Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 50 Gagal Lagi


__ADS_3

Detak jarum jam terdengar mengisi sunyi malam yang kurasa tanpa ujung. Arini telah terlelap di sampingku. Begitu lekat kupandangi wajah lelahnya.


Kembali anganku mengembara tak menentu. Hingga detik ini otak belum juga menemukan titik temu meski sudah banyak masukan dari para Danu lovers.


Aku bangkit dari posisi tidurku, kemudian turun menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku rasa dua rakaat di tengah malam akan memberiku rasa tentram sehingga akal bisa berpikir jernih.


Dengan menghadap kiblat, aku berserah diri dan memohon jalan keluar pada Illahi Rabbi. Ketenangan mulai menjalari relung jiwa, perlahan kekhawatiran sedikit demi sedikit terkikis.


Setelah selasai bermunajat, kurebahkan kembali raga yang telah lelah. Kupejamkan netra meski masih sulit untuk tidur. Beberapa kali kuatur pernapasan agar himpitan di dada tak begitu menyesakkan.


Baiklah, aku harus berpikir untuk mencari solusi tanpa membuat hubunganku dengan Arini renggang atau bahkan rusak.


Bisa saja aku tunjukkan foto itu kepada Arini, kemudian mengintrogasinya. Tapi itu sama saja aku tak dapat menemukan kebenaran, karena sudah pasti Arini tak akan mengaku.


Sedangkan kalau minta tolong kepada Sri, aku rasa itu sama saja memberi peluang untuk Sri melaporkan semuanya kepada Bobby.


Kalau minta tolong Martin, dia kerja. Tak mungkin dia bolos hanya untuk membantu menyelidiki semua.


Ya, ada satu orang yang bisa bantu aku. Besok pagi aku akan mendatanginya. Aku yakin ini jalan yang terbaik.


Senyumku tersembul ketika ide itu muncul, kemudian dewi mimpi pun menjemput untuk membawaku terbang bertemu para bidadari cantik.


****


Suara adzan subuh terdengar jelas dari toa mushola, membangunkan aku yang dipaksa kembali ke alam nyata. Alam yang ingin kuhindari untuk sementara waktu.


Ya ... terkadang aku merasa begitu lelah sehingga ingin lebih panjang lagi menikmati mimpi indah. Mimpi yang tak akan pernah memaksaku untuk berpikir keras.


Tapi, ya sudahlah. Ini adalah kehidupan, bukan panggung sandiwara. Kehidupan yang harus dijalani dan dihadapi dengan kesiapan diri, bukan malah berusaha lari dari kenyataan meski sepahit apapun cobaan.


Sudah aku mantapkan hati, hari ini akan aku temui Pak Rahman. Beliau ayah dari Arini, sudah pasti akan lebih bisa membantu penyelesaian semua masalah rumah tanggaku ini.


Selesai menyantap nasi goreng buatan Sri, aku segera pamitan ke Arini untuk keluar sebentar. Tak aku jelaskan kemana aku pergi, sengaja kuabaikan pertanyaannya daripada aku harus bohong.


Aku tahu dia menatapku dengan penuh tanda tanya. Sepertinya perubahan sikapku selama beberapa hari cukup ia rasakan. Bukan aku tega dengan istri sendiri, melainkan karena hati ini yang belum siap menerima kenyataan bahwa ia mendua hati.


Aku pacu kendaraan beroda empat dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya. Rasa tak sabar ingin menumpahkan semua uneg-uneg tak mampu kuredam lagi. Aku sangat berharap, di sana akan aku dapatkan jalan keluar yang terbaik.


Pintu pagar terbuka kala mobilku menepi di depan sebuah rumah besar dengan aristektur eropa klasik, seorang sekuriti bertubuh tegap mempersilahkan aku masuk.


"Pak Rahman ada?" tanyaku setelah turun dari mobil.


"Ada, Tuan. Sepertinya masih sibuk dengan burungnya di belakang."


Aku mengeryitkan dahi, sevulgar itu dia bicara tentang majikannya. Toh, kalaupun benar Pak Rahman masih sibuk dengan burungnya, tak perlu juga disampaikan seperti itu. Benar-benar tidak tahu etika dia.


"Sebaiknya lewat samping saja, Tuan. Biar lebih cepat." Kembali sekuriti kurang etika itu memberi saran ketika kaki ini hendak naik ke teras rumah.


"Aku mau menunggu di ruang tamu saja," sahutku ketus.


"Tapi bakalan lama kalau Tuan Danu menunggu."


"Memangnya berapa lama?"


"Bisa dua-tiga jam, Tuan."


"Apa? Hanya bermain burung saja sampai selama itu?" Sungguh aku benar-benar terkejut, sepertinya ayah mertuaku itu masuk masa puber lagi.


"Bukan main, Tuan."


"Terus?"


"Ya ... ngurusi burung. Termasuk memandikan burung, memberi vitamin, membersihkan kandang juga."


"Sebentar, sebentar. Maksud kamu ngurusi burung ... burung ...."


"Burung jalak putih, Tuan. Seminggu yang lalu dapat dari teman Tuan Rahman yang datang dari Lombok."


"Ooh ... aku kira ...."


"Dikira apa, Tuan?"


"Sudahlah, aku mau lewat samping. Sudah sana kamu tugas lagi jaga di depan." Sengaja kualihkan pembicaraan, khawatir kalau apa yang aku pikirkan tertebak oleh sekuriti yang tiba-tiba tatapannya berubah menyelidik.


"Siap, Tuan!"


Dengan langkah panjang kutinggalkan pria yang sedang larut dalam rasa penasaran itu, kubiarkan ia mengernyit dahi sembari menggaruk kepala.


Benar saja, pria yang telah memasuki usia senja itu tengah sibuk dengan burung berwarna putih. Dibantu oleh Parjo, ia membersihkan kandang burung.

__ADS_1


Parjo yang melihat kedatanganku segera mendekat ke Pak Rahman dan berbisik, setelah itu melanjutkan pekerjaannya kembali. Pak Rahman menoleh, kemudian menghentikan aktivitasnya.


"Eh, Danu. Tumben datang ke sini nggak ngabari dulu. Ada apa?"


"Iya, Yah. Maaf, tapi ada hal penting yang ingin Danu sampaikan."


"Hal apa? Ada masalah dengan proyek kita?"


"Nggak ada, Yah. Ini bukan masalah proyek."


"Terus?" Pak Rahman kini menatap ke arahku dengan penuh pertanyaan.


"Yah, bisa nggak bicaranya di dalam rumah gitu. Biar bisa sambil minum kopi, syukur-syukur ada camilan."


"Ealah ... Dan. Kamu ini banyak syarat. Ya sudah, ayo masuk." Pak Rahman menepuk bahuku, kemudian merangkul.


Kami berjalan menyusuri koridor samping rumah, pemandangan asri dengan berbagai macam tanaman dan bunga menambah sejuk pandang mata ini. Kolam ikan yang sengaja dibuat di dekat taman mini itu memberi sensasi tenang oleh gemericik air.


"Kamu ke sini sendiri?" tanya Pak Rahman sesampai di depan rumah.


"Iya, Yah."


"Kenapa Arini dan cucuku nggak ikut? Nggak biasanya."


"Begini, Yah. Saya ke sini sengaja nggak bawa mereka, karena ...." Tiba-tiba keraguan kembali bergelayut, entah bagaimana aku akan memulai cerita ini.


"Karena apa?"


"Kita masuk dulu, ya, Yah. Sekalian saya minum dulu, gitu."


"Ya sudah, ayo masuk. Biar aku suruh Surti siapkan sesajen untuk kamu," titah Pak Rahman mengajakku masuk.


"Kok, sesajen?" Netraku sedikit mendelik, enak saja aku dibilang dedemit yang butuh sajen.


"Katanya mau minum kopi dan camilan?"


"Iya, Yah. Tapi bukan kembang dan kemenyan. Danu bukan dedemit, masa butuh sesajen?"


"Hahaha ... Danu, Danu. Siapa juga yang bilang kamu dedemit? Sudah, duduk dulu. Aku mau ke dalam, Surti paling masih mencuci di belakang."


"Iya, Yah."


Tak beberapa lama Pak Rahman kembali, ia duduk di kursi berseberangan denganku. "Sekarang cerita, ada apa kamu tiba-tiba datang ke sini tanpa aku minta dan tanpa anak istrimu."


Aku bingung, sungguh bingung harus memulai dari mana. Bagaimana kalau Pak Rahman justru membela Arini? Apa ia siap menerima kenyataan bahwa anaknya telah berbuat serong? Pasti dia akan kecewa dan hancur hatinya. Sebagai orang tua, ia pasti akan merasa gagal dalam mendidik anaknya.


"Danu! Kok, malah bengong!" Suara Pak Rahman membuyarkan lamunan yang membuat hening suasana.


Jujur, aku tergagap karena belum siap meluncurkan kata-kata. Baiklah, aku harus berani mengungkapkan semua. Apapun nanti pendapat Pak Rahman, akan aku pikirkan belakangan.


"Begini, Yah. Bulan kemarin dan bulan ini aku mendapat kiriman foto."


"Foto? Foto siapa?"


"Ehm ... itu, Yah ... foto Arini dengan ...."


Triiiing ... triiing ... triiing ....


Bunyi gawai Pak Rahman membuatku terhenyak sehingga menghentikan ucapan. Hati jadi kembali galau.


"Sebentar, Bobby telpon." Pak Rahman memberikan kode agar aku diam sejenak.


Bobby? Dia telepon Pak Rahman? Apa jangan-jangan dia tahu aku di sini?


Sungguh lelaki itu benar-benar telah mengambil ketenanganku. Aku bersumpah, hanya sekali ini saja ia mengganggu kehidupan rumah tanggaku karena setelah ini tak akan aku biarkan ia hadir dalam kehidupan Arini lagi.


"Bobby memberi kabar, ada sedikit masalah pada proyek baru kita yang di Bandung Barat." Binar cemas tampak di wajahnya setelah pembicaraan dengan Bobby berakhir.


"Yang proyek pemukiman mewah itu, Yah?"


"Iya. Ada satu rumah ambrol bagian belakangnya, dan yang satu juga terancam runtuh karena sudah ada retakan pada dinding."


"Kok bisa, Yah?"


"Masih diselidiki, tapi perkiraan sementara karena hujan deras dan posisi geografis dari letak tanah yang dekat dengan tebing."


"Tapi semua sudah diperhitungkan sejak awal bangun, Yah. Jadi nggak mungkin kalau sampai runtuh karena hujan."


"Sepertinya ada yang curang dan memainkan jumlah bahan yang seharusnya digunakan."

__ADS_1


Aku manggut-manggut, benar juga kata Pak Rahman. Pasti ada kecurangan, ada yang ingin mengambil untung lebih dari pembangunan itu tanpa mempedulikan keselamatan calon penghuni rumah.


"Sore ini kita akan berangkat ke Bandung, Dan. Besok pagi-pagi kita ke lokasi."


"Tapi itu info sudah valid, Yah?" tanyaku ragu-ragu, dalam prasangkaku ini pasti akal-akalan Bobby untuk mengirimku ke luar kota.


"Sudah. Ini Bobby kirim foto laporan dari mandor yang ngawasi di sana." Pak Rahman menyodorkan gawainya, benar saja. Di foto itu tampak bagian belakang yang mengalami longsor.


Lalu, apa yang akan aku lakukan sekarang? Apa aku masih bisa membahas masalah Arini dan Bobby dalam situasi sekarang ini?


"Sekarang kamu pulang untuk siap-siap, Dan. Sore kita harus sudah berangkat, kamu bawa beberapa baju karena pasti kita akan sibuk di sana dalam waktu agak lama," titah Pak Rahman yang membuat bibir mengatup tak mampu membantah.


Akhirnya, niat hati tak terwujud. Gagal sudah apa yang aku rencanakan sejak kemarin. Apa aku sebaiknya tidak ikut saja? Tapi ... ah, pasti Pak Rahman tak akan mengijinkan.


Alhasil, sore itu juga aku harus tetap berangkat ke Bandung. Tetapi kali ini aku minta untuk nebeng mobil Bobby. Alasan kurang enak badan dan tak bisa mengemudi mobil sendiri menjadikan Bobby menerima alasan tersebut.


Kali ini tak akan aku biarkan Bobby mencurangiku lagi. Cukup sudah dua foto, tak akan ada lagi foto ketiga atau bahkan foto-foto berikutnya.


****


Hampir dua minggu aku tidak pulang. Sebagai pihak pengembang, Pak Rahman dan Bobby harus bertanggungjawab penuh atas kejadian runtuhnya rumah mewah tersebut. Tentu saja berimbas dengan pekerjaanku yang semakin menumpuk karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk rekontruksi bangunan.


Hari ini aku sedikit bisa bernapas lega, karena 90% pekerjaan yang berurusan dengan detail persiapan hampir selesai. Itu artinya aku sudah bisa pulang. Ketegangan yang sempat memenuhi seluruh otak, kini mulai rileks kembali.


Pagi ini aku sengaja pamit pulang mendahului mereka dengan naik travel. Pak Rahman dan Bobby masih harus membereskan masalah lain yang memang berkaitan dengan mereka.


Ah, biar saja mereka sibuk. Yang penting kali ini aku pulang tak akan lagi menemukan foto itu lagi. Paling tidak, untuk sementara waktu aku bisa tenang.


****


Senyumku mengembang kala tak kutemukan satu pun foto di ruang kerja. Sudah pasti mereka tak bisa bertemu karena Bobby hampir dua minggu ini fokus dengan masalah ambrolnya rumah mewah itu.


"Mas Danu sudah pulang? Kok, tahu-tahu sudah ada di ruang kerja?" tanya Arini ketika menemukan pintu ruang kerja terbuka.


"Iya," jawabku singkat.


"Pulang kapan? Nggak biasanya langsung ke ruang kerja, biasanya juga kasih kabar kalau mau pulang."


"Nggak penting!" jawabku sembari melangkah pergi meninggalkan Arini yang kebingungan.


"Ada apa, Mas? Sepertinya Mas Danu ada masalah?"


"Aku capek, pengen istirahat."


Tak aku hiraukan lagi panggilan Arini. Entahlah, hatiku masih belum bisa memaafkan kelakuan dia yang tega menghianati kesetiaan.


Setelah selesai mandi dan menyapa si kembar, segera aku ke meja makan. Perut sudah tak sabar minta diisi.


"Sudah pulang, Tuan?" sapa Sri dengan ramah.


"Iya, Sri. Hari ini masak apa? Sudah lapar ini."


"Ini, Tuan. Hari ini saya masak acar ikan kakap."


"Wah, enak sekali. Tahu saja kamu makanan kesukaanku." Tanganku langsung mengambil piring, kemudian menyendok nasi dan sepotong ikan yang penuh dengan baluran bumbu lezat.


"Gimana kerjaan kemarin, Mas? Hampir dua minggu Mas Danu nggak ada kabar. Aku telpon juga nggak diangkat, dichat nggak dibales. Ada apa, Mas?" Tiba-tiba Arini sudah ada di sampingku, membuat nafsu makan seketika lenyap.


"Terlalu sibuk! Mana sempat untuk telpon," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


"Tapi semua urusan sudah selesai?"


"Sudah."


"Syukur kalau begitu, Mas. Aku jadi ikut lega."


Tak kuhiraukan ucapan Arini. Otakku masih saja berputar mencari cara agar bisa memergoki kencan terlarang antara Arini dengan Bobby.


Selesai makan, aku kembali ke ruang kerja. Lebih tepatnya mengurung diri dan menghindar dari Arini. Di ruangan ini, aku mulai menyusun kembali rencana yang sempat terhenti.


Baiklah, kali ini aku tak akan melibatkan siapapun. Akan aku cari siapa saja yang ikut andil dalam rencana merusak rumah tanggaku.


Menurut analisa yang bisa dilogika, pelaku utama adalah Bobby yang dibantu oleh Sri. Sudah jelas Sri adalah orang suruhan Bobby yang ditugaskan untuk mengirim foto-foto itu.


Aku tahu, tujuan foto itu dikirim agar aku marah-marah ke Arini dan menceraikannya. Saat Arini aku lepas, maka Bobby akan berusaha mendapatkan hati Arini.


"Kamu salah, Bobby! Sampai kapanpun Arini tak akan pernah aku cerai meski ia terbukti bersalah sekalipun. Aku tak akan kalah darimu!"


Tanganku mengepal, gigi bergemerutuk mengiringi hati yang nyeri dan dada yang kian terhimpit.

__ADS_1


"Aku tidak boleh kalah!"


__ADS_2