Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 28 Kubenci Mereka


__ADS_3

POV Hera


Langkah kaki yang lelah mulai terseret, napas tersengal-sengal seperti hampir sekarat. Tenggorokan begitu kering kurasa, beberapa kali terbatuk-batuk karena haus yang mendera.


Kujatuhkan tubuh di bawah rindang pohon. Sedikit mengerikan karena gelap masih menaungi malam yang telah larut menjelang pagi. Namun, aku tak ada pilihan. Tubuh tak muda ini sudah tak mampu berlari lagi.


Pandangan mengedar mencari sesuatu yang bisa membasahi tenggorokan. Untunglah, ada segelas air mineral bekas tergeletak di tepi jalan. Segera tangan ini meraih dan menyobek lebar bagian atas kemasan, kemudian menenggak air hingga tandas.


Ah, masih kurang. Air yang hanya seteguk itu tak mampu membasahi sempurna keringnya tenggorokan yang terasa tercekat. Kulempar jauh-jauh gelas plastik itu dengan kesal.


Kegelisahan merayapi hati, di mana kini aku akan bernaung. Tak mungkin aku kembali ke rumah Arini, anak durhaka itu pasti tak akan mengijinkan aku tinggal di sana lagi.


Tak sepantasnya Arini menceritakan aib ibunya ke banyak orang. Aku pikir dia diasuh oleh Darwin yang paham agama akan menjadikan ia anak yang baik, namun rupanya justru ia telah dicuci otak oleh pamannya itu.


Sungguh keterlaluan ia memperlakukan aku seperti musuh. Apa Arini tak sadar bahwa aku ini ibunya? Tega sekali ia membuat malu ibunya sendiri.


Kusandarkan tubuh yang kehilangan banyak energi untuk berlari menjauh dari rumah Bobby. Bagaimana pun aku tak mau hidup di balik terali besi. Saat ini, menghilang sementara menjadi pilihanku.


Huff ....


Semua gegara Danu. Seandainya ia bisa diajak bermain cantik, pasti tak akan begini jadinya. Lelaki tampan itu memang tak normal otaknya, hanya bikin geregetan saja.


Dia pikir ditolak saat hasrat memuncak itu enak? Lelaki tidak peka, harusnya dia mengerti dan paham kondisiku.


Kupejamkan kelopak mata, terlintas wajah tampan menantuku. Entah kenapa ada pesona yang begitu kuat dalam dirinya yang tak bisa aku tolak.


Terserah semua orang akan menghujatku, namun inilah perasaan yang tak mampu aku kendalikan. Siapa yang menyangka jika aku jatuh hati dengan menantuku sendiri, toh aku tidak ada niatan merusak rumah tangga anakku.


"Danu, maafkan aku. Tapi ini semua salah istrimu yang terlalu lancang menemui Bobby," gumamku lirih dengan menahan rasa geram.


Ya, Arini yang memulai ini semua. Seandainya dia tak membiarkan Bobby datang ke rumah, kejadian itu tak perlu terjadi. Jujur, aku menyesal telah melukai menantu yang telah bertakhta di hatiku dan menjadi teman imajinasiku.


Bobby, pria itu terlampau licik. Dia memanfaatkan Arini untuk menemukanku. Laki-laki itu juga yang telah mengambil Niko dariku, bahkan telah mempengaruhi anakku untuk membenci ibunya sendiri.


"Aku tak akan pernah tinggal diam, Bobby. Dia anakku, aku berhak atas dirinya." Kembali hati ini tak rela atas semua yang mereka rampas.


Bobby yang ternyata selama ini menyembunyikan Niko, ia mengambil anak lelakiku itu saat aku meninggalkannya. Bobby tak lebih dari pecundang yang menyandra anak tak bersalah.


Mereka semus berkomplot untuk menjatuhkan harga diriku. Mereka tak pernah tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Aku melakukan semua demi kehidupan yang jauh lebih baik, demi Niko.

__ADS_1


Arini dan Bobby harus membayar mahal untuk semua yang telah mereka perbuat. Tak akan aku biarkan kehidupan mereka tenang. Aku bersumpah itu.


Pasti sekarang ini Arini sedang meraung-raung menangisi suaminya yang hampir sekarat. Sebenarnya aku tak tega menjadikan ia janda di usia muda, tetapi apa yang ia lakukan memancing kemarahan dan memaksaku melampiaskan kekesalan kepada suaminya.


Tak ada yang mengerti bahwa hatiku menangis saat mendengar kalimat penolakan yang keluar dari mulut Niko. Anak yang dulu begitu menyayangiku telah berubah membenciku. Siapa yang peduli itu? Semua justru malah tertawa mengejekku. Semua menghinaku sebagai wanita tak tahu malu.


Hatiku tersayat tatkala mengingat kata-kata anak lelakiku, anak yang sangat aku sayangi. Ibu mana tak akan sedih jika anaknya berubah durhaka dan menolak kehadirannya.


Niko, dia adalah buah dari cintaku dengan Mas Doni, suami pertamaku. Lelaki pertama yang membuatku tergila-gila dengan kata-kata manis.


Saat itu usiaku masih enam belas tahun. Bisa dibilang aku menikah di usia yang masih sangat muda. Mas Doni kekasihku sekaligus guru saat aku masih duduk di bangku SMA.


Dia, pria yang aku kagumi. Dia adalah pria pertama yang membuatku lupa daratan. Pada Mas Doni kuserahkan keperawananku dan berbuah indah, yaitu Niko Putra Doni Mahendra.


Cintaku memang buta. Di usia yang masih terbilang remaja dan emosi yang masih labil, aku tak mempedulikan status Mas Doni yang telah memiliki istri dan anak. Bagiku yang penting adalah cinta.


Aku terpaksa berhenti sekolah karena kehamilanku yang mulai membesar. Bagiku tak masalah berhenti sekolah meski ayah dan ibu marah besar saat itu. Mereka melabrak Mas Doni ke sekolah, tentu saja hal tersebut membuat geger seantero sekolah dan masyarakat sekitar.


Berita guru menghamili murid tak pelak menjadi sorotan banyak media. Alhasil, Mas Doni dipecat secara tidak hormat dari pekerjaannya. Tak berselang lama ia pun bercerai dari istrinya yang notabene seorang dokter.


Sudah pasti istrinya tak menerima perselingkuhan itu. Mirisnya, ia diusir dari rumah tanpa boleh membawa apapun. Bisa dibayangkan betapa tertekannya dia waktu itu karena harus kehilangan semua yang ia punya demi aku, wanita muda yang baru mengenal cinta.


Dalam bayanganku saat itu, menikah adalah hal yang teramat indah bagiku. Aku bisa menikmati waktu bersama Mas Doni setiap hari, bercengkrama sebelum menjajaki lautan asmara. Sungguh terlampau indah anganku.


Tapi ternyata kehidupan tak seindah angan, apa yang menjadi harapan justru yang aku dapat dapat adalah kebalikannya. Aku kira setelah menikah dengan Mas Doni, aku akan mendapatkan kebahagian seperti yang kubayangkan.


Namun, cerita itu terbalik. Aku dan Mas Doni hidup terpisah. Ia tinggal di rumah orang tuanya dan aku masih tetap bersama ayah ibuku. Ya, aku tahu keluarga Mas Doni belum bisa menerimaku. Tapi, apa harus menyiksaku dengan hubungan seperti ini?


Mereka selalu menganggapku sebagai perusak rumah tangga orang. Bahkan mungkin orang sekampung memberikan label 'pelakor' padaku. Tapi aku tak pedulikan semua anggapan itu, bagiku cinta tak pernah salah.


Rumah tanggaku kandas tepat dua bulan setelah kelahiran anakku, Niko. Mas Doni menjatuhkan talak tiga dan mengurus perceraian ke pengadilan. Aku tak mampu berbuat apa-apa, percuma aku memohon karena baginya aku hanya pembawa sial.


Semua tutur manis dan buai rayu yang pernah ia berikan padaku telah sirna. Tak ada lagi Doni yang romantis, yang ada hanyalah Doni tanpa hati. Darinya aku belajar bagaimana keras kehidupan ini.


Doni, pria yang aku kagumi telah mengubahku menjadi sosok Hera yang tak memiliki rasa empati ataupun simpati. Hati yang luka ini telah mati.


Pun untuk apa aku peduli dengan perasaan orang lain, jika mereka saja tak pernah mengerti apa yang aku rasakan. Dengan sesukanya mereka memberikan label sebagai pelakor, tanpa perasaan mereka mengecamku.


Mereka tak pernah tahu jika bully-an mereka terhadapku menyebabkan ayah beban batin dan jatuh sakit. Setelah hampir satu minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya ayah berpulang.

__ADS_1


Lalu, siapa yang akan menopang perekonomian keluargaku? Masih ada tiga adikku yang butuh biaya sekolah, sedangkan ibu tak mungkin bekerja berat karena asma yang sering kambuh jika terlalu capai.


Aku sengaja datang ke kota untuk mengubah nasib, menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayah. Kugendong Niko kecilku yang saat itu berusia tujuh tahun. Tak seorang pun peduli ketika aku dalam kebingungan di terminal karena tak tahu harus kemana.


Aku terduduk lemas karena dari pagi perut belum terisi apapun. Kue dan minum yang sengaja aku bawa untuk bekal hanya aku berikan kepada Niko. Aku tak ingin ia kelaparan. Aku peluk erat tubuhnya yang tengah lelap tertidur dalam pangkuan. Kucium keningnya perlahan.


Ia terbangun ketika tetes bening jatuh di wajahnya. "Ibu kenapa menangis?" tanya Niko saat itu. Ia bangkit mengusap sisa air mata yang masih mencoba keluar.


"Mata Ibu kemasukan debu, Nak. Itu tadi ada bus lewat, debunya langsung beterbangan." Aku berusaha menutupi bahwa saat itu hatiku dalam kegundahan.


Senyumku melebar tatkala ada seorang pria yang menghampiri. Dengan ramah ia menawarkan tempat tinggal dan pekerjaan. Beberapa bulan bekerja di tempatnya, aku bisa mengirimkan uang ke keluargaku.


Mas Rahman, pria dewasa yang telat menikah itu menaruh hati padaku. Ia juga begitu menyayangi Niko. Usianya terpaut cukup jauh denganku, namun bagiku itu tak masalah. Kehidupan mapan sudah di depan mata.


Tepat saat menjelang hari raya idul fitri, ia meminangku. Tentu saja kesempatan emas itu tak akan pernah aku sia-siakan. Dengan segera kuanggukkan kepala mengiyakan pinangannya.


Meski hati tak tertarik dengan dia, namun demi uang aku rela menikah dengannya. Bagiku, nasib keluargaku lebih penting daripada kebahagianku.


Pilihanku menerima pinangan Mas Rahman kuanggap pilihan terbaik dan tepat. Setelah menikah dengannya, kehidupan keluargaku di desa membaik. Rumah ibu sudah direnovasi, ketiga adikku bisa sekolah kembali. Bahkan ibu mempunyai kios kelontong hasil pemberian modal dari Mas Rahman.


Ibu sangat menyukai Mas Rahman. Selain ia kaya, Mas Rahman juga orang yang ramah dan sopan. Perangainya yang begitu menyenangkan mampu mengambil hati seluruh keluargaku.


Begitu pun orang-orang yang dulu mencibir keluarga perlahan mulai berubah menjadi baik. Mas Rahman yang dermawan itu sering bagi-bagi sembako, membuat mereka semakin menaruh hormat pada ibuku.


Tak hanya itu, mereka mendekat dan mengaku saudara. Tentu saja ada maunya, apalagi kalau bukan untuk mengemis hutang. Tak pernah mereka ingat perlakuan yang dulu mereka berikan padaku. Sungguh tak tahu malu.


Kuhela napas dalam-dalam saat mengenang semua kebaikan Mas Rahman. Terkadang ada sesal menyelinap dalam hati, namun apalah daya aku yang tak mampu menolak pesona Mas Jack, lelaki perkasa itu.


Perlahan kubuka netra ini kembali. Kurasakan ada tetes bening jatuh dari langit. "Sialan! Kenapa hampir pagi malah hujan!" umpatku sembari berdiri mengedarkan pandangan berharap menemukan tempat berteduh sekaligus beristirahat menghilangkan penat.


Bergegas kuayun langkah setengah berlari, berlomba dengan rintik hujan yang mulai deras. Huff ... akhirnya kutemukan tempat berteduh, di depan sebuah minimarket. Lumayan, aku bisa menyandarkan kembali badan yang telah letih ini.


Di tengah kemelud kegundahan yang melanda, secercah harapan muncul saat otak menemukan sebuah ide. Satu-satunya harapan untuk tetap mendapatkan tempat berlindung dari panas dan terik hanyalah Niko.


Aku harus berhasil membuat Niko sadar dari pengaruh Bobby dan orang tuanya. Aku yakin mereka yang telah membuat Niko membenciku.


Baiklah, aku hanya butuh waktu beberapa hari untuk menunggu keadaan kembali tenang. Mungkin tiga atau lima hari aku akan mencoba menemui Niko, dia satu-satunya harapanku.


Saat ini, aku harus bersembunyi menunggu waktu yang tepat untuk menemui Niko.

__ADS_1


__ADS_2