
POV Arini
Adakalanya sabar itu luas bak samudra, namun adakalanya kesabaran itu menipis terkikis oleh berbagai ulah yang teramat menyebalkan. Begitu jua dengan kesabaran yang kumiliki.
Jujur, tingkah ibuku yang sudah melampaui batas kewajaran membuatku muak dan kesabaran yang selama ini aku miliki menguap tak bersisa. Hanya saja aku punya rencana lain untuk membuatnya benar-benar jera, syukur-syukur bisa menjadi jalan ia bertaubat.
Jika menuruti nafsu, mungkin saja aku sudah mengusirnya sejak aku tahu gelagatnya yang tak sungkan memperlihatkan belahan dada dan mulusnya kaki atas pada suamiku. Ini sungguh tak wajar, kenyataan yang tak pernah kubayangkan selama ini.
Aku tak mengerti kenapa ibu mempunyai sifat seperti itu. Ia begitu tega menghianati bahkan menghancurkan kehidupan suami yang sudah memberikan kehidupan layak, mengangkatnya dari kehidupan sebagai orang teraniaya.
Dan sekarang ... bagaimana bisa ia juga tega akan menghancurkan kehidupan rumah tangga anaknya sendiri? Tak waraskah dia? Kelainankah dia?
Rasanya jauh dari harapan ia akan segera mendapat hidayah, menilik perilaku yang masih kegenitan dan tak bisa memilah menggunakan hati. Entahlah, apakah rencanaku nanti akan berhasil atau tidak.
Saat ini, aku hanya bisa berusaha membuat Mas Danu tak tergiur oleh bujuk rayu ibu. Aku menyadari bahwa selama menjadi istrinya, aku tak bisa romantis seperti yang ia mau. Namun, semenjak kejadian itu aku berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih romantis dengan Mas Danu.
Seperti hari itu, aku sengaja bergelayut manja di lengannya. Seharian menghabiskan waktu dengan Mas Danu, bercengkerama layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta seperti ketika awal pacaran.
Benar saja, kulihat ibu seperti cacing kepanasan melihat kemesraanku dengan Mas Danu. Jelas sorot mata cemburu itu ada di bola netra, tatapan yang mengisyaratkan ketidakrelaan.
Sudah tak terhitung berapa kali dia mondar-mandir seperti setrikaan. Bahkan suara debuman benda jatuh di dapur dapat kudengar hingga beberapa kali. Aku sengaja cuek tak meladeni.
Mas Danu yang melihat tingkah laku ibu sedari tadi duduk tak tenang. Jengah rasanya ia dilihat ibu dengan cara seperti itu. Beberapa kali Mas Danu mengubah posisi duduk, kemudian memainkan ponsel. Bahkan ia tak menyadari kalau manik mata ini sedang memperhatikan tingkah lakuny yang tak bisa tenang itu.
Kubiarkan ia pamit ke belakang. Segera kubuka gawai untuk melihat layar yang terkoneksi dengan chip penyadap di dapur. Chip yang hingga sekarang masih menempel manis di gagang presto itu memperlihatkan semua adegan di dapur yang dekat dengan kamar mandi belakang.
Sudah kuduga. Tebakanku seratus persen akurat. Di dapur ibu terus saja merayu Mas Danu. Benar-benar tidak tahu malu, meskipun Mas Danu sudah jelas-jelas menolak tetapi dengan genitnya ia terus saja merayu.
Aku harus segera bertindak. Lama-lama sudah tak bisa lagi membiarkan wanita yang hilang akal sehatnya itu tinggal di rumah ini. Ini rumahku, tak akan kubiarkan dikotori oleh wanita seperti dia.
Dengan cepat jemariku mencari kontak Martin. Aku harus memintanya untuk membantu, karena dia satu-satunya teman Mas Danu dan bisa diandalkan.
"Martin, kamu bisa bantu aku lagi?"
"Bantu apa, Mbak?"
"Aku butuh bantuanmu untuk menjelaskan ke Bobby tentang kelakuan ibu. Aku mau Bobby mengajak ibu balik lagi ke rumahnya."
"Terus rencananya gimana?"
"Nanti aku kabari lagi, ya. Ini rahasia kita, jangan sampai ada yang tahu."
"Oke, Mbak boss."
"Eh, sudah dulu, ya. Ada yang datang," bisikku ketika mendengar langkah orang mendekat.
Segera kuakhiri panggilan tatkala kulihat Mas Danu sudah ada di belakangku. Kulayangkan senyum untuknya, kemudian kembali bergelayut manja dan meneruskan menonton film drama korea yang mengajariku sedikit romantisme.
Masih asyik dengan adegan yang ada di layar datar, ibu tergopoh datang menghampiriku. Ia menyodorkan gawai dan memintaku untuk melihat isi video yang ia putar.
Dengan teramat tenang aku ulurkan tangan dan menerima gawai tersebut, kukulum senyum melihat video adegan ibu yang berlutut meminta ampun. Dasar wanita licik! Ia gunakan video ini untuk menekan Mas Danu.
Sebenarnya aku kasihan dengan Mas Danu. Ada raut penuh ketakutan menyelimuti wajahnya. Bagaimana pun, Mas Danu adalah suamiku meski ia pernah khilaf. Aku tahu ia sudah berusaha menjaga hatinya untukku, dan sekarang aku akan membuatnya lebih tenang.
__ADS_1
Aku kumpulkan kekuatan batin. Beberapa kali kuhela napas dalam-dalam, mencoba mengusir gejolak amarah yang membuncah. Nyeri menjalar ke seluruh pembuluh, meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam di dasar hati.
Kumulai introgasi, pertanyaan demi pertanyaan kugulirkan pada Mas Danu. Hanya pertanyaan untuk basa-basi sebenarnya, karena memang aku sudah tahu. Paling tidak pertanyaan itu tak akan membuat ibu menaruh curiga bahwa apa yang dia lakukan telah terekam dalam gawaiku.
Tiba saatnya mengintrogasi ibu berhati duri. Pertanyaan yang menjebak sengaja kusiapkan untuknya, dengan demikian ia akan mengungkap dengan sendirinya. Berhasil. Semua pertanyaan jebakan telah membuat mulut wanita itu membuka kebenaran tanpa aku harus memaksa.
Sebenarnya jika kutilik dari raut wajahnya, ibu sudah malu dan kehilangan muka. Tapi lagi-lagi yang namanya Hera Ambarwati itu wanita tebal muka. Meski sudah aku skak mat kelakuannya, tetap saja tidak tahu diri.
Sengaja aku pancing tentang Bobby, suami ke empatnya. Dia langsung emosi dan merah padah wajahnya. Sepertinya Bobby adalah ancaman bagi ibu. Berarti sasaran rencanaku sudah tepat.
Tak aku sia-siakan kelengahan ibu untuk merebut gawai dalam genggamannya. Tentu saja Mas Danu kebagian yang menghalangi dan tak membiarkan ibu mengambil gawainya kembali.
Puas rasanya bisa dapat yang aku inginkan. Ini adalah senjata yang akan aku gunakan untuk membuat ibu jera atau kalau bisa berubah sedikit demi sedikit. Dengan cepat jemariku menekan tombol save untuk beberapa nomor yang ada nama Bobby.
Setelah kejadian itu, ibu lebih memilih mengurung diri di kamar. Ancamanku cukup mempan. Raut wajah sayu dirundung kesedihan ia perlihatkan setiap hari. Akting yang cukup bagus untuk membuat suamiku jatuh iba.
Ya, Mas Danu pada akhirnya mencoba membujukku untuk baikan dengan ibu. Alasan klise, takut ibu sakit dan nanti aku yang bakalan direpotkan. Aku pikir wanita semacam ibu tidak akan pernah sakit karena virus juga bakalan takut dengan wanita selicik dia.
***
Malam itu, selepas makan malam Martin meneleponku kembali untuk memastikan rencana. Terpaksa aku angkat meski harus keluar rumah agar tak ada yang mendengar percakapanku dengannya.
Sengaja aku tidak memberitahu Mas Danu, kebiasaan lidahnya yang tidak ada rem terkadang membuatku untuk diam menyembunyikan beberapa hal yang kiranya dapat merusak rencana. Apalagi aku sudah ilfeel gegara ia mulai menaruh simpatik kepada ibu.
Aku dan Martin sepakat untuk ketemu di sebuah resto sepulang jam kerja. Beberapa hari sebelumnya sudah aku pastikan dulu untuk mengecek satu persatu nomor Bobby dan akhirnya kudapati dua nomor dia yang aktif.
"Assalamu'alaikum, Bang Bobby."
"Saya Arini, anak dari Bu Hera Ambarwati."
"Hera?"
"Iya, istri Abang."
"Di mana dia sekarang? Sudah lama dia pergi dariku dan entah apa salahku dengannya."
"Dia sekarang ada di sini, Bang. Boleh aku tanya tentang Abang?"
"Abang sudah menceraikan ibu?"
"Hahaha ... kamu ini, kenapa bertanya seperti itu?"
"Aku ingin memastikan dulu, Bang. Kalau belum ... aku mau Abang balikan dengan ibu."
"Arini, dia meninggalkan aku tanpa sebab. Sudah tujuh tahun ini aku mencoba melupakan dia. Bukan tak mau mencoba, tapi aku sudah berusaha menghubungi dia tapi selalu dia blokir. Hingga akhirnya aku menyerah."
"Tapi Abang belum menjatuhkan talak, kan?"
"Sampai detik ini aku belum menjatuhkan talak. Aku masih berharap dia kembali."
"Bagaimana kalau aku bantu Abang? Anggap saja kita saling bantu."
"Apa maksudnya?"
__ADS_1
"Saat ini aku butuh bantuan Abang."
"Bantuan apa?"
"Sebaiknya kita ketemu, biar jelas semua permasalahan. Abang ada waktu kapan?"
"Bagaimana kalau tiga hari lagi? Karena ini aku masih ngurusi kantor cabang baru di Surabaya. Lusa baru bisa pulang."
"Baik, Bang. Terimakasih atas kerjasamanya."
Kuakhiri sambungan panggilan. Secercah harap muncul bak pelangi menghias langit. Semoga ini jalan terbaik. Apalagi ketika kudengar Bobby menyebut kantor cabang baru, itu artinya dia sudah sukses dan punya kehidupan yang mapan. Jika ibu tahu pasti akan jauh lebih mudah.
***
Janji temu akhirnya tiba saatnya. Dengan tergesa aku meluncur ke resto yang aku pilih sebagai tempat janjian. Resto ini aku pilih karena Mas Danu tidak menyukai menu di sini. Jadi, bisa dipastikan aku tidak akan bertemu dengannya jika ia mampir untuk beli makanan yang biasa ia bawakan untukku sebagai oleh-oleh.
Ya, itu kebiasaan Mas Danu dari dulu. Pulang kerja pasti membawakan makanan untukku meski hanya sepotong cake. Katanya, dia ingin memastikan bahwa istrinya tidak tidur dalam keadaan lapar. Sungguh menyentuh hati, bukan? Pandai sangat dia menyenangkan hati istri.
Kusambut Martin dengan lambaian tangan. Tak berselang lama Bobby juga muncul. Wow ... ternyata sosok Bobby lebih keren dari foto yang pernah kulihat di profil whatsappnya.
Tampilan parlente dengan tubuh atletis pastinya dapat menyegarkan mata, apalagi kulit putih yang bersih serta senyuman yang ....
Cukup Arini, kenapa kamu jadi mengagumi sosok ayah tiri yang baru saja kamu lihat? Sungguh memalukan! Segera aku perbanyak istighfar dalam hati.
Dengan sopan ia mengulurkan tangan dan menjabat tanganku. Ia juga dengan ramah memperkenalkan diri kepada Martin, kemudian duduk di dekatnya. Perfect! Sudah tampan, tidak sombong pula. Ternyata selera ibuku sangatlah tinggi.
Baru saja hendak membuka pembicaraan, tetiba terdengar suara yang amat aku kenal. Mas Danu. Alamat bahaya ini!
Aku balikkan badan, berusaha tetap tersenyum dan menyembunyikan keterkejutanku. Saat ini, pura-pura bersikap biasa saja jauh lebih baik daripada menambah rasa penasaran Mas Danu.
Dengan terpaksa kukenalkan Bobby padanya. Namun, entah apa yang ada dalam pikiran suamiku. Mas Danu tak henti menatap pria yang ada di depannya.
Setelah suasana terkendali, aku mulai menceritakan semua kejadian yang menjadi ancaman dalam rumah tanggaku dengan Mas Danu. Tampak jelas riak wajah Bobby kecewa mendengar semua itu. Ia pun sama, tak habis pikir kenapa ibu sampai seperti itu.
Pertemuanku dengan Bobby kuakhiri tanpa menyusun rencana apapun, mengingat ada Mas Danu di sini. Tak apa, aku bisa merencanakan pertemuan berikutnya tanpa Mas Danu curiga.
***
Pagi ini kudapati Mas Danu sedang melamun. Pandangannya menatap keluar jendela. Setelah kejadian ia keceplosan bicara dengan ibu tentang pertemuanku dengan Bobby, ia merasa bersalah.
Tatapan Mas Danu berubah aneh tatkala pandangannya mengarah padaku yang tengah mengenakan gamis dan merias wajah. Tatapan penuh selidik. Ia mendekatiku dan menghujaniku dengan banyak tanya.
Bola mata itu semakin membulat ketika kusebut nama Bobby. Ia langsung memintaku untuk berganti pakaian beberapa kali. Nyaris kesabaranku hilang.
Aku biarkan Mas Danu ikut, namun sudah kuatur siasat. Saat menunggu Mas Danu mandi dan bersiap-siap, aku hubungi teman-temanku sekantor untuk datang makan-makan di saung ikan bakar. Bahkan nanti apa yang akan dibicarakan pun telah aku arahkan, yaitu pembicaraan yang akan membuat kaum adam merasa risih jika mendengarnya, hahaha ....
Rencana berhasil. Mas Danu memilih pergi meninggalkan aku dan teman-temanku. Kami sampai tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat wajah Mas Danu yang berubah masam.
Maafkan aku, Mas. Demi lancarnya rencana, aku harus melakukan ini semua.
Kulenggangkan kaki menuju taksi online yang kupesan, arah tujuan kali ini adalah menemui Bobby dan Martin. Tekadku sudah bulat, rencana menyingkirkan ibu dari rumah harus berhasil tanpa adanya kekerasan. Aku tak ingin memperkeruh suasana, jika aku usir ibu dengan paksa yang ada ibu semakin membenci atau bahkan dendam terhadapku.
Aku hanya ingin masalah ini selesai tanpa menimbulkan masalah baru.
__ADS_1