
Lantunan doa Arini di kala tengah malam masih bisa aku dengar. Meskipun dengan suara lirih ia meminta pada Sang Pemberi Kehidupan, namun aku yakin doa itu mampu menembus langit.
Bulir bening itu masih saja menuruni lengkungan pipi dan jatuh menimpa mukena putih yang ia kenakan. Kesedihan dan harapan berkumpul dalam netra itu.
Arini, wanita yang selalu membawa namaku dalam setiap sujud dan untaian doa. Dia wanita yang selama ini menerimaku dengan segala kekurangan, kini ia tengah dirundung kesedihan karena ulah ibunya.
Arini ... seandainya aku bisa masuk kembali ke raga yang terbaring itu, mungkin saat ini jemariku tak akan membiarkan air mata itu tumpah.
Di sini, di tepi sajadah yang ia gunakan untuk bermunajat, aku turut terduduk mengaminkan setiap bait doa yang ia panjatkan. Dari lubuk hati yang terdalam, aku pun memohon kehidupan kembali pada Sang Khalik.
Arini, ia wanita yang tangguh. Saat pagi hingga sore ia menunaikan kewajibannya sebagai seorang karyawan bank, ketika pulang ke rumah ia segera memasak dan beberes rumah. Tanpa lelah ia segera bergegas menenteng hasil masakannya untuk kedua orang tuaku yang seharian menungguiku.
Wajah Arini kini tampak lebih tirus, mata sembab dengan lingkaran mata panda. Binar netra itu kini sendu, menyiratkan lelah yang tiada tara.
Aku tak mengerti kenapa hingga kini aku masih saja terperangkap di dunia tak kasat mata yang memisahkan roh dengan jasadku. Aku ingin mengakhiri semua kondisi yang begitu menyesakkan ini, tapi apalah daya jika Tuhan belum berkehendak.
Aku berdiri, melangkah mendekati layar pendeteksi kehidupan yang ada di sisi ranjang. "Jika denyut jantung itu masih ada, kenapa aku tidak bisa kembali ke ragaku?" gumamku sambil mengelus dagu.
Tanda-tanda kehidupan itu masih terlihat, namun tubuh itu kehilangan kemampuan dalam merespon. Sungguh ini sangat menyebalkan. Meski ada untungnya aku bisa tahu rencana Arini bersama Bobby, tapi tetap saja diri ini dalam kehampaan.
Banyak hal yang aku rindukan bersama Arini. Kebersamaan yang penuh canda tawa, diselingi dengan wajah kesal Arini karena tidak terima dengan keusilanku.
Kemarin adalah hari jadi pernikahanku dengan Arini. Genap satu tahun sudah bidadari surga itu menemaniku dalam merengkuh ridho Illahi. Sekarang dalam kondisi aku yang sedang koma tak berdaya pun ia masih setia.
Kembali kutilik ke belakang, wanita pujaanku ternyata telah terlelap di sudut sofa. Wajah lelah itu begitu terlihat jelas. Malam ini ia berjaga seorang diri karena Ayah dan Ibu bergantian pulang ke rumah Arini.
***
Sabtu pagi yang cerah. Mentari bersinar tanpa terhalang awan. Setidaknya itu yang aku tangkap saat di balkon rumah sakit kala menemani Arini menghirup udara pagi.
"Arini, ini aku bawakan sarapan." Tiba-tiba Bobby telah muncul di belakang. Seperti hantu saja dia, muncul tanpa suara telapak kaki.
"Makasih, Bang." Arini menyambut plastik berisi makanan dan susu sapi hangat.
"Sengaja aku beliin bubur ayam dan susu sapi, biar tubuhmu fit."
"Tahu saja, Bang, kalau aku lagi nggak enak badan."
"Semua orang bisa melihat wajahmu itu menandakan kamu lagi nggak sehat. Makanya jaga pola makan dan jangan terlalu banyak pikiran."
"Iya, Bang."
__ADS_1
"Ya, sudah. Sini makan dulu." Bobby menarik tangan Arini untuk menuju sebuah kursi. Ia meminta Arini untuk duduk di sebelahnya.
Dengan cekatan tangan Bobby menyiapkan bubur ayam yang masih terpisah dengan kuahnya. Ia tuang makanan lembek beserta kuah ke stereofom, kemudian mulai menyuapkan ke Arini.
"Aku makan sendiri saja, Bang."
"Hahaha ... kenapa? Takut roh Danu cemburu melihat kamu makan dari suapanku?" Tanpa rasa bersalah lelaki yang menjadi ayah mertuaku itu berkelakar.
Dia pikir aku tidak bisa melihat semua sikap dan perhatiannya ke Arini, makanya berani mencoba merayu wanitaku.
"Bukan begitu. Bagaimana pun kamu adalah ayah tiriku, Bang. Kita harus jaga jarak. Apalagi jika sampai Ayah dan Ibu mertuaku tahu, entah apa yang akan mereka pikirkan tentang kita."
"Oke, Arini. Don't worry about it. Karena aku tahu batasan antara kita." Bobby tersenyum seolah hatinya menerima dengan legowo.
"Nanti selesai makan, minum susu. Setelah itu ada kejutan untuk kamu."
"Apa?"
"Sudah ... makan saja dulu." Masih dengan senyum terulas di bibir ia berdiri dan melangkah ke pembatas balkon. Ia menatap ke arah matahari yang mulai sepenggalah, lengkungan di bibir itu perlahan menghilang berganti dengan riak wajah kecewa.
Ternyata dia sedang menanggung rasa kecewa karena perkataan Arini. Sudah tidak diragukan lagi, Bobby menyimpan rasa terhadap istriku. Tidak bisa dibiarkan, secepatnya aku harus kembali ke raga yang sudah berhari-hari tak dapat aku tempati.
"Sudah, Bang." Arini mengakhiri suapan, kemudian meneguk susu dalam botol.
Kuakui selama ini justru akulah yang ingin dimanjakan oleh Arini. Meskipun begitu, ia tak pernah protes apalagi marah-marah.
"Maafkan aku, Dek. Selama ini Mas kurang perhatian denganmu. Beri Mas satu kesempatan lagi untuk memanjakanmu, untuk memberi perhatian lebih padamu. Ijinkan Mas untuk menebus waktu yang telah terlewat." Aku terduduk di hadapan Arini yang masih menikmati susu hangat.
"Baiklah, sekarang kamu harus tutup mata," pinta Bobby.
"Untuk apa?" Arini mengernyitkan dahi, ada riak khawatir dalam pancaran bola manik hitamnya.
"Udah, tutup mata saja."
"Tapi jangan macam-macam, ya?"
"Hahaha ... kamu itu lucu, Arini. Kamu pikir aku akan menciummu?" Bobby tergelak, perkataannya membuat wajah Arini memerah menahan malu.
"Oke, tapi awas kalau sampai macam-macam." Arini mengepalkan tinju sebagai tanda mengancam, namun justru Bobby makin tertawa lebar.
"Sudah, tutup matamu sekarang. Buka tanganmu seperti ini." Bobby mengarahkan Arini yang mulai menuruti perkataannya.
__ADS_1
"Ini buat kamu." Bobby menyerahkan sesuatu di telapak tangan Arini. Perlahan netra Arini terbuka dan ....
"Testpack?"
"Iya, buat kamu biar tahu ada calon cucuku atau tidak di perut kamu," kelakar Bobby masih dengan derai tawa yang menyelingi.
"Makasih, Calon kakek muda." Arini menimpali candaan Bobby dengan sedikit memajukan wajah ke arah pria di hadapannya.
Dengan langkah bergegas wanitaku berjalan meninggalkan Bobby yang tengah memandanginya dengan senyum hambar. Tak aku pedulikan dia, aku lebih memilih membuntuti Arini ketimbang melototi pria kekar yang bucin parah.
Arini menuju ke salah satu ruang toilet, sedangkan aku menunggu dengan penuh gelisah. Berharap bahwa benar ada Danu junior dalam perut ratanya itu.
Tak berapa lama terdengar teriakan euforia dari dalam kubik toilet, sepertinya Arini melonjak gembira. Saat pintu terbuka, kulihat wajah sendu itu berubah penuh binar bahagia. Ia berlari ke ruang ICU, tempat di mana ragaku terbaring.
Ingin aku menyusulnya, namun kaki ini sulit bergerak. Sebuah cahaya putih datang menyambarku dengan secepat kilat. Tubuhku terasa seperti ditarik ke dalam pusaran yang tak berujung. Sedetik kemudian aku terpental ke dalam raga yang telah beberapa hari menolakku.
Tuhan, akhirnya aku kembali. Tapi ... kenapa aku belum bisa membuka mata? Kenapa seluruh tubuh ini kaku dan tak mampu aku gerakkan?
Usahaku gagal untuk mencoba membuka mata, hingga suara derap langkah menuju ruangan. Bunyi pintu dibuka kasar turut membuatku menghentikan usahaku.
Arini dengan wajah penuh kebahagiaan mendekatiku, meraih tangan yang masih lemah. "Mas, aku hamil. Tuhan memberi kado terindah untuk hadiah ulang tahun pernikahan kita." Berkali-kali ia cium telapak tanganku, kemudian berpindah mengusap pipiku.
"Ayo, bangun, Mas. Sambut suka cita ini. Jangan biarkan aku menikmati bahagia seorang diri tanpamu. Aku ingin kebahagian ini lengkap bersamamu." Urai air mata mengiringi setiap kata yang terucap dari bibir Arini.
"Anak kita pasti akan bahagia jika melihat Ayahnya kembali sehat. Anak kita akan merindukan belaianmu dari perutku, Mas."
"Setiap pagi kamu akan lantunkan doa untuknya, mendendangkan shalawat, mengelusnya saat ia meliukkan tubuh dari dalam perut. Apa kamu tak ingin melakukan itu semua?"
Hatiku trenyuh mendengar kata-kata yang meluncur bagai amunisi menembus relung kalbu, airmata kesedihan penuh doa dan harapan membuat jiwa ini meronta. Aku harus sadar!
Berkali-kali aku terus mencoba, aku harus bisa membuka mata ini atau paling tidak menggerakkan anggota badanku untuk memberi respon pada Arini.
Setelah sekian waktu mencoba, akhirnya ....
"Mas, kamu bergerak? Kamu mulai sadar?" teriak Arini sedikit panik, namun juga senang ketika melihat jari-jariku mulai bergerak meski hanya sejenak.
Tangan Arini dengan kasar menekan tombol yang terhubung pada ruang perawat jaga. Tak berapa lama seorang perawat datang. "Tolong panggil dokter, suamiku sudah mulai bergerak!" teriak Arini dengan tak sabar.
Tak berapa lama dokter masuk dan memeriksa. Namun, tubuh ini kembali bergeming. Lagi-lagi aku tak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuh, entah apa yang membelenggu raga yang seperti patung ini?
Tuhan, kembalikan kehidupanku. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama patahan tulang rusukku hingga jannah-Mu.
__ADS_1
Terpaksa kali ini aku menyerah, lemah bersemayam dalam jiwa yang kalut. Kembali memandangi alam dalam diam.