
POV Danu
Detik jarum jam masih dapat kudengar, menit demi menit waktu terus berlalu tak menghiraukan aku yang dalam kegalauan. Sedari pagi kurapalkan doa, mengharap sebuah keajaiban datang sebelum malaikat benar-benar datang menghampiri.
Ayah dan ibu telah bersiap dengan buku kecil. Begitu juga dengan Arini. Pagi ini, ia mengenakan gamis putih polos dengan paduan hijab berwarna putih tulang.
Arini duduk di sisiku sembari terus menggenggam jemariku. Bulir bening masih saja mengambang di kelopak netra sembabnya. Bobby yang datang terakhir memilih berdiri di dekat kakiku.
Semua hadir untuk doa bersama. Entah doa apa yang sebenarnya mereka inginkan. Jika mereka ingin aku hidup, tak seharusnya menyuruh Arini menandatangani surat yang memaksaku untuk meregang nyawa.
Jujur, aku sedih mengetahui itu semua. Di mana letak kemanusiaan mereka? Ini sungguh tidak adil. Harusnya yang mati itu Hera, nenek semlohai penggoda yang ribet banget hidupnya. Ini malah kenapa aku yang harus mati?
Jarum jam menunjuk ke angka sepuluh tepat. Ayah yang sedari tadi berulangkali memijat pelipis, akhirnya membuka kata. Ayah mulai memimpin doa dan semua mengaminkan.
Selesai berdoa dan prakata dari ayah yang pastinya berisi permintaan untuk ikhlas melepasku, tiba-tiba pintu terbuka. Tampak Niko mendorong sebuah kursi roda yang dinaiki oleh wanita iblis itu.
Semua mata tertuju pada mereka. Masing-masing sibuk dengan praduganya. Tatapan Arini yang semula sendu seketika berubah menyalak seolah ingin menghabisi wanita penyebab ia dalam kesedihan yang berlarut.
Arini berdiri, perlahan melangkah ke arah wanita di atas kursi roda itu. Tatapan tajam penuh kebencian dan kepalan tangan menandakan bahwa ia tak pernah rela atas sikap ibunya selama ini.
"Untuk apa ke sini? Untuk tertawa karena sumpah serapahmu kini menjadi nyata? Senang melihat aku akan menjadi janda?" Kata-kata Arini begitu tajam menusuk penuh penekanan.
"Arini, maafkan Ibu. Ibu menyesal atas semua kelakuan Ibu selama ini."
"Kata maaf dan penyesalanmu tak mengubah apapun."
"Ijinkan Ibu untuk meminta maaf kepada Danu, Nak. Sungguh Ibu menyesal," pinta wanita itu dengan isak tangis memohon.
"Cukup! Hentikan sandiwaramu! Sampai mati pun rasa sakit hati ini tak akan pernah terobati. Luka yang kamu toreh terlampau dalam!"
Sedu sedan tangis Bu Hera makin menjadi. Semua pandangan mengarah ke wanita itu. Bobby dengan tatapan malas melihat, Arini dengan tatapan muak, sedangkan kedua orang tuaku tentu melihat semua dengan sejuta kebingungan.
"Arini, tolong maafkan Ibu. Beri ia kesempatan untuk minta maaf ke Danu sebelum semua terlambat." Niko mencoba ikut meminta.
Terlambat? Apa maksudnya? Dia pikir aku akan mati? Tidak semuadah itu ferguso! Aku akan berusaha untuk masuk kembali ke raga itu.
"Maaf, Bang. Sebaiknya bawa pergi wanita ini. Dia memang ibuku, namun ia tak pantas kusebut ibu. Karena seorang ibu tak akan pernah merenggut kebahagiaan anaknya hingga separah ini."
__ADS_1
"Aku tahu, Arini. Tapi ...."
"Cukup, Bang! Aku tidak mau dengar apapun!" Suara Arini menolak dengan nada ditinggikan, sepertinya emosi yang ia tahan mulai membuncah.
"Arini, sebenarnya apa yang terjadi?" Kini ayah maju mendekat, pertanyaannya membuat Arini seketika gugup.
"Ma-maafkan, Arini, Yah. Maaf kalau Arini sudah berbohong selama ini. Tapi semua Arini lakukan karena aku takut Ayah dan Ibu akan membenciku." Tangis Arini pecah.
Ibu yang melihat situasi itu langsung tanggap bahwa menantunya butuh seseorang yang bisa membuatnya tenang. Ibu mendekat dan merengkuh bahu Arini. "Nak, katakan dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi." Begitu lembut ibu berucap.
"Dia ibuku, Bu. Dia juga yang membuat Mas Danu seperti ini." Arini menghambur ke dalam pelukan ibu, ia seakan tak sanggup lagi dengan semua yang dia alami.
Sedetik kemudian tubuh Arini limbung dan hampir jatuh, dengan sekuat tenaga ibu mencoba menahan. Bobby yang melihat segera membantu membopong tubuh Arini dan berlari membawanya ke IGD.
Pingsannya Arini menyebabkan kepanikan semua orang. Ayah dan ibu langsung mengekori Bobby. Tampak wajah cemas ibu tersirat jelas, tentu saja ia khawatir dengan kondisi menantu kesayangannya.
Aku juga turut panik, cemas dengan istri dan anakku. Takut terjadi apa-apa dengan Danu junior. Namun, lega kurasa ketika dokter menjelaskan ke ayah dan ibu kalau kondisi janin baik-baik saja.
Dokter menyarankan Arini harus bedrest untuk menghindari lelah atau stres berkepanjangan yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin. Hari itu juga Arini diharuskan menjalani rawat inap hingga kondisinya pulih.
Langkahku gontai tak bertenaga, keluar dari ruang rawat inap. Pikiran sangat kacau, tak tahu lagi harus berbuat apa. Entah kenapa semua jadi kacau. Semua karena wanita itu, ya ... wanita iblis pembawa petaka.
Kalau dia pergi, lalu nenek semlohai itu dengan siapa? Jangan-jangan masih di ruanganku dan mengambil kesempatan menggerayangi tubuhku. Oh, tidak! Aku harus segera ke sana menyelamatkan kesucianku.
Napasku terengah, lebih terkejut lagi ketika memergoki wanita itu tengah menyentuh tanganku. Kenapa Niko membiarkan dia di sini? Kenapa tidak dikembalikan ke kamarnya kemudian diikat rantai biar tak lepas?
"Danu, maafkan Ibu. Ibu menyesal atas semua perbuatan Ibu ke kamu, hiks ... hiks ... hiks ...."
Aku berdiri bersandar dinding sembari melipat tangan ke dada. Senyum sinis tersembul tatkala melihat sandiwara penuh akting kepalsuan.
"Danu, jika kamu sembuh, Ibu janji nggak akan menggoda kamu lagi. Ibu juga janji tak akan memakanmu lagi."
Apa? Janji macam apa itu? Dasar wanita gila!
"Ibu tahu kalau Ibu salah. Tapi Ibu tak mampu menahan perasaan Ibu ke kamu. Maaf jika Ibu jatuh cinta denganmu, Dan." Rinai bulir bening menetes mengenai punggung tanganku.
Jujur, aku jijik ketika bibir itu menyentuh tanganku. Ah, seandainya aku sadar, sudah pasti aku hempas ia jauh-jauh.
__ADS_1
"Bangunlah, Dan. Ibu janji setelah ini Ibu akan menjauh dari kehidupanmu dan juga Arini. Ibu akan mengubur dalam-dalam semua perasaan ini."
Wanita itu kini berdiri, kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. Hembusan napas itu menyapu sisi kanan wajahku, memberikan sensasi aneh.
"Aku harap kamu memaafkan Ibu. Jangan bawa dendam hingga ke liang lahat, ya. Ibu tidak ingin kelak di akherat kamu menuntutku karena sakit hati."
Ucapan macam apa lagi itu? Sialan itu nenek semlohai. Sama saja dia nyumpahin aku mati cepat. Sampai dunia kiamat juga nggak bakalan aku maafin. Biar saja nanti kalau dia mati, aku akan tuntut semuanya! Termasuk ancaman dia yang ingin memakanku, tak akan pernah kumaafkan!
"Danu, ijinkan Ibu untuk menciummu yang terakhir kali, ya?"
Apa? Sudah gilakah dia? Detik-detik menegangkan dari hidupku akan ia nodai? Oh, God ... manusia dari apa dia? Inikah yang ia sebut menyesal?
"Tuhan, selamatkan aku. Selamatkan aku dari wanita terkutuk ini." Bibirku tak henti-hentinya berdoa seraya memejamkn mata, sungguh tak sanggup melihatnya.
Bibir berisi itu semakin dekat dengan bibirku, semakin dekat ... semakin dekat ... dan ....
"Tidak!" teriakku seraya mendorong tubuh itu kuat-kuat, tak kupedulikan ia yang jatuh terjengkang.
Napasku terengah, berusaha menetralisir perasaan yang kacau balau. Mencoba untuk berteriak kembali, "Arini! Arini! Cepat tolong aku!"
Bukan Arini yang kudapati, namun seorang wanita berseragam putih yang menghampiri. "Pak Danu sudah sadar? Syukurlah, sebentar aku panggil dokter." Setelah berucap, perawat itu kembali keluar meninggalkan aku yang masih panik.
"Danu, kamu sudah sadar?" Wanita itu mendekat, membuatku semakin takut.
"Danu, kamu sudah sadar!" Ia mengulang lagi pertanyaannya, membuatku berusaha menghentikan kepanikan dalam diri.
Kuraba wajahku, kemudian mencubit lenganku. Aoww ... sakit. Benar, aku sudah sadar. Aku kembali ke ragaku. Sungguh aku tak kuasa menahan linangan air mata kebahagiaan yang luar biasa ini.
"Akhirnya kamu sadar, Danu. Ibu turut senang." Mata wanita itu kembali berkaca-kaca.
"Sesuai janjiku, setelah kamu sadar, Ibu akan pergi dari kehidupanmu dan Arini. Sekali lagi maafkan Ibu." Ia perlahan beringsut mundur dan akhirnya keluar dari ruang ICU, membiarkan aku yang masih terpegun.
Bagaimana pun juga wanita itu berjasa. Setelah sekian hari aku berusaha keras kembali ke raga ini dan selalu gagal, namun ia datang dengan ciuman maut yang hampir saja merenggut kesucianku.
Ciuman maut yang berhasil membangunkan alam sadarku. Beruntunglah aku, belum sempat bibir itu mendarat, jiwa ini telah kembali.
Alhamdulillah ... selamat dari bibir nenek semlohai. Aku tak ingin Arini tahu, bisa-bisa dipotong habis bibir seksiku ini.
__ADS_1
Tak berapa lama, dokter dan perawat itu kembali untuk memeriksaku. Mereka cukup terkejut dengan perkembangan kesehatanku yang sadar secara tiba-tiba dan bisa berteriak kencang.
Ah, seandainya mereka tahu ....