
POV Danu
Kuseka keringat yang membasahi dahi. Langkah gontai menuju sebuah kedai kecil. Kupesan segelas es teh untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Terik matahari membakar kulit, menjadikan suhu tubuh naik dan gerah.
Dua puluh menit aku berjalan menghabiskan waktu menunggu Arini pulang. Martin yang kutuju tak juga kudapati di tempat kost. Ia pergi dengan kekasih baru, katanya. Enak bener dia, tanggal merah untuk kencan dengan cewek.
Tak seperti aku yang harus berjalan panas-panasan hanya demi menghindar dari ibu mertua. Seharusnya rumah itu bisa memberiku ketenangan, namun semenjak nenek semlohai itu hadir dalam kehidupan rumah tanggaku, semua jadi kacau.
Rasa takut malam-malam ia datang menggerayangi tubuhku membuat bulu kuduk meremang. Ketakutan yang berlebih menjadikan aku phobia dengan yang namanya ibu mertua. Bikin paranoid saja itu nenek semlohai.
Aku teguk es teh hingga tandas, kemudian minta diisi kembali. Pas sekali, ada gorengan risoles isi kentang kesukaanku. Jadi ingat Arini, ia suka risoles dengan isian daging ayam kemudian yang ia cocol dengan mayones.
Tapi tak apa, sementara risoles isian kentang dulu. Aku ambil lima biji dan meminta penjual itu untuk membungkusnya. Akan aku bawa pulang khusus untuk wanita terkasihku.
Aku mencoba menghubungi Arini, namun tak diangkat. Dasar wanita, kalau sudah ngerumpi pasti lupa waktu. Tidak sabar rasanya menunggu, lagipula sudah pukul tiga sore. Harusnya kalau hanya sekedar kumpul satu atau dua jam cukup. Tapi kenapa sampai lebih dari lima jam tak kunjung selesai juga?
[Dek, pulang!] Aku layangkan ultimatum via whatsapp.
Lima menit ....
Sepuluh menit ....
Dua puluh lima menit ....
[Iya, sabar, Mas] akhirnya balas juga dia, tidak mikir sama sekali kalau aku sudah telepon berkali-kali tidak diangkat. Bikin emosi saja lama-lama nih, bini!
[Mau pulang jam berapa? Nggak tahu kalau suamimu ini sampai karatan nungguin kamu di pinggir jalan?]
[Lho, kok nungguin di pinggir jalan? Katanya mau ke rumah teman?]
[Dia nggak ada!] jawabku ketus.
[Kemana?]
[Udah, ah! Jangan banyak tanya, buruan pulang!]
[Mas Danu pulang duluan saja]
[Ogah, takut sama ibu] emotikon ketakutan aku sertakan.
[Kok takut? Bukannya Mas Danu sudah hebat bisa nolak ibu?]
[Takut kalau pas Mas lengah ibu menikam aku dari belakang terus dagingku dibikin barbeque sama ibu!]
Arini membalas dengan emotikon tertawa ngakak. Apanya yang lucu? Dia pikir ketakutanku adalah lelucon?
[Pokoknya pulang sekarang juga!]
[Iya, ini aku sudah mau otw]
[Mas nunggu di mushala dekat rumah, ya?]
Arini hanya menjawab dengan emotikon oke. Mungkin saja dia sudah siap-siap pulang sehingga menjawab pendek.
Tidak ingin membuang waktu segera kubayar risoles yang telah terbungkus plastik dan es teh yang kuminum. Ibu jariku bergerak menyapu layar gawai mencari logo ojek online.
Beberapa menit kemudian driver ojek online datang dan ....
"Eh, ini Mas yang waktu itu pinjam jaket dan helm saya, ya?"
__ADS_1
"Masih inget aja kamu, Bang."
"Jelas ingat lah, Mas. Berkat Mas pinjam jaket dan helm, aku bisa beliin baju baru untuk hadiah ulang tahun anakku." Senyum bahagia tersungging jelas di wajah lelaki tinggi berkumis tebal itu.
Sungguh aku tidak menyangka kalau apa yang aku lakukan waktu itu ternyata sangat bermanfaat bagi orang lain. Terharu mendengar ceritanya, mungkin nanti aku kasih tips saja biar lebih senang.
Memberi lima hingga sepuluh ribu aku rasa tak akan membuatku miskin, tapi bagi dia yang membutuhkan, uang segitu teramat berarti.
"Alhamdulillah kalau uang itu bermanfaat. Sekarang tolong antar saya pulang, Bang."
"Siap, Mas. Silahkan naik, ini helmnya." Dengan sopan si abang ojek online menyerahkan helm berwarna hijau.
Hanya butuh waktu lima belas menitan untuk tiba di mushala dekat rumah. Aku sengaja menunggu Arini di mushola karena memang berusaha menghindar dari ibu mertua yang semakin hari semakin menakutkan dalam pandanganku.
"Mas, kok, minta turun di sini?"
"Iya, Bang. Mau salat azar dulu."
"Wah ... Mas ini selain ganteng, baik hati, rajin ibadah juga, ya. Benar-benar baik luar dalam Mas ini."
Aku tersenyum simpul mendengar pujian pria yang ternyata mengagumiku juga. Bukan kali ini saja aku mendapat pujian, di kantor banyak juga teman-teman cewek yang mengagumi kegantengan dan kebaikan hatiku.
"Kalau salat itu sudah kewajiban, Bang. Kalau baik itu harus, karena kita di dunia ini harus bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan juga orang lain. Nah, kalau ganteng itu sudah takdir dari sananya." Aku menepuk bahu pria itu yang disambut anggukan kepala manggut-manggut seperti kepala boneka di dashboard mobil.
"Iya, Mas, bener banget."
"Iya, donk. Ya sudah, ini aku bayar ongkosnya. Kembaliannya ambil saja." Kuserahkan uang dua puluh ribuan.
"Waduh ... terimakasih, Mas. Semoga rejekinya lancar, ya."
"Aamiin ...." Kutatap kepergian pria yang sekali lagi menampakkan kebahagiaan meski uang tak seberapa yang kuberi.
Benar, tidak semua manusia seberuntung aku. Jadi ingat pesan ayah waktu aku masih kelas tiga SMA, pesan itu hampir beberapa kali diucapkan ayah untuk mengingatkan aku.
Wejangan panjang lebar itu masih aku ingat, terekam baik dalam ingatan dan terpatri dalam sanubari. Ah, jadi kangen ayah.
Bergegas aku ambil air wudhu dan segera menunaikan kewajiban salat azar. Dzikir dan doa tak pernah aku lewatkan untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta. Doa utamaku saat ini adalah agar dilindungi dari hal-hal yang dapat membuat imanku goyah.
"Mas ... Mas Danu." Terdengar suara Arini di depan pagar mushala, tepat saat aku mengakhiri doa.
"Mas Danu salat sekalian?" tanya Arini saat melihatku keluar dari mushala.
"Iya, Dek. Biar nanti pulang sudah tenang, nggak kemrungsung lagi. Kamu mau salat?"
"Nggak, Mas. Tadi tamu tak diundang datang tiba-tiba."
"Siapa? Kan, kamu pergi, Dek."
"Haduh ... maksudnya tamu datang bulan alias haid, Mas." Arini menepuk jidat. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sering menepuk jidat ketika bicara denganku.
"Kalau gitu, Mas nggak dapat jatah seminggu, donk."
"Lha, kan, masih dihukum puasa seminggu."
"Mas lagi nggak kuat puasa Senin Kamis, Dek. Hukumannya ganti yang lain, ya?"
"Tau, ah! Sebel!" Arini menghentak kaki dan berlalu dari hadapanku.
"Lho, kok marah?" Segera kusejajari langkahnya, meraih jemarinya untuk kugandeng.
__ADS_1
"Dek, tadi lama banget kumpulnya?"
"Tadi habis makan-makan, terus jalan-jalan, Mas."
"Enak bener."
"Iya, donk ... Mas sendiri gimana acaranya dengan Martin?"
"Martin pergi dengan cewek barunya!"
"Ooh ...."
Hanya jawaban sependek itu yang Arini ucapkan. Namun, kulihat ia mengulas senyum, lebih tepatnya seolah menahan tawa.
Tiba di depan pagar rumah, kulihat ibu mertua sedang asyik memotong ranting tanaman di taman kecil depan rumah. Sorot mata tidak suka masih saja dapat aku temukan di pendar bola maniknya.
Hmm ... tatapan itu membuatku menghela napas mengumpulkan keberanian untuk masuk ke rumah. Tentu saja hal tersebut membuatku salah tingkah. Apalagi dengan sengaja ia menggunting ranting dengan penuh emosi sembari menatapku penuh dendam.
Aku bergidik ngeri. Bayangan wanita kejam yang siap menghabisi nyawaku terlintas menyeramkan. Tak bisa kubayangkan jika wanita itu benar-benar menggunakan berbagai cara untuk melenyapkan aku. Perseteruan ibu dan anak itu justru membuatku paranoid dengan berbagai kemungkinan yang mengancam jiwa.
"Dek, Ibu makin nakutin," bisikku pada Arini.
"Udah biarin. Kita harus nunjukin sikap biasa saja." Dengan santai Arini menanggapi, tangan yang sedari tadi kugandeng kini menggamitku dan setengah menarik agar aku cepat masuk ke rumah.
***
"Mas, makan malam sudah siap!" panggil Arini dari ruang makan. Kututup laptop yang sedari tadi menemaniku menghabiskan waktu menunggu masakan matang.
"Bu, makan malam sudah siap. Ayo makan bareng." Kembali kudengar suara Arini sembari mengetuk pintu kamar Bu Hera.
Dahiku mengeryit. Ada apa dengan Arini? Apakah ia ingin berdamai dengan ibunya?
Beberapa kali Arini memanggil dan mengetuk pintu. Namun, tidak sepatah kata pun ada sahutan.
"Ayolah, Bu. Kita perbaiki hubungan kita. Kita ini anak dan ibu. Tak pantas rasanya terus-terusan bersiteru seperti ini." Arini berusaha membujuk ibunya, namun tetap saja wanita itu bergeming.
"Dek, sudahlah. Jangan dipaksa."
"Ibu masih pengen tinggal di rumah ini, kan?" Suara Arini meninggi, ia tak menghiraukan anjuranku. Ada nada mengancam dalam kalimat Arini.
Tak berapa lama Bu Hera membuka pintu. Dengan malas ia melangkah menuju meja makan, menyendok nasi dan mengambil sayur serta lauk. Tanpa suara, tanpa basa basi ... ia habiskan makanan di piring dengan begitu lahap. Gila, itu doyan apa lapar? Makan begitu amat?
Arini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ibunya yang makan tanpa aturan. Bahkan sayur hanya dan lauk hanya ia sisakan sedikit, cukup untuk makan satu orang. Aku meneguk saliva.
"Dek, kamu yang makan, ya?" ucapku setelah Bu Hera kembali ke kamar dengan suara sendawa karena kekenyangan.
"Nggak usah, Mas. Nanti aku ceplok telur saja. Mas Danu makan saja dulu." Masih dengan senyum wanitaku menyendokkan nasi untukku.
"Eh, iya, Dek. Mas lupa. Tadi Mas beli risoles, aku taruh di meja kamar. Bentar aku ambil." Bergegas aku menjemput risoles yang sengaja aku beli untuk Arini tadi sore.
"Ini dia ... tapi isian kentang, Dek. Nggak apa, ya?"
"Apapun yang Mas Danu kasih, aku akan suka, Mas." Sungguh so sweet aku mendengar ucapan bidadari surgaku.
Segera kuambil botol mayones dan piring kecil. Kusiapkan semua untuk Arini. "Ini tuan putri, risoles siap dicocol ...."
Arini tertawa renyah, ia menarik kepalaku dan mendaratkan ciuman di kedua pipi, diakhiri dengan kecupan di hidung. Dia bilang, paling suka dengan hidung bangirku. Ya iyalah, secara hidung Arini tak semancung aku, hahaha ....
Malam beranjak larut, wanitaku sudah sejak tadi hanyut dalam buai mimpi. Sedangkan aku, masih saja resah dan gelisah. Kupandangi wajah Arini. Ada banyak tanya memenuhi ruang kepalaku, apa yang sebenarnya Arini rencanakan? Kenapa ia tetiba mencoba berdamai dengan ibunya?
__ADS_1
Semoga ini awal yang baik. Aku juga sudah mulai lelah dengan rasa ketakutan yang terus merundungku. Aku lelaki, tapi aku kalah akal dengan wanita licik itu. Itu yang menyebabkan aku tak sekuat Arini, bahkan tak secerdik cara berpikir atau menyikapi masalah.
Arini, maafkan Mas yang banyak kekurangan. Kucium lembut pucuk kepala bidadari tak bersayap di hadapanku. "I love you, Ariniku sayang. Mas janji akan tetap menjaga hati untukmu," ucapku perlahan mengakhiri romantisme malam tanpa berbalas.