
POV Danu
Tuhan selalu punya cara untuk menunjukkan jalan pada setiap hamba yang sedang kesulitan. Meski kembalinya kesadaranku dengan cara ekstrim, namun tetap patut disyukuri.
Ciuman maut milik nenek semlohai hampir saja terulang kembali. Tak bisa kubayangkan detik-detik peristiwa itu, begitu mendebarkan. Ah, mungkin aku yang terlalu lebay.
Tapi, baiklah. Sekarang aku tengah menikmati waktuku bersama bidadari surga yang pernah aku anggap lebih beruntung karena mendapatkan aku, pria tampan pujaan para wanita.
Pada kenyataannya, justru akulah yang sangat beruntung karena memiliki istri sebaik Arini. Ia ternyata wanita yang sangat tangguh, wanita super dan juga cerdas. Dan satu lagi, dia wanita yang tak pernah komplain dengan kekuranganku.
Ya, aku akui ... aku memang sering kepo, keceplosan, kebanyakan mikir ... tapi, semua itu bukan masalah besar. Toh itu semua hal normal yang bisa terjadi pada setiap orang.
Ingat, aku bukan lemot atau telat mikir. Aku hanya penuh perhitungan dalam setiap bertindak.
Ingat, aku bukan ember. Aku hanya kadang latah dan suka keceplosan saja, tak ada niat membeberkan rahasia. Namanya juga tidak sengaja.
Pokoknya, ingatlah aku sebagai Danu yang tampan dan keren. Sudah, itu saja.
Pagi ini, setelah sarapan, Arini membawaku jalan-jalan ke balkon rumah sakit. Katanya agar aku bisa menghirup udara pagi sembari berjemur.
Ya, beberapa hari menjalani pemulihan kesehatan membuatku jenuh di dalam bangsal. Apalagi bau obat yang menusuk indera penciuman, membuat kepala semakin pusing.
"Dek, terimakasih sudah merawat Mas dengan ikhlas dan telaten." Kugenggam jemari lentik Arini. Ia membalas dengan senyum manisnya, kemudian tangannya mengelus pipi kananku.
"Tidak perlu berterimakasih, Mas. Semua sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu."
"Mas tetap harus berterimakasih karena kamu juga telah menghadiahkan si kecil Danu junior untuk ulang tahun pernikahan kita." Kuraba perutnya yang masih rata.
"Hadiah dari Tuhan, Mas."
"Iya, kamu dan Danu junior adalah hadiah dari Tuhan untukku." Kurengkuh pinggangnya, kemudian menyandarkan kepala dalam pelukan wanitaku.
"Oh iya, Dek. Apa Bobby masih menemuimu?" tanyaku menyelidik.
"Setelah Mas Danu siuman, dia sudah tidak ke sini lagi. Mungkin dia masih sibuk, Mas."
"Sibuk atau kecewa karena tahu aku sudah sadar?"
"Maksud Mas Danu apa?" Masih dengan sikap tenang dan santai Arini seolah tak mau tahu dengan perasaan Bobby.
Aku tahu jika perasaan Bobby pasti bertepuk sebelah hati. Harusnya ia sadar bahwa Arini tercipta sebagai tulang rusuk seorang Adarga Handanu yang level ketampanannya hampir menyamai dia.
"Mas, jujur aku penasaran. Kata dokter, Mas Danu sadar seketika berteriak kencang. Seperti nggak ada lemah, letih, letoy ... eh, ups!"
"Iiish ... apaan, sih, Dek!"
"Bercanda, Mas. Tapi serius tanya kenapa bisa mendadak sadar dan langsung teriak-teriak. Memangnya di alam bawah sadar lagi dikejar-kejar malaikat, ya?"
Mataku mendelik mendengar pertanyaan Arini yang aneh. Mending dikejar malaikat, ini lebih menyeramkan. Tapi tak mungkin aku cerita, bisa-bisa jadi bahan sindiran nantinya.
"Bu-bukan dikejar malaikat, Dek."
"Lalu?"
"Mas dikejar hantu. Hantu yang punya bibir seksi," ujarku asal.
"Ketemu kuntilanak?"
"Mana ada kuntilanak bibirnya seksi, Dek?"
"Iya, juga, ya?" Arini sejenak melipat tangan kanan ke dada dan tangan kiri memegang dagu, pandangannya ke langit-langit seraya berpikir.
"Hantu cantik Yuki Onna?"
"Kamu itu ngarang, Dek. Ngapain Yuki Onna datang jauh-jauh dari Negeri Sakura ke negeri netizen tersadis? Baru mau masuk kantor imigran sudah keder duluan dia."
"Hadeeh ... mana ada hantu masuk kantor imigran, Mas?" Arini menepuk jidat.
"Ya, siapa tahu Yuki Onna itu termasuk hantu yang taat aturan."
"Tahu, ah! Malah makin ngelantur."
"Kamu juga, Dek. Aneh! Hahaha ...." tawaku pecah apalagi ketika melihat wajah Arini memberengut.
Hari ini kudapatkan kembali kebahagiaanku. Menggoda Arini dan membuatnya kesal dengan kekonyolanku.
***
Napasku kini lega, akhirnya kehidupan normal kembali menjadi milikku dan Arini. Bisa menghirup udara dalam rumah yang telah lama kurindukan membuatku lebih bahagia.
Suasana rumah yang begitu lengang. Hanya ada aku dan Arini. Tak ada lagi penggoda yang menguji iman dan kesetiaanku.
Kutatap pintu kamar yang pernah di tempati Hera, melangkah mendekati gagang pintu dan memutarnya perlahan. Kuhembuskan napas panjang, lega ... seolah beban berat yang menindih batin telah terangkat dan sirna.
"Kenapa, Mas?" Suara Arini membuyarkan lamunanku.
"Nggak apa-apa, Dek. Mas bersyukur bisa melewati semua ujian." Genangan bening di sudut kelopak mata kuseka dengan punggung telunjuk.
__ADS_1
"Terimakasih, Mas Danu sudah setia dan menjaga hati untukku." Arini menggamit tanganku dan bergelayut manja.
Kerinduanku dengan hangat tubuhnya membuat desiran lembut membangunkan hasrat ingin mengarungi lautan asmara. Dua tangan kekarku segera membopong tubuh langsingnya.
"Assalamualaikum." Suara dari luar membuatku mengurungkan langkah yang hendak menuju peraduan.
"Ada tamu, Mas." Arini memberi kode untuk melihat ke luar.
"Ganggu saja, tuh, orang!" gerutuku seraya menurunkan kembali tubuh Arini.
"Sudah, kita temui aja, dulu. Kayaknya suara Bang Niko."
"Bang Niko? Ngapain ke sini?"
"Hih! Kalau kepo, ya, kudu ke depan, buka pintu terus tanyain lah ...." Nada suara Arini mulai sewot, membuatku bergegas keluar untuk membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Bang Niko. Mari masuk, Bang."
"Lama amat, Dan, buka pintunya."
"Iya, Bang. Baru saja beres-beres kamar."
"Beres-beres apa siap-siap?" tanya Niko meledekku. Sialan dia, tahu saja kalau aku mau siap-siap ke surga dunia.
"Bisa saja, Bang Niko, ini. Memangnya sudah pernah, ya? Hahaha ...."
Pria lajang itu memukul bahuku sembari tertawa, kemudian memintaku untuk memanggil Arini. Sepertinya ada yang akan mereka bicarakan. Kali ini aku harus terlibat dalam urusan mereka.
Sengaja kupasang telinga lebar-lebar agar tak satupun berita terlewatkan. Kedatangan Niko membawa angin segar bagiku dan Arini. Pasalnya, nenek semlohai telah insaf dan bertobat.
Hampir aku tidak percaya dengan penuturan Niko memgenai wanita yang menjadi penggoda dalam rumah tanggaku itu bisa bertobat semudah itu. Jangan-jangan ....
"Arini, Abang datang kemari ingin mengajakmu ketemu Ibu." Kata-kata Niko membuatku bingung.
"Tidak, Bang. Aku tidak ingin berurusan dengan Ibu lagi," sergahku menghalangi.
"Danu, ijinkan Arini menemui Ibunya. Bagaimana pun Arini tidak boleh membenci wanita yang telah melahirkannya."
"Abang tidak tahu bagaimana rasa trauma yang aku alami. Sampai kapan pun aku tidak akan mengijinkan Arini bertemu wanita kejam itu!" Emosiku seketika meledak.
Niko terdiam, pandangannya tertuju pada Arini yang sedari tadi diam mematung. Ada mata yang saling berpijar, berkomunikasi dari hati ke hati. Pandangan yang tak dapat kupahami sebagai sebuah makna tersirat.
"Mas Danu, aku tahu kalau Mas pasti benci dengan Ibu. Tapi, beliau adalah ibuku sekaligus mertua Mas Danu. Sudah sepatutnya kita memaafkan kesalahan yang pernah ia lakukan." Arini mencoba membujukku.
Namun, pendirianku tetap kukuh. Sekali tidak tetap tidak. Tak akan kubiarkan sesuatu terjadi pada istri dan calon bayiku.
"Apa?"
"Datanglah ke tempat aku dulu dibesarkan."
"Panti asuhan?" Dahiku melipat tak mengerti.
"Ya, aku ada perayaan tasyukuran di sana. Datanglah."
Aku dan Arini saling berpandangan, berharap Arini memahami apa yang ada dalam benakku. Namun, ia hanya mengedikkan bahu.
"Baiklah. Kapan perayaannya?"
"Datanglah besok sore pukul 04.00."
Setelah mendengar kesanggupanku dan Arini untuk datang, Niko bergegas pamitan. Kepergian pria lajang itu meninggalkan banyak tanya dalam kepala. Apa mungkin ia ingin merayakan terusirnya Hera dari kehidupan Pak Rahman dan Bobby? Ah, itu tak mungkin.
"Kamu kenapa, Mas?" Arini mengagetkan aku dengan menepuk bahu.
"Eh-oh- itu, nggak apa, kok, Dek."
"Pasti jiwa keponya lagi meronta, ya?" ledek Arini.
"Apaan, sih, Dek? Sukanya meledek suami. Dosa, lho."
"Masa bercanda aja dosa?"
"Itu bukan bercanda, tapi lebih tepatnya nyindir."
"Kok tahu?" Arini tertawa mengejek.
"Tuh, kan? Awas kamu! Aku habisin sekarang juga!" Dengan gemas kubopong kembali wanitaku yang malah membalas dengan bergelayut manja.
"Yakin sudah siap mendayung?" tanya wanitaku dengan kerling mata nakal.
Ah, Arini. Dia kini banyak berubah. Sikap dingin yang dulu ia tunjukkan di awal-awal pernikahan perlahan mulai mencair. Justru dia sekarang terkesan agresif. Apa perubahan Arini karena bawaan bayi, ya?
Entahlah, yang penting aku suka perubahan dia. Jadi lebih romantis.
***
Mentari hampir condong ke barat kala aku dan Arini menginjakkan kaki di depan panti asuhan. Tampak cukup ramai suasananya. Riuh rendah canda tawa anak-anak panti, seolah tak ada kesedihan ataupun beban dalam hati mereka.
__ADS_1
Beberapa anak panti yang telah remaja sibuk menata piring dan gelas. Beberapa orang dewasa yang sepertinya pengurus panti juga sibuk menata makanan di atas meja saji. Sedangkan anak-anak yang masih kecil membantu untuk beberes atau sekedar berlari-larian dengan temannya.
"Dek, apa ini ulang tahun Bang Niko?" tanyaku setengah berbisik ke telinga Arini.
"Nggak tahu, Mas. Yuk, masuk aja!" Arini menarik tanganku untuk mempercepat langkah.
Sesampainya di teras panti asuhan, seorang wanita setengah baya menyambutku dengan ramah. Ia mempersilahkan kami masuk untuk berbaur dengan tamu lainnya. Sepertinya ini sebuah pertemuan dengan para donatur panti asuhan.
Netraku mengedarkan pandangan, memperhatikan setiap tamu yang hadir. Pakaian mereka menunjukkan status sosial mereka yang memang dalam kategori kelas atas.
Pantas saja banyak mobil terparkir di depan hingga tepi jalan. Ternyata perayaan yang digelar bukan sekedar perayaan, melainkan merayakan berdirinya panti asuhan yang ternyata milik seorang pengusaha ternama di negeri ini.
Tapi ... apa hubungannya dengan Niko? Apa hanya karena ia pernah dirawat di sini?
Kepalaku seketika menoleh ketika Arini menghentak tangan yang sedari tadi ia gamit. "Lihat, Mas! Itu Ayah Rahman dan Bang Bobby." Telunjuk Arini mengarah pada dua orang laki-laki yang sedang duduk di salah satu meja tamu.
Naluri detektif sedetik kemudian telah menguasai pikiran. Kenapa mereka juga ada di sini? Sebenarnya kejutan apa yang tengah Niko persiapkan? Huff! Mereka selalu saja membuat jiwa kepo ini meronta.
"Ayo, Mas, kita ke sana!" Tanpa persetujuan dariku, kembali Arini menarik tanganku untuk menuju ke arah Pak Rahman dan Bobby yang sedang terlibat percakapan serius.
"Ayah di sini?" tanya Arini mengejutkan pria yang berusia setengah abad itu.
"Arini, kamu datang juga?"
"Iya, Yah." Arini meraih tangan keriput itu dan menciumnya dengan takzim. Begitu pun aku, sebagai menantu yang baik sudah pasti menghormati ayah mertua. Tapi tidak untuk Bobby, ayah mertua yang level ketampanannya menyaingiku.
Entahlah, aku merasa tak sudi berjabat tangan dengannya. Namun, Arini menyiku perutku sehingga mau tidak mau kujabat pula tangan lelaki yang hampir saja merayu istriku. Terpaksa bersalaman hanya karena melihat kode mata lebar Arini saja.
"Bagaimana keadaanmu, Danu?" tanya Pak Rahman.
"Baik, Yah. Alhamdulillah sudah lebih enakan sekarang."
"Syukurlah. Semoga tak akan terulang lagi, ya."
"Saya pastikan kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi, Yah. Aku tidak akan membiarkan nenek semlohai itu ...." kata-kata yang penuh kobaran api semangat terpaksa kutahan karena lidah ini lagi-lagi kepleset. Sial memang!
"Nenek semlohai?" Pak Rahman mengernyitkan dahi. Wajah yang mulai keriput itu semakin berkerut karena tak mengerti dengan ucapanku.
"Hmm ... maksud saya, ini ... eeh ...."
"Yang dimaksud nenek semlohai oleh Danu itu Hera, Mas. Mas Rahman ketinggalan info, ya? Hahaha ...."
Sialan! Jawaban Bobby mampu membuat aku kehilangan muka di depan ayah mertua.
"Hahaha ... benarkah itu, Danu?" tanya Pak Rahman sembari melepas tawa lebarnya.
Wajahku makin pias menahan malu. Dengan menahan malu kuanggukkan kepala untuk mengiyakan.
"Ternyata sebagai menantu kamu mengakui tubuh mertuamu itu menggoda, ya?" Ucapan Bobby menyengat telingaku, kurasa ia sedang mengolokku.
"Apa maksud kamu?" Kutinggikan nada suaraku.
"Mas, ssttt!" Arini menempelkan telunjuk ke bibirnya, memberikan kode agar aku diam.
"Tapi, Dek ...."
"Acara sudah mau dimulai." Arini mengarahkan pandangan ke atas panggung kecil.
Seorang master of ceremony mulai membuka acara. Mulai dari doa pembukaan, penampilan kelompok koor dari anak-anak panti yang membawakan beberapa lagu nasional, kemudian laporan kegiatan oleh panitia, dan juga sambutan dari pemilik yayasan pengelola panti asuhan.
Acara demi acara telah terlewati, namun sejak tadi netraku tak menemukan sosok Niko. Sebenarnya apa maunya Niko? Mengundang tapi dia sendiri tak hadir.
"Baiklah hadirin yang berbahagia. Acara berikutnya yaitu berbagi cerita dari salah satu anak panti asuhan ini. Dia adalah contoh teladan bagi seluruh anak panti lainnya. Dia berhasil membuktikan, bahwa anak panti asuhan juga bisa sukses."
Pembawa acara itu kurasa bertele-tele, bikin ngantuk saja. 'Kan bisa to the point saja, gitu, siapa orangnya. Pakai acara pengantar mukadimah yang panjang seperti rel kereta api.
"Mari kita sambut dia, Niko Putra Doni Mahendra!"
Mataku terkesiap ketika pembawa acara itu menyebut nama Niko. Ternyata Niko menjadi tamu kehormatan dalam acara ini. Tapi tunggu dulu, Niko sukses? Bukankah selama ini dia menumpang hidup di rumah Bobby?
Beruntung sekali Niko, meski terlahir dari rahim wanita jahanam, namun bintang kehidupan menyinarinya. Dengan setelan jas hitam dan paduan kemeja biru langit, dilengkapi dasi bergaris hitam putih, Niko begitu gagah menaiki panggung.
Sungguh jauh berbeda dengan Niko yang sempat kulihat sebelumnya. Kenapa seluruh misteri belum juga terungkap sempurna? Masih saja menyisakan tabir tebal yang menyelimuti setiap rahasia kehidupan mereka.
Sepertinya rasa penasaran ini akan terus berlanjut.
Baiklah, akan aku buat daftar pertanyaan yang tengah berputar-putar di kepala.
Mengapa Niko bisa sukses dan menjadi tamu kehormatan di acara ini? Bagaimana perasaan Bobby sebenarnya ke Arini dan ada apa dibalik tatapan mata aneh itu? Lalu, bagaimana nasib Bu Hera setelah tidak mendapatkan hati Bobby ataupun Pak Rahman?
Masih ada satu lagi, apakah penggoda dalam rumah tanggaku akan kembali lagi? Jangan-jangan ... bola manik ini beralih menatap ayah tiri Arini. Entah kenapa hatiku berbisik jika pria itu punya niat terselubung terhadap wanitaku.
Entahlah, semua masih menjadi misteri masa yang akan datang. Misteri masa lalu saja belum terungkap semua, bagaimana dengan misteri kehidupan di masa depan?
Sepertinya ada bintang berputar di kepalaku, membuat denyut nyeri di bagian pelipis hingga tengkorak belakang.
Berasa ingin menjadi roh kembali untuk mengetahui semuanya.
__ADS_1