Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 52 Sandiwara yang Sempurna


__ADS_3

Dari spion mobil dapat kulihat sosok wanita dengan rambut dikuncir ekor kuda sedang berjalan menuju mobilku. Dia menenteng map kuning berisi berkas file yang memang sengaja kutinggal.


Senyumku makin merekah ketika wanita itu menyembulkan kepala untuk mengetuk kaca mobil. Segera aku persilahkan ia masuk ke mobil dan siap mendengarkan semua pengaduannya.


"Ini berkasnya, Tuan."


"Iya, terimakasih. Sini masuk."


Sri hanya mengangguk dan duduk di sebelahku. Raut wajahnya tampak seperti orang yang sedang kebingungan.


"Baik, Tuan."


Untuk kesekian kali kuhela napas kembali, mencoba mentralisir gejolak emosi yang meletup-letup. Aku persiapkan hati dan mental untuk mendengar sebuah kebenaran yang akan diungkap oleh Sri.


"Kita hanya punya waktu sebentar, jangan sampai Arini curiga karena kamu kelamaan di sini."


"Iya, Tuan."


"Jadi, cepet kamu cerita." Rasanya tak sabar lagi untuk mendengar penuturan Sri, rasa penasaran semakin memuncak.


"Begini, Tuan. Mbak Arini selama ini ...." Sri menggantung ucapannya yang membuat aku semakin penasaran tak jelas.


"Selama ini kenapa?" Aku benar-benar tak sabar.


"Itu, Tuan. Mbak Arini sering kencan dengan Tuan Bobby."


"Apa? Jadi, foto-foto itu benar?"


"I-iya, Tuan. Saya hanya berusaha memberitahu Tuan Danu melalui foto-foto itu, saya berharap Tuan Danu bisa sadar bahwa selama ini Mbak Arini sudah menghianati Tuan."


"Kurang ajar!" Tanganku mengepal dan memukul kemudi mobil, gemeretak gigi semakin keras. Rasa panas yang membakar hati tak mampu aku hindari.


"Info apalagi yang kamu dapat?" tanyaku kemudian, berharap informasi lebih dari wanita yang aku sangka berpihak pada Bobby.


"Sepertinya hubungan mereka sudah jauh, Tuan. Mungkin sebentar lagi Mbak Arini bakalan minta cerai dari Tuan Danu."


Bak disambar geledek siang hari, hancur seketika seluruh harapan untuk hidup bahagia selamanya bersama Arini. Kucengkeram kuat kemudi, ada didih yang bergejolak di hati. Terlalu sakit menerima kenyataan pahit ini.


Baiklah, semakin kuat tekadku untuk menangkap basah mereka. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku harus siap. Tapi paling tidak aku harus melihat dan memastikan bahwa perselingkuhan mereka memang benar adanya.


"Baiklah, Sri. Cukup informasinya. Sekarang kamu pulanglah, mungkin Arini sudah menunggumu. Jangan sampai dia curiga."


"I-iya, Tuan. Tapi ... apa Tuan Danu akan tetap pergi?"


"Ya, aku harus kerja. Ada hal yang lebih penting dari hal tersebut."


"Tapi, Tuan ... apa Tuan Danu nggak akan kepikiran dengan apa yang tadi aku sampaikan. Takutnya kalau Tuan Danu kehilangan konsentrasi di jalan."


"Sudahlah, kamu pulang sekarang. Terimakasih infonya."


"Baik, Tuan. Maaf kalau saya lancang, tapi saya harus mengungkap kebenaran agar Tuan Danu bisa melihat ...."


"Cukup, Sri. Sekarang kamu bisa pulang dan tak usah bicara apapun lagi." Aku berusaha tidak memberi peluang kepada Sri untuk membeberkan hal yang lebih menyakitkan lagi.


Tampaknya Sri paham dengan yang aku maksud, ia beringsut mundur dan turun dari mobil. Tak kuhiraukan lagi kepergian dia. Jujur, pikiranku kacau. Tak lagi tersisa rasa cinta yang dulu kujaga.


"Baiklah, aku akan menunggu Arini pergi menemui Bobby. Aku harus mencari tempat bersembunyi."


Sejenak aku berpikir di mana tempat yang aman untuk mengintai. "Hmm ... sepertinya di tikungan dekat jalan keluar kompleks perumahan aku bisa menunggu Arini pergi."


Dengan rasa yang tak menentu aku menanti Arini keluar melintasi pintu gerbang komplek perumahan. Hingga hampir satu jam aku menunggu barulah kulihat wanitaku itu pergi menaiki motor yang biasa ia gunakan.


Aneh, kali ini dia pergi sendirian tanpa anak-anak. Otakku seketika berpikir yang tidak-tidak. "Wah, pasti mereka akan kencan di hotel. Parah ini, nggak bisa dibiarkan!" Emosiku makin tak terkontrol.


Kulajukan mobil mengikuti motor berwarna ungu itu, agar tidak ketahuan maka aku tetap jaga jarak. Tak akan aku biarkan Arini mengetahui rencanaku.


Dugaanku salah. Setelah hampir 30 menit mengikutinya,  Arini benar ke cafe bukan ke hotel. Aku makin tak mengerti ketika di tempat parkir tampak Martin di sana menyapa Arini.

__ADS_1


Sepertinya hal sama terulang lagi. Arini meminta tolong Martin. Tapi tunggu, kalau Arini benar meminta tolong ... lalu minta tolong hal apa? Bukankah seharusnya aku yang butuh pertolongan?


Argh! Kenapa selalu rumit begini, sih!  Tak bisakah semua dipermudah? Heran, dari dulu hobi sekali mereka menciptakan teka-teki.


Cukup lama Arini dan Martin di dalam cafe. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Kali ini aku sungguh tak bisa berpikir lagi bagaimana menyusup ke dalam.


Otakku mencoba menganalisa kembali. Jika Arini ke cafe menemui Bobby, itu artinya yang tadi telepon adalah Martin. Martin rela tidak berangkat kerja hanya untuk ketemu Arini?


Wah, ada yang tak beres ini. Waktu itu aku pernah minta bantuannya tapi ia menolak. Tapi giliran dengan Arini justru ia mengikhlaskan waktu untuk menemui istri sahabatnya sendiri.


Rencanaku tak terhenti saat melihat Arini dan Martin keluar dari cafe. Aku kembali mengikuti kemana mereka akan pergi. Kali ini, aku tak ingin berprasangka ke sahabat sendiri. Namun, aku akan membuktikan bahwa seorang Adarga Handanu bisa memecahkan masalah tanpa bantuan seorang sahabat sekali pun.


Motor mereka beriringan melaju ke arah taman kota. Ya, tempat yang ada di foto itu. Tapi ... kenapa Arini perginya dengan Martin? Bukankah di foto Arini dengan Bobby? Lalu, bagaimana dengan anak-anak?


Kali ini mobil sengaja kuparkir jauh dari taman. Topi dan masker yang telah aku persiapkan, kini terpasang di kepala dan wajahku. Aku yakin tak akan ada seorang pun yang mengenaliku, apalagi jaket besar ini mampu menutup bentuk tubuhku.


Pilihan untuk jalan kaki sepertinya lebih tepat agar aku mudah mengendap-endap mengikuti mereka. Layaknya seorang intel yang sedang menangani kasus, aku sungguh harus hati-hati. Kali ini aku tak akan pernah ceroboh lagi.


Payah! Aku kehilangan jejak Arini dan Martin. Kemana mereka, cepat sekali menghilang. Apa mereka sembunyi karena menyadari keberadaanku yang sedang menguntit?


Bebarapa kali aku celingukan, mencoba menemukan mereka. Namun tak kudapati batang hidung target. Hasilnya nihil.


Kuteruskan penelusuran menyusuri bagian sisi barat taman yang menuju ke arah sebuah bangunan unik yang biasa digunakan untuk selfie para pengunjung. Tetiba bola manikku terhenti kala melihat ada lelaki tua sedang asyik memotret menggunakan kamera.


"Bukankah itu Pak Nardi sopirnya Bobby? Ngapain dia di sini dan sibuk cekrak cekrek? Sejak kapan dia jadi fotografer?"


Kuhentikan langkah, urung niat untuk menyambangi lelaki itu karena bola netra mencoba mengikuti ke mana arah kamera itu.


"Apa?" Kukucek mata yang aku rasa sedang fatamorgana.


Di depan sana aku lihat Arini sedang duduk berdua dengan Bobby, begitu mesra. Arini seolah tak malu merespon belaian lembut tangan Bobby di pipinya, apalagi di dekatnya ada Putra dan Putri. Entah setan apa yang merasuki mereka berdua.


"Lihat apa, Mas?" Tetiba terdengar suara sembari menepuk bahuku.


"Tega kamu, Arini!" ucapku tanpa menghiraukan pertanyaan dari orang tersebut.


"Siapa yang tega?" Kembali orang yang kepo itu bertanya, bikin orang geram saja.


"Kamu lihat itu, itu istri yang aku cintai dengan sepenuh hati. Dia selingkuh di depan mataku!" jawabku tanpa melihat dengan seksama wanita kepo itu.


Tapi tunggu, dia justru tersenyum manis kepadaku. "Sabar, ya, Mas." Wanita itu pun menepuk bahuku dengan lembut.


Aku terperanjat ketika menyadari siapa wanita yang tengah berdiri di hadapanku. Beberapa kali kukucek mata, namun tetap sama. Wanita di hadapanku adalah Arini. Lalu, siapa wanita yang mengenakan baju milik Arini?


"Dek, kok, kamu di sini?"


"Sttt ... kita sembunyi di balik rerimbunan bunga itu saja. Mas akan lihat siapa wanita itu saat mereka keluar dari taman." Arini menarikku yang sedang terpaku tak percaya melihat semua.


"Tapi ... Mas jadi bingung, Dek."


"Sudah, hayuk!" Arini makin kuat menarikku.


Aku menurut saja dengan ajakan Arini, apalagi Martin ikut mendorong tubuhku.


"Kenapa kalian ke sini?"


"Bisa diam, nggak? Kamu ini laki-laki tapi cerewetnya nggak ketulungan," cerca Martin dengan sewot persis seperti emak-emak lagi dapat tamu bulanan.


Aku hanya bisa memanyunkan bibir menuruti perkataan mereka. Mungkin saja ada hal penting yang sedang mereka tunggu, membuat jiwa kepo meronta dan ingin ikut mengetahui juga.


Benar saja, tak berapa lama tampak Pak Nardi memberi kode jempol yang diacungkan ke arah Bobby dan ... ah, siapa wanita yang memakai baju Arini itu? Kenapa ada Arini KW? Apa yang di foto itu benar bukan Arini?


Hah? Bola mata serasa hendak terlepas kala melihat Arini palsu itu adalah Sri. Jadi ... selama ini Sri berpura-pura jadi Arini dengan memakai pakaian yang sering digunakan Arini untuk mengelabuhiku.


"Kurang ajar mereka! Menggunakan cara licik untuk menghancurkan rumah tanggaku!" Geram rasanya hati ini setelah mengetahui apa yang telah terjadi.


Baru saja berdiri dan akan melabrak mereka, Arini menarik tanganku hingga aku hampir terjatuh. "Mas Danu harus bisa menahan diri, karena kita harus tahu apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan." Arini berusaha menenangkan hati yang mendidih ini.

__ADS_1


"Tapi, Dek. Gara-gara foto itu aku tak lagi memperhatikanmu."


"Sudahlah, itu kita selesaikan nanti. Yang terpenting kita harus tahu kenapa Sri melakukan perintah Bobby dan apa maksudnya."


"Iya, Dan. Arini ada benarnya. Kita harus usut tuntas agar tak ada kejadian yang sama seperti ini lagi." Martin ikut memberi dukungan.


Aku hanya mengangguk. Perhatianku kembali ke Bobby, Sri, dan Pak Nardi. Tampak senyum puas Bobby mengembang kala melihat kamera, pasti sedang mengamati hasil pemotretan itu.


"Kali ini, Danu pasti akan langsung menceraikan Arini." Kata-kata itu meluncur dari bibir Bobby, sontak bola mata ini membulat dan hendak melampiaskan emosi.


Lagi-lagi Arini dan Martin mencegah dan menyuruhku untuk tetap diam.


"Sudah pasti, Tuan. Tadi pagi saya juga sudah jalankan perintah Tuan Bobby untuk mengompori Tuan Danu yang lemot mikir itu, hihihi ...." ujar Sri disertai tawa kecil.


"Kerja bagus! Tak seharusnya Arini mendapatkan lelaki bodoh macam Danu." Kembali senyum penuh kelicikan itu tersungging.


Tanganku semakin mengepal kuat menahan emosi yang telah berada di puncak ubun-ubun. Tangan Arini pun dapat aku rasakan tengah menggenggam kuat lenganku agar aku tetap menahan seluruh rasa yang sudah tak dapat aku tangguhkan.


Pandanganku melepas kepergian tiga orang licik itu. Entah apa salah aku pada lelaki yang dulu pernah menjadi ayah mertua tiriku itu, hingga ia berpikir untuk mengambil Arini dari kehidupanku.


Kuhela napas berkali-kali, namun tetap lemas tubuh ini hingga aku terduduk di rerumputan dan bersandar pada pohon. Di sisi lain aku bersyukur wanita dalam foto itu bukan Arini, tapi gejolak amarah terhadap kumpulan manusia laknat itu yang tak mampu kuterima.


"Sekarang Mas Danu sudah tahu siapa wanita dalam foto itu, kan?" tanya Arini dengan lembut sembari merengkuh jemariku.


"Maafkan aku, Dek. Aku memang bodoh begitu saja percaya dengan tipu daya mereka." Tangisku pecah, kupeluk erat wanitaku.


Sekali lagi Tuhan menunjukkan bahwa jodoh yang dikirimkan untukku adalah bidadari surga yang akan menemaniku hingga jannah. Ya, Arini ... wanita cerdas dengan keteguhan hati.


Rasa bersalah merasuki seluruh relung hati. Tak dapat kupungkiri akan sikap yang telah melukai perasaan dan hati wanita yang telah memberiku begitu banyak cinta.


Berkali-kali kata maaf berhamburan dari bibirku untuknya, Arini membalas dengan anggukan dan senyum teduhnya. Tak ada amarah dalam sorot netra itu.


Kembali kupeluk ia dengan erat. Tetiba aku menyadari sesuatu, segera kulepas pelukan"Tapi tunggu, kenapa kalian bisa bertemu dan tahu kalau Bobby ke sini?"


Arini dan Martin saling berpandangan dan melempar senyum. "Mau tahu apa mau tahu banget, nih, Mr. Kepo?" ledek Martin seraya tertawa lebar.


"Aku bukan Mr. Kepo, aku hanya suami yang takut akan kehilangan istri," sungutku sembari membuang muka agar tak terlihat rasa penasaranku.


Sikapku justru mendapat respon berupa tawa ngakak dari Arini dan Martin. "Kalian ini, seneng banget lihat aku kebingungan! Apa susahnya cerita, biar aku juga bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi." Kembali aku bersungut-sungut sembari memanyunkan bibir.


Arini menghela napas perlahan, mungkin ia juga sedang menahan apa yang kini aku rasakan. "Semua ini berkat Martin, Mas. Untuk kesekian kali ia telah membantu kita," ucap Arini lembut.


Kepalaku seketika menoleh ke Martin. Lelaki yang dulu menjadi rekan kerja sekaligus menjadi sahabat hingga sekarang. Meski terkadang ia sering mengejekku sebagai orang yang tak bisa diandalkan, namun kuakui ia selalu punya cara untuk menyelesaikan masalah.


"Waktu itu aku minta solusi ke kamu, tapi tak satu pun ide muncul di otakmu." Kepalan tanganku melayang ke bahunya, tentu saja tak keras.


"Danu, Danu ... aku itu paham kamu, susah kalau diajak bicara. Makanya aku lebih baik memutar otak sendiri dan menemui Arini untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga kalian."


"Kamu ini menganggap aku seolah-olah nggak bisa mikir, begini-begini aku ini suami Arini. Harusnya dia bicara dulu ke aku," omelku yang lebih tepat sebagai sebuah bentuk protesku.


"Halah! Kayak Mas Danu itu bisa diajak bicara aja!" sahut Arini dengan bibir mencebik.


"Kok, kalian bisa samaan gitu?" Aku mulai kesal dengan kata-kata mereka.


"Begini, lho, Mas. Martin itu curiga kalau wanita dalam foto itu bukan aku, karena pose dia selalu membelakangi kamera." Arini mencoba menjelaskan.


"Selain itu, Dan. Aku juga percaya kalau Arini nggak mungkin akan berbuat seperti segila itu." Giliran Martin menyahut.


"Aku juga nggak yakin itu Arini. Makanya aku mau buktikan sendiri," kilahku tak mau kalah.


"Kalau nggak yakin kenapa selama ini Mas Danu bersikap acuh denganku?" Pertanyaan Arini kali ini memojokkan aku, bagaimana pun aku salah telah berlaku tak selayaknya suami yang baik.


"Maaf, Dek. Namanya orang lagi cemburu, wajar kalau aku begitu." Kepalaku menunduk tak berani memandang tatapan Arini yang mungkin telah kecewa dengan sikapku.


"Begini, Dan. Rencana selanjutnya, mending kamu segera hentikan rencana Bobby. Kamu mau intrograsi langsung Sri atau gimana?" tanya Martin yang pasti jawabannya akan memeras otak lagi.


Aku termangu, berpikir untuk menentukan langkah selanjutnya. Kali ini, aku ingin membuat Bobby dan komplotannya benar-benar pergi menjauh dari kehidupan rumah tanggaku. Akan kubuat mereka mendapat pelajaran yang akan membuat jera seumur hidup.

__ADS_1


"Lihat saja, Bobby. Kamu akan menerima hadiah yang tak akan pernah kamu lupakan," gumamku dalam hati.


__ADS_2