
Setelah menunggu ibu mertua bersiap-siap selama dua puluh menit, akhirnya wanita itu muncul dengan gamis berwarna navy membalut tubuh montoknya. Hijab warna senada menonjolkan wajah yang masih menyisakan kecantikan masa muda.
MashaAllah ... sungguh cantik ia dalam balutan pakaian syar'i. Seandainya saja hidayah itu datang, mungkin hati yang hampir mati itu akan kembali ke fitrahnya sebagai istri dan ibu yang baik.
"Bobby, buruan pesen ojek online!" perintah Bu Hera sembari duduk dengan kaki kanan di atas kaki kiri.
"Untuk apa?"
"Pesen mobil lah ... emangnya kamu pikir aku mau naik motor bututmu itu!"
Ya, Allah ... baru saja dalam hatiku mengagumi kecantikan fisiknya, tapi sosok anggun itu justru masih saja menampakkan sifat aslinya.
Bobby hanya mendengus, kemudian meraih gawai yang ada dalam waistbag. "Pak Nardi, tolong bawa mobil ke sini, ya."
"Pak Nardi? Bukankah dia sopir Ayah kamu?" tanya Bu Heran dengan memicingkan netra.
"Iya, kenapa?" jawab Bobby dengan cuek.
"Itu artinya kamu sudah kembali ke keluargamu?"
"Ya iyalah ... kalau tidak kembali ke orang tuaku terus aku mau kemana?"
"Semua fasilitas yang dulu ayah ambil, sudah kamu dapatkan lagi donk?"
"So pasti!" Bobby melipat tangan ke dada dan menyandarkan kembali bahu ke sofa, tampak ada aura kesombongan yang ingin ia tunjukkan.
Arini yang sedari tadi terlihat menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya ia jengah dengan sikap ibunya.
Tak berapa lama sebuah mobil hitam menepi tepat di depan pagar. Bu Hera segera mengekori Bobby yang telah melangkah terlebih dahulu.
"Kita ikut, Dek?" tanyaku saat melihat Arini mengambil kontak dan helm.
"Iya. Kita nggak boleh melewatkan pertunjukkan berikutnya."
Aku tercengang. Apa maksud Arini dengan pertunjukkan berikutnya? Ini artinya akan ada hal yang mengejutkan lagi di rumah Bobby.
Baiklah, aku juga penasaran. Sepertinya Bu Hera harus banyak menyiapkan hati dan mental karena kejutan yang telah disiapkan oleh Arini dan Bobby.
"Kita nggak semobil saja, Dek, dengan mereka?" tanyaku kembali saat Arini mengunci pintu rumah.
"Kita pakai motor Mas Danu saja karena setelah urusan selesai kita langsung pulang."
"Ibu nggak ikut pulang?"
Arini yang hendak naik ke atas motor tetiba mengurungkan niat. Ia justru memandangku dengan rasa tidak suka.
"Kenapa, Dek?"
"Kamu maunya Ibu balik ke rumah ini?" tanya Arini dengan ketus.
Duh, salah lagi pertanyaanku. Bakalan salah paham dia, runyam ... runyam ....
"Nggak gitu, Dek. Mas hanya ...."
"Sudah, nggak usah banyak ngomong. Tuh, mobil Bobby sudah jalan."
"I-iya, Dek. Buruan naik!"
Segera tangan ini menggeber gas untuk menyusul mobil Bobby yang telah melaju. Sepanjang perjalanan, Arini hanya diam membisu. Tak sepatah kata keluar dari bibirnya. Hanya sesekali ia mengeratkan pelukan dan bersandar di punggungku.
Hembusan angin malam menerpa wajah, temaram lampu jalan menghias malam yang kian beranjak menua. Lengangnya jalanan di malam hari membuatku mampu menikmati dekapan hangat wanitaku.
***
Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil itu membawaku ikut menepi. Sebuah rumah mewah dengan gaya modern berdiri kokoh di hadapanku. Benarkah ini rumah Bobby?
Pagar besi tinggi itu tetiba terbuka otomatis dan membiarkan mobil hitam masuk disusul dengan motor kesayanganku.
__ADS_1
"Dek, Bobby beneran tajir melintir, ya?" bisikku pada Arini setelah turun dari motor.
Aneh, Arini hanya menanggapi dengan senyum datar. "Dek, kalau kamu diajak nikah dengan Bobby, mau nggak?" Pertanyaan konyolku kini mampu membuat mata indah Arini seketika mendelik menakutkan.
"Aku hanya bercanda, Dek."
"Nggak lucu!" balas Arini seraya melangkahkan kaki meninggalkan aku yang masih duduk di atas motor.
Mau tidak mau, aku segera menyusul langkah mereka yang hampir sampai pintu rumah. Pantas saja Bu Hera merasa kecewa karena harus meninggalkan kemewahan yang ia harapkan. Aku yakin, Bu Hera menikah dengan Bobby karena menginginkan segala fasilitas di rumah yang bak istana ini.
Suasana rumah tampak sepi. Bahkan lampu ruang tamu telah dimatikan. Setelah menekan saklar, Bobby mempersilahkan semua untuk duduk. Tapi, entah ada apa dengan Bu Hera. Sikapnya kepada Bobby berubah seratus delapan puluh derajat.
Mataku tak lepas terus memperhatikan semua tingkah Bu Hera yang mulai bersikap manja ke Bobby. Dasar, wanita matre! Tadi saja lihat Bobby naik motor butut langsung menolak mentah-mentah, giliran lihat Bobby kembali ke istana megahnya langsung sok dimanis-manisin.
Sungguh menyebalkan. Beruntung aku dapatnya Arini, coba kalau saat itu Tuhan kasihnya wanita semacam dia. Bisa-bisa ... eh, tapi aku kan nggak sekaya Bobby. Ya, sudah ... beruntung aku bukan borjuis yang hanya dimanfaatin wanita semacam Bu Hera.
"Sayang, aku ikut naik ke kamar, ya?" ucap Bu Hera tanpa malu-malu sembari bergelayut manja di lengan kekar Bobby.
"Kamu tunggu di sini." Bobby sepertinya risih dengan sikap Bu Hera, ia berusaha melepas tangan wanita genit itu.
"Tapi, Sayang ...."
"Cukup Hera! Sekarang kamu duduk!" Dengan kasar Bobby menghentakkan tangan, membuat wanita itu terkejut dan akhirnya mundur untuk duduk.
"Mbok Nem!" panggil Bobby beberapa kali saat ia memasuki ruang tengah.
Datang seorang wanita paruh baya dengan tergopoh-gopoh menghampiri Bobby. Dapat kulihat wanita itu baru saja bangun tidur karena tatanan rambut yang hanya ia tali karet dengan asal.
"Iya, Den."
"Bangunkan Papa, Mama, dan Niko."
"Baik, Den."
Setelahnya Bobby bergegas menaiki tangga. Mungkin menuju ke kamarnya. Tapi kenapa Pak Nardi mengikutinya? Bukankah ia hanya sopir? Rasa penasaran ini semakin memuncak ke level maksimal.
"Sudah, tunggu aja nanti." Masih dengan nada datar, Arini menjawab sembari menatap aneh ke Bu Hera yang malah asyik selfi dengan beberapa perabotan mewah yang ada di ruang tamu ini.
Tak habis pikir dengan sikap wanita satu itu. Menilik tingkah lakunya, sepertinya ia butuh psikiater atau ... mungkin saja dia harus dirukiyah, biar semua setan iblis jin kayangan yang bersemayam di otak dan hatinya bisa pergi menjauh.
"Dek, kamu kepikiran nggak untuk bawa ibu ke ustadz atau kyai, gitu?" Masih setengah berbisik aku bicara dengan Arini.
"Untuk apa?" Arini mengeryitkan dahi.
"Untuk ngusir setan dalam tubuh Ibu."
Mata Arini kembali mendelik dan diakhiri tepok jidat.
"Kamu kenapa, Dek? Nggak setuju?"
"Emangnya Ibu kesurupan?"
"Bukan, siapa tahu dia perlu dirukiyah. Kalau Mas lihat, nih ... Ibu kayaknya ketutup hatinya karena dirasuki raja jin iblis, deh."
"Hahaha ... bukannya dia ratu iblis?"
"Ssttt ... nggak boleh gitu, Dek. Bagaimana pun dia tetap Ibu kamu."
"Iya, aku tahu. Siapa juga yang bilang dia Ibunya tuyul botak?"
"Malah ngelawak. Aku serius, Dek."
"Oke, kalau begitu Mas yang bawa Ibu ke ustadz atau kyai."
"Kok, Mas yang bawa? Mas takut, Dek. Takut pas lagi boncengin tiba-tiba Ibu gigit leher Mas dari belakang."
"Memangnya Ibu vampir? Hadeeh ... kamu ini Mas, nggak banget, deh!"
__ADS_1
"Kamu sama aja kayak Martin. Sering bilang aku ini kalau punya ide nggak banget. Itu ide juga hasil mikir, bukan asal comot."
"Iya, iya. Nanti, ya, kita bawa Ibu ke dukun."
"Kok, dukun?"
"Eh, salah, ya?"
Lama-lama Arini kok ngeselin, ya? Bikin rencana aku nggak dilibatkan. Diam-diam pergi bertemu dengan Bobby tanpa sepengetahuanku. Itu sudah dosa, tapi dia tak pernah menyadari itu.
Apa susahnya melibatkan suami dalam misi menyingkirkan wanita penggoda itu? Dipikir aku tidak bisa melakukan apapun?
"Ternyata kamu belum berubah juga, Hera!" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan aku, apalagi Bu Hera yang seketika langsung menghentikan aksi selfie-nya.
"Eh, Mama mertua." Bu Hera tanpa rasa sungkan segera menghampiri wanita berambut sebahu itu.
"Pede sekali kamu panggil aku Ibu mertua, kamu pikir aku sudi menerima kamu sebagai menantuku?" Sungguh kata-kata yang menohok hati.
"Ternyata Ibu mertua belum berubah juga, masih sama seperti dulu. Ibu mertua yang kejam." Bu Hera mengolok balik dengan senyum penuh ejek.
Benar saja, urat malu Bu Hera sepertinya memang sudah putus. Bahkan ia tak mempan dengan sindiran sekeras itu. Bahkan dengan santai ia membalas dengan olokan.
"Kasihan anak-anak kamu, pasti mereka malu punya Ibu yang tak punya naruni."
"Nggak juga, buktinya Arini mau menerimaku." Dengan begitu santai Bu Hera melirik Arini, tentu saja Arini hanya bisa mendengus mendengar ucapan ibunya.
"Arini terlalu baik dan dia beruntung besar tidak dalam asuhanmu." Kembali wanita yang dipanggil Ibu mertua oleh Bu Hera itu mencoba menghakimi menantu yang tak pernah ia akui itu.
"Dia beruntung karena aku masih berbaik hati meninggalkan uang di tabungan ayahnya."
Astaghfirullah ... masih saja wanita tak tahu malu itu pandai menjawab. Bahkan tak sedikit pun rasa bersalah tersirat.
"Tapi aku malu, Bu." Semua pandangan teralih saat suara lelaki muda yang usianya sedikit di atasku itu menuruni tangga bersama Bobby.
"Aku malu memiliki Ibu yang tidak punya hati. Aku malu memiliki Ibu yang tega menghancurkan rumah tangganya sendiri demi lelaki lain. Aku malu memiliki Ibu yang tak pandai membalas budi baik orang yang sudah menolong dan mengangkat derajatnya menjadi wanita baik-baik dan terhormat. Aku malu memiliki Ibu sepertimu!" Penekanan kata demi kata menyiratkan berjuta kecewa yang telah lama ia pendam.
"Niko? Kamu benar Niko, Nak?" Wajah Bu Hera kini berubah, wajah sendu mengharu biru.
Bu Hera mencoba mendekat dan hendak menyentuh pipi lelaki yang ternyata adalah Niko, namun tangan itu luput. Niko menghindar dan tak ingin disentuh sedikit pun oleh ibunya.
"Nak, ini Ibu."
"Mungkin saat kecil aku masih menganggapmu ibu yang baik, tapi semenjak kamu meninggalkan aku di panti asuhan demi laki-laki yang menghancurkan Ayah Rahman, anggapan itu hilang. Kamu tak lebih dari seorang wanita pemburu kesenangan. Kamu abaikan anak-anakmu demi kepuasan diri sendiri!"
"Cukup, Niko! Pasti Bobby dan orang tuanya yang meracuni otakmu!"
"Ibu yang cukup! Cukup sudah dengan semua petualanganmu. Cukup sudah menyalahkan orang lain, dan cukup sudah kamu ganggu rumah tangga Arini!"
"Apa? Jadi, jadi ... kalian sudah bertemu?" Bu Hera silih berganti menatap Niko dan Arini, ia seolah tak percaya bahwa anak-anaknya telah melakukan sebuah rencana untuk menjebaknya.
"Arini! Jawab pertanyaan Ibu, apa semua ini rencanamu? Apa saja yang sudah kamu katakan untuk meracuni pikiran Niko?" Bu Hera mendekat dan memegang dagu Arini, dengan perlahan namun kuat Arini menepis tangan ibunya.
"Iya, semua adalah rencanaku. Dan ini adalah saat-saat yang aku tunggu, membuka mata hatimu yang sudah sekian lama tertutup keserakahan dan nafsu."
Plak!
Aku terhenyak saat melihat tangan itu telah melayang di pipi istriku. Segera aku tarik Arini dan mencoba melindungi dari serangan wanita itu kembali.
"Cukup, Bu! Ibu itu sudah keterlaluan. Arini sudah terlalu baik tapi Ibu yang tidak punya malu!"
"Ooh ... jadi, sekarang kamu berani denganku? Hah? Jadi kamu berani sekarang!" Seperti kesetanan Bu Hera meraih vas bunga di dekatnya dan memukulkan ke kepalaku secara membabi buta.
Aku sudah berusaha menutupi kepala dengan kedua tangan, tapi pada kenyataannya kepalaku menjadi berputar. Aku terhuyung dan jatuh tersungkur. Dalam pandangan kaburku, tampak Niko dan Bobby mencoba menarik tubuh wanita jahanam itu.
Ada yang kurasakan sedang mengalir hingga tengkukku, saat kuraba ada cairan basah. Kucoba untuk memastikan dengan melihat telapak tangan yang telah basah. Cairan merah berbau anyir. Darah.
Tubuhku limbung seketika, hanya kudengar teriakan Arini dan setelah itu ... entahlah.
__ADS_1