
Sore itu rintik air dari langit datang menyapa senja. Mentari enggan menampakkan wajah sejak siang, ia memilih bersembunyi di balik gumpalan awan hitam yang berarak.
Kuhentikan sejenak aktivitas di depan laptop, menyeruput kopi yang hampir dingin kemudian melirik penanda waktu.
"Hampir maghrib," batinku.
Suasana rumah begitu lengang. Sudah dua hari ini Arini di rumah Pak Rahman. Lelaki yang memasuki usia senja itu mengabarkan bahwa sedang tidak enak badan. Setelah meminta ijin denganku, Arini buru-buru ke sana.
Pak Rahman tinggal di rumah mewah itu hanya dengan supir dan asisten rumah tangga. Ia memutuskan tidak menikah lagi demi Arini, bahkan hingga saat ini putri semata wayang itu masih terus jadi prioritas.
Wejangan demi wejangan selalu ia berikan untukku, terutama pesan untuk terus menjaga puterinya. Tanpa ia minta pun sebenarnya aku akan mati-matian mempertaruhkan segalanya demi wanitaku itu.
Tiba-tiba kerinduan terhadap Arini dan dua juniorku menelusup dalam kalbu. Segera kuambil gawai, memulai menekan tombol video call.
Tak berselang lama, wajah ayu milik Arini menghias layar gawaiku. Seperti biasa, dia selalu tersenyum saat bicara denganku. "Ada apa, Mas?" tanyanya dengan suara lembut.
"Nggak apa-apa, Dek. Mas kangen aja dengan kamu dan si kecil."
"Baru juga dua hari sudah kangen. Oh ya, sudah pesan makanan untuk makan malam?"
"Belum, nanti saja mau bikin mie instan pakai telur."
"Emang cateringan yang kemarin kita pesen nggak nganter makanan untuk Mas hari ini?"
"Bosen dengan masakan yang itu-itu aja, Dek."
"Ya, sudah. Terserah Mas Danu ajalah!"
"Junior mana, Dek. Mas kangen mau lihat mereka."
"Itu lagi sama kakeknya."
"Kasih lihat, donk."
Sedetik kemudian kamera telah beralih. Betapa terkejutnya aku, sampai-sampai bola membeliak bulat menatap pemandangan tak lazim.
Kakek tua dan kakek muda sedang akur menggendong masing-masing bayiku. Tak masalah jika itu Pak Rahman, tapi salah satu di antara mereka adalah Bobby.
"Kenapa Bobby ada di situ?" tanyaku dengan nada tidak suka.
"Bang Bobby lagi ada perlu dengan Ayah, Mas."
"Alasan!"
"Kamu ini kenapa, sih, Mas?"
"Mas sekarang juga ke sana, Dek!"
"Masih hujan. Besok saja."
"Nggak!"
Segera kututup video call dengan menahan emosi. Cemburu ini begitu membuncah, meletup-letup menyisakan amarah yang hampir meledak.
Sebenarnya apa rencana Bobby. Jika masalah bisnis, bukankah dia sedang menjalin bisnis itu denganku? Kenapa masih melibatkan Pak Rahman?
Entahlah, aku merasa ada niatan buruk yang disembunyikan oleh Bobby. Bahkan beberapa kali aku menangkap sikap anehnya saat menatap wanitaku.
Ini bukan perasaanku saja, melainkan firasat seorang suami terhadap pasangannya.
Setelah salat Maghrib, segera aku bergegas mengambil jaket dan kontak mobil. Kulajukan mesin beroda empat menembus air langit yang masih setia membasahi bumi.
Sepanjang perjalanan hati terus saja berkecamuk. Rasa tidak ikhlas membayangkan Bobby memandangi wajah wanitaku. Kekhawatiran demi kekhawatiran menghantui pikiran.
Sepertinya situasi memang sedang tidak ingin bersahabat denganku. Jalanan yang biasanya tak terlalu padat, tiba-tiba hari ini macet total. Sudah hampir dua puluh menit aku terjebak di antara kendaraan lain.
Gawaiku berdering, tampak nama Arini terpampang di layar. "Mas Danu jadi ke sini?"
"Jadi, Dek. Ini sudah separuh perjalanan."
"Mas Danu sebaiknya putar balik saja."
__ADS_1
"Kenapa? Karena kamu mau berduaan dengan Bobby? Biar kamu leluasa saling pandang?" Emosi menguasai hati, amarah tak mampu kubendung lagi.
"Kamu ini apaan, sih, Mas?" Suara Arini masih seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa.
"Kamu yang apa-apaan. Berduaan dengan lelaki yang bukan mahram!"
"Aku di sini dengan Ayah juga, Mas."
"Sepertinya Ayah juga sengaja membiarkan laki-laki itu mendekati kamu," gumamku.
Prasangka buruk pun menghinggapi sisi gelap hati ini. Seketika lenyap sudah seluruh kebaikan Pak Rahman selama ini. Menyadari itu, cepat-cepat aku ucap istighfar berkali-kali.
"Kamu ini aneh, Mas. Mertua sendiri dicurigai. Aku memintamu untuk putar balik karena ...."
"Karena kamu tak ingin diganggu, kan? Kamu ingin menghabiskan waktu bersama Bobby!"
Kudengar helaan napas panjang dari Arini. Harusnya aku yang menghela napas kesal, bukan dia.
"Danu!" Suara di ujung gawai telah berganti, itu suara milik Pak Rahman.
"I-iya, Yah." Aku tergagap, segera kubenahi posisi dudukku. Ah ... bodohnya aku. Ini, kan, panggilan biasa bukan video call. Bodo amat lah!
"Iya, Yah. Ada apa?" Kembali kuulang jawaban.
"Jalan ke arah atas mengalami longsor parah. Kalau kamu nekad ke sini, kamu harus melalui jalan alternatif yang cukup jauh. Muter ke kota lain dulu."
"Ooh ... makanya ini macet parah, Yah."
"Dari tadi Arini mau menjelaskan itu, Arini juga sudah chat kamu untuk memberitahu. Nggak kamu buka?"
"Eh, ini, Yah. Belum."
"Kamu itu su'udzon yang diutamakan. Pikiran jangan pendek kenapa? Bobby ke sini karena dia ingin membahas bisnis yang di Surabaya. Usaha kita yang di sana lagi merosot omsetnya."
"Tapi kenapa nggak balik-balik juga, Yah. Pakai lama di situ." Bibirku manyun, tetap saja tak suka.
"Bagaimana mau kembali kalau jalan ke arah bawah di tutup?"
"Eh, iya juga, ya? Kan, jalannya longsor. Maaf, Yah. Danu lupa."
"Kejam amat, Yah. Ingat, ini menantu Ayah, lho."
"Makanya dibiasakan tabayyun. Jangan menuruti emosi. Kamu pikir Arini itu wanita yang akan mudah dirayu? Kalau kamu tidak bisa percaya dengan istrimu, itu sama artinya kamu menganggap Arini sebagai wanita gampangan!"
"Bu-bukan begitu, Yah."
Duh ... kena omelan lagi, deh! Kenapa juga aku tidak mendengarkan penjelasan Arini dulu, kalau sudah begini bakalan lama aku mendengar ceramah Pak Rahman.
Di dalam mobil, di tengah kemacetan panjang, dan di tengah guyuran air hujan kudengarkan untaian kata yang memaksa telinga untuk tetap mendengar. Benar-benar betah lelaki senja itu bicara panjang lebar.
Entah sudah berapa lama aku menunggu dengan segala kejenuhan, akhirnya mobil ini dapat kulajukan sedikit demi sedikit. Alhasil, terpaksa harus kuputar ke arah jalan lain.
Roda mesin terus melaju menembus pekatnya malam karena lampu penerangan di pinggir jalan ternyata ikut mati. Hanya lampu dari kendaraan lain yang membantu penglihatan.
Perjalanan yang harusnya dapat ditempuh satu setengah jam, kini terpaksa harus kutempuh hampir tiga jam. Hampir larut malam saat mobil ini memasuki pelataran rumah besar itu.
Tampak Arini menyambut di ambang pintu. Rasa bersalah menyusup dalam hati, harusnya dia sudah tidur menemani Si Kembar. Namun, gegara menungguku ia masih terjaga.
"Maafkan Mas, ya, Dek." Kuelus puncak kepalanya kala ia menyambut tanganku untuk ia cium takzim.
"Lain kali biasakan untuk mendengar terlebih dahulu, Mas. Untung Ayah sudah paham karaktermu, coba kalau Ayah marah beneran, bisa dipensiun kamu jadi mantu."
"Aduh, Dek. Jangan nakutin kenapa, Mas ngaku salah udah su'udzon. Tapi semua itu karena Mas khawatir aja."
"Khawatir apa?"
"Khawatir kamu ilang."
"Memangnya aku hantu yang bisa ngilang?" sungut Arini sembari meninggalkan aku yang masih berusaha merayu.
Kusejajari langkahnya dan menggoda wanitaku agar ia tak marah. Sedikit agak takut jika tiba-tiba Pak Rahman muncul, karena aku belum siap menatap lelaki penuh wibawa itu.
__ADS_1
Semoga saja beliau memaafkan kecerobohanku, gegara cemburu buta sampai hati ini dipenuhi dengan prasangka buruk. Entahlah, kenapa aku jadi paranoid seperti ini.
Sungguh, firasat aku mengatakan bahwa Bobby ada niatan untuk mendekati Arini. Hanya butuh waktu untuk membuktikan prasangka terhadap rival ketampananku itu.
Kudekap erat tubuh Arini malam ini untuk menghilangkan rasa takut yang sempat menghinggapi pikiran. Begitu damai berada di dekat wanita yang telah mengabdikan hidupnya untukku.
Entah sudah berapa lama kutatap lekat wajahnya, sudah berulang kali pula ku kecup dahi, hidung, kedua mata hingga ....
Ah! Ada hasrat lain yang kurasa. Namun, tak tega melihatnya yang tertidur lelap. Kupaksakan netra untuk larut menuju ke alam mimpi, menepis seluruh rasa ingin mereguk manisnya surga dunia.
***
Pagi ini mentari bersinar cerah, seolah ingin membalas sinar yang kemarin redup akibat awan hitam yang tak mau mengalah.
Selepas salat subuh, aku kembali ke peraduan. Melantunkan ayat-ayat suci di dekat bayi kembarku yang telah terbangun sejak sebelum adzan subuh berkumandang.
"Mas, bawa Putra dan Putri jalan-jalan, ya. Aku mau siapin sarapan untuk kita semua."
"Kan, ada Mbak Nem, Dek. Kenapa kamu masih harus repot nyiapin sarapan?"
"Mbak Nem sudah satu minggu ini pamit jenguk ibunya yang sakit. Makanya Ayah nyuruh aku ke sini. Perasaan, waktu itu aku sudah cerita, deh."
"Maaf, Dek. Mas lupa."
"Bukan lupa, tapi memang nggak merhatiin kalau ada orang ngomong!" sergah Arini.
"Kamu tahu sendiri, Dek. Semenjak kejadian dipukul vas bunga oleh ibumu, aku jadi rada susah ingat sesuatu."
"Halah! Pakai alasan itu lagi. Mas Danu itu memang asli begitu. Sudah sana, ajak kembar jalan-jalan. Tadi Ayah juga sudah mulai jogging."
"Iya, iya." Dengan sedikit malas akhirnya kudorong stroller gandeng seri itu. Membawa kembar keluar rumah menuju jalan yang tak begitu ramai dengan kendaraan.
Dari kejauhan tampak Pak Rahman dengan lelaki macho yang menjadi ancaman bagiku. Mereka sedang jogging bersama, begitu akur. Sesekali diselingi dengan tawa.
Kuhentikan langkah tepat di depan penjual bubur ayam. Lebih baik kunikmati sarapan saja, daripada capek jalan terus.
Setelah puas menikmati satu mangkok, kupesan satu bungkus untuk Arini. Setiap makan apapun pasti selalu ingat wanitaku.
"Dan, kamu bawa apaan?" tanya Pak Rahman yang melihatku menenteng tas plastik. Entah sejak kapan ia sudah di belakangku.
Segera kuhentikan langkah dan membalik badan. "Ini, Yah. Bubur ayam untuk Arini."
"Lho, memangnya Arini nggak masak untuk sarapan? Ayah lihat kemarin dia sudah belanja."
Duh! Kenapa aku lupa lagi, ya? Kutepuk jidat, kemudian memandang tas plastik tembus pandang itu.
"Masak, Yah. Hanya saja aku pengen beliin dia bubur ayam."
"Ooh. Ya, sudah. Ayah duluan, ya."
"Iya, Yah." Kupandangi ayah mertua yang masih enerjik itu.
"Mau beliin Arini atau memang lagi amnesia?" ejek Bobby ke arahku.
"Apa maksud kamu?"
"Paling juga lupa kalau bini sudah masak."
"Iya, sih." Kugaruk kepala yang tak gatal. "Tapi bukan urusan kamu juga, jadi nggak usah ikut campur!" ketusku tak suka.
"Hahaha ... Danu, Danu. Semoga kamu lupa juga kalau Arini istri kamu, hahaha ...."
"Heh! Apa maksud kamu?" Kutarik kerah baju lelaki kekar itu, tak kupedulikan tatapan beberapa orang yang berlalu lalang.
"Eits! Sabar, Bro! Hanya bercanda."
"Bercandamu nggak lucu! Awas saja kalau sampai berani mendekati istriku." Kuhempas tubuh Bobby dengan setengah mendorongnya, tetap saja secara tenaga aku kalah.
Huff ... sungguh menyebalkan pria ini. Ingin rasanya kutonjok muka yang terus saja tebar pesona itu. Dia pikir sudah paling cakep, apa?
Kubiarkan lelaki itu berlari menyusul Pak Rahman. Ia pergi dengan sebuah senyum penuh arti. Di mataku, Bobby begitu nyata mengibarkan perang untuk memperebutkan Arini, namun tidak saat bersama dengan yang lain.
__ADS_1
Dasar, lelaki bunglon! Pandai sangat dia mengelabuhi orang-orang di sekitarnya. Kurasa ia ingin menjadikanku tampak begitu bodoh dan konyol di hadapan Pak Rahman dan Arini, sehingga ia yang akan dianggap sebagai korban dan akan mendapat simpati dari mereka.
Sungguh rencana yang licik!