
Semilir angin bertiup mesra, membelai dedaunan yang bergerak mengikuti arahnya. Sepucuk daun kering jatuh ke tanah tanpa bisa dicegah. Begitu pun waktu, ia berputar tanpa menghiraukan apa yang telah terlewati.
Di sini, di tempat aku berdiri. Di dalam ruang tanpa dimensi yang tak mampu dijamah netra, aku menjadi saksi semua ihwal yang sedang berlaku. Bobby, Arini, Niko, dan Pak Rahman yang sedang mempersiapkan rencana untuk memberi pelajaran pada wanita licik dan kejam itu.
Detik demi detik kurasa begitu lambat menanti kemunculan si nenek semlohai. Aku rasa mertua genit itu pasti masih mondar-mandir untuk berpikir ribuan kali, makanya ia terlambat datang.
Netraku mulai lelah menatap gerbang tinggi yang menjadi batas dari dunia tanpa beban ini dengan dunia luar yang penuh hiruk pikuk. Dua puluh menit yang Niko katakan telah berlalu. Kegelisahan mulai tampak di wajah-wajah mereka, terutama Arini.
"Sebentar, aku telpon Ibu lagi." Niko berinisiatif menghubungi Bu Hera. Ada nada sambung, namun tak diangkat.
"Kemarin sudah kamu pastikan ia akan datang?" tanya Bobby yang masih berusaha tenang menutupi kegelisahan.
"Sudah. Katanya ia setuju untuk menemui Ayah Rahman di sini."
"Kalau begitu kita tunggu saja dulu. Mungkin dia masih perjalanan ke sini."
Suasana hening, hanya suara desir angin yang bergesek dengan dedaunan terdengar mengiringi penantian ini. Rasa tak sabar mendorongku untuk keluar gerbang, memastikan bahwa wanita licik itu sudah tampak batang hidungnya.
Baru beberapa langkah, pintu gerbang terbuka dan sosok wanita dengan tubuh sintal dalam balutan pakaian syar'i muncul dari balik gerbang. Wajah dengan aura kecantikan yang masih terpancar itu sedikit meredup tertutup oleh awan kekecewaan yang menggelayut.
Langkah Bu Hera seperti orang yang patah arang, begitu lemah dan tak bersemangat. Tentu saja tak akan bersemangat karena yang ia temui bukanlah suami yang kaya raya. Wanita normal pun akan berpikir seribu kali untuk rujuk dengan suami yang dianggap gila.
Aku segera berbalik hendak memberitahu kedatangan nenek semlohai ke Arini dan lainnya. Bergegas setengah berlari, namun tak kutemukan Arini. Di mana Arini? Bola mataku mengedar ke sekeliling area, tak ada sosok Arini kutemukan.
Ada yang aneh. Bobby juga tidak ada. Kini justru aku yang resah gelisah mencari wanitaku. Sampai tulang sumsum, tujuh lapis langit dan bumi ... aku tak akan pernah rela jika Arini berduaan dengan Bobby.
Saat kebingungan mencari Arini, justru rasa penasaranku kembali pada Bu Hera yang sedang disambut hangat oleh Niko. Netraku membelalak. Niko mau menjabat tangan ibunya dengan takzim? Ada apa dengannya?
Sejurus kemudian adegan drama dimulai, adegan yang membuat manik bola mataku hampir meloncat dari kelopak. Siapa yang akan menyangka jika wanita itu mampu merendahkan diri di hadapan pria yang pernah ia hancurkan.
Bu Hera menghambur ke pangkuan Pak Rahman dengan sedu sedan isak tangis penyesalan. Berkali-kali ia mengucap maaf. Ah, drama yang basi. Aku tak akan mudah kamu kelabuhi, karena aku tahu tangismu itu palsu. Dasar mertua genit nan licik!
"Halah! Kamu itu ratu drama! Tadi pas masuk gerbang aja wajahmu kayak ditekuk-tekuk nggak ikhlas datang ke sini!" teriakku pada wanita itu, namun tak ia hiraukan.
"Kalian jangan percaya! Wanita ini hanya bersandiwara!" Aku mencoba memberitahu Pak Rahman dan Niko.
Kulihat Pak Rahman menatap ke arah Niko. Niko, pria yang usianya hampir sepantaran denganku itu justru malah tersenyum penuh arti. Hmm ... aku mulai mengerti, mereka pun sama dengan apa yang aku rasakan.
"Bangunlah, Hera. Aku sudah lama memaafkanmu." Pak Rahman mulai memainkan perannya.
"Maafkan aku yang bodoh ini, Mas. Aku dulu begitu mudah di manfaatkan Jack gila itu."
"Sudah, lupakan semua. Yang penting kamu sudah tahu jika Jack bukan pria baik."
"Iya, Mas." Bu Hera masih menundukkan wajah.
"Terimakasih kamu sudah mau kembali denganku."
"Tidak perlu berterimakasih, Mas. Anggap saja ini sebagai salah satu cara aku menebus kesalahanku di masa lampau." Suara Bu Hera terdengar parau, sepertinya ia sengaja membuat hati dua pria di hadapannya agar tersentuh.
"Niko, bisakah Ibu ketemu dengan dokter yang menangani Ayah?"
"Bisa, Bu. Ibu bisa pastikan Ayah sudah sehat. Kebetulan dokter sudah menunggu kita." Niko mengajak Bu Hera beserta Pak Rahman berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang bagiku cukup mengerikan.
Di sebuah ruang kerja, duduk lelaki dengan kacamata nangkring di atas hidung. Mungkin itu yang dimaksud dengan dr. Gustaf, dokter itu menyambut Pak Rahman dan Niko dengan ramah.
__ADS_1
"Begini, Dok. Ibu saya ingin memastikan bahwa Ayah benar-benar sudah sembuh," ucap Niko setelah meminta kedua orang tuanya duduk di hadapan meja tugas dr. Gustaf.
"Oh ... baiklah, begini, Bu. Dari hasil pemeriksaan secara berkala, Pak Rahman sudah dinyatakan sembuh dan bisa pulang."
"Apa dia tidak akan kambuh lagi, Dok? Karena jujur saya takut jika ...." Seperti menyadari ucapannya yang keliru, Bu Hera tidak melanjutkan perkataannya.
Pak Rahman menatap tajam ke arah wanita yang pernah hadir di masa lalunya itu dengan tatapan yang menghunjam. Aku tahu, pasti ada luka yang masih menganga dalam hati, namun terpaksa ia tutupi demi sebuah rencana.
"Kalau kambuh atau tidak tergantung dari kondisi kejiwaan Pak Rahman sendiri, Bu. Jika beliau tidak mendapat tekanan dari luar, maka niscaya tidak akan kambuh lagi."
Bu Hera termangu, sepertinya ada sesuatu yang teramat mengganggu di pikirannya. Aku yakin pasti tentang Pak Rahman. Ia takut jika sewaktu-waktu Pak Rahman kambuh dan mengamuk membabi buta seperti orang gila pada umumnya.
Setelah selesai konsultasi, mereka berpamitan untuk pulang. Niko yang melihat wajah Bu Hera bak mendung kelabu justru menahan tawa. Kode jempol tak lupa ia berikan ke dr. Gustaf sebelum keluar dari ruang praktik itu.
Dasar, Niko. Tega nian mengerjai ibunya sendiri. Tapi tak apa, Bu Hera memang pantas diberi pelajaran biar kapok. Heran, usia lima tahun lagi sudah mau masuk setengah abad masih saja belum insaf.
"Ibu dengar tadi yang disampaikan dr. Gustaf, jadi tolong jangan buat Ayah Rahman tertekan lagi." Dengan wajah serius Niko bicara kepada wanita yang berjalan beriringan dengannya.
"Iya, tapi kalau untuk menikah lagi Ibu rasa tidak mungkin dalam waktu dekat ini. Kamu, kan, tahu Ibu masih ada ikatan pernikahan dengan Bobby."
"Ya, kalau begitu Ibu segera minta Ayah Bobby untuk menceraikan Ibu."
"Nanti Ibu pikirkan dulu." Begitu ringan wanita itu menjawab.
Niko yang mendengar langsung menghentikan langkah dan menatap tajam ke wanita yang telah membuatnya ada di dunia fana. "Lho, kok, masih perlu dipikirkan? Bukankah Ibu sudah setuju untuk kembali ke Ayah Rahman dan bersedia merawatnya?"
"Ma-maksud Ibu ...." Bu Hera tergagap seolah menyadari jika Niko menangkap keengganan pada niatnya.
"Sekarang aku tanya sekali lagi, Ibu bersedia merawat Ayah Rahman atau tidak?" Pandangan netra Niko mulai mengintimidasi, membuat wanita itu makin kebingungan.
"Iya, iya ... Ibu bersedia. Tapi untuk rujuk lagi, tolong jangan paksa Ibu."
"Iya! Ibu ingat. Sepertinya kamu tidak ikhlas menghidupi orang yang sudah mengandung dan melahirkanmu. Ibu dulu menyayangimu tanpa syarat apapun. Bahkan Ibu rela menahan lapar demi perut kecilmu agar tak merasakan perih."
Niko terdiam. Ucapan Bu Hera kali ini mampu membungkam mulut, karena bagaimana pun dulu Bu Hera memang sangat menyayangi dirinya. Aku tahu, Niko pasti merasa dilema dihadapkan dengan situasi seperti sekarang ini.
"Hera, Niko ... sebaiknya kita segera pulang. Ayah lelah ingin segera merebahkan badan. Rasanya Ayah rindu mandi dengan air hangat." Pak Rahman mencoba mengakhiri percakapan yang dapat memercik kembali rasa lemah pada hati Niko.
Pada akhirnya, langkah enam kaki beriringan keluar dari gerbang. Hampir saja aku mengikuti mereka, jika tak ingat Arini di mana.
Ah, gegara penasaran dengan mereka aku jadi lupa mencari Arini yang pasti sedang sembunyi dengan Bobby. Bikin geram saja mereka.
Netra ini mulai menyapu ke seluruh penjuru, menelisik setiap jengkal ruang. Tak sedikit pun aku temukan bayangan mereka. Aku lelah karena berlari ke sana kemari mencari mereka.
"Bobby, kamu posisi di mana?" Sebuah suara terdengar di saat kekalutan ini memuncak.
Segera kuputar tubuh dan melihat ke arah sumber suara. Pria itu berjalan menyusuri lorong koridor rumah sakit sembari menempelkan gawai di telinga.
"Aku segera ke parkiran, kamu tunggu saja di situ. Ini aku sekalian mau pulang." Kembali ia bicara dengan Bobby yang ada di ujung saluran.
Ternyata Bobby ada di parkiran. Terus Arini di mana? Ah, sebaiknya aku susul saja. Siapa tahu mereka sedari tadi asyik berdua di dalam mobil.
Benar saja. Arini tengah tertawa renyah bersama Bobby. Sepertinya Arini begitu menikmati kebersamaan itu. Tiba-tiba ada yang terasa tergores di dalam dada. Cemburu. Ya, pasti aku cemburu karena tak satu pria pun di dunia ini yang rela melihat istrinya berdua dengan pria lain.
"Kamu lihat wajah Ibumu tadi?" tanya Bobby sembari menunjuk pada sebuah layar datar yang merekam peristiwa Bu Hera saat bicara dengan dr. Gustaf. Terlihat jelas wajah masam wanita licik itu, namun berusaha ia sembunyikan.
__ADS_1
Oh, jadi mereka memasang kamera dan melihatnya dari dalam mobil. Tapi, siapa yang memegang kamera di sana tadi, ya? Lama-kelamaan kenapa aku jadi katrok bin kudet begini, sih?
"Bob, ini chipnya. Semua sudah berjalan sesuai rencana. Semoga kamu segera mendapatkan yang terbaik, ya. Segera move on, jangan cinta mati dengan tante bahenol aja!" Dokter Gustaf menepuk bahu Bobby sembari menyerahkan sebuah benda kecil yang hampir mirip kamera tapi berukuran sangat mini.
Ternyata ....
Ya, sudahlah! Aku lelah mikir, kalian hanya bikin aku penasaran tiada habisnya. Nasib begini amat, ya? Sudah jadi arwah, kepo maksimal tingkat dewa, masih juga belum bisa mengikuti cara berpikir kalian.
"Sekarang kita ke rencana berikutnya," ujar Bobby seraya menjentikkan jari seusai dr. Gustaf menghilang dari pandangan.
"Kita langsung ke sana?" Arini memicingkan mata.
"Menurutmu gimana?"
"Sebaiknya kita ke sana besok saja, Bang. Aku mau kembali ke rumah sakit. Nggak enak dengan Ayah dan Ibu mertua."
"Baiklah, aku antar kamu ke rumah sakit sekarang." Terdengar Bobby menghembuskan napas sembari memutar kontak mobil.
Mesin beroda empat itu melaju membelah jalan beraspal saat senja, kala matahari hendak berganti tugas dengan sang dewi malam.
"Aku tahu kamu pasti mengkhawatirkan Danu," ujar Bobby tanpa mengalihkan perhatian ke jalan.
"Dia suamiku, Bang. Sudah pasti aku mengkhawatirkannya." Ucapan Arini membuatku terharu, dia ternyata sangat mencintaiku.
"Danu beruntung memiliki istri seperti kamu."
Arini hanya mengulas senyum dan membuang pandangan ke luar menembus jendela kaca. Hei ... bukan aku yang beruntung, melainkan Arini. Dia wanita yang teramat beruntung mendapatkan lelaki tampan sepertiku. Bayangkan saja, banyak wanita cantik menginginkan cintaku, tapi hanya Arini yang aku pilih.
"Kalau Danu tidak kembali sadar atau malah meninggal, apa yang akan kamu lakukan?" Arini sontak wajahnya berubah pias saat Bobby mengajukan pertanyaan yang sudah pasti membuat wanitaku semakin sedih.
"Tolong, Bang. Jangan bikin aku down dengan pertanyaan seperti itu. Jika berkenan, tolong doakan. Namun, jika doa itu berat, maka cukup diamlah." Dengan ucapan tegas penuh penekanan Arini membalas.
"Arini, aku hanya bicara kemungkinan yang bisa saja terjadi."
"Cukup, Bang. Aku berhenti di sini saja, sedikit lagi sudah sampai. Aku juga mau beli makanan untuk Ayah dan Ibu mertua," ucap Arini dengan nada kesal.
"Maaf, Arini."
"Tidak perlu minta maaf. Aku turun di depan warung makan padang itu saja." Arini membuka safety belf dan meraih tas selempang kecil yang ada di dashboard mobil.
Keinginan Arini tak bisa ditolak oleh Bobby. Ia segera menepikan mobil.
"Yes! Tahu rasa kamu, Bobby. Kamu nggak akan berhasil ambil hati Arini. Hahaha ...." Sungguh aku bahagia karena Arini tetap menjaga hati untukku.
"Besok atau lusa kita baru jalankan rencana berikutnya. Sekarang kamu istirahatlah, jangan terlalu capek," pesan Bobby saat Arini hendak membuka pintu.
Arini membalas dengan senyuman. "Terimakasih, Bang. Nanti aku kabari lagi kapan aku siap, karena sekarang ini kondisi tubuh aku kurang fit."
"Periksalah."
"Besok, deh. Baiklah, Bang, aku turun dulu." Ucapan Arini hanya disambut anggukan kecil dari Bobby.
Ada binar kecewa tersirat dalam netra itu. Apakah Bobby jatuh cinta pada Arini? Tapi itu tidak boleh terjadi, bagaimana pun Bobby adalah lelaki yang telah menikah dengan ibunya.
Aku memandangi kepergian Bobby hingga mobil itu menghilang dari pandangan. Temaram sorot lampu jalan berkompetisi dengan sinar lampu mobil yang diwarnai deru mesin.
__ADS_1
Langkahku gontai mengekori Arini. Kata-kata Bobby justru membuatku gelisah. Bagaimana jika aku tak pernah punya kesempatan untuk kembali? Apakah Arini akan berpaling dariku?
Sungguh pertanyaan yang tak mampu aku jawab. Yang sekarang aku tahu hanya satu, hati Arini masih untukku.