Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 10 Tergoda Menantu


__ADS_3

POV Ibu Mertua


Saat kesendirian melanda dengan penuh warna kesedihan dan luka, keinginanku untuk tinggal di rumah Darwin justru ditolak oleh keluarganya. Sungguh mereka tak punya rasa empati sedikit pun untukku.


Aku tak peduli apa kata Darwin. Setelah telepon kututup segera kupesan ojek online untuk mengantar ke sana. Aku pikir, mereka tak akan menolakku jika kaki ini sudah ada di depan pintu rumah.


Sepanjang perjalanan kunikmati kembali semilir angin kota ini, kota yang pernah memberiku kehidupan penuh kebahagiaan secara materi. Saat dengan Mas Rahman aku tak pernah kekurangan, apa yang aku mau selalu dituruti.


Ya, Mas Rahman teramat mencintaiku. Itu sebabnya ia selalu berusaha menjadikan aku ratu dalam kehidupannya, bahkan istana mewah ia bangun khusus untukku.


Kuseka netra yang basah karena cairan bening tetiba muncul dan luruh begitu saja. Di sudut hati ternyata aku masih menyimpan rindu untuk Mas Rahman. Bagaimana pun, hanya dia lelaki yang mampu membuat hidupku bergelimang harta.


Aku sengaja meminta driver untuk menurunkanku di depan sebuah rumah besar nan megah berpagar teralis besi yang tinggi. Ada kerinduan menjalar saat kutatap kembali rumah penuh kenangan itu.


Dari luar, rumah itu tidak mengalami banyak perubahan kecuali warna cat yang dulu putih kini sudah berubah warna menjadi biru laut. Taman kecil dengan kolam ikan yang diwarnai indahnya suara gemericik air masih dapat aku lihat.


"Mas ... seandainya saja waktu bisa kuputar ulang, mungkin aku tak akan begitu bodoh," lirihku seraya menyentuh teralis yang tak mampu kubuka.


Entahlah, rasa apa yang menjalar ke relung hatiku. Yang aku tahu hanya satu, aku tak mampu membendung tangis. Ada rasa sakit yang menghunjam berkali-kali di ulu hati.


Setelah puas bernostalgia dengan rumah yang sekarang berpenghuni baru, aku lanjutkan kembali arah tujuanku. Rumah Darwin yang berjarak dua gang dari rumah Mas Rahman.


Sesuai prediksi, Darwin dan istrinya tak mampu menolak kedatanganku. Mau tidak mau mereka mempersilahkan aku masuk untuk melepas penat. Lapar dan dahaga mendapat pemuas dengan sajian makanan lezat di meja makan.


Tak kupedulikan tatapan sinis dari istri Darwin, adik ipar Mas Rahman- yang sedari awal aku datang sudah menyiratkan ketidaksukaan. Peduli amat dengan sikapnya, yang terpenting saat ini aku menikmati makanan yang tersaji.


Aku tak mau ambil pusing, toh mereka tak tau apa yang aku rasakan selama ini. Aku meninggalkan Mas Rahman juga ada alasannya, bukan semata-mata ingin berhianat. Seandainya saja Mas Rahman itu pria normal, mungkin aku tak akan pernah meninggalkannya.


Seusai makan, kuutarakan keinginanku untuk tinggal di rumah Darwin. Namun, dengan cepat istri Darwin menolakku untuk tinggal di rumahnya. Sudah kucoba untuk menghiba, meski dengan cara yang halus sekalipun permintaanku tetap ditolak.


Satu hal yang tidak aku suka dari istri Darwin, ia begitu sombong. Dengan ketusnya ia melarangku menginap di rumah yang tak seberapa besar dibandingkan rumah Mas Rahman dulu.

__ADS_1


Dengan dalih tidak ada kamar, istri Darwin memintaku untuk menginap di losmen saja. Dia pikir aku banyak uang apa, ya? Bisa sampai ke kota ini saja sudah bersyukur.


"Ini uang tiga ratus lima puluh ribu, lebih dari cukup untuk menginap di losmen. Sisanya bisa kamu pakai untuk makan dan ongkos ke rumah Arini," jelas istri Darwin sembari menyodorkan uang di atas meja.


"Dek Anita, mosok kamu tega membiarkan mbakmu ini tidur di losmen sendirian?" Aku mencoba merengek.


"Memangnya Mbak Hera mau tidur di sini dan malam-malam nyusulin Mas Darwin?" ketusnya sambil memasang wajah masam.


Sungguh tidak bersahabat wanita satu ini. Muak dengan kesombongan yang ia tunjukkan. Dia pikir aku doyan lelaki macam Darwin, sampai ia berpikir seperti itu.


"Dek Anita, tolong jaga sopan santunmu. Aku ini istri dari kakakmu!" teriakku dengan menaikan oktaf.


"Hahaha ... Mas Darwin, kamu dengar dia bilang apa?" Gelak tawa tiba-tiba menggema dari mulut pasangan yang aku pikir mulai gila.


"Hera, Hera ... kamu ini lucu. Apa kamu sudah lupa kalau kamu telah meninggalkan Mas Rahman? Bagaimana bisa masih mengakui dia sebagai suamimu?" Kini Darwin berkata seolah sedang mengolokku.


Begitu bodohnya aku masih berpikir sebagai istri dari Abdul Rahman Alfalah. Aku tersipu malu ketika menyadari bahwa di sudut hati kecilku masih ada Mas Rahman di sana.


Kubiarkan Darwin dan Anita tertawa puas, mungkin bagi mereka perkataanku sebagai hal konyol.  Setelah berhenti tertawa, kulihat darwin meraih gawai berwarna silver itu.


Kuabaikan sikap Darwin, aku memilih untuk memainkan gawaiku. Berselancar di dunia maya, selfie dan mengunggahnya ke facebook dan instagram. Tak lupa kujadikan pose paling menarik sebagai foto profil di semua media sosial yang aku gunakan.


"Aku sudah telepon Arini, besok kamu bisa ke rumahnya. Ini alamat rumah Arini, datanglah besok dan ingat ... jaga sikapmu selama kamu di sana."


"Kamu ini kenapa, sih, Darwin? Lelaki kok cerewet," cibirku dengan mencebik.


"Bersiaplah, sopirku akan mengantarmu ke losmen yang dekat dengan stasiun."


Jujur aku terperanjat dengan ucapan Darwin. Ia mengusirku dengan halus, tetap saja aku rasakan sakit hati. Apa dia pikir hatiku sudah mati?


Huff ... dengan hati menggerutu akhirnya kulangkahkan kaki pergi meninggalkan rumah itu. Kuseret kembali koper besar berisi pakaian dan koleksi peralatan make up yang selama ini mempercantik wajahku.

__ADS_1


***


Satu jam lima belas menit kutempuh perjalanan ke kota tempat tinggal Arini dengan menaiki kereta. Banyak tanya berkecamuk dalam hatiku. Berkali-kali kucoba meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja, namun rasa takut dibenci oleh Arini begitu mengganggu.


Arini. Gadis kecilku yang terpaksa kutinggalkan. Apa kabar anak itu sekarang? Apakah ia akan tetap menerimaku dengan baik?


Sudah dua puluh dua tahun tak melihat anak itu, pasti ia sekarang sudah dewasa dan cantik sepertiku. Kuulas senyum membayangkan kembali masa-masa itu, di mana Arini kecil suka menaburkan bedak ke muka ayahnya.


Setelah turun dari kereta, aku masih harus naik taksi online untuk menuju ke alamat rumah Arini. Butuh sekitar dua puluh menit untuk sampai di rumah bercat ungu, warna yang aneh bagiku.


Beberapa kali kuketuk pintu rumah Arini, namun tak kunjung dibuka. Bahkan tak ada sahutan dari dalam rumah. Apa mungkin masih tidur?


Kucoba kembali menekan bel dan mengetuk lebih keras lagi, berharap kali ini berhasil membangunkan orang di dalamnya. Berhasil. Akhirnya pintu terbuka dan ....


Aku terkesima tatkala menatap pria muda yang begitu tampan, wajah bersih dengan pancaran netra yang sangat menarik. Inikah suami Arini? Beruntungnya anak itu bisa memiliki suami setampan ini.


Ada debar aneh saat dia mengulurkan tangan untuk menyalamiku. Tatapan mata yang tak lepas dari tubuhku, membuat aku menjadi sedikit grogi di hadapannya.


Ya, benar. Ia adalah Danu, suami dari Arini. Pria tampan itu yang pertama menyambutku karena Arini sedang belanja keperluan memasak untuk menyambut kedatanganku.


Cukup terkesan dengan sambutan Arini yang mencoba menyajikan beberapa masakan, tapi sayang cita rasa masakan dia tak seenak makanan resto yang biasa aku makan.


Di meja makan sebenarnya aku tak begitu bergairah untuk menikmati makanan hasil olahan Arini, namun aku harus berpura-pura demi bisa menatap dan berdekatan dengan Danu.


Sepertinya perasaanku gayung bersambut, sikap Danu yang terus-terusan mencuri pandang menatap tubuh molekku memberikan sinyal bahwa ia juga menyukaiku.


Terkadang dengan sengaja aku lempar kerling nakal ke arahnya dan aku akan tertawa genit ketika melihat ia semakin salah tingkah. Dasar Danu, masih malu-malu kucing kayak anak perawan saja, hahaha ....


Beberapa kali kucoba merayu lelaki tampan tapi lembek itu, namun ia masih menunjukkan sikap jual mahal.  Aaah ... bikin gemes saja dia.


Aku sengaja menggodanya saat tidak ada Arini di rumah. Setiap kesempatan tak pernah kulewatkan untuk merayu pria yang membuatku bergairah setiap menatapnya.

__ADS_1


Ya, aku tahu dia milik Arini. Dia menantuku, tapi aku tak bisa menolak perasaan yang muncul begitu saja semenjak melihatnya pertama kali.


Arini, maafkan ibu.


__ADS_2