
Dave dan Juwita membeli oleh oleh dengan berbagai macam-macam.Juwita juga membelikan dua buah jaket untuk sang keponakan yaitu Arsa dan Queen.Wanita itu begitu antusias saat memasuki toko pakaian anak anak.Andai anaknya sudah lahir mungkin dia akan kalap belanja di toko ini.Semua pernak-pernik bayi terlihat lucu di matanya.
Dave yang menyadari hal itu tersenyum tipis."Jika nanti anak kita sudah lahir aku akan membelikan semuanya", bisik Dave saat Juwita tengah melihat-lihat pakaian bayi.
"Eh?,di tanah air juga banyak Mas",jawab Juwita.
"Jika kamu maunya disini aku tak masalah.Nanti kita kesini lagi saat kandungan kamu sudah besar atau titip Daveena nantinya",ujar Dave.
"Gak sampai segitunya Mas",kekeh Juwita.
"Masih ada yang lain gak?",tanya Dave.
"Itu saja Mas",jawab Juwita.
"Kita bayar dulu,ayo!",ujar Dave mengajak Juwita menuju kasir.
Setelah membayar Dave mengajak Juwita untuk berbelanja pakaian untuk wanita itu.Ia tau Juwita hanya membawa beberapa pakaian saja dari tanah air.
Juwita awalnya menolak tapi Dave memaksanya untuk memilih.Jadilah Juwita hanya memilih sebuah gaun yang bisa ia pakai nantinya untuk pulang ke tanah air.
"Hanya satu?",tanya Dave.
"Ya...ini sudah dari cukup Mas,jika kita belanja banyak takutnya nanti sampai tanah air kita bayar pajaknya banyak",jawab Juwita membuat Dave terkekeh.Wanitanya ini belum juga menyadari jika ia bisa membayar berapa pun itu.
Dave tak memaksa Juwita,wanita ini berbeda dengan kebanyakan wanita.Tidak seperti adiknya yang sangat hobi belanja.Jika ia tak membatasi limit kartu yang ia berikan pada Daveena mungkin entah akan segila apa adiknya itu berbelanja.Dave memang tak memberikan kartu tanpa limitnya pada sang adik karena adiknya itu sangat boros.
Dave keluar dari toko itu dengan mengenggam tangan Juwita.Ia takut wanita itu hilang di tengah keramaian kota new York yang warganya lebih suka berjalan kaki.
"Mau kemana lagi?",tanya Dave.
"Aku gak tau Mas,aku kan gak tau kota ini",jawab Juwita.
"Masih ada yang mau dibeli gak?",tanya Dave.
"Enggak...", geleng Juwita.
"Kamu benar gak mau belanja yang lain?",tanya Dave lagi.
"Iya yakin",jawab Juwita.
Dave mengajak Juwita untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan mereka.Dave berencana mengajak Juwita ke Battery Park yang terletak ia ujung selatan pulau Manhattan.Dave tak ingin sang istri dan calon anaknya kelaparan.Dia akan selalu memastikan Juwita tidak kelaparan.
Setelah selesai mereka menunju ujung selatan pulau Manhattan untuk bersantai menunggu sunset.Tak hanya itu mereka juga bisa melihat keindahan kota dan kapal feri yang berlalu lalang.
"Kita duduk disini dulu ya,sembari menunggu sunset",ujar Dave.
"Iya Mas...",angguk Juwita.
"Kamu happy?",tanya Dave.
Juwita menoleh dan tersenyum sangat manis."Iya...",angguk Juwita lalu mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak kuasa menatap mata elang pria itu.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang setiap kami Dave menatapnya.Pria itu benar benar membuatnya selalu berdebar.Ia akui jika perasaannya pada Dave makin dalam meski pria itu belum membalas jawab cintanya.Tapi ia yakin suatu saat ia pasti bisa meluluhkan dan merobohkan dinding tebal hati pria itu.
Tring
Daveena is Calling...
"Siapa?",tanya Dave saat ponsel Juwita berdering.
"Daveena Mas",jawab Juwita.
"Ya Hallo Daveena...",ujar Juwita.
"Kak kalian kemana?",anak buah Mark
bilang kalian pergi keluar",tanya Daveena.
"Oh...Kakak lagi cari oleh-oleh untuk di bawa pulang besok",jawab Juwita.
"Bersama Mas Dave?", tanya Daveena.
"Iya...",jawab Juwita.
"Baiklah... bersenang-senang lah Kak,buat Mas Dave luluh sama Kakak",ucap Daveena membuat Juwita terkekeh.
"Doakan saja ",jawab Juwita.
"Selalu Kak...",ujar Daveena.
"Oh ya Kakak lanjut saja,aku mau membuat tugasku dulu", sambung Daveena.
Klik
"Kalian terlihat semakin akrab?",ujar Dave.
"Ya...Daveena anak yang manis dan aku menyukainya.Mungkin karena aku tidak memiliki adik.Hanya Kakak angkat dan kami pun tak terlalu dekat.Malah terlihat sebagai musuh", jawab Juwita.
"Daveena dari dulu ingin sekali memiliki Kakak perempuan,dia dulu cukup dekat dengan almarhumah Zahira",ujar Dave.
"Tapi bukannya dia memiliki Kakak laki laki yang begitu menyayanginya",jawab Juwita menoleh pada Dave yang menatap lurus kelautan.
"Ya...tapi dia sekarang punya kamu,Kakak perempuannya",ujar Dave.
"Aku sudah menganggapnya adikku meski kita sebelumnya belum menikah",jawab Juwita.
"Hai...kamu yang kemarin itu kan?",tanya seseorang menghampiri Juwita dan Dave.
"Ah iya...",angguk Juwita tersenyum manis pada orang itu.
"Dia--Kakakmu?", tunjuk orang itu pada Dave yang sudah terlihat kesal.
"Oh...dia---
__ADS_1
"Kita belum sempat berkenalan kemarin.Aku James",ujar orang itu mengulurkan tangannya.
"Juwita...",jawab Juwita menangkup kedua tangannya di depan dada.
Pria itu tersenyum canggung karena Juwita tak menjawab uluran tangannya.Pria itu memandangi Juwita cukup intens membuat Dave berdecak kesal.
Juwita sebenernya risih dengan tatapan pria itu tapi entah kenapa pria itu masih saja betah berdiri dihadapannya.Dave malah terlihat diam saja,ia berharap Dave membawanya pergi dari situasi seperti ini.
"Boleh aku tau alamatmu?",tanya pria itu lagi.
"Maaf aku hanya pelancong,dan malam ini akan kembali ke negaraku",jawab Juwita datar karena pria itu makin kesini makin tak tau diri.
"Oh kalau begitu boleh minta nomor ponselmu?",tanya pria itu lagi.
"Pergilah dari sini sebelum aku menendangmu",ujar Dave tiba-tiba.
Juwita diam diam tersenyum tipis saat melihat kemarahan di mata Dave.
"Santai bung saya hanya--
"Hanya apa?, menganggu istriku?",tanya Dave dengan tatapan menusuk dan tangan terkepal.
"Oh maaf aku kira dia adalah--
"Pergilah dari sini!",ujar Dave penuh penekanan.
"Ba-baiklah",jawab pria itu pergi begitu saja.
Mark...ikuti pria itu, cari tau siapa dia!,beri pelajaran jika terbukti dia adalah mata-mata.
Dave menyimpan kembali ponselnya, Mark memang mengikuti Dave sedari tadi untuk memberikan perlindungan pada Juwita jika Dave lengah.
Mark
[Baik Tuan...]
"Siapa dia?",tanya Dave kali ini dengan intonasi suara yang begitu dingin.
"Dia pria yang kemarin menolongku",jawab Juwita.
"Oh...",Dave hanya beroh ria karena sebenarnya ia sudah tau jika pria itu kemarin yang menolong Juwita.
Juwita malam menghirup nafas panjang,ia sebenarnya ingin pulang karena moodnya tiba-tiba rusak karena pria tadi.Tapi hari mulai gelap, tempat itu juga mulai ramai pengunjung yang juga ingin menyaksikan sunset.Juwita juga ingin melihat keindahan sunset dikota ini.
Drt drt drt
Mark
[Tuan...dia mata-mata musuh kita,aku mengikutinya hingga ke markas mereka.Dan aku akan berusaha membekuknya sebelum melaporkan semuanya pada Tuannya]
"Shitt...",umpat Dave.Kenapa ia terpancing oleh pria itu dan mengatakan jika Juwita istrinya.
__ADS_1
Tangkap dia, hidup atau mati!
...****************...