Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 15 Ayah Mertua


__ADS_3

Panggilanku mengejutkan Arini dan Martin. Tapi aneh, kenapa hanya terkejut saja? Harusnya ada rasa takut yang tersirat di wajah mereka.


"Eh, Mas Danu. Sejak kapan di sini? Terus ... kenapa pakai baju ojol?" Arini memicingkan mata, seolah meminta penjelasan.


"Kapan aku di sini itu tidak penting, yang terpenting adalah ...."


"Oh iya, Mas. Ini kenalin, dia Bobby suami ke empat Ibu." Dengan tenang dan menunjukkan sikap ramah, ia memperkenalkan aku pada pria yang lebih tampan dariku itu.


Apa? Bobby? Dia suami ke empat ibu mertuaku, itu artinya dia ayah mertuaku. Tidak mungkin, kenapa ayah mertuaku masih muda dan ketampanannya mengalahkan aku meski hanya selisih setingkat, sih.


Aku menjabat tangan Bobby dan berusaha untuk bersikap wajar. Beruntung aku tidak langsung main gampar, jika tidak pasti hanya malu yang aku dapat.


Arini mengajakku duduk, tepat di hadapan Bobby. Sedangkan Arini tepat di hadapan Martin. Segera kutengok ke bawah meja, hanya untuk memastikan mereka tidak bermain kaki.


Duuh ... kenapa aku jadi paranoid begini. Apa mungkin teman dekatku ini ada main dengan istriku? Bagaimana jika hal tersebut benar.


"Danu, sejak kapan kamu jadi ojek online?" tanya Martin membuyarkan lamunan.


"Eeeh ... itu ... sejak ... sejak tadi."


"Oh, baru? Hebat kamu! Pekerjaan di kantor saja sudah numpuk, tapi kamu masih sempat nyari tambahan di luar. Kamu memang pekerja keras, Dan. Arini beruntung punya suami kamu," puji Martin yang tentunya membuat aku di atas angin.


"Iya, donk. Adarga Handanu gitu, loh. Demi istri tercinta apa saja aku lakukan. Iya, nggak sayang?" Dengan jumawa aku menepuk dada dan menoel dagu Arini seraya mengerling nakal pada wanita yang hanya menanggapiku dengan senyum itu.


"Maaf, Mas. Saya mau minta kembali jaket dan helm, sudah kelamaan. Saya juga mau narik lagi." Tetiba pria kurus berkumis tebal itu muncul, membuatku kelimpungan gegara kehilangan muka.


"Lho, katanya punyamu, Dan?" Martin kembali bertanya, pertanyaan yang justru semakin membuatku malu.


"Itu, tadi pinjem dulu. Kan aku belum punya seragam, iya kan, Pak?" Aku mencoba mengelak, kukedipkan mata memberi kode pada driver ojek online tersebut berharap ia mengiyakan ucapanku.


Beruntung tuh tukang ojol tanggap, jadi nggak malu-malu amat deh. Mimpi apa aku ini semalam, jadi detektif aja salah, sudah begitu malu pula ketahuan bohong. Mana tadi sudah sempat jumawa pula.


"Tapi ngomong-ngomong ada acara apa kalian kumpul di sini?" tanyaku penasaran sekaligus mengalihkan perhatian.


"Mau kenalan dengan ayah mertua," Begitu ringan Arini menjawab yang disambut senyuman Bobby.


"Tapi kok aku nggak diajak? Kamu juga menyembunyikan ini dariku, Dek."

__ADS_1


"Sebenarnya aku mau ngajak, Mas. Tapi berubah mood gegara semalam Mas bahas kasihan Ibu."


Alasan apa itu? Bilang saja mau kencan dengan Martin, biar bisa dekat-dekat. Bikin hati ngedumel terus jadinya.


"Aneh, suami nggak diajak tapi malah ngajak Martin. Apa maksudnya coba? Yang suami kamu itu aku, Dek. Bukan Martin."


"Yang bilang Martin suamiku siapa?" Lagi-lagi dengan enteng Arini membalikkan pertanyaan.


"Kamu ini, Dek. Dikasih tahu malah ...."


"Ssttt ... kalau ikut nggak boleh berisik. Mau yang dipakai buat berisik itu dipotong habis? Biar nggak bisa dicium lagi sama nenek-nenek bahenol."


"Iiish! Apaan sih. Iya, iya ... Mas diam."


Arini mengacungkan jempol dan aku memilih untuk diam mendengar ia bicara. Dasar wanita, maunya mendominasi dan memonopoli pembicaraan.


Semua pandangan tertuju ke Arini, termasuk aku. Kupasang telinga baik-baik, mendengarkan setiap kata yang disampaikan Arini.


Ternyata, wanitaku ini sedang berjuang menyelamatkan biduk rumah tangga kami. Ya Tuhan ... sungguh aku terharu. Arini yang aku kira tidak peka ternyata ia yang dengan cepat berusaha menyelesaikan masalah secara diam-diam.


Dari penjelasan Arini ke bobby, dapat kuketahui bahwa Arini juga mendengar semua pembicaraan aku dengan ibu saat di dapur. Sejak itulah Arini tahu niat buruk ibunya.


"Sebentar, sebentar. Jadi, Martin yang kirim video itu?"


"Yoi," jawab Martin dengan gaya rocker.


"Tapi, waktu itu kan ...."


"Danu, Danu. Mana mungkin aku ikuti ide kamu yang nggak banget. Yang ada kita nggak bakalan dapat apa-apa. Secara aku tahu, kamu pasti nggak akan bisa menolak rayuan nenek semlohai, hahaha ...."


Sialan! Pria sok tahu itu malah membuatku seolah-olah tak berguna. Tapi tak apalah, karena dia juga Arini bisa tahu kelakuan bejad ibunya. Tapi aku nggak suka saja cara Martin yang seperti meremehkan aku. Pakai acara ngatain ideku nggak banget pula.


"Ideku sebenarnya sudah bagus, hanya saja kan digagalin sama nenek eh sama ibu mertua aku." Tetap donk yang namanya Danu harus bisa beralasan, biar nggak hilang muka terus-terusan.


"Terserah! Pada kenyataannya aku yang sudah berhasil merekam adegan itu dari balik jendela," ungkap Martin.


Huh! Ternyata yang kusangka detektif itu hanyalah si kutu kupret Martin. Berarti Arini tahu Bu Hera menciumku dari Martin juga, secara aku hanya cerita ke dia saja. Sebagai teman dekat, Martin adalah satu-satunya teman baik yang sering aku repoti.

__ADS_1


Baiklah, sekarang aku tak akan pernah lagi cerita apapun ke dia. Dasar mulut ember! Bikin malu aku saja di depan Arini.


"Mas Bobby sudah dengar sendiri bagaimana ibu berusaha merusak rumah tangga kami. Aku harap ada kerjasama yang baik dengan Mas Bobby." Arini kembali bicara dengan Bobby yang sedari tadi hanya diam memperhatikan pembicaraan.


"Lalu, apa yang bisa aku bantu?"


"Apa Mas Bobby masih mencintai ibuku?"


"Jujur, Arini. Aku menikahi ibumu karena cinta, meski usia kami terpaut jauh. Demi ibumu aku tinggalkan kehidupan nyamanku, pergi dari rumah meninggalkan orang tua. Tapi ini balasan ibumu untukku." Ada kilat kekecewan di sorot mata pria itu.


"Maaf untuk itu semua, mungkin butuh waktu untuk kalian saling memahami."


"Aku sudah mencoba menghubungi ibumu, tapi dia memblokir semua akses nomorku. Bahkan aku sudah beberapa kali berganti nomor hanya untuk bicara dengannya. Tapi hati Hera seperti mati, susah untuk bicara dengannya."


Mendengar penjelasan Bobby aku bisa menyimpulkan, memang hati Bu Hera sudah mati. Maka tak heran jika ia tega ingin menghancurkan rumah tangga anaknya. Mau sampai kapan wanita itu bersikukuh dengan tabiat buruknya.


"Tapi di sini aku butuh bantuanmu, aku tidak ingin rumah tanggaku hancur karena ibuku sendiri." Arini seolah memohon, ada cairan bening yang hampir keluar dari sudut kelopak mata.


Aku tahu Arini masih menahan rasa sakit hati atas penghianatan yang dilakukan Bu Hera, ibu kandung yang selama ini menelantarkannya. Ada getar berat dalam suaranya. Kucoba mengelus bahunya, memberikan penguatan dan ingin kukatakan bahwa aku akan terus setia pada Ariniku.


"Baiklah, kita susun rencana saja. Kita usahakan secepatnya Hera keluar dari rumah kamu. Karena kalau dibiarkan terus menerus, itu tidak baik untuk kamu dan suamimu." Bobby dengan tegas memberikan pengarahan.


"Yupz, betul! Aku setuju!" seruku penuh semangat.


"Setuju apa setuju, Dan?" Kembali Martin menggodaku seraya memainkan mata dan tertawa cengengesan.


"Kita bukan teman lagi sekarang, dasar mulut ember!" umpatku yang disambut oleh siku Arini tepat di perut. "Augh! Apaan sih, Dek. Sakit ini!"


"Mas Danu harusnya bersyukur, berterimakasih ke Martin. Karena dia yang sudah bantu kita untuk bongkar keburukan Ibu."


"Iya, Dek. Tapi nggak harus cerita yang masalah ciuman itu kali, aku kan malu." Aku tundukkan kepala, tak sanggup melihat ekspresi Arini. Sedangkan Martin justru malah tertawa terbahak-bahak. Di bagian mana lucunya, coba?


"Sabar, Danu." Bobby menepuk bahuku sembari tersenyum.


"Iya, Ayah mertua," ucapku lemah yang disambut dengan gelak tawa semua.


"Dek, kamu jangan sampai tergoda pesona Ayah mertua, ya." Ku pasang wajah memelas di hadapan Arini.

__ADS_1


Dan entah kenapa mereka semua tepok jidat.


__ADS_2