwita mendiamkannya.


Dave mengenggam tangan Juwita memasuki lift menuju unit mereka dilantai sepuluh.


"Kamu terlihat aneh jika cemburu Mas, sungguh",ujar Juwita.


"Aneh?", beo Dave.


"Ya... aneh saja",jawab Juwita.


"Sepulang dari sini kita akan tinggal di Mansion baby dan tak ada penolakan",ujar Dave.


"Lalu apartemen kamu?",tanya Juwita.


"Biarkan saja disana",jawab Dave.


"Bukan itu maksud aku Mas,nanti siapa yang menempati?",tanya Juwita.


"Tidak ada",jawab Dave karena ia membeli unit apartemen itu hanya untuk berinvestasi saja.


Dave dan Juwita memasuki unit apartemennya disambut oleh Papa Juwita yang masih ada di negara ini dan berencana pulang besok.


"Bagaimana keadaan kamu Nak?,apa kata dokter?",tanya Papa Juwita pada putrinya itu.


"Hasilnya akan keluar besok Pa",jawab Juwita sementara Dave memilih diam saja.


Juwita memang belum bisa menerima dengan lapang dada kedua orangtuanya itu.Ia masih merasa canggung.Apalagi wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda menatapnya dengan penuh kerinduan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2