
Kuhempas kasar tubuh ke sofa di ruang tamu. Nyeri yang kurasa tak hanya di kepala, namun juga di hati. Tak habis pikir kenapa Arini lebih memilih wanita itu daripada aku, suaminya.
Mungkin Arini terbawa suasana sehingga ia lupa bahwa surga bukan lagi di kaki ibunya, melainkan pada bakti ke suami. Ya, mungkin sekarang ini Arini sedang khilaf dan takut kehilangan sosok wanita yang ia anggap ibu.
Kupijat pelipis sembari meluruskan tubuh dan memejamkan netra. Berharap, setelah bangun nanti semua keadaan akan membaik.
Percuma, pikiran tetap saja melanglang ke sana kemari, hati juga telah tercuri ketenangannya. Rasa tidak ikhlas merelakan semua yang terjadi begitu mengusik batin.
Sungguh, aku masih sulit menerima jika Hera yang telah membuatku sekarat hanya menerima balasan ringan seperti itu. Aku tahu Tuhan itu Maha Adil, mungkin saja karma dia akan tiba nanti. Tapi hati ini benar-benar tak sabar melihat wanita jahanam berlumur dosa itu mendapat karma yang luar biasa menyakitkan.
Ah, mungkin saja aku terlalu lebay jika berharap kisah ini berakhir seperti di film-film. Tokoh antagonis akhirnya mati tertabrak mobil, atau boleh jadi ia terkena kanker dan akhirnya mati.
Deru mobil memasuki pekarangan ketika aku masih berkutat dengan pikiran yang mengembara. Segera aku bangkit dan menyibak tirai, tampak lelaki paruh baya bersama wanita yang tengah mengandung calon pewaris ketampananku.
Kupasang wajah lesu saat kaki mereka melangkah memasuki ruang tamu. Tetap kusambut tangan keriput lelaki itu, menciumnya dengan takzim.
"Kamu sakit, Dan?" tanya Pak Rahman dengan sedikit memicingkan netra.
"Kepala masih nyeri, Yah."
"Sudah kontrol ke dokter?"
"Besok jadwal kontrolnya." Kusandarkan kepala di sandaran sofa, perlahan menghela napas.
"Sebaiknya kalau memang terasa nyeri, kamu langsung ke dokter. Biar Ayah antar, ya?"
"Nggak usah, Yah. Mungkin hanya butuh istirahat saja."
"Mas, makan dulu. Habis itu, minum obatnya." Tetiba Arini sudah datang membawa baki berisi nasi beserta lauk, segelas air putih dan obat juga telah tersedia. Sungguh dia istri yang baik.
"Mas nggak lapar, Dek."
"Sini, biar aku suapin." Tangan Arini memaksa makanan itu masuk ke mulutku, tak ada yang bisa aku tolak darinya.
"Gimana keadaan Ibu, Dek?" Di sela-sela mengunyah makanan, akhirnya pertanyaan itu meluncur juga. Berharap keadaannya parah.
"Ibu kritis lagi, Mas." Ada getar dalam suara Arini, kesedihan yang berusaha ia pendam.
"Kenapa kamu bisa memaafkan wanita itu?"
"Karena dia ibuku, Mas. Mau seburuk apapun ia tetap ibu yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanku ke dunia ini."
"Tugas ibu tidak hanya melahirkan, namun juga merawat dan membesarkan anak dengan hujan kasih sayang. Bukan malah meninggalkanmu hanya demi kesenangan semata."
"Iya, aku tahu."
"Seorang ibu sudah pasti akan rela melakukan apapun demi kebahagiaan anak. Tapi tidak dengan wanita tak punya hati itu. Ia datang hanya untuk menghancurkan rumah tangga anak sendiri."
"Iya, aku juga tahu. Tapi sudahlah, Mas. Kita lupakan semua itu."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa melupakan semua yang ia lakukan? Tidak mudah, Dek. Ibumu membuatku hampir mati!" Geram rasanya melihat tanggapan Arini yang seperti itu.
"Danu, Hera sudah menerima hukuman akibat ulahnya." Pak Rahman yang sedari tadi diam tanpa kata, kini mulai berujar.
"Hukuman apa? Justru yang aku lihat, semua orang tertipu dengan sandiwara hijrahnya!"
"Tenangkan dirimu, Danu. Coba kita telisik kembali apa saja yang telah menimpa Hera."
Aku mengernyitkan dahi. Pria di hadapanku dengan pembawaan tenang itu mampu menghipnotisku untuk mendengarkan ucapannya. Sikap yang sama seperti Arini, selalu tenang dan meneduhkan.
"Saat Hera meninggalkan aku dan Arini, Hera mulai menerima karma yang ia tak pernah sadari."
"Maksudnya?" Aku semakin tak mengerti dengan ucapan Pak Rahman. Entahlah, semenjak kena pukulan vas bunga sepertinya otakku sedikit lemot. Ah, mungkin masih proses perbaikan. Nanti juga bakalan balik jadi Danu yang super jenius lagi.
"Tak berapa lama ia tinggal dengan lelaki yang telah memperdaya dia untuk menghancurkan bisnisku, Hera dilabrak istri sah dari Jack. Hera hidup terlunta-lunta. Cukup lama ia sengsara dengan kehidupannya."
"Tapi, bukankah setelah itu ia menikah dengan Bobby?" Jiwa detektifku meronta, mendorong rasa penasaran yang teramat dalam.
"Tidak serta merta menikah. Sebelumnya Hera menjadi pembantu di rumah itu. Setelah menikah dengan Bobby pun ia tidak dapat menikmati harta keluarga Bobby."
Kepalaku tak sadar manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Rahman. Benar juga, sebenarnya Hera telah menerima teguran dari Tuhan sejak lama, namun ia masih juga belum sadar dengan semua kesalahannya.
"Hidup dengan Bobby juga tak mudah baginya. Bobby yang saat itu masih kuliah dan tidak punya kerjaan, membuat Hera harus kerja keras. Ia sempat jadi buruh cuci dari rumah ke rumah."
"Bukankah Bobby saat itu bekerja sebagai pramuniaga di sebuah swalayan?"
"Iya, setelah dua tahun pernikahan Bobby baru bekerja."
"Yup, benar sekali. Setelah Bobby bekerja, hasilnya juga tak cukup untuk membiayai semua kebutuhan. Apalagi, setiap bulan Hera harus mengirim uang ke desa untuk ibu dan adik-adiknya. Selain itu, ada Niko yang ia titipkan di panti asuhan."
Tak terbayang olehku, bagaimana pusingnya wanita itu menghadapi semua permasalahannya. Ternyata ada keluarga yang menggantungkan hidup pada wanita yang di mataku begitu menjijikan itu.
"Dia menjadi simpanan dari pengusaha kaya, teman ayahnya Bobby, juga karena saat itu ibunya dalam kondisi kritis. Adik-adiknya hanya bisa mengandalkan Hera untuk semua biaya."
"Apa dia tidak membicarakan semua itu ke Bobby?"
"Hera berpikir percuma saja bicara dengan Bobby. Pemuda itu dulu belum bisa bersikap dewasa. Kamu tahu ia anak tunggal dan sangat dimanja."
Huff ... benar juga kata Pak Rahman. Anak manja mana bisa mandiri dan berpikir dewasa.
"Pukulan berat sangat Hera rasakan ketika ia harus kehilangan ibunya. Selain itu, hutang pengobatan selama ibunya sakit juga membuat ia semakin dalam tekanan."
"Kenapa adik-adiknya tidak membantu?"
"Adik-adiknya sudah membantu, tapi tak seberapa. Selama ini Hera yang dijadikan tulang punggung oleh mereka."
Aku tak mampu berkata-kata lagi. Ternyata kehidupan berat yang menuntut ia sampai seperti itu. Namun, tetap tak bisa dibenarkan. Meski dalam keadaan susah sekalipun, kita tak boleh menempuh jalan gelap.
"Puncaknya adalah ketika ia harus menghadapi kekerasan fisik dari Bobby. Ia tak sanggup lagi dan memutuskan pergi." Pak Rahman mengambil oksigen dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengakhiri cerita dengan helaan napas.
__ADS_1
"Sekarang kamu paham kenapa Niko tak bisa membenci ibunya? Dan kamu sudah tahu kenapa istrimu tak tega membiarkan ibunya sekarat?" tanya Pak Rahman dengan penekanan suara.
"Ya ... tapi masih ada yang mengganjal dalam hati saya, Yah."
"Apa?"
"Kenapa Ayah bisa tahu semua kisah Bu Hera?"
"Danu, Danu ... benar kata Arini, kamu itu sinyalnya nggak kuat alias lemot mikir. Hahaha ...." Meski sembari tertawa kecil ucapan itu, tapi bagiku itu tetaplah sebagai sebuah ejekan.
Kualihkan pandanganku ke arah Arini. Tega nian dia bilang aku ini lemot mikir. Mendelikku hanya direspon Arini dengan senyum mengejek pula. Huff! Awas saja nanti, bakalan aku smackdown di atas kasur.
"Namanya juga nggak tahu, Yah. Apalagi aku masih sakit begini, jadi wajar saja kalau aku masih lemot otaknya. Semua juga gegara ibunya Arini, mukul pakai vas sampai berkali-kali. Jadi konslet 'kan otakku?" sungutku berusaha membela diri.
"Bukannya asli dari sana, Mas?" goda Arini membuat bola netra ini makin mendelik jengkel, enak saja dia bilang asli dari sananya.
Mereka tertawa melihatku yang berusaha menahan jengkel. Sungguh tak punya hati bapak dan anak itu.
"Kamu lupa, Danu. Ayah ini dulu pengusaha terkenal, banyak relasi. Kalau hanya informasi tentang Hera, jelas saja mudah. Bahkan temannya Ayah Bobby yang jadi selingkuhan Hera itu, dia teman sekolah Ayah dulu."
"Hah? Yang benar, Yah? Sempit amat dunia ini!"
"Ya, sudahlah. Sekarang kamu sudah tahu bagaimana Hera menerima karma dari ulahnya. Sekarang dia kritis, sebelumnya kamu juga telah membuat ia kehilangan muka. Harga dirinya hancur sudah di depan orang banyak. Masih belum puas?"
Aku terpegun. Sepertinya Arini benar, aku yang tak punya hati. Perlahan kerasnya batu ego yang menggumpal dalam diri luruh. Mungkin kini saatnya aku memaafkan dia.
Baiklah, akan aku mulai segalanya dengan hal baru. Memaafkan wanita itu agar kehidupanku dengan Arini tak akan ada lagi yang mengganjal.
Selain itu, tak ingin juga melihat nenek semlohai jadi arwah penasaran. Ups! Sama saja mendoakan ia mati, donk ... hahaha ....
"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Arini membuyarkan monolog dalam pikiranku.
"Nggak apa-apa, Dek. Hanya membayangkan Danu junior lahir dan aku asyik bermain dengannya." Alibi yang asal saja, yang penting tidak ketahuan isi pikiranku.
"Kok, nggak nyambung? 'Kan, masih bahas Ibu."
"Sudahlah, Mas capek. Habis minum obat malah ngantuk, nih!" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, membaringkan kembali tubuh di atas sofa. Berpura-pura memejamkan mata.
"Kapan kamu mau ke rumah sakit, Dan? Kalau besok kontrol, jenguk sekalian Ibu mertuamu." Sontak ucapan Pak Rahman membuatku terbangun dan duduk lagi.
"I-itu, Yah. Nanti saja, nunggu Ibu melewati masa kritisnya." Sungguh aku masih belum siap untuk berbaikan dengan wanita itu.
"Kalau dia tak mampu bertahan?"
"Ya, syukur. Lebih cepat lebih baik, kan?" Segera kututup mulutku dengan kedua tangan. Duh, keceplosan lagi.
"Mas Danu! Tega banget, sih, bilang gitu!" Arini memberengut dan menghentak kaki ke lantai, kemudian melenggang pergi.
Sepertinya ia kesal. Wah, alamat gagal lagi nanti malam. Arini kalau sudah ngambek betah diam berhari-hari, bikin aku salah tingkah.
__ADS_1
"Danu, Danu ... payah kamu!" Pak Rahman pun turut melenggang keluar rumah, pergi menaiki mobil mewahnya.
Tinggallah aku seorang diri yang masih melompong, tak mengerti kenapa mereka bisa marah begitu. Aku, kan, hanya keceplosan.