
POV Arini
Bulir bening masih jatuh bergulir di pipi kala memandang tubuh lelakiku tergolek lemah dengan beberapa alat medis menempel di badannya. Layar deteksi jantung masih menunjukkan adanya indikasi kehidupan pada raga yang koma.
Berkali-kali aku rutuki kebodohanku yang tak mampu menolongnya. Mas Danu, pria setia yang tak pernah mendua. Keinginannya begitu sederhana, hanya ingin hidup bahagia bersamaku hingga menua bersama.
Kini, kuhanya mampu mendekap erat tangan pria tampan yang telah meluluhkan hatiku. Kucium berulang kali punggung tangan yang tak mampu merespon.
Bak disambar petir di siang bolong, derai air mata tak mampu kutahan tatkala mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Mas Danu.
Menurut hasil pemeriksaan, akibat pukulan vas bunga yang membabi buta itu mengakibatkan Mas Danu mengalami cedera saraf yang serius.
Trauma pada otak yang menyebabkan pembengkakkan dan perdarahan di otak bagian belakang mengakibatkan gangguan fungsi otak yang berujung pada penurunan kesadaran atau biasa disebut dengan istilah koma.
Dokter tak mampu memprediksi kapan kesadaran Mas Danu akan kembali. Selain itu, akibat setelahnya pun dokter belum bisa menganalisis.
Bongkahan daging lunak dalam dada kian menjerit, menggaungkan kebencian yang begitu mendalam. Hera, dia bukan ibuku lagi. Iblis berwujud wanita molek itu harus menerima pembalasan atas setiap luka yang ia toreh.
Tak akan pernah aku tolerir lagi ulah busuknya, wanita itu sudah melampaui batas wajar. Mungkin benar, ia psikopat yang telah mati hati nuraninya.
"Arini, kamu butuh istirahat. Kamu juga belum makan dari pagi, ini sudah lewat dari jam dua siang." Suara Bobby mengejutkanku.
"Entahlah, Bang. Aku tidak merasa lapar, aku hanya takut hal buruk akan menimpa suamiku."
"Kita keluar sebentar, mungkin angin sejuk bisa menenangkan hatimu."
Aku tatap wajah pria nan tampan itu, dengan senyum yang begitu menyejukkan mata. Ada benarnya aku mencoba menenangkan hati, apalagi kondisiku yang pusing dan mual. Sudah beberapa kali ingin muntah apalagi ketika mencium bau wewangian.
"Wajahmu pucat, Arini. Kamu butuh makan dan istirahat yang cukup agar tetap bisa menjaga Danu."
Aku hanya mengangguk. Kubiarkan tangan Bobby menarikku menuju kantin rumah sakit. Menikmati semangkok soto panas dan teh hangat sedikit membuatku lebih baik.
Di tengah lahapnya menikmati makanan, sorot mata pria di hadapanku tak lepas menatapku. Sedikit membuatku salah tingkah hingga beberapa kali aku memilih menunduk fokus dengan menyendok makanan.
"Arini," panggilnya sembari tangan kekar itu menggenggam jemari kecilku.
"Ya," jawabku dengan reflek mendongakkan kepala dan menarik perlahan tangan.
"Apa kamu mencintai Danu?"
Kukernyitkan dahi, sungguh aku tak mengerti dengan pertanyaan Bobby. Seharusnya ia sudah tahu jawabnya.
Kuhela napas, mempersiapkan jawaban. "Iya, Bang. Dia suamiku, lelaki yang telah menikahiku dengan cinta. Sudah pasti aku mencintainya." Kujawab dengan mantap pertanyaan itu.
"Meski ia lelaki yang tidak bisa melindungimu?"
Kembali aku makin melipat dahi dan memicingkan mata. Aku tak mengerti arah pertanyaan Bobby.
"Dia memang pria lemah, namun ia telah mampu menahan hasrat saat ibu menggodanya. Ia pria setia yang berhasil membuktikan kesetiaannya."
Bobby hanya tersenyum simpul sembari melepas pandangan ke arah lain. Beberapa kali ia menghempas napas secara kasar dan mengusap wajah. Ada kegelisahan yang tertangkap dari sorot mata elang itu.
"Abang, kenapa?" tanyaku menyelidik.
"Tidak apa-apa, Arini. Cepat habiskan makanmu dan kita kembali."
"Abang tidak pulang?"
"Nanti Abang pulang setelah Niko datang." Bobby berdiri dan merentangkan tangan kemudian memutar tubuh beberapa kali untuk meregangkan otot.
"Kita kembali, yuk! Siapa tahu Niko sudah datang dan mencari kita," ajaknya sembari menyeruput sisa tegukan kopi terakhir.
Tanpa menunggu ia mengulang kata, aku segera berdiri dan hendak melangkah. Namun, tiba-tiba pusing itu datang kembali dan membuatku terhuyung hampir jatuh. Beruntung tangan Bobby dengan tangkas menangkap tubuh limbungku.
"Kamu sepertinya terlalu capek, Arini. Sebaiknya nanti kamu ikut aku pulang, kamu bisa istirahat di sana." Ada nada khawatir dalam ucapannya, namun aku tak ingin menafsirkan lebih. Kuanggap perhatiannya adalah sebagai ayah tiri kepada anak semata.
__ADS_1
Aku berusaha untuk berdiri tegak kembali dengan berpegang meja. Rasanya tak elok jika tangan seorang ayah tiri terlalu lama menyentuh, apalagi usianya yang masih muda yang tak jauh selisihnya dengan Niko.
"Terimakasih, Bang. Tapi aku ingin menjaga Mas Danu hingga siuman, apalagi besok orang tua Mas Danu akan datang."
"Kamu beritahu mereka?"
"Aku hanya bilang kalau Mas Danu jatuh di kamar mandi dan kepalanya terbentur."
Bobby mengusap wajah, kebingungan tampak jelas di sana. "Mereka memang berhak tahu kondisi Danu, tapi kamu telah menciptakan kebohongan, Arini."
Aku tertunduk. Benar kata Bobby, namun apa dayaku? "Maaf, Bang. Aku hanya tak ingin ayah dan ibu mertua membenciku karena ibu. Jujur, aku malu dan juga takut."
"Sudahlah, Arini. Aku mengerti perasaanmu. Hapus air matamu dan jangan menangis lagi." Ia rengkuh bahuku dan mengusap lembut, sejurus kemudian kepalaku telah bersandar di dada bidangnya. Isak tangis tak dapat kutahan.
"Sudah, ayo kembali. Kita duduk di ruang tunggu saja sembari melepas lelahmu."
Aku hanya menurut saat ia memapah tubuhku yang kian lemas. Entahlah, ada apa dengan tubuhku. Tak seperti biasanya yang begitu fit dan mampu bergerak gesit.
"Duduklah di sini," titahnya sembari membantuku duduk. "Kamu mau aku belikan sesuatu untuk menghilangkan pusing?"
"Bisa nggak, Bang, belikan aku buah jeruk tapi yang masam? Kayaknya seger banget."
"Sebentar." Bobby mengeluarkan gawai. "Pak Nardi, tolong belikan jeruk yang masam, ya?"
Enak sekali dia. Apa-apa tinggal perintah. Seandainya ibu bisa bersikap baik, pasti hidupnya akan lebih bahagia dengan Bobby. Ah, sayangnya ....
Tak berapa lama, lelaki tengah baya dengan penuh hormat mengulurkan bungkusan plastik bening berisi beberapa buah jeruk. Salivaku hampir saja menetes membayangkan segarnya masam buah jeruk.
Dengan cekatan, Bobby mengambil satu dan mengupaskannya untukku. Bulir demi bulir ia berikan untuk kunikmati.
Hum ... segar sekali rasanya. Mata langsung berasa terang, pusing dan mual yang aku rasa juga perlahan berkurang.
"Arini, ini masam begini kamu doyan?" tanya Bobby heran.
"Nggak tahu kenapa, aku pengen aja makan jeruk yang masam. Pusing dan mual jadi agak berkurang."
"Entah." Aku mengedikkan bahu sembari masih asyik menikmati jeruk yang bikin air liur menetes.
"Kamu belum periksa? Atau tes gitu?"
"Belum. Rencananya hari ini Mas Danu mau membelikan testpack, tapi ...." Aku tak mampu melanjutkan kata, kekalutan itu kembali lagi. Kekhawatiran membalut pikiran menjadi kesedihan yang tak kunjung reda.
Lagi-lagi cairan bening menetes dari sudut netra. Tanpa kusangka, jemari Bobby mengusap air mata yang bergulir di pipi. Hanya kata maaf yang mampu kuucap berkali-kali.
"Jangan menangis lagi," ucapnya menenangkanku. "Arini, ini bukan salahmu." Ia masih berusaha menghiburku sembari telapak tangannya menepuk lembut bahuku.
"Arini, semua di luar dugaan. Aku tidak menyangka kalau Hera mampu berbuat senekad itu," ucap Bobby seraya mengusap wajah, ada getar kecewa dalam nada bicaranya.
"Seharusnya aku tidak mengajak Mas Danu ke rumahmu. Jika saja ia tetap di rumah, ia tak akan menjadi sasaran kemarahan Ibu."
"Itu mustahil, Arini. Karena saat mengajak Hera, ada Danu di sana."
Suasana hening sejenak. Hanya sesekali sisa isakan tangis yang muncul dan berusaha kuredakan. Kutoleh Bobby, menatapnya dengan penuh tanya. "Lalu bagaimana dengan rencana kita?"
"Rencana membuat Hera keluar dari rumahmu sementara sudah berhasil. Apalagi dengan kejadian ini, dia langsung kabur entah kemana. Ya, meski bukan ini yang kita inginkan."
"Ya, dan itu yang aku sesalkan. Kenapa harus Mas Danu yang jadi korban. Rasanya ingin sekali membawa kasus ini ke kepolisian, biar jadi pelajaran untuk Ibu. Paling tidak bisa membuat ia jera." Api amarah itu mulai tersulut kembali.
"Bagaimana pun dia tetap Ibumu, Arini. Berusahalah menyadarkan dia tanpa membuatnya semakin dendam denganmu."
"Aku tahu. Tapi rasanya sulit sekali menyadarkan dia. Yang ada, bukannya sadar malah makin gila."
"Percayalah, rencana kita akan berhasil. Bukankah kamu ingin menyatukan ayahmu dengan dia?"
"Sudah pupus keinginan itu. Membuat dia keluar dari rumahku dan tahu bahwa Niko juga tak mau menerimanya, itu sudah cukup bagiku." Kugigit bibir bawah penuh kegetiran menyeruak dalam dada.
__ADS_1
"Tidak, Arini. Kita harus selesaikan misi kita. Buat wanita itu benar-benar menyesali perbuatannya selama ini. Aku siap mendukungmu." Tangan kanan Bobby menggenggam tanganku seolah ingin menguatkan tekadku kembali.
"Terimakasih, Bang. Hanya Abang yang bisa aku andalkan."
"Aku yakin Hera pasti akan berusaha menemui Niko, dia akan mengemis untuk dikasihani. Nah, itu saatnya Niko menjalankan misi yang telah kita susun. Kamu jangan khawatir, puncak dari rencana kita akan berhasil. Wanita itu akan mendapat banyak pelajaran agar ia bisa menghargai kebaikan orang lain."
"Ya, aku tahu itu. Ibu tak akan betah hidup susah di luaran sana. Kita lihat saja dalam beberapa hari ini." Pandanganku menerawang, berharap segala masalah cepat selesai dengan tuntas.
"Ya, sudah, Bang. Aku mau kembali ke ruangan Mas Danu. Aku ingin di saat dia koma, aku selalu ada untuknya dan mendoakan kesadarannya agar cepat kembali."
"Danu beruntung memilikimu, Arini." Tiba-tiba sorot mata elang itu begitu sendu, ada semburat kecewa yang ia coba sembunyikan.
Kuulas sebuah senyum untuknya. "Aku juga beruntung mendapatkan pria setia seperti Mas Danu."
"Ya, itu adalah salah satu kelebihan Danu. Tapi tak sepadan dengan kebodohannya." Ada nada kesal dalam ucapannya.
"Bagaimana pun ia tetap suamiku, Bang. Tolong tetap hormati harga dirinya."
"Seandainya Hera sepertimu, mungkin luka hati ini tak akan pernah ada." Pandangan Bobby nanar ke arah lain, aku tahu ia telah lama menyimpan rasa kecewa dan sakit hati itu.
"Ceraikan ibuku dan temukan wanita lain. Kamu berhak bahagia, Bang." Kutepuk lengan atasnya, berharap ia bisa bangkit dan move on dari wanita yang tidak punya malu itu.
Bobby terdiam. Tak ada kata yang mampu ia ucap. Percakapan terhenti tatkala Niko datang menghampiri. Pria dewasa yang hingga kini masih melajang itu membawakan dua kotak makanan dan beberapa camilan.
"Ini aku bawakan makanan," ujarnya sembari menyerahkan dua bungkus plastik yang lumayan besar.
"Telat! kelamaan kesini mampir ke mana dulu kamu?" tanya Bobby seraya memukul pelan lengan Niko.
"Biasa, Bang. Ada meeting dengan klien. Kali ini ada proyek yang lumayan besar, nih."
"Sibuk mulu! Kasihan, tuh, adik kamu."
Niko menoleh kembali padaku. Menatapku dengan sedikit menggoda. "Adik kecil menangis lagi? Mau dibeliin coklat?"
"Apaan, sih, Bang Niko ini?"
"Habisnya kulihat tuh mata sembab kayak habis dipukulin aja, hahaha ...."
"Iish ... Abang ini." Kupasang wajah kesal.
"Gimana dengan Danu? Sudah ada perkembangan?"
"Belum, Bang. Kata dokter perdarahan di otak yang menyebabkan ia koma," jelasku dengan suara lirih.
"Berdoa dan yakinlah, suamimu akan kembali seperti sediakala."
"Aamiin ... oh ya, Bang. Bagaimana dengan Ibu? Apa dia sudah menemui Bang Niko?"
"Aku rasa untuk beberapa hari ke depan ia tak akan berani muncul, karena waktu itu ia ketakutan jika kita melapor ke polisi."
"Aku berharap semua ini segera berakhir, Bang. Aku sudah lelah."
"Arini, yakinlah semua rencana kita akan berhasil." Kembali Bobby menguatkan tekadku yang hampir pupus.
"Iya, Arini. Kita hanya butuh sedikit usaha lagi untuk membuat Ibu kita jera. Bertahanlah." Niko seolah tak ingin melihatku lemah, ia pun ikut membakar semangatku kembali.
Aku hanya bisa mengangguk. Suasana hening, semua kembali sibuk dengan alam pikiran masing-masing. Kulirik penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah hampir sore, kuputuskan untuk kembali ke ruangan ICU di mana Mas Danu di rawat.
Niko menemaniku menjaga Mas Danu, sedangkan Bobby berpamitan pulang. Aku masih beruntung, meski kehilangan kasih sayang dari orang tua, namun Tuhan menggantinya dengan kasih dari banyak orang.
Kini, hanya bisa kupanjatkan doa untuk Mas Danu agar ia bisa kembali sadar.
"Bangun, Mas. Kamu sudah berjanji hari ini ingin membeli testpack untukku. Apa kamu tak ingin memastikan ada Danu junior di rahimku?" Kubisikkan kata-kata itu di dekat telinganya, berharap ia akan merespon.
Nihil.
__ADS_1
Tak sedikit pun respon itu ia tunjukkan. "Mas, maafkan aku." Kembali kuhanya mampu mengucap maaf dengan memeluk lengannya yang masih lemah tak berdaya.