Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 17 Ancaman Mertua


__ADS_3

Sorot bola manik itu begitu tajam menatapku seperti harimau yang hendak menerkam mangsa. Sikap tawa manja berubah menjadi dengusan kekesalan. Ya, Bu Hera marah besar.


Beberapa kali ia memaksaku untuk bicara, namun aku memilih untuk diam dan mencoba mencari alasan. Ternyata membohongi wanita licik di depanku ini teramatlah sulit, buktinya semua jawabanku dibantah.


Dengan amarah ia meninggalkan aku yang masih kebingungan mengendalikan situasi. Terdengar kedoran keras di pintu kamar Arini disertai dengan teriakan melengking Bu Hera. Aku segera berjingkat untuk melihat.


"Arini! Kenapa kamu menemui Bobby?" serang Bu Hera setelah Arini membuka pintu.


Tentu saja Arini kebingungan dan tidak siap dengan pertanyaan itu. Ia terkejut, kemudian mengalihkan pandangan ke arahku. Kembali kudapati tatapan tajam, kali ini dari Arini yang dibarengi dengan gemeretak kepalan tangan. Lebih ngeri dari emaknya.


Jangan tanya bagaimana rasanya di posisiku saat ini. Sungguh tak mengenakkan! Antara nggak enak hati dan juga khawatir Arini akan mendampratku habis-habisan.


"Kenapa kamu diam? Ada rencana apa kamu menemui Bobby?" Masih dengan nada amarah Bu Hera mulai mencecar Arini.


Tampak Arini masih berusaha menguasai keadaan. Seperti biasa ia tak ingin panik, tapi tetap sorot mata ingin menghabisiku tetap tertangkap oleh manik mata milikku.


Arini menutup pintu kamar, kemudian melenggang menuju dapur. Dengan tenang ia mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Bu Hera yang masih geram menguntit langkah Arini dari belakang. Beberapa kali ia teriak dan menarik tangan Arini. Tarikan terakhir dikibas keras oleh Arini dengan tatapan tidak suka.


"Arini, jawab Ibu. Kenapa kamu menemui Bobby?"


"Hanya ingin bertemu, memastikan bahwa yang namanya Bobby itu ada," jawab Arini santai.


"Bohong! Pasti kalian punya rencana. Awas saja kalau sampai Bobby ke sini, aku makan suami kamu!" ancam Bu Hera yang membuatku tercengang.


Apa? Kenapa harus aku yang dijadikan bahan ancaman? Enak saja mau makan orang, kanibal kali tuh nenek semlohai. Hish! Merinding bulu kuduk, ternyata dia lebih seram dari kuntilanak.


"Sedikit saja Ibu sentuh suamiku, Ibu akan lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu jera!" Arini tak mau kalah, mana mungkin istriku rela kehilangan suami sekeren aku.


"Kita lihat saja. Sekali saja kamu salah melangkah, maka nasibmu akan sama seperti Ayahmu!"


"Hahaha ... bangga, ya, bisa mencelakakan suami yang telah memberi kehidupan baru yang lebih baik? Apa Ibu tidak ingat kalau Ayah yang sudah mengangkat derajat Ibu menjadi wanita yang lebih terhormat?"


"Kamu hanya anak kecil, Arini. Ibu hanya memperingatkan kamu, jangan sekali-sekali kamu punya niatan menyingkirkan Ibu dari sini. Karena Ibu tak peduli dengan hubungan darah!"


"Astaghfirullah ... ternyata teguran Tuhan pun tak mampu menyentuh dasar hatimu. Bertaubatlah, Bu, sebelum nyawa dan raga terpisah."


"Kamu nyumpahin Ibu biar cepat mati?"


"Terserah!" Arini berlalu tak mempedulikan emosi Bu Hera yang masih meluap.


"Arini! Jangan salahkan Ibu kalau menjadikan suamimu sebagai santapan! Ingat itu!"


Arini menghentikan langkah. Ia tidak membalikkan tubuh, hanya menghela napas dan membuangnya kasar. Kepalan tangan itu menandakan ia semakin gusar. Namun, lagi-lagi ia hanya menghela napas beberapa kali untuk menenangkan hati agar tidak terpancing emosi.


Aku bergidik dengan ucapan Bu Hera. Bagaimana bisa ia punya niatan akan menjadikan aku santapan. Sungguh ngeri. Segera kususul Arini yang telah melangkah menuju kamar.


"Dek, Mas minta maaf, ya?" ucapku pelan tatkala melihat Arini duduk membelakangiku di ranjang.


Dia masih terdiam duduk bersedeku memeluk lutut menatap ke luar jendela. Pasti dia marah besar gegara aku yang keceplosan.


"Mas nggak sengaja, sumpah Mas hanya keceplosan ngomong aja, Dek." Aku mencoba mendekat dan jongkok di depannya. Kuraih tangan Arini, ia tak menolak hanya saja pandangan Arini bergeming.


Ada rasa bersalah dan sesal menyeruak dalam hati. Ya, aku memang bodoh. Tapi aku nggak sengaja, namanya juga lidah ... wajar kalau kepleset.


"Dek, please jangan diam. Mas sungguh minta maaf, Sayang."


Arini menghela napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kuat, ada beban batin yang ingin ia lepas. Mungkin saja rasa kesal terhadap ucapan ibunya. Kini Arini menatapku tajam, seperti siap mengulitiku.


"Ini salah satu penyebab aku tidak mengajakmu untuk ketemuan dengan Bobby waktu itu."


"Iya, biar kamu bisa berduaan dengan Martin. Aneh saja, aku ini yang suamimu tapi malah ngajaknya orang lain," sungutku.


Dia pikir aku tidak tersinggung apa dengan keputusan dia yang pergi tanpaku? Aku merasa tidak dihargai. Begini juga aku imam yang tetap harus dilibatkan dalam setiap urusan dia.


"Capek ya, ngomong sama Mas. Nggak pernah nyadar."

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Dek? Kamu mulai bosan dengan Mas? Apa karena kamu mulai tertarik dengan Bobby, ayah mertua kamu itu?"


"Haduuh ... Ya, Tuhan ... kenapa Engkau beri hamba jodoh tampan tapi ...." Arini tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi apa, Dek?" Dahiku melipat, mata menyipit.


"Tapi ember mulutnya!" Teriak Arini tepat di telingaku.


"Aduh, Dek. Sakit ini telingaku! Bicara biasa aja bisa nggak?" Sumpah, telingaku sakit gegara teriakan wanita yang ternyata memiliki suara melengking ini.


"Berapa kali aku bilang, nggak usah deket-deket Ibu. Tetap saja kamu nggak dengerin. Sepertinya kamu memang suka dengan ibuku, Mas." Arini masih saja sewot.


"Astaghfirullah ... kok kamu bisa berpikir seperti itu toh, Dek. Mas ini setia, lho. Selama ini Mas selalu berusaha jaga keimanan Mas dari wanita penggoda itu!" Rasanya aku tak terima dengan tuduhan Arini.


"Sekarang, karena kamu yang ember ... maka kamu yang harus nanggung akibatnya. Siap-siap saja dimakan nenek semlohai itu." Arini melihat kedua tangan sembari memasang wajah tak peduli.


"Dek, memangnya Ibu semengeri itu?" tanyaku hati-hati, jujur ada rasa ngeri jika benar itu terjadi.


"Kamu pikir ibu main-main dengan ucapannya? Mulai sekarang berhati-hatilah, nggak usah dekat-dekat Ibu lagi."


"Iya, Dek. Tapi Mas dimaafin, kan? Mas janji akan lebih hati-hati kalau bicara." Kupasang wajah memelas agar wanitaku tak akan melanjutkan amarahnya.


"Baiklah, aku maafkan. Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Mas Danu harus terima hukuman dari aku."


"Kejam amat dengan suami kayak gitu."


"Mau nggak dimaafin?"


"Iya, iya ... apa hukumannya? Tapi Nggak usah berat-berat, Dek."


"Hukumannya adalah ...." Arini menggantung kalimatnya sembari berpikir, tangan kiri melipat ke dada dan telunjuk tangan kanan menunjuk dagu.


"Baiklah, sebagai hukumannya Mas Danu harus puasa selama satu minggu."


"Maksudnya puasa Senin Kamis?"


Arini menepuk jidat. Entahlah, apa yang salah dengan ucapanku.


"Ampun dah! Kamu ini kenapa, sih, Mas? Semakin ke sini kok nggak pahaman?"


"Nggak pahaman gimana? Ditanya baik-baik malah jawabnya gitu. Mas jadi serba salah."


"Tau, ah!" jawab Arini sewot, ia merebahkan tubuh dengan kasar, menarik selimut dan membenamkan kepala ke dalamnya.


"Dek ...."


"Jangan sentuh aku!" Ia mengibaskan tanganku dengan kasar saat kusentuh bahunya.


Haduh, salah lagi. Kenapa wanita selalu seperti ini? Sedikit-sedikit ngambek, ngomong tidak jelas tapi minta dipahami. Bisa tidak kaum wanita itu tidak bermain teka-teki dalam kata? Bikin pusing!


***


Pagi yang cerah. Sang mentari tak terhalang awan, sinarnya menembus jendela kaca kamar. Kulirik penunjuk waktu di dinding, pukul 08.10. Libur tanggal merah membuatku ingin berada dalam kamar saja.


Aku yang masih merinding karena terngiang ancaman ibu mertua terhadap Arini. Arini yang diancam tetapi aku yang justru dijadikan sasaran. Dasar wanita kejam, tidak punya hati apalagi nurani kemanusiaan.


"Dek, kamu mau kemana? Kok sudah mandi?" tanyaku saat kulihat Arini keluar dari kamar mandi.


"Mau pergi, Mas," jawab Arini tanpa mengalihkan pandangan dari deretan baju-baju koleksinya.


"Kemana?"

__ADS_1


"Hari ini aku janjian dengan Bobby."


"Kok nggak bilang-bilang ke Mas?"


"Ini udah bilang." Kembali Arini menjawab dengan enteng sembari mengenakan gamis dusty pink yang beberapa hari lalu ia beli.


"Maksud Mas, kenapa nggak dari kemarin bilangnya?"


"Bilang ke Mas Danu sama saja membocorkan rahasia."


"Heleh, dengan suami kok main rahasia-rahasiaan segala."


"Bukan gitu, Mas. Mulut Mas itu nggak ada remnya."


"Nyindir?"


"Pikir aja sendiri." Kembali Arini cuek, ia fokus dengan make up. Seperti biasa, make up soft sangat dia suka.


Pagi ini dia terlihat cantik gamis yang dipadu padankan dengan hijab pastan berwarna senada. Wajah Arini tampak segar dan ....


Tunggu! Untuk apa dia dandan secantik itu? Dia bilang ketemu Bobby, tapi seperti mau pergi kencan?


"Dek, ganti baju kamu!" titahku.


"Kenapa?"


"Pokoknya ganti!" Aku bergegas ke lemari, mencarikan baju yang kiranya tidak membuat ia menarik. Beberapa baju telah kucobakan, tetapi tetap saja dalam pandangan mataku ia sangatlah menarik.


Apanya yang salah? Make up tidak menor, pakaian tidak membentuk lekuk tubuh. Terus di mana letak yang membuat ia terlihat cantik pagi ini?


"Kamu ini kenapa, sih, Mas?" Aku buru-buru, nih!"


"Tunggu! Mas ikut! Mas nggak ikhlas kalau kamu pergi sendirian untuk ketemu Bobby."


"Kamu aja belum mandi."


"Tunggu sepuluh menit. Mas akan siap-siap."


"Ya udah aku tunggu di depan." Aku biarkan ia melenggang keluar kamar. Dengan cepat aku mandi dan mengenakan pakaian. Tak kuhiraukan penampilanku yang menyisir rambut cukup dengan jari.


Segera kususul Arini dan kupastikan ia masih di depan menungguku. Aku harus antisipasi segala kemungkinan. Tak akan aku biarkan lelaki mana pun mengambil wanitaku.


Arini yang melihatku keluar dari pintu sejenak menatapku sembari menahan tawa. Kucoba meneliti adakah yang salah dalam badan. Ya, Tuhan ... pantesan ini baju dipakai kok rasanya nggak nyaman. Ternyata terbalik.


"Gara-gara kamu, Dek. Pakai baju sampai terbalik begini," gerutuku seraya melepas kaos dan memakainya kembali dengan benar.


***


Kali ini Arini melarangku bawa motor. Ia memilih memesan mobil ojek online. Katanya biar dandanan dia nggak berantakan kena angin. Jujur, ada yang menyisip dalam hati. Aku cemburu. Sudah pasti ia ingin tampil cantik di depan Bobby.


Mobil yang membawaku dengan Arini menepi di sebuah rumah makan lesehan. Cukup ramai, mungkin karena tanggal merah.


Tatkala kaki ini berayun menuju salah satu saung, beberapa gadis melambaikan tangan ke arah Arini. Senyum mereka begitu bersahabat.


"Lho, Dek, katanya mau ketemu Bobby?" tanyaku bingung.


Arini tak menjawab. Dia malah justru menarik lenganku untuk segera mempercepat langkah.


Ini di luar dugaan. Berada di kerumunan para gadis membuatku merasa tak nyaman, apalagi yang mereka bahas tentang urusan dunia wanita. Dari urusan kosmetik hingga koleksi barang-barang branded yang mereka miliki. Bahkan pembicaraan urusan ranjang menjadi candaan mereka pula.


Benar-benar tak nyaman mendengarnya. Sebelum makanan datang, kuputuskan untuk ijin pergi saja dari geng rempong itu. Lebih baik ke kost Martin, bisa main play station di sana. Beruntung Arini memahami situasi hatiku sehingga mengijinkan aku pergi.


Paling tidak aku sudah lega, Arini tidak menemui Bobby. Biasanya Arini kalau sudah dengan teman-teman kumpul, dia akan betah untuk berlama-lama dengan mereka. Kutarik napas lega dan melangkah meninggalkan cuitan para kaum hawa.


***

__ADS_1


Part berikutnya POV Arini yang menyusun rencana bersama Bobby.


Happy reading ....


__ADS_2