
Dave menatap lurus bangsal tempat tidur Juwita yang masih belum juga melewati masa kritisnya.Pria itu masih berpenampilan yang sama,luka di pelipisnya dibiarkan begitu saja meski dokter sudah menawarkan untuk mengobati.Tapi pria itu menolak.
Drt drt drt
Daveena
[ Mas aku diluar]
Dave bangkit dari duduknya keluar dari ruangan ICU untuk menemui sang adik yang tadi ia kabari.
"Mas... bagaimana keadaan Kak Juwita?",tanya Daveena yang tampak kuawatir.
"Kritis...",jawab Dave.
"Ya Tuhan.Bagaimana bisa terjadi Mas?",tanya Daveena.
"Seperti yang Mas ceritakan tadi di telepon",jawab Dave.
Daveena hanya diam,ia tau ini pasti terjadi.Musuh Kakaknya akan menyerang wanita yang berhubungan dengan Kakaknya itu.Itulah kenapa selama ini Kakaknya tidak mau menikah.Dave tak ingin ada korban seperti ini.
"Mas... apakah Mas menyesal menikahi Kak Juwita?",tanya Daveena tiba tiba.
Dave hanya diam,tak menjawab pertanyaan sang adik.Menyesal?.Kata itu tak ada dalam hidupnya.Ia menikahi Juwita sudah memikirkan dengan matang matang dampak kedepannya.Dan Juwita juga menerima dirinya yang merupakan seorang ketua mafia yang memiliki banyak musuh.
Ia tak tau apakah Juwita masih akan berkata hal yang sama setelah tau apa yang menimpanya adalah ulah dari musuh-musuhnya.
"Mas...Kak Juwita bilang dia mau menerima apapun keadaan Mas,meski Mas seorang mafia yang memiliki banyak musuh",ujar Daveena.
"Ya...Mas tau",angguk Dave.
"Mas...kamu sebaiknya pulang dulu dan bersihkan dulu tubuh Mas ini",ujar Daveena.
"Tidak..Mas gak tenang sebelum Juwita melewati masa kritisnya",jawab Dave.
"Luka Mas juga harus di obati takutnya infeksi",ujar Daveena.
"Ini gak seberapa Davee",jawab Dave.
Daveena hanya bisa menghembuskan nafas beratnya.Ia tau Kakaknya sangat keras kepala dan tidak bisa di atur.
Daveena berdiri menatap sang Kakak Ipar yang terbaring tak sadarkan diri di ruangan ICU rumah sakit di balik kaca pintu ruangan.Ingin ia masuk tapi tak sembarangan orang bisa masuk,hanya Kakaknya saja yang diberi izin.
"Mas..."
"Hmmmm"
__ADS_1
"Ajak Kak Juwita mengobrol Mas untuk menstimulasi alam bawah sadarnya agar Kak Juwita bisa melewati masa kritisnya",ujar Daveena dengan mata masih tertuju pada Juwita yang terbaring dan berbagai alat tumpu kehidupan terpasang di tubuhnya.
Dave mengangguk, Dokter juga mengatakan hal yang sama.Tapi ia bingung apa yang harus ia obrolkan dengan Juwita.Tak ada hal istimewa selama pernikahan mereka.Dave juga belum memiliki perasaan pada wanita itu.
Daveena tau Kakaknya mulai bisa menerima kehadiran Juwita di hidupnya.Selama ini Kakaknya tak pernah sepeduli pada seorang wanita.Memang Juwita istrinya,tapi jika memang Kakaknya tak ada cinta dia tidak akan sepeduli ini.
Fix,Kakaknya mulai menyukai Juwita tapi manusia kutub ini belum menyadari perasaannya.Mana ada jika tak cinta sampai mau menemani belanja,tidur sekamar dan juga pegangan tangan.
"Mas...dengar aku gak sih?",ujar Daveena merengut kesal karena Kakaknya itu diam saja.
"Ya...",angguk Dave.
"Tunggu apalagi,ayo masuk!.Ajak Kak Juwita mengobrol",ujar Daveena.
"Davee...Mas sudah coba tapi gak ada respon",jawab Dave.
"Mungkin Mas Dave hanya setengah hati.Ingat Mas jika terjadi sesuatu pada Kak Juwita aku gak akan maafin Mas",ucap Daveena.
"Kamu mengancam Mas,Davee?",tanya Dave menatap tajam sang adik.
"Anggap saja begitu.Aku gak mau kehilangan Kak Juwita,Mas",jawab Daveena.
Keduanya terkejut saat tim Dokter yang merawat Juwita bergegas masuk kedalam ruangan Juwita.
Baik Daveena maupun Dave tampak panik, keduanya ingin masuk tapi dihalangi oleh suster.
"Kondisi pasien menurun",jawab suster itu lalu menutup pintu ruangan itu.
Duar
Dave kembali terduduk dan meremas rambutnya.Kondisi istrinya menurun dan bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungannya?.
Dave tak ingin kehilangan salah satunya,ia ingin keduanya selamat.Ini semua salahnya andai ia tak mengajak Juwita ke Manhattan semua ini tak akan terjadi.Ia lupa jika markas musuhnya juga berada di Manhattan.
"Ya Tuhan selamatkan Kak Juwita", terdengar Daveena berucap lirih.
Dave menoleh pada sang adik lalu berdiri menatap kedalam ruangan ICU dibalik kaca pintu.Semua dokter tampak fokus dan tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka.
"Dokter bagaimana keadaan Kakak saya,dia baik baik saja kan?",todong Daveena.
"Kondisi pasien menurun dan kini koma",ujar Dokter itu.
"Gak...gak mungkin,tapi masih bisa sembuh kan Dokter?",tanya Daveena.
"Bagiamana dengan kandungannya Dok?",tanya Dave tiba-tiba membuat Daveena menoleh pada sang Kakak.
__ADS_1
"Kandungannya baik baik saja.Tapi kami harus melakukan rujukan ke rumah sakit besar.Kami belum pernah menangani pasien koma yang sedang hamil",ujar Dokter itu.
"Lakukan yang terbaik Dok",jawab Dave.
"Ya...",angguk Dokter.
Dave memejamkan kedua matanya menahan emosinya.Ia tak akan memaafkan orang yang sudah membuat istri seperti ini.
"Mas...jadi Kak Juwita hamil?",tanya Daveena penuh selidik.
Dave membuka matanya dan mengangguk."Iya...",jawab Dave.
"Karena kejadian malam itu?",tanya Daveena lagi.
Lagi lagi Dave menangguk membuat Daveena membuang muka ke arah lain dengan menghela nafas panjang.
"Jangan bilang Mas menikahi Kak Juwita hanya karena dia hamil",ujar Daveena membuat Dave diam seketika.
Diamnya sang Kakak sudah membuat Daveena mengerti jika pernikahan Kakaknya hanya sekedar pertanggungjawaban semata."Lebih baik Kak Juwita koma dari pada kalian dia hidup dengan pria yang tak mau mencintainya",ujar Daveena.
Dave menoleh pada sang adik dan kemudian tertunduk.Dia tak menyangka sang adik akan berbicara seperti itu.
"Hidup dengan pria yang tak mencintai kita itu sakit Mas.Dan Kak Juwita bisa melewati rasa sakit itu.Jika itu terjadi padaku bagaimana Mas?",tanya Daveena.
Dave menggeleng pelan tentu saja ia tak rela adiknya di perlakukan seperti itu.Kini ia sadar jika Juwita mengalami rasa sakit itu selama satu minggu pernikahan mereka.
***
Juwita sudah di pindahkan ke rumah sakit besar yang ada di negara itu.Dave memberikan perawatan yang terbaik untuk wanita yang kini sedang mengandung anaknya itu.
Daveena kini mendiamkannya dan juga bersikap dingin padanya.Hal itu membuat Dave frustasi dan juga tak bisa berpikir jernih.
Kini dua hari sudah Juwita koma dan selama itu juga ia menemani wanita itu.Daveena sesekali akan membesuk setelah pulang dari kuliahnya.
Dave menyerahkan pekerjaannya di tanah air pada Hans.Dia akan fokus disini menunggu Juwita sadar dari komanya.
"Dave..."
"Aunty....",Dave memeluk wanita paruh baya yang sudah ia anggap ibunya itu.
"Sabar nak.Juwita pasti kuat",bisik Fira mengusap punggung Dave.
Zaki yang datang bersama Mamanya ke negara ini diam dan menatap datar ruangan ICU dimana adik sepupunya tengah berjuang untuk hidup.
"Aunty...maafkan aku tidak bisa menjaga Juwita",isak Dave membuat Zaki menoleh.Ini kali keduanya ia melihat Dave menangis setelah 21 tahun lalu pria itu menangis karena ditinggal kedua orangtuanya.
__ADS_1
...****************...