Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 51 Pengakuan Sri


__ADS_3

Gawaiku kembali bergetar untuk kesekian kalinya. Akhirnya dengan malas kulirik juga layar yang berpendar itu. Sebuah nama terpampang, Bobby.


"Ya, ada apa?" jawabku malas.


"Dan, besok kamu berangkat lagi ke Bandung, ya? Aku harus ke Pekanbaru sore ini."


"Kenapa harus aku?" tanyaku dengan sewot, karena aku tahu pasti ini akal-akalan dia lagi.


"Kamu itu partner kerja aku, ya sudah pasti kamu yang bisa handle kerjaanku."


Sejenak aku berpikir. Sepertinya ini kesempatan aku untuk menangkap basah Bobby ketika menemui Arini.


"Oke, besok pagi aku berangkat ke sana." Sengaja aku menjawab dengan mantap agar ia tak curiga dengan rencanaku.


"Thanks, Dan."


Tanpa menjawab lagi, kumatikan panggilan. Bagiku sudah cukup basa-basi dan sandiwara yang dimainkan oleh Bobby. Sekarang saatnya Adarga Handanu menunjukkan taring.


Malam ini aku mulai mempersiapkan beberapa lembar baju yang aku masukkan ke dalam koper kecil. Tidak lupa laptop dan beberapa dokumen yang akan dibutuhkan aku sertakan pula.


"Lho, Mas Danu mau kemana lagi?" tanya Arini ketika melihatku sedang menata pakaian ke dalam koper.


"Bobby memintaku untuk balik ke Bandung."


"Ada masalah lagi?"


"Mungkin," jawabku singkat sembari menutup koper dan meletakkannya di sudut kamar.


Kuabaikan Arini yang masih penasaran, aku lebih memilih menarik selimut hingga menutup seluruh wajah daripada harus menatap mata indah yang selama ini memberiku keteduhan.


Entahlah ... semenjak melihat foto-foto itu, tatapan Arini yang dulu sering kurindukan justru kini teramat aku benci.


"Mas ...."


"Hmm ...."


"Nggak kangen, ya?" Sepertinya Arini sedang berusaha merayuku, kubiarkan ia memelukku dari belakang.


"Mas Danu ... pengen nggak?"


"Aku capek, Dek. Mau tidur, apalagi besok harus berangkat pagi-pagi sekali." Aku mencoba menolak, kemudian membenahi selimut kembali.


"Oke! Tak masalah. Aku hanya berusaha untuk jadi istri yang baik, kalau memang sudah nggak butuh, ya sudah." Arini menghempaskan tubuhnya kembali ke tempat semula dengan kesal.


Aku hanya bergeming. Tak ingin merespon aksi nakal Arini yang mulai menggoda dengan sentuhan jemarinya. Bisikan yang terdengar seperti desahan di dekat telinga sama sekali tak menggoyahkan hati.


Luka yang ia toreh jauh lebih menyakitkan, itu yang menyebabkan aku mati rasa dengan wanita yang selama ini aku percaya akan menjaga hatinya untukku.


Aku biarkan malam ini tanpa hangatnya cumbu mesra dari wanita terkasih. Semua terlewati begitu saja dengan penuh kegelisahan yang terus menyiksa batin.


Dulu, aku yang harus berjuang melawan godaan. Dan sekarang, ketika Arini dihadapkan oleh ujian cinta, bagaimana bisa ia tak mampu bertahan. Sungguh tak adil bagiku.


Bobby, seharusnya laki-laki itu tak perlu hadir kembali dalam kehidupanku dan Arini. Tapi justru ayah mertua menjadi penyebab jalan mudah bagi Bobby untuk masuk ke dalam kehidupan keluargaku.


Dalam selimut kuremas kuat tepi spring bed, ingin rasanya mengeluarkan seluruh emosi yang telah sekian lama hanya kupendam dalam-dalam. Bahkan untuk teriak marah saja aku tak mampu, semua karena aku tak ingin memperkeruh keadaan sebelum semua terbukti di depan mata.


****


Pagi ini, aku sengaja mempersiapkan diri lebih awal dari waktu yang aku rencanakan. Kuminta Sri untuk membuat bekal roti panggang dan sebotol teh panas.


Paling tidak biar kelihatan kalau akan pergi jauh, jadi aku bersikap seolah-olah memang akan pergi jauh untuk waktu yang cukup lama.


"Sri, itu tolong roti masukkan saja ke lunch box. Teh panas masukkan ke dalam vaccum bottle, biar panasnya awet."


"Baik, Tuan. Lho, Tuan Danu mau pergi lagi? Kok bawa koper?" tanya Sri heran ketika melihatku menarik koper kecil.


"Iya."

__ADS_1


"Kasihan Mbak Arini kalau Tuan Danu sering pergi."


Ucapan Sri menggelitik sisi rasa ingin tahuku, apalagi melihat mimik wajahnya yang tampak simpati kepada Arini.


"Kasihan? Memangnya kenapa kalau aku sering pergi?" Lipatan dahiku seketika muncul.


"Ehm ... itu Tuan. Sa-saya ... aduh, bingung saya mau jelasin ke Tuan Danu." Tampak sorot mata wanita itu kebingungan.


"Ngomong saja, kenapa dengan Arini."


Sejenak Sri menoleh ke segala arah, bola maniknya jelalatan seakan ingin memastikan bahwa tak seorang pun dapat mendengar ucapannya. Aku yakin, pasti ada hal yang sangat ia tahu dan ia bingung untuk bicara denganku.


"Tuan," ucap Sri dengan memberi isyarat agar aku mendekat.


"Apa?"


"Sttt ... jangan keras-keras, Tuan. Nanti  Mbak Arini dengar. Begini, Tuan ...." Kembali bola maniknya memastikan keadaan aman.


"Mbak Arini seperti orang kesepian kalau Tuan Danu pergi."


"Maksudnya?" Sontak aku menoleh dan menatap lekat netra Sri, mencoba menemukan kejujuran serta kejelasan dalam sorot mata itu.


"Iya, Tuan. Dia sering gelisah, terkadang telepon hingga larut malam. Terus teleponnya bisik-bisik," ucap Sri dengan mimik meyakinkan.


"Bagaimana kamu tahu? Bukannya kamu tidur di paviliun?"


"Kalau Tuan Danu pergi, Mbak Arini minta ditemani, Tuan. Saya tidur di kamar sebelah, jadi denger pelan-pelan mereka bicara."


"Yang bener?"


"Iya. Ada yang lebih parah lagi, Tuan."


"Apa?" Aku semakin penasaran dengan pernyataan Sri.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa cerita di sini." Sri menundukkan wajah seakan ia takut mengatakan sesuatu hal yang penting itu.


Sejenak aku berpikir, bagaimana pun caranya aku harus berhasil membuat Sri cerita semuanya. Aku harus membawanya keluar dari rumah, tapi ... kalau sekarang tidak mungkin karena aku harus berpura-pura pergi.


"Tuan," panggil Sri membuat otakku yang berputar-putar seketika terhenti dan terkejut.


"Ehm ... gini aja, Sri. Kamu hari ini ke pasar?"


"Di kulkas stok sayur dan lauk masih, Tuan. Paling dua hari lagi baru Mbak Arini nyuruh ke pasar."


Setelah beberapa menit berpikir, buru-buru tanganku membuka koper dan mengambil sebuah berkas. "Berkas ini sengaja aku tinggal di ruang kerja. Nanti, aku akan telepon Arini untuk memintamu menyusulkan berkas ini. Jadi, kamu bisa keluar."


"Wah ... ide cemerlang itu, Tuan. Tuan  Danu memang jenius!" puji Sri dengan acungan dua jempol dan sorot  netra yang berbinar.


"Adarga Handanu gitu loooh ...." Aku membusungkan dada sembari menepuk dada sebelah kanan hingga terbatuk-batuk. Jujur, baru Sri yang memuji kejeniusanku.


Melihat tingkahku, justru Sri malah tertawa kecil memperlihatkan ada sebuah lesung pipi di sebelah kanan bibir. Ah, rupanya kalau diperhatikan dia manis juga.


"Danu! Jangan nakal!" seru hati sisi baikku yang seketika menyadarkan bahwa aku telah salah mengagumi wanita lain.


"Ya sudah, buruan itu roti panggang dimasukkan ke lunch box dan teh panas dimasukin ke termos vaccum," titahku kepada Sri.


"Siap, Tuan."


"Kalau sudah, bawa sekalian koper ini ke mobil."


"Siap, Tuan Danu yang super jenius!"


"Sudah, jangan kebanyakan memuji." Kuumbar senyum bangga kepadanya lagi, kemudian beranjak pergi.


Segera kutinggalkan Sri yang sibuk menyiapkan bekalku. Berkas aku bawa masuk ke ruang kerja dan sengaja meninggalkannya.


Aku butuh informasi dari Sri, paling tidak bisa memberiku sedikit titik terang sehingga aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi kali ini aku tidak boleh gegabah, bagaimana pun Sri adalah orang yang dikirim Bobby.

__ADS_1


Sudah aku tekadkan, aku akan bergerak sendiri tanpa melibatkan siapa pun. Jadi, tak akan ada satu jua yang kuberitahu tentang rencanaku. Bahkan Martin yang semula aku telepon untuk membantu, dia juga tak mau. Alasannya, aku orangnya susah diajak ngomong.


Aneh, sepertinya semua menganggap aku ini orang yang tak punya otak untuk berpikir. Mereka anggap aku ini orang yang susah untuk memahami situasi. Huff ... sungguh mereka yang sok hebat saja.


Lihat saja! Akan aku buktikan bahwa seorang Adarga Handanu bisa menyelesaikan masalah tanpa mengemis bantuan dari orang lain.


Selesai dari ruang kerja, kaki melangkah menuju kamar. Tujuanku hanya satu, berpamitan kepada buah hati. Namun, langkah terhenti kala mendengar suara Arini yang agak lirih sedang bicara dengan seseorang di telepon.


"Iya, dia hari ini pergi lagi."


"...."


"Kita ketemu jam sembilan saja, di cafe yang dulu kita pernah ketemu saja."


"...."


"Oke, jangan telat. Bye, see you."


Arini mengakhiri pembicaraan rahasia itu. Sepertinya mereka sedang ada kencan. Hah! Itu pasti telepon dari Bobby pebinor licik itu!


"Kurangajar! Mereka sudah keterlaluan. Benar-benar tak bisa dimaafkan lagi!" gumamku menahan emosi, kembali kepalan tangan mengeras.


Hampir saja aku tendang pintu jika tak ingat rencana untuk menangkap basah mereka. Baiklah, aku akan sabar menunggu waktu yang pas.


Kuhela napas panjang untuk menata hati yang telah terburai remuk redam dengan kenyataan yang teramat menyakitkan. Sungguh, rasa nyeri itu menjalar di setiap alur nadi.


Arini menoleh ketika pintu kubuka. Tak kuhiraukan lagi ia yang tengah menatapku. Langkahku langsung menuju Putra dan Putri yang sedang asyik tersenyum sendiri, mungkin sedang bermimpi indah.


Setelah berpamitan dengan permata hati, kakiku langsung kembali menuju pintu dan terhenti ketika panggilan keluar dari mulut wanitaku.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?"


Aku berhenti, namun tak membalikkan badan. "Bicara apa? Kalau tak penting sebaiknya bicara nanti saat aku pulang," sahutku ketus.


"Apa yang penting bagimu sekarang? Pekerjaan?"


Kata-kata Arini membuatku terdiam dan menghela napas. Entahlah, sekarang ini aku tak tahu apa yang terpenting dalam hidupku jika wanita yang seharusnya menjaga kehormatan dan kesetiaannya saja telah berpaling dariku.


"Aku ingin bicara, luangkan waktu sebentar sebelum kamu pergi." Kembali Arini meminta.


Tiba-tiba kekhawatiran itu muncul, ada rasa takut yang seketika menyelimuti hati. Takut jika ia meminta perpisahan, takut jika harus kehilangan dia.


Setelah berpikir sejenak, kubalikkan badan dan menatapnya lekat. Mencoba menemukan secercah cinta di sorot netra teduh itu. Arini, aku merindukan peluk manja darimu. Tapi, hati ini seketika membeku kala teringat foto-foto itu.


"Aku ingin bicara serius dengan Mas Danu. Aku nggak bisa seperti ini terus, aku ingin ...."


"Stop bicara! Aku harus cepat berangkat dan jangan buat aku tak fokus menyetir." Aku menangkap firasat yang tak baik, sepertinya benar dugaanku kalau Arini akan meminta cerai.


"Tapi, Mas ...."


"Aku bilang cukup, ya, cukup! Aku ini mau pergi untuk kerja! Untuk menafkahi kamu dan anak-anak! Jadi, jangan membebani aku dengan berbagai masalah. Cukup jadi istri yang baik untukku dan jaga hati serta kesetiaanmu! Titik!"


Dengan kesal kutinggalkan Arini yang netranya mulai menggenang. Aku harus tega, aku tak boleh lemah!


Ayunan langkah lebar semakin cepat menuju kendaraan kesayanganku. Tampak Sri baru saja menutup pintu mobil, ia tersenyum kala melihatku keluar.


"Semua sudah siap, Tuan."


"Ya, terimakasih. Kamu siap-siap karena sebentar lagi kamu harus menyusulku. Aku tunggu di tikungan jalan gang pertama."


"Siap, Tuan!"


Bergegas aku masuk ke mobil dan mulai menyalakan mesin. Melajukannya dengan sedikit emosi dan hampir saja menabrak pembatas taman.


Seperti rencana, aku menghentikan mobil di tikungan gang pertama. Memulai rencana dengan menelepon Arini, pura-pura berkas tertinggal dan meminta Sri untuk mengantarkan.


Ah, gampang sekali bohongi Arini. Dia percaya saja. Rencanaku berjalan mulus. Benar saja, tampak di belakang mobil datang Sri membawa berkas itu.

__ADS_1


Kini, aku akan tahu rahasia Arini. Senyum kuulas penuh rasa puas.


__ADS_2