
Sinar terang menyilaukan serasa memaksa kelopak mata untuk sedikit menutup, membiarkan bulu netra menghalangi intensitas cahaya yang berpendar.
Kuedarkan pandangan tatkala sinar itu perlahan memudar. "Masihkah aku hidup?" Pertanyaan itulah yang pertama ingin kutemukan jawabnya.
Entahlah, aku tak mengerti. Pasalnya, aku berasa melayang. Tubuh ini begitu ringan dan ... tunggu! Aku melihat sosok yang sering aku lihat dalam cermin.
"Aku? Itu aku?" gumamku tak percaya, kucoba mendekat untuk memastikan sosok tubuh yang terbaring lemah dengan beberapa alat menempel di tubuh itu.
Bagai dihentak oleh ribuan kilogram beban, dadaku serasa menyesak tatkala menyaksikan kebenaran bahwa yang tergolek lemah itu adalah jasadku.
Apa yang terjadi denganku? Apa aku mati suri? Lalu di mana semua orang? Kenapa tidak satu pun di antara mereka yang menungguiku? Di mana Arini?
Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala. Aku mencoba mengingat apa yang telah menimpaku. Sejenak aku terdiam, membiarkan detik jarum jam mengisi keheningan.
Vas bunga! Ya, Bu Hera memukul kepalaku dengan Vas secara membabi buta. Pukulan yang bertubi-tubi dan brutal itu membuatku tak sadarkan diri. Bobby dan Niko yang berusaha menghentikan tak mampu menolongku.
Bu Hera, di mana dia? Aku harus menemukannya untuk meminta pertanggungjawaban darinya. Wanita itu benar-benar mengerikan.
Sudah aku putuskan untuk keluar mencari wanita jahanam itu. Namun ... tunggu dulu! Kenapa tanganku tak dapat meraih handle pintu? Bahkan saat tangan dinginku meraba permukaan pintu, jemari ini mampu menembus benda padat tersebut.
Jangan-jangan ... apa aku sudah mati?
Otakku serasa mampat, ketakutan demi ketakutan menghampiri dan menjalar ke seluruh nadi. Aku tak mau mati muda, aku tak mau Ariniku menjadi janda kembang yang akan diperebutkan oleh pria lain.
Emosiku meluap, teriakan sekeras mungkin aku gemakan seraya melayangkan pukulan sekuat tenaga ke arah pintu. Tapi ....
Aaagh!
Justru aku jatuh tersungkur keluar dari kamar yang sedari tadi mengurungku. Perlahan aku bangkit dan mengedarkan pandangan menyapu seluruh lorong tempat aku berdiri sekarang.
Ada beberapa orang berseragam putih berlalu lalang, ada orang yang kebingungan mencari kamar pasien, dan ... tak dapat aku teruskan. Pandanganku nanar menyaksikan dua insan yang begitu mesra.
__ADS_1
Ya, Tuhan ... apa aku tidak salah lihat? Di saat aku sedang sekarat justru Arini malah asyik berdua dengan Bobby, ayah mertua yang gantengnya satu level di atasku.
Ingin rasanya aku labrak mereka, tapi ... tidak, aku harus menunggu dulu agar tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Aku harus menangkap basah jika benar ada indikasi perselingkuhan.
Dengan langkah sedikit berjingkat aku mulai mendekat. Mencoba bersembunyi di balik kursi tempat mereka duduk. Eh, tapi untuk apa aku berjingkat dan sembunyi, ya? Aku ini, kan, sudah terpisah dari raga. Kalau di film-film biasanya roh tidak terlihat, lha kalau di alam nyata apa tidak terlihat juga?
Ah, terserah lah ... daripada nanggung resiko ketahuan gegara mereka bisa lihat, mending tetap ngumpet saja di balik kursi. Aman.
Segera kupasang telinga baik-baik. Menguping dan merekam setiap perkataan mereka ke dalam memori agar nanti di saat aku bangun, aku mampu mengingat semua dengan baik.
Hampir sepuluh menit berlalu, hanya terdengar isak tangis Arini. Sesekali dia meminta maaf padaku. "Mudah sekali kamu minta maaf, Dek. Aku sedang sekarat dan kamu malah di sini dengan Bobby. Mau minta maaf karena sudah selingkuh dengan Ayah mertuamu sendiri? Huh!" gerutuku dalam hati.
"Arini, ini bukan salahmu." bela Bobby yang berusaha menghibur wanitaku sembari telapak tangannya menepuk lembut bahu istriku.
Oh, tidak. Dia ingin membuat Arini tidak merasa bersalah atas perbuatannya. Aku tahu sejak awal niatan Bobby ingin mengambil istriku. Pasti dia kecewa dengan Hera, jadi ia ingin melampiaskan semua kekecewaan dengan menyunting Arini.
Dadaku bergemuruh. Detak jantung ... sebentar! Aku mencoba meraba dadaku tepat di mana bagian organ lunak penanda kehidupan itu bergerak memompa cairan darah ke seluruh tubuh. Tapi ... huff ... tak kutemukan detak jantung itu.
Baiklah, hanya dadaku yang bergemuruh menahan emosi. Dan aku lelah sembunyi di balik kursi ini dengan posisi nungging, lebih baik aku duduk saja.
"Arini, semua di luar dugaan. Aku tidak menyangka kalau Hera mampu berbuat senekad itu," ucap Bobby seraya mengusap wajah tampan dengan sedikit berewok tipis yang menambah kesan macho.
"Aku juga tidak menyangka nenek semlohai bini gilamu itu bisa menghajarku habis-habisan kayak gini." sungutku dengan menggumam.
"Seharusnya aku tidak mengajak Mas Danu ke rumahmu. Jika saja ia tetap di rumah, ia tak akan menjadi sasaran kemarahan Ibu." Kulihat Arini menyeka bulir bening, ada yang ia sesalkan. Aku jadi terharu memandang kesedihan wanitaku.
Tapi, kalau aku tidak ikut ... terus siapa yang akan menjaga dia dari jamahan tangan nakal Bobby? Enak saja aku tidak boleh ikut.
"Itu mustahil, Arini. Karena saat mengajak Hera, ada Danu di sana." Bobby mengela napas dan menyangga kepala dengan tangan kanannya.
"Lalu bagaimana dengan rencana kita?" Kini Arini menoleh ke arah Bobby.
__ADS_1
Rencana kita? Jangan-jangan rencana ingin menikah. Oh, no! Aku tidak bisa biarkan.
Bobby kini mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Arini. "Rencana membuat Hera keluar dari rumahmu sementara sudah berhasil. Apalagi dengan kejadian ini, dia langsung kabur entah kemana. Ya, meski bukan ini yang kita inginkan."
Apa? Bu Hera kabur? Bagaimana bisa mereka membiarkan wanita jahat dan kejam itu kabur? Wanita itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ini sudah masuk kasus penganiayaan, sudah bisa dipidanakan.
"Ya, dan itu yang aku sesalkan. Kenapa harus Mas Danu yang jadi korban. Rasanya ingin sekali membawa kasus ini ke kepolisian, biar jadi pelajaran untuk Ibu. Paling tidak bisa membuat ia jera." Ada nada geram dalam ucapan Arini.
"Iya, Dek. Mas setuju, kasuskan saja!" Seketika aku mendukung ide Arini.
"Mas selama ini menderita dengan ulah Ibu, Dek. Sudah saatnya kita bertindak," lanjutku.
Namun, percuma. Arini bergeming tak mendengar ucapanku. Tunggu, tunggu ... Arini tidak bisa mendengarku, itu artinya ia tak bisa melihatku juga. Lalu, buat apa aku dari tadi sembunyi dan mengendap-endap? Sepertinya setelah kena vas bunga, otakku jadi lemot, deh!
"Bagaimana pun dia tetap Ibumu, Arini. Berusahalah menyadarkan dia tanpa membuatnya semakin dendam denganmu." Bijak sekali Bobby menasehati.
"Aku tahu. Tapi rasanya sulit sekali menyadarkan dia. Yang ada, bukannya sadar malah makin gila."
"Percayalah, rencana kita akan berhasil. Bukankah kamu ingin menyatukan ayahmu dengan dia?"
"Sudah pupus keinginan itu. Membuat dia keluar dari rumahku dan tahu bahwa Niko juga tak mau menerimanya, itu sudah cukup bagiku." Ada getar dalam suara Arini, ia juga menggigit bibir bawah menandakan ia sedang menahan sebuah kekecewaan yang ingin ia luapkan.
"Tidak, Arini. Kita harus selesaikan misi kita. Buat wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Aku siap mendukungmu." Tangan kanan Bobby meraih jemari Arini, meremasnya.
"Apa-apaan ini? Dukung, sih, dukung! Tapi nggak pegangan tangan juga, kali!" umpatku sembari berusaha menepis tangan Bobby. Tapi percuma.
"Terimakasih, Bang. Hanya Abang yang bisa aku andalkan."
Arini oh Arini ... kenapa malah wanitaku memuji dia. Kenapa tidak mengandalkan aku, aku ini suaminya. Sepertinya benar dugaanku, ada benih cinta di antara mereka.
"Aku yakin Hera pasti akan berusaha menemui Niko, dia akan mengemis untuk dikasihani. Nah, itu saatnya Niko menjalankan misi yang telah kita susun. Kamu jangan khawatir, puncak dari rencana kita akan berhasil. Wanita itu akan mendapat banyak pelajaran agar ia bisa menghargai kebaikan orang lain."
__ADS_1
Aku tercengang mendengar penuturan Bobby. Sejauh itukah rencana mereka? Niko, anak Bu Hera juga dilibatkan. Ini artinya Arini sudah berhubungan jauh dengan Bobby. Sudah dapat dipastikan, sebelumnya Arini telah bertandang ke rumah Bobby untuk bertemu Niko.
Terlalu banyak hal yang aku tidak tahu. Entahlah, mengapa Arini menutupi semua dariku. Dan kini, aku tak tahu kapan aku bisa kembali ke tubuhku.