Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 35 Penghianatan


__ADS_3

Berhubung ada permintaan dari beberapa pembaca yang menginginkan POV Bobby, maka khusus part ini author menggunakan POV ayah tiri ganteng nan tajir, ya.


Happy reading for you para readers terlope-lope.


***


POV BOBBY


Aku adalah pria muda yang mungkin bisa dibilang bodoh karena dengan mudah dapat diperbudak cinta wanita yang usianya jauh di atasku. Demi dia, aku rela meninggalkan seluruh fasilitas yang diberikan orang tuaku. Demi dia pula, aku telah menjadi anak pembangkang dan durhaka.


Kuabaikan segala ucapan dan nasihat Papa dan Mama karena menurutkan jerat nafsu yang ditaburkan oleh perempuan bertubuh molek dengan sejuta kenikmatan yang begitu menggoda. Ya, wanita itu adalah Hera.


Saat itu usiaku masih dua puluh satu tahun, masih menikmati bangku kuliah dan tak pernah berpikir nikah muda. Sebagai anak tunggal, aku memikul tanggung jawab untuk meneruskan usaha bisnis papa.


Namun, kehadiran wanita itu di rumahku justru membuat segalanya hancur. Aku tak mampu fokus dengan apa yang telah aku cita-citakan, bahkan sempat membuatku hampir frustasi. Dialah wanita penggoda iman.


Awal kedatangannya hanya sebagai asisten rumah tangga. Mama membawa wanita dengan tampilan agak kumal itu masuk ke rumah karena kasihan melihatnya. Kata mama, ia tidur di emper toko yang ada di pasar.


Tak ada yang menyangka, setelah ia mandi dan memakai pakaian yang diberikan oleh mama justru wanita yang ternyata masih berusia tiga puluh tahun itu memiliki wajah yang cantik dan juga kulit yang bersih.


Kesan pertama yang kutangkap adalah ia sebagai wanita yang cukup pemalu. Beberapa kali aku dan dia berpapasan pandang, dengan muka merah ia menunduk malu-malu.


Ah, ternyata perkiraanku salah. Saat itu ia hanya bersandiwara, sok pemalu hanya untuk mengelabuhi mangsa. Sekarang setelah semua terbongkar segala kebusukannya, aku jadi tahu bahwa dulu ia sengaja menjebakku demi harta orang tuaku.


Bodohnya aku yang begitu polos dan mudah percaya begitu saja dengan tipu daya wanita siluman itu. Ia menjebakku dengan kenikmatan tubuh seksinya. Kenikmatan yang menjadi candu bagiku, kenikmatan terus ingin kureguk bersamanya.


Kala itu logikaku benar-benar tak mampu kugunakan. Hera menjadi candu bagi hasratku, dan aku tak ingin melepasnya. Akhirnya, tanpa restu dari kedua orang tua, aku menikahi wanita itu.


Aku tinggalkan rumah, mobil, dan semua fasilitas yang diberikan oleh papa. Kartu kredit dan kartu ATM pun tak bisa kugunakan lagi. Dengan terpaksa kuliah kutinggalkan, karena aku harus bekerja dan membuktikan kepada orang tua bahwa pilihanku tidak salah.


Rumah tanggaku dengannya bertahan hampir enam tahun. Tak mudah bagiku hidup dengan Hera yang ternyata menyukai kehidupan yang serba glamour. Aku tak mampu menuruti semua keinginannya.

__ADS_1


Awal tahun pernikahan saja ia berkali-kali memintaku menceraikannya. Ia bilang menyesal sudah menikah denganku. Sungguh aku tak mengerti mengapa kata-kata itu sering meluncur dari mulut yang penuh madu beracun itu.


Sebagai anak pengusaha sukses, seumur-umur aku belum pernah merasakan harus bekerja di bawah perintah orang lain. Namun, demi dia, aku melamar pekerjaan ke sana kemari dan akhirnya diterima sebagai pramuniaga di sebuah swalayan. Sudah barang tentu gajiku tak seberapa, tak akan mungkin cukup memenuhi tuntutan Hera.


Ternyata pernikahan yang kubayangkan tak seindah kenyataannya. Sangat jauh dari kata bahagia. Hera bukan lagi wanita lemah lembut seperti yang aku kenal di awal mula, ia lebih tepatnya buas seperti serigala kelaparan.


Hampir setiap hari umpatan aku terima dari mulut wanita itu dengan begitu pedas. Tak sedikitpun lelahku berharga di matanya. Aku yang terlalu mencintainya hanya mampu diam tak membalas.


Ya, dulu aku memilih mengalah setiap ia marah. Aku lakukan itu karena aku memang merasa belum mampu membahagiakannya secara materi. Aku biarkan ia melampiaskan setiap kekesalannya, bahkan melempar benda-benda yang ada di dekatnya, atau mengusirku untuk tidur di luar.


Kesabaranku mulai menipis saat pernikahanku memasuki usia ke tiga tahun. Saat itu ia baru pulang, tampak sebuah mobil mengantarkannya hingga depan rumah. Dari balik tirai aku mencoba menerobos pandangan ke arah mobil yang terbuka setengah kacanya.


Tak pernah kusangka, dia yang aku cinta justru mendua. Aku memergoki ia tengah berpagut lidah di dalam mobil dengan pria yang ternyata adalah relasi papa. Sungguh menjijikkan.


Emosiku membuncah, meluap tak terbendung. Dengan kasar kubuka pintu dan berjalan dengan langkah panjang ke arah pasangan mesum itu. Dasar wanita tak tahu diri! Hanya membuatku menyesal telah menikahinya.


Dengan kasar aku gebrak mobil mengagetkan pagutan panas dan menghentikan tangan nakal yang membuat tubuh Hera menggelinjang penuh desahan. Sungguh mereka tak punya malu melakukan perbuatan tak senonoh di dalam mobil.


Tentu saja Hera marah mendengar ancaman itu. Aku tahu sebabnya, ia takut kehilangan sumber mata uang yang selama ini menggelontor ke rekeningnya. Namun, laki-laki itu lebih memilih mendengarkan ucapanku daripada dia. Aku menang.


Setelah kejadian malam itu, sikapku ke Hera menjadi berubah. Ya ... aku sengaja berubah. Sudah cukup aku menjadi budak cintanya. Sekarang, aku harus bisa mengendalikan wanita yang berstatus istriku itu.


Tak segan aku memukulnya jika ia membangkang. Aku juga melarangnya untuk pergi-pergi. Bahkan saat aku bekerja, ia aku kunci dalam rumah. Semua kebutuhan untuk makan dan harian sudah aku belikan. Ia tak perlu keluar rumah lagi.


Tapi dasar Hera, wanita itu sangat licik. Ia menduplikat kunci rumah sehingga bisa keluar saat aku pergi bekerja. Pernah aku pergoki ia naik angkutan yang saat itu sempat melintas di depan swalayan tempat aku bekerja.


Dengan bergegas aku menyusul angkutan umum menggunakan motor hasil meminjam dari teman. Tekadku saat itu sudah bulat, akan aku hajar habis-habisan dia jika ketahuan selingkuh lagi.


Tekad itu pupus tatkala melihat ia turun di depan sebuah panti asuhan. Ada tanya terbersit dalam hati, untuk apa ia ke sana.


Dari balik pagar besi bercat putih, tampak anak lelaki yang mulai menginjak remaja menghambur ke pelukannya. Siapakah anak lelaki itu? Apakah ia anak Hera? Tapi kenapa ia tak pernah cerita? Di balik persembunyian banyak tanya yang menginginkan jawaban.

__ADS_1


Tak berapa lama Hera disambut pula oleh seorang wanita, setelah itu ia mengajak anak lelaki itu naik angkutan yang kebetulan melintas. Wajah sumringah bocah itu begitu terlihat jelas. Tangan Hera tak henti-hentinya memeluk dan mengelus kepalanya.


Ah, sepertinya benar. Itu pasti anak Hera yang sengaja ia sembunyikan dariku. Dalam hati  terus saja menerka kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjadi fakta.


Angkutan umum berwarna kuning itu berhenti di sebuah supermarket yang cukup besar. Masih dengan lekat kutatap langkah mereka menuju pusat perbelanjaan itu.


Hampir dua jam aku menguntit mereka. Kesimpulanku hanya satu, bocah lelaki itu pasti anak Hera. Entah kenapa ia menyembunyikan semua itu dariku, bahkan membiarkan anaknya tinggal di panti asuhan selama ini.


Kutinggalkan mereka dan kembali ke tempat bekerja. Meski banyak pertanyaan yang bergelayut di pikiran, sebisa mungkin aku simpan rapat. Aku masih bersikap seperti biasa, seolah tak tahu kejadian hari itu.


Hari demi hari sikap Hera tak dapat aku kendalikan lagi. Bahkan pukulan yang aku berikan tak mampu membuatnya jera, justru ia seperti semakin kebal.


Puncaknya adalah ketika ia kembali mengulang kesalahan yang sama, yaitu selingkuh dengan pria kaya. Lebih parahnya tak hanya satu pria, namun lebih. Ya, Tuhan ... ternyata ia menjual diri ke pria hidung belang pemuja nafsu setan.


Hera benar-benar sudah keterlaluan. Ia hampir saja membuatku kehilangan kesabaran. Pertengkaran hebat yang dipicu oleh amarah tak terkendali membuatku ingin menghabisi wanita ****** itu.


Jika tidak mengingat ia wanita yang kucintai, mungkin saat itu tak akan kulepas cengkeraman tanganku pada lehernya. Ia nyaris tewas di tanganku, dan kejadian itu sangat aku sesalkan.


Selang sehari setelah malam yang dinaungi aura penuh dengan sakit hati dan kebencian itu, Hera meninggalkanku yang terlelap tidur. Tak pernah kusangka itu adalah malam terakhir aku melihatnya.


Aku yang tertidur begitu pulas tak menyadari kepergian Hera. Ada yang aneh, tak biasanya aku tertidur nyenyak dalam waktu yang sangat lama. Baru aku sadari ketika tanpa sengaja kutemukan bungkusan serbuk obat tidur. Ternyata wanita licik itu sengaja memasukkan obat tidur di air minum dalam teko.


Marah, kecewa, benci ... semua rasa berbaur menjadi satu. Bangunan cinta yang kujaga telah hancur menjadi puing-puing penuh luka, menyisakan gumpalan dendam yang tak mungkin kubiarkan begitu saja.


Kutinggalkan seluruh rasa yang pernah bersemayam, kuganti semua dengan kegilaan yang siap membuat  wanita tak tahu diri itu tak berkutik lagi. Dendam ini harus tuntas, dia harus menebus setiap luka yang ia berikan.


Ada satu senjata yang dapat aku gunakan, yaitu bocah lelaki di panti asuhan itu. "Lihat saja Hera, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu meminta ampun padaku." Tanganku mengepal geram menahan gejolak penuh amarah yang meletup-letup.


Ya, aku akan balas setiap cacian yang pernah ia lontarkan. Aku akan balas setiap penghianatan yang ia lakukan, dan akan aku toreh luka yang teramat dalam agar ia tak mampu melupakannya. Akan aku siksa batinnya agar ia tahu bagaimana kehilangan orang yang ia cintai.


Sudah kubulatkan tekad untuk merenggut anak itu darinya.

__ADS_1


__ADS_2