Pengantin Untuk Mafia Dingin

Pengantin Untuk Mafia Dingin
#50


__ADS_3

Dave melangkahkan kakinya melewati setiap lorong rumah sakit.Pria dengan dingin itu tak menghiraukan beberapa orang suster yang mencuri pandang padanya.


Dave memasuki lift menuju lantai di mana sang istri saat ini sedang dirawat.Belum ada perubahan dari Juwita dalam waktu tiga hari ini.Wanita itu masih betah menutup matanya sampai hari ini.


"Dave... kamu sudah sampai Nak, kenapa Juwita di pindahkan?",tanya Fira menyambut kedatangan Dave.


"Iya Aunty,di Inggris ada sebuah rumah sakit yang bisa mereka kondisi pasien seperti Juwita",jawab Dave.


"Zaki mana Aunty?", tanya Dave.


"Zaki baru saja turun mau ke hotel mengambil barang-barang karena Aunty akan ikut kalian",jawab Fira.


"Tuan semuanya sudah siapa",ujar Dokter menghampiri Dave.


"Baiklah...kita berangkat sekarang!",jawab Dave.


"Aunty ikut kamu",ujar Fira.


"Bagaimana dengan Zaki Aunty?",tanya Dave.


"Zaki akan pulang ke tanah air hari ini juga,Queen demam karena dia belum terbiasa jauh dari Zaki",jawab Fira.


"Baiklah,ayo!",ujar Dave.


Fira terpaku melihat keadaan Juwita yang tubuhnya dipenuhi oleh alat bantu kehidupan saat keluar dari ruangan ICU.Hatinya teriris melihat keponakan suaminya itu yang sudah ia anggap anak sendiri berjuang untuk tetap hidup.


Tak jauh beda dari Fira,Dave menatap brangkar sang istri yang kini di dorong menuju lift khusus pasien dengan perasaan campur aduk.Ia berharap pagi ini ada perubahan dari sang istri hingga tak perlu membawanya ke Inggris tapi Juwita seakan mengujinya,ibu dari calon anaknya itu kondisinya tetap sama.


Dave memasuki mobil ambulance yang akan mengantarkan mereka ke bandara yang tidak jauh dari ruang sakit.Sedangkan Fira diantar Zaki menggunakan mobil Dave.


Dave menatap sang istri yang kini masih menutup mata."Kamu masih betah tidur,hm?.Ini sudah tiga hari dan kamu masih tetap tak mau bangun.Bukankah kamu ingin segera pulang ke tanah air",gumam Dave dengan mantan berkaca-kaca berharap sang istri merespon ucapannya.


Dave mengenggam jemari Juwita dengan kedua tangannya.Pria itu menatap lurus wajah sang istri yang terlihat pucat.Tanpa sadar pria itu mengecup punggung tangan Juwita sembari memejamkan kedua matanya hingga tetesan air matanya mengenai punggung tangan Juwita.

__ADS_1


Dan mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan.Pria itu yang terlihat biasa datar,dingin dan kejam itu kini tampak lusuh.Dave menyentuh perut Juwita yang sedikit menonjol di balik baju rumah sakit yang dikenakan Juwita.


"Terimakasih masih tetap mempertahankannya.Aku janji tidak akan pernah melepaskanmu setelah ini",batin Dave mengusap lembut perut Juwita yang terasa begitu menonjol di telapak tangannya.


Tak lama mobil ambulance sampai di bandara,Mark telah mengurus semua proses keberangkatan Juwita di Bandara pagi pagi sekali.


Juwita langsung di bawah masuk kedalam pesawat di gotong beberapa orang perawat rumah sakit.


Tak lama mobil yang membawa beberapa orang dokter pun sampai begitu juga dengan Zaki.


Zaki turun dari mobil bersama Fira dan Daveena yang tadi datang kerumah sakit ingin bertemu Juwita namun sayangnya Juwita sudah masuk kedalam mobil ambulance bersama Kakaknya.Jadilah ia ikut Zaki dan Fira untuk mengantarkan Juwita.Tapi ia tetap tak bisa bertemu Juwita karena sudah dibawa ke dalam pesawat.


"Dave... kabari aku jika sudah sampai.Percayalah dia pasti kuat",ucap Zaki menepuk pelan pundak Dave.


"Iya...doakan saja Juwita cepat sadar dari komanya",jawab Dave.


"Mas...titip Kak Juwita, berjanjilah untuk membawa Kak Juwita pulang kembali",isak Daveena memeluk erat sang Kakak.


"Iya...Mas Janji.Doakan Kak Juwita ya",jawab Dave mengusap pelan punggung Daveena.


Dave mengurai pelukannya pada sang adik."Jaga dirimu baik baik disini,patuhi semua yang Mark katakan.Dia yang Mas percaya menjaga kamu disini menggantikan Mas",ujar Dave.


"Iya...",angguk Daveena.


"Mark...jaga adikku baik baik!",ujar Dave menepuk pelan bahu Mark sebelum melangkah naik kedalaman pesawat.


Mark mengangguk pelan sebagai jawabannya.Pria yang cukup tampan namun terlihat sangar itu sedikit terbawa suasana.Raut wajahnya terlihat sedih mengingat kondisi istri dari Tuhannya.


"Kak Mark wajahmu tak cocok jika terlihat sedih",ujar Daveena lalu segera berdiri disebelah Zaki menghindari tatapan tak suka Mark.


Akhirnya pesawat yang membawa Juwita dan beberapa orang dokter serat Dave dan Fira akhirnya mengudara meninggalkan benua Amerika itu.


***

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam akhirnya Juwita sudah tiba dirumah sakit terbaik diLandon.Juwita langsung mendapatkan perawatan terbaik dan juga ditangani oleh beberapa dokter terbaik pula.


Dave menyewa sebuah apartemen disana untuk ia tinggali bersama Fira,Auntynya.Wanita paruh baya itu akan menemani Dave disini untuk beberapa hari dan setelahnya ia akan kembali ketanah air.


"Aunty... istirahatlah dulu,aku akan ke rumah sakit menemui tim dokter kembali",ujar Dave setelah mengantar Fira ke apartemennya.


"Iya... kabari Aunty jika ada perkembangan",jawab Fira mengusap bahu Dave.


"Iya Aunty",angguk Dave lalu keluar dari apartemen itu meninggalkan Fira yang menatapnya dengan tatapan sendu.


Dave kembali ke rumah sakit dan langsung menuju ruangan ICU dimana sang istri terbaring.Dave memasuki ruangan itu atas izin Dokter untuk mengajak Juwita berbicara.


"Hai...masih betah tidur,hm?",ujar Dave tepat ditelinga Juwita.


"Jangan hukum aku dengan cara seperti ini Juwi.Jika kamu marah denganku jangan seperti ini.Bangunlah!, sebentar lagi anak kita pasti akan bisa menendang.Apakah kamu tidak ingin merasakan tendangannya?",ujar Dave mengusap lembut perut Juwita.


Tak ada respon dari Juwita,wanita itu masih memejamkan kedua matanya.Hal itu membuat Dave merasakan dadanya kembali sesak.Air mata mengalir di pipinya mengingat kejadian naas itu hingga membuat sang istri seperti ini sekarang.Kehancuran Matteo tak membuatnya puas karena sang istri masih belum mau bangun dari tidur panjangnya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian", lirih Dave mengusap kasar sisa air matanya.


"Sayang...minta Mommy kamu untuk segera bangun nak",ujar Dave berbicara tepat di depan perut Juwita.Seolah olah sang anak mendengar ucapannya.


Dave menggenggam tangan Juwita,pria itu itu menatap lurus wajah pucat Juwita.


Hening


Dave tak lagi bicara hanya suara alat monitor yang terdengar.Pria itu sibuk dengan pikirannya saat ini.


"Maaf Sir kami akan memeriksa kembali keadaan Mrs.Juwita",ujar Dokter yang masih kedalam ICU dengan beberapa orang dokter lainnya.


"Ya ...", angguk Dave bangkit dari duduknya melepaskan genggaman tangannya di pada jemari Juwita.


Dave keluar dari ruangan itu dengan berat hati namun ia tak bisa egois.Dokter memeriksa keadaan istrinya saat ini dan ia berharap ada kemajuan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2