
Napasku kini teramat lega. Pasalnya, nenek lampir namun semlohai itu telah kehilangan muka di hadapan Arini. Aku bisa melenggang bebas tanpa harus takut dengan rayuan setan berwujud makhluk cantik nan menggoda.
Setelah kejadian itu, ibu mertua lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar. Dia keluar hanya untuk makan atau ketika butuh sesuatu. Tak ada lagi belahan dada rendah, tak ada lagi kerling nakal, apalagi desah manja.
Kerling nakal itu justru telah berubah menjadi mata sendu yang menyiratkan kesedihan. Aku yang melihatnya sedikit tersentuh di sisi lain hatiku, meski aku laki-laki tapi hatiku tetaplah selembut salju yang mudah meleleh jika melihat orang bersedih.
"Dek, kasihan Ibu," ujarku ketika usai makan malam melihat ibu mertua langsung masuk kamar tanpa pamit.
"Semua hal ada resikonya. Biarkan dia merenungi setiap kesalahannya." Arini masih saja bersikeras dengan pendiriaannya, membiarkan ibunya dalam kesedihan.
"Tapi nggak baik, Dek, membiarkan Ibu larut dalam penyesalan. Nanti kalau Ibu sakit gimana? Kamu juga yang bakalan repot."
"Kamu ini kenapa, sih, Mas? Mulai jatuh cinta, ya, dengan ibu mertua sendiri?" Sepertinya Arini mulai sewot, entah kenapa dia jadi mudah meradang dan lebih besar cemburunya.
"Bukan begitu, Dek. Hanya khawatir saja kalau Ibu sakit siapa yang mau ngurusi?"
"Itu urusanku! Sudah untung aku masih mengijinkan dia tinggal di rumah ini."
Aku terpegun atas ucapan Arini. Ada apa dengannya? Kenapa ia tiba-tiba berubah menjadi egois dan keras hati? Adakah hal lain yang menjadikan ia berubah?
"O iya, Mas. Besok aku pulang telat."
"Mau belanja lagi? Bukannya baru kemarin kamu belanja, Dek."
"Bukan. Ada janji dengan teman," jawabnya ringan.
"Siapa?" Aku mencoba menyelidik.
"Issh ... kepo, deh! Hahaha ...."
Arini tertawa lepas. Tawa yang menyisakan rasa penasaran dalam rasa ingin tahuku.
Drrrttt ....
Gawai Arini berbunyi. Satu kebiasaan dia, makan pun gawai selalu ia bawa ke meja makan. Katanya, nanti kalau ada telepon penting biar cepat angkatnya.
Arini meraih gawai, kemudian membawanya menjauh dariku. Aku makin penasaran dengan siapa dia bicara. Kuturut langkah Arini yang berjalan menuju teras rumah.
"Iya, jadi."
"...."
"Tempat nanti aku kirim ke whatsapp saja."
"...."
__ADS_1
"Tenang, suamiku nggak tahu."
"...."
"Oke, kita ketemu pukul lima sore sepulang aku kerja."
Dari balik pintu aku bergegas pergi sebelum ketahuan Arini. Masuk ke kamar dan pura-pura sibuk dengan laptop menjadi pilihanku.
Pikiranku berkecamuk penuh tanya. Siapakah orang di ujung sambungan seluler itu? Kenapa Arini selalu membuatku berpikir keras. Dia benar-benar menjadi ratu misteri yang penuh kejutan.
"Siapa yang telepon, Dek? Sepertinya rahasia amat, sampai nerima aja harus keluar rumah," tanyaku dengan setenang mungkin saat Arini masuk ke kamar.
"Teman, Mas." Dengan santai ia duduk di meja rias dan mulai membersihkan wajah.
"Yakin hanya teman?"
"Apaan sih, kamu, Mas?"
"Siapa tahu gitu, kamu marah karena Mas digodain Ibu, terus kamu mau bales dengan cara ...." Aku tak berani meneruskan kalimatku.
Arini bangkit dari duduknya dan melenggang ke tempat tidur. Tak dihiraukan kalimatku yang sudah mulai penuh curiga. Tanpa rasa ingin tahu akan lanjutan ucapanku, ia merebahkan badan.
"Malam ini libur bercinta, ya, Mas. Mau tidur lebih awal, biar besok bangun pagi wajahku nggak kusut karena kantuk." Ia membenahi kembali bantal, kemudian mengulas senyum manis.
Benar saja, beberapa camilan dan air putih sudah tersedia di meja dekat lampu tidur. Makin aneh saja tingkah Arini pasca kejadian pembongkaran upaya ibu mertua merayuku. Sepertinya ia mulai posesif.
Kutatap lekat wajah bidadari surgaku. Begitu tenang. Napas yang teratur menandakan bahwa dia dalam keadaan baik. Tak ada yang menjadi beban pikiran.
"Selamat malam, Sayang." Kukecup dahi yang tertutup anak rambut dengan lembut.
Segera kumatikan laptop yang hanya sebagai alibi pura-pura sibuk dan mengembalikannya ke dalam lemari. Kemudian beranjak ke alam mimpi bersama wanita yang teramat aku cintai.
***
Pagi ini kulihat wajah Arini yang begitu ceria, berbeda dengan Bu Hera yang masih saja berkalang mendung. Dua wanita yang saling bertolak belakang.
Bu Hera pagi ini juga tidak sarapan, ia hanya keluar saat hendak mengambil minum. Setelahnya ia masuk kamar dan mengurung diri sampai Arini pergi.
Aku mencoba mengetuk pintu kamar Bu Hera, hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja. Ia membuka pintu, tak kulihat wajah sumringah penuh pesona menggoda di wajahnya.
Entah kemana semua yang ada pada dirinya pergi, seolah seluruh pesona itu menguar hilang tak berbekas. Yang ada hanyalah wajah kuyu tak bersemangat.
"Ada apa?" tanyanya datar tanpa melihatku.
"Aku mau berangkat kerja, Bu. Ibu jangan lupa makan, semua sudah disiapkan Arini di meja makan."
__ADS_1
"Iya, aku tahu kapan perutku harus diisi. Nggak perlu kamu ingatkan." Dengan ketus dan pandangan tak menyenangkan ia menjawab.
"Baiklah, Bu. Aku berang ... kat ...." Belum juga selesai kalimatku, wanita yang sedang dilanda kesedihan itu telah menutup pintu. Sungguh tak sopan.
Bergegas aku keluar, menstarter si mesin tunggangan menuju kantor. Sepanjang perjalanan tak henti otak berpikir tentang perubahan Arini yang semakin misterius. Banyak hal yang ia tutupi dariku.
Tekad hati sudah bulat, sore nanti aku harus menguntit Arini. Tak akan aku lewatkan dengan siapa dia bertemu.
***
Sengaja aku parkir motor agak jauh dari bank tempat Arini bekerja. Dia bilang janjian pukul lima sore, itu artinya sebelum pukul lima dia sudah berangkat. Semoga tidak terlambat.
Netraku berbinar saat melihat Arini keluar dari kantor menuju ke parkiran. Dengan sedikit tergesa ia melajukan motor pink putih miliknya.
"Aku harus tahu kemana ia pergi, jangan-jangan ketemu selingkuhan." Dengan semangat detektif aku mulai menguntit Arini.
Perasaanku semakin tidak enak tatkala melihat Arini memasuki sebuah resto. Arini berjalan agak terburu, entahlah baru kali ini aku melihat ia seperti itu. Tak biasanya.
Bagaimana cara aku masuk ke resto itu, ya? Arini pasti akan mengenaliku. Sejenak aku memutar otak, mencari akal agar tidak ketahuan oleh Arini.
Aha! Itu dia!
Segera aku berjalan menuju driver ojek online. Setelah bernegosiasi, akhirnya dapat juga kupinjam jaket dan dan helm. Sebagai ganti selembar uang merah kuserahkan pada pria kurus tinggi berkumis tebal itu.
Setelah kurasa aman, dengan langkah pasti aku memasuki resto. Setelah memesan makanan dan minuman, segera aku mencari tempat yang aman dan bisa dengan leluasa mengamati Arini dari tempat aku duduk.
Yupz, sudut ruang ini sepertinya lebih aman. Sekarang saatnya memulai pengintaian. Arini masih sibuk dengan gawai, mungkin sedang sibuk membalas chat orang yang sedang ia tunggu.
Tampak Arini berdiri, melambaikan tangan pada orang yang baru masuk. Tunggu! Dia ... Huff! Kenapa selingkuhan istriku adalah Martin?
Mataku membeliak, seketika kepalaku penuh dengan kunang-kunang. Tak kusangka, teman dekatku justru yang menusukku dari belakang. Tega sekali Martin dan Arini menghianati aku dengan cara seperti ini. Jika Arini ingin membalas bukan seperti ini caranya.
Baru saja aku ingin berdiri, kembali Arini berdiri dan melambaikan tangan pada lelaki yang baru saja masuk ke resto. Lelaki muda berperawakan tinggi, putih, dan lebih tampan dari aku. Tidak, ini pasti salah.
Jadi, mana yang selingkuhan Arini? Martin atau pria yang lebih tampan dariku itu?
Danu ... kenapa kamu jadi bodoh begini? Bagaimana bisa berpikir Arini selingkuh dengan mereka? Ya, Tuhan ... rasanya aku tak kuasa melihat pria lain menjabat tangan lembut istriku.
Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melabrak mereka semua! Bisa saja Martin ingin menjual istriku. Aku harus segera bertindak.
Dengan langkah berapi-api, hati tersulut emosi dan amarah memuncak di ubun-ubun, aku menuju meja nomor delapan itu.
"Arini! Martin!" Teriakku dari belakang Arini. Sontak Arini berdiri dan membalikkan badan, sedangkan Martin juga ikutan terkejut.
Tertangkap basah kalian! Akan aku kuliti habis semuanya, biar tidak bisa main di belakangku lagi.
__ADS_1