Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 25 Misi Dimulai


__ADS_3

POV Arini


Denting sendok beradu dengan piring menghiasi makan malam. Hanya berdua, aku dan Mas Danu. Seperti biasa, Ibu lebih suka mengurung diri. Bahkan untuk makan saja ia bawa masuk ke kamar.


Aku tangkap ada sorot kegelisahan dalam tatapan mata Mas Danu. Kegelisahan yang kian hari kian menjadi, membuat ketenangan lelakiku terusik.


Aku tahu Mas Danu selama ini selalu menjaga hati dan kesetiaan untukku. Tak pernah ia biarkan ibu merayunya kembali.


Semakin hari rasa tidak nyaman juga muncul dan kian menekan batinku. Ketakutan akan hal-hal buruk yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan biduk rumah tangga terus membayang.


Baiklah, sepertinya apa yang telah aku rencanakan dengan Bobby harus aku jalankan segera. Apalagi ketika melihat ibu kembali berulah, rasa ingin segera membuatnya pergi dari rumah ini semakin begitu kuat.


Sore itu juga segera kuhubungi Bobby untuk segera bersiap datang ke rumah. Apapun nanti resiko yang akan terjadi, aku sudah siap. Aku yakin, Bobby mampu membawa ibu pergi.


Rencana membuat ibu pergi dan mendapatkan balasan dari setiap perbuatannya telah aku susun matang dengan Martin, Bobby, dan Niko.


Martin bertugas memantau kelakuan Mas Danu. Aku memilih Martin karena dia adalah teman curhat Mas Danu. Entahlah, dia laki-laki. Tapi, dia tak bisa menahan diri untuk bercerita apapun ke Martin. Bahkan termasuk informasi ciuman antara ibu dengan Mas Danu, juga aku dapat dari dia.


Bobby sebagai ayah tiri yang pernah mengenal bagaimana karakter ibu, aku percaya mengatur rencana ke depan. Ia ingin memberi pelajaran juga pada ibu atau lebih tepatnya membalas rasa sakit hati karena hanya dimanfaatkan saja.


Sedangkan Niko, dia adalah anak ibu dengan suami pertamanya. Dialah yang akan menjalankan puncak misi. Seperti yang diyakini Bobby, Niko adalah kunci kelemahan ibu.


Niko sangat beruntung diambil oleh keluarga Bobby. Ia bisa mengenyam pendidikan hingga sarjana dan kuliah pasca sarjana di Singapura. Sebenarnya orang tua Bobby adalah orang baik, hanya saja mereka sudah tahu gelagat niat jahat dari ibu, sehingga melarang Bobby menikahi ibu.


Semua kekhawatiran orang tua Bobby terbukti tatkala mengetahui perselingkuhan ibu dengan teman relasi ayahnya Bobby. Tentu saja perselingkuhan itu cepat diketahui Bobby karena sudah pasti sebagai orang tua tak akan pernah tinggal diam jika anaknya dihianati.


Entahlah, kenapa ibuku seperti itu. Apa aku malu mempunyai ibu seperti dia? Jelas, sebagai anak aku malu dengan tingkah lakunya. Beruntung saat aku menginjakkan kaki di rumah Bobby, orang tuanya tak membenciku. Bahkan bisa dibilang justru mereka menaruh simpati pada nasib rumah tanggaku yang hendak dihancurkan oleh ibuku sendiri.


Sebenarnya aku masih ingin menyelesaikan masalah dengan caraku sendiri. Namun, semakin ke sini aku tak mampu mengendalikan tingkah ibu yang semakin menjadi.


Sore ini adalah puncak emosi yang tak terbendung. Aku pulang kerja lebih awal karena tiba-tiba kepalaku pusing dan mual. Setibanya di rumah, justru pemandangan mengejutkan nyaris membuatku lepas kendali.


Pintu kamarku terbuka, terdengar suara lenguhan seperti orang yang sedang melepas hasrat. Perlahan aku mencoba mengintip ke dalam kamar.


Deg!


Serasa duniaku berhenti berputar. Aku terpegun menahan panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Teramat geram dan rasanya ingin mencabik-cabik wajah wanita yang kupanggil ibu itu.

__ADS_1


Lenguhan demi lenguhan keluar dari bibir seksi itu. Tak hentinya ia menciumi kemeja panjang Mas Danu, kemeja yang belum sempat aku cuci. Begitu nikmat ia menciumi bau keringat Mas Danu. Imajinasinya teramat liar, di depannya tampak sebuah foto Mas Danu yang hanya berbalut kaos dalam.


Ya, Tuhan ... dia mencuri foto suamiku. Ini sudah melampaui batas kewajaran seorang ibu, jauh dari kata wajar. Baiklah, aku sudah tidak bisa mentolerir lagi kelakuannya.


Kembali aku melangkah keluar rumah, sedikit menjauh dari rumah agar tak seorang pun mendengar percakapanku dengan Bobby. Setelah memastikan Bobby siap dengan semua rencana, aku segera memberi kabar ke Mas Danu yang sudah pasti sedang menungguku di mushala.


Saat kembali memasuki rumah, kulihat wanita iblis yang menjelma menjadi sosok ibu itu sedang membawa gunting dan alat semprot tanaman. Tanpa rasa bersalah ia melenggang sambil berdendangkan sebuah lagu 'Hey Gadis' milik band Samsons, hanya saja ada bagian lirik yang ia ganti.


Hey sayang tinggalkan kekasihmu


Karena aku jauh lebih baik darinya


Hey sayang lupakan kekasihmu


Karena aku lebih layak untuk memelukmu


Aku tahu lagu itu ditujukan untuk siapa. Namun, kuabaikan saja ia pergi menuju depan rumah dengan lagu yang membuat hati panas.


"Tunggu saja kau, Ibu jadi-jadian. Hari ini adalah terakhir kamu ada di sini," gumamku, tak sadar tangan ini mengepal dan hati penuh dendam.


Segera langkah kuayun menuju kamar, kutarik sprei dan sarung bantal guling. Aku bersihkan kasur dan mengganti sprei. Diriku merasa jijik jika mengingat adegan ibu yang sedang melenguh nikmat dengan imajinasi liarnya.


Kulirik penunjuk waktu yang aku letakkan di atas nakas. Sudah hampir lima belas menit Mas Danu belum juga datang. Bergegas langkah ingin menyusul, mungkin saja ia tidak percaya jika yang mengirim pesan adalah aku. Karena dulu ibu pernah menggunakan gawaiku yang ketinggalan untuk menjebaknya agar cepat pulang.


Baru saja selangkah kaki ini keluar dari pintu rumah, kulihat wanita binal itu kembali mengganggu suamiku. Lidahnya seperti ular menjulur menggoda Mas Danu. Jemari nakal itu mulai menelusuri leher pria lemah itu.


Sungguh, wanita yang tak punya malu. Menantu sendiri pun diembat. Gilanya lagi, Mas Danu malah mematung tegang.


"Mas Danu! Cepat masuk!" teriakku membuyarkan semua adegan tak bermoral itu.


Dengan tergesa lelaki baik hati namun lemah itu meninggalkan wanita yang tak ingin kusebut lagi sebagai ibu. Kugamit lengan Mas Danu dan setengah menariknya.


"Kamu itu jadi laki-laki yang tegas bisa, Mas?" tuntutku saat ia membuntutiku masuk kamar.


"Aku itu bukannya nggak tegas, Dek. Hanya saja masih menghormati dia sebagai ibu kamu."


"Dia memang ibuku, tapi kalau sudah kelewatan, ya, nggak bisa ditolerir lagi." Kuhempaskan badan ke peraduan yang terasa tak nyaman lagi.

__ADS_1


"Jujur, Dek. Mas pengen melawan Ibu. Tapi ...."


"Tapi apa? Nggak kuasa menolak kemolekan tubuh dia?"


"Dek, jangan bilang seperti itu. Kamu tahu kalau Mas sudah berusaha menolak."


"Iya, aku tahu Mas sudah berusaha menolak. Tapi apa nggak bisa dengan tegas Mas kasih pelajaran buat dia agar berhenti menggodamu?"


Mas Danu hanya diam tertunduk. Aku tahu, dia juga merasa tertekan. Bagaimana pun ia pria normal yang harus berusaha keras menutup mata dengan godaan di depan mata.


"Malam ini dia harus pergi!" tegasku yang membuat mata Mas Danu membulat tak percaya.


"Kamu mau mengusir Ibu, Dek?"


"Tidak mengusir, tapi lebih tepatnya membuat ia pergi." Pandangan sinis penuh amarah pasti dapat ditangkap oleh Mas Danu, hanya saja ia tak berani menanggapi lebih lanjut.


"Setelah salat Maghrib, bantu aku masak. Hari ini aku mau bikin seblak kesukaanmu."


"Siap, Tuan putri." Dengan gaya khas memberi hormat pada tuan putri, ia berhasil membuatku tersenyum.


"Oh ya, Dek. Tumben ini tadi kamu pulang lebih awal?"


"Iya, Mas. Di kantor kepala tiba-tiba pusing dan juga mual. Beberapa kali muntah di kantor."


"Pusing dan mual? Jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa, Mas?"


"Jangan-jangan ada Danu junior di perutmu, Dek." Dengan mata berbinar ia meraba perutku dan menciuminya.


"Nggak tahu, Mas. Tapi aku belum minum obat, tadi hanya minum wedang jahe aja untuk hilangin mual."


"Gimana kalau besok Mas beliin testpack? Atau mau ke dokter saja?" Binar penuh harap itu masih menyertai pertanyaannya, kuusap kepala lelaki tampanku. Kurangkum wajah dan kudaratkan kecupan di hidung bangirnya.


"Semoga, ya, Mas. Semoga jadi hadiah ulang tahun pernikahan kita. Dua hari lagi pernikahan kita genap satu tahun."


Lelakiku hanya mengangguk, kemudian ia menenggelamkan kembali wajahnya ke perut datarku. Pandanganku menerawang jauh dan ada doa yang aku panjatkan dalam hati. Semoga badai dalam rumah tanggaku segera berlalu, berganti pelangi indah yang mewarnai hari-hari.

__ADS_1


Tak akan aku biarkan pernikahan ini hancur karena penggoda yang ada dalam rumahku sendiri.


__ADS_2