
Kegalauan yang melanda akhirnya berganti rasa lega yang tak terkira. Pasalnya, bidadari cantikku tak pernah berpaling sedikit pun ke pria lain. Aku tahu, Arini pasti tak akan bisa meninggalkan lelaki tampan dan setia sepertiku.
Sepanjang perjalanan senyumku terus saja merekah, membayangkan nanti malam akan kureguk kembali manisnya cinta bersama wanita halalku. Menyesal pernah mengabaikan rayuan nakal yang seharusnya mendapat respon dariku.
Seandainya waktu dapat kuputar kembali, tak akan kubiarkan belahan jiwaku menahan hasrat seorang diri. Ah ... sepertinya benar kata orang, aku ini memang bodoh.
Tapi tak apa, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki semua. Apalagi Arini selalu memaklumi setiap hal tentangku, termasuk ketidakpekaan yang selama ini dianggap sebagai kebodohanku.
Tentu saja harus maklum, aku begini juga karena ibunya yang dulu memukul kepalaku hingga koma. Coba kalau dulu tidak digetok pakai vas, sudah pasti kejeniusanku akan bertahan hingga kini.
Lamunanku buyar kala pintu mobil diketuk dari luar. "Jadi pulang, nggak?" tanya Arini yang ternyata sudah siap untuk pulang mengendarai roda dua.
"Iya, Dek. Sabar."
"Aku sampai balik lagi karena Mas Danu malah bengong aja!"
"Itu, Dek ... anu, Mas lupa kontak mobil."
"Lha, itu udah nempel."
"Oh, iya. Wah, Mas jadi pelupa gini, Dek." Tak bisa lagi aku beralasan untuk menyembunyikan rasa malu karena ketahuan bohong.
Arini hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku, tanpa basa-basi ia pun melajukan kembali motor tunggangannya untuk mendahului aku. Tentu saja tangan ini segera pegang kemudi dan tancap gas untuk menyusul.
Perjalanan menguntit dari belakang kali ini berjalan menyenangkan. Bidadari tak bersayap itu tampak begitu tenang mengendarai motor kesayangan, tak menoleh meski terkadang aku menggodanya dengan membunyikan klakson.
Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya perjalanan berakhir di istana cinta. Ada rasa bahagia yang menjalar kala kupandangi bangunan bercat ungu tua dan pink itu. Rumah yang menjadi saksi kekuatan cinta antara aku dan Arini.
Sekelebat netraku menangkap bayangan Sri berada di balik jendela sedang mengintip kedatangan kami. Namun, Arini dan aku sudah sepakat untuk pura-pura tidak tahu rencana mereka.
Kuturunkan kembali koper kecil dan menyeretnya masuk dengan alunan senandung kecil mengiringi setiap langkah. Senyum sinis mengembang kala bersitatap dengan setan berwajah manis yang ternyata penyebar perangkap.
Seakan mampu membaca riak wajah yang kutampilkan, ia seperti orang yang canggung. Tentu saja sikap tidak suka tak dapat aku sembunyikan lagi, tekadku satu ... hari ini dia harus angkat kaki juga dari rumahku.
"Tuan tidak jadi pergi?" tanya wanita iguana yang ternyata sering berkamuflase itu.
"Temui aku di ruang kerja!" titahku sembari berlalu dan membiarkan ia melongo begitu saja.
Arini yang telah masuk duluan ke kamar dan berganti pakaian tampak sedang asyik menyapa putra dan putri. Senyum manis itu kembali membuatku merasa begitu damai.
Perlahan namun pasti kudekati penguasa tahta cinta di hatiku, kudekap erat tubuhnya dari belakang dan bisikan cinta tak dapat kutahan lagi. "I love you my honey, I'm promise never believe other. I will keep our love until die."
"Halah ... sok Bahasa Inggris segala, Mas. Biar dibilang gombalannya naik level apa?" canda Arini sembari terkekeh.
"Kamu ini, Dek. Nggak romantis!" cibirku dengan bibir mencebik dan lagi-lagi Arini hanya merespon dengan tawa kecil.
"Dek, aku panggil Sri ke ruang kerja sekarang, ya? Itu Martin juga sudah datang, biar nggak kelamaan menunggu." Sambungku yang dijawab Arini dengan anggukan dan jari membentuk oke.
Langkahku segera menuju ke ruang tamu untuk mengajak Martin masuk ke ruang kerja. Selanjutnya memanggil Sri yang sedang mengelap lemari pajangan. Kuabaikan sorot mata penuh pertanyaan dari wanita licik itu.
Layaknya sebuah sidang dengan seorang terdakwa, maka Sri sengaja aku dudukkan di sebuah kursi yang berhadapan dengan sofa tempat aku, Martin, dan Arini duduk.
Kulemparkan tiga lembar foto, salah satunya adalah foto terakhir yang baru saja aku temukan tadi. Benar dugaanku, Sri adalah orang yang bertugas meletakkan foto-foto itu.
"Aku sudah menerima foto-foto itu. Sekarang jelaskan apakah wanita di foto itu benar-benar Arini?" tanyaku dengan penuh penekanan.
Ekspresi penuh kebingungan tampak jelas tergambar di wajah Sri, ia hanya menunduk dalam tanpa mampu menjelaskan apapun.
"Kenapa diam? Kamu bilang istriku selingkuh dengan Bobby, sejauh mana hubungan mereka?"
Sri masih terdiam. Sesekali tatapannya melirik ke arah Arini. Jemari yang saling berkait dan meremas menandakan bahwa ia tengah cemas.
"Sri, kamu dengar aku bicara, kan?" Kali ini nada suara sengaja aku tinggikan.
__ADS_1
"Ma-maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Danu yang meminta tolong saya untuk mengawasi Mbak Arini, dan itu hasilnya."
Sungguh tak kusangka wanita pembohong itu pandai juga bersilat lidah. Bukannya mengakui kesalahan malah berkelit.
"Ya, aku pernah minta tolong ke kamu. Tapi sekarang pertanyaannya adalah ... apakah wanita dalam foto itu Arini?"
Sri kembali terdiam.
"Sudah, Mas. Telepon saja Bobby, percuma tanya dengan begundal kaki tangan Bobby ini!" Kali ini Arini justru yang emosi melihat kelakuan Sri.
"Iya, Dan. Jangan pakai lama, selesaikan semua masalah hari ini juga." Martin ikut menimpali.
"Oke. Sri, sekarang telepon bos yang menyuruhmu. Bilang saja kalau Arini butuh bantuannya, aku yakin dia pasti akan segera meluncur."
"Ta-tapi, Tuan ...."
"Tapi apa? Kamu ingin masuk penjara karena kasus pencemaran nama baik?"
"Maksud, Tuan?"
"Kamu tidak sadar apa yang kamu lakukan itu salah?" Aku sengaja menekan wanita culas yang hanya doyan duit itu, sudah lewat batas ia berusaha menghasutku.
Melihat Sri yang hanya terdiam, akhirnya aku meminta gawai Martin. "Tin, tunjukkan saja video itu!" pintaku tak sabar lagi.
Ekspresi semakin ketakutan membuat wajah Sri berubah pias, terlebih ketika melihat video yang ditunjukkan oleh Martin. Sekarang ia tak bisa mengelak lagi.
"Telepon Bobby atau kamu sendiri yang harus menanggung semua resiko?" ultimatumku dengan nada mengancam.
"Ba-baik, Tuan." Sri semakin gugup menahan takut.
"Ambil Hp kamu, bilang Arini butuh bantuan!"
"I-iya, Tuan."
Melihat Sri menghubungi Bobby dan berbohong, sungguh aku ingin tertawa ngakak. Dia benar-benar panik kala Sri bilang Arini ketakutan karena aku mengamuk ingin membunuhnya.
Arini sengaja aku minta untuk kembali ke kamar menemani anak-anak. Sudah waktunya aku menyelesaikan masalah dengan Bobby secara jantan. Kali ini aku harus bisa tegas, meski aku tahu akan berpengaruh terhadap hubungan kerjasama dengannya.
Tatapan terkejut kutangkap dari sorot mata lelaki yang baru saja masuk ke ruang kerja. Napasnya terengah, sudah pasti karena ia panik dan takut jika terjadi hal buruk terhadap Arini.
"Selamat datang Tuan Bobby yang terhormat, silahkan masuk dan kita duduk bersama." Sengaja kulembutkan suara untuk menyambut kedatangan pria pecundang itu, meski harus menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dada.
"Di mana Arini? Kamu apakan dia?" tanya dia seraya mencengkeram kerah bajuku.
Gila, harusnya aku yang marah. Tapi ini malah dia yang bersikap kasar. Martin yang melihat perlakuan Bobby kepadaku, ia langsung mendorong Bobby. "Dasar laki-laki tak tahu malu!" cerca Martin.
"Apa maksudmu?" Kini Bobby membalas mendorong Martin.
"Cukup! Bobby, jangan bermain sandiwara lagi!" teriakku penuh emosi.
"Sri! Sekarang buka semuanya!" titahku lagi.
Bobby memandang heran kepada wanita suruhannya. "Ada apa, Sri? Kamu bilang Arini dalam bahaya, lalu di mana dia?"
Wanita yang ditanya justru menunduk dalam ketakutan. "Jawab, Sri! Di mana Arini? Apa lelaki bodoh tak berguna ini telah mengurungnya?" Kembali Bobby bertanya, kali ini sembari mengguncang bahu Sri.
"Kurang ajar! Beraninya kamu bilang aku bodoh!" teriakku semakin emosi.
"Kenapa? Kamu itu memang bodoh, tak pantas untuk Arini. Dia berhak mendapatkan lelaki yang lebih baik dari kamu!"
Telingaku semakin panas mendengar ucapan lelaki sombong itu, gerahamku menggeretak disertai tangan yang mengepal dan siap menghantam rahang kokoh itu.
"Kenapa? Mau mukul? Ayo, pukul kalau bisa!" tantang pria yang semakin lama menyebalkan.
__ADS_1
"Dasar lelaki cemen! Nggak guna! Nggak nyadar kalau blo'on kelewatan!" lanjutnya penuh hinaan.
"Bobby! Cukup kamu hina suamiku!" Tiba-tiba suara Arini terdengar dari ambang pintu, membuat kami menoleh secara bersamaan.
"Kamu yang tidak tahu malu! Apa tujuanmu ingin merusak rumah tanggaku dengan cara licik tak bermoral itu? Lihat diri kamu! Sangat tidak tahu malu!" cerca Arini memberondong, membuat wajah lelaki yang garang berubah menjadi pias.
"Kamu baik-baik saja? Apa yang dilakukan laki-laki bodoh ini ke kamu? Dia main tangan?"
Hadeuh ... sudah ketahuan busuknya masih saja bersandiwara dengan pura-pura peduli.
"Sudah cukup sandiwara kamu, Bob. Aku muak dengan kelakuanmu!" ujar Arini penuh dengan emosi.
Arini mengambil gawai Martin dan juga foto yang tergeletak di meja. Dengan kasar foto-foto itu ia lempar ke arah Bobby, setelah itu menunjukkan video yang mereka lakukan di taman.
Sudah pasti wajah sombong itu meluruh, seperti singa yang kehilangan taring. Semua terbongkar, tak ada celah lagi untuk mengelak.
"Arini, aku mengaku salah. Tapi aku lakukan semua itu karena aku cinta sama kamu."
Bak disambar petir siang hari, ditimpa berjuta pohon ... hatiku seketika hancur kala mendengar pengakuan pria tak tahu malu yang kini tampak seperti budak cinta.
Kebencian yang terpendam sejak lama, kini semakin menggunung dan siap meletus. Jika tak dihalangi oleh Martin dan Arini, sudah pasti ia babak belur aku hajar.
"Sri! Ambil pakainmu dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Bawa tuan kamu pergi sekalian!" titah Arini dengan tegas.
"Arini, tolong hargai perasaanku." Bobby masih saja mengemis kebaikan hati dari bidadariku.
"Maaf, aku lebih memilih suamiku. Biarpun orang mau bilang dia bodoh, tapi bagiku dia lelaki hebat. Dia punya hati yang baik dan tulus. Ia bisa menjadi suami yang baik sekaligus ayah yang penyayang untuk anak-anaknya."
Nyeees ... sungguh adem kata-kata Arini. Hati dan kepala yang mendidih seketika meleleh dan terasa sejuk. Dia memang wanitaku yang paling keren.
"Sekarang kamu pergi dan jangan pernah mencoba memisahkan aku dengan Mas Danu. Jika penolakanku akan berujung pemutusan kerjasama, maka akan aku terima. Lebih baik hidup sederhana daripada mendapat kerjaan yang hanya akan membawa petaka."
"Arini, tolong pikirkan lagi." Bobby masih mencoba membujuk, benar-benar tak tahu diri.
"Kalau kamu masih bersikukuh dengan keinginanmu, maaf aku terpaksa telepon ayah. Biar ayah sekalian ambil sikap."
"No, no, no ... tolong, jangan libatkan Pak Rahman."
"Ya, sudah! Sekarang kamu pergi dan jangan pernah kembali. Bawa juga orang suruhanmu karena aku sudah tidak butuh lagi tenaganya."
Ternyata ancaman Arini manjur juga, lelaki sombong tak tahu malu itu akhirnya pergi dengan sejuta kecewa. Aku tahu ia takut dengan Pak Rahman, karena bagaimana pun power Pak Rahman sangat berpengaruh di dunia bisnis.
Akhirnya senyum bahagia kembali mengembang indah di lengkung bibir Arini. Kurengkuh bahu wanitaku dan kudaratkan kecupan hangat di dahinya.
"Ciee ... ciee ... ada yang merasa menang, nih!" goda Martin membuatku menepuk dada bangga.
"Makasih, ya, Tin. Berkat kamu, semua terungkap."
"Sip ... itulah gunanya teman. Ya sudah, aku pulang dulu. Semoga setelah ini tak ada lagi cobaan."
"Aamiin ...." Dengan kompak aku dan Arini mengaminkan doa Martin.
Hari ini aku belajar bagaimana mempertahankan cinta, belajar untuk percaya dengan belahan jiwa, yakin terhadap kekuatan cinta.
Arini, wanita yang kupilih di antara gadis-gadis yang pernah hadir dalam masa mudaku dulu ternyata wanita hebat. Ia tak mudah dirayu atau silau akan harta.
Aku tak pernah salah memilih wanita yang kukira cuek dan dingin itu. Nyatanya, dia yang selalu menguatkan aku di kala susah. Ia pula yang membelaku kala ada yang menghina. Banyak bukti cinta yang telah ia perlihatkan.
Kini, tak ada keraguan lagi untuk percaya dan yakin mengenai kesetiaan wanita yang dikirim Tuhan sebagai jodoh terbaikku. Aku janji, akan terus menjaga dan mencintainya.
Kupeluk erat wanitaku dan tak akan pernah lagi kusia-siakan.
Tamat.
__ADS_1