Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 38 Harapan Danu


__ADS_3

POV Danu


Malam telah larut kala lantunan doa untukku mulai terdengar menyentuh langit. Sosok wanita dengan balutan mukena putih sedang bersimpuh. Dengan diiringi rinai bening yang bergulir di pipi, ia terus meminta Sang Pemilik Kehidupan untuk mengembalikanku.


Hari ini, tepat dua puluh satu hari aku terpisah dari raga. Keputusasaan dan kekhawatiran tergambar jelas di wajah bidadari surgaku. Malam ini tangisnya lebih mendalam dari sebelum-sebelumnya.


Mungkin karena pernyataan ayah tadi sore. Ayah yang tidak tega melihatku terkapar tak berdaya meminta persetujuan ibu dan Arini untuk mencabut semua alat bantu yang menempel di tubuhku.


Entah kenapa ayah justru membuatku makin down. Tidak hanya aku, namun juga istriku yang saat ini sedang mengandung benih dariku. Ya, ada Danu junior dalam rahim Arini.


Aku belum siap untuk mati. Aku tak akan rela meninggalkan Arini dan anakku, aku juga tak rela jika nantinya Arini menikah lagi dan melupakan aku.


Bagaimana pun caranya, aku harus kembali dan tetap hidup. Netraku tak sanggup lagi menyaksikan Arini yang terus-terusan bersedih.


Kutinggalkan Arini yang masih kyusuk dengan doanya. Langkahku keluar menembus pintu, hanya ingin melepas lelah hati dengan memandang gelap lagit dari atas balkon.


Ayunan langkahku terhenti pada sebuah ruang ICU lain. Ada yang menarik perhatianku kala mendengar suara yang pernah aku kenal, suara yang terkesan sedang bahagia.


Benar saja, ketika kepala ini melongok ke dalam untuk memastikan, tampak Niko yang sedang kegirangan karena ibunya baru saja melewati masa kritis.


Hera kritis? Apa yang terjadi dengan wanita penggoda itu? Apa dia sedang kena azab? Ah, kenapa pula aku jadi berpikir seperti di sinetron ikan terbang, ya?


Niko, meski dulu ia ditinggalkan oleh ibunya di panti asuhan, namun nyatanya ia tetap menyayangi Hera. Tak ada kebencian dalam sorot mata itu.


"Niko, maafkan Ibu, Nak." Masih dengan suara lemah Hera meraih tangan anaknya.


"Sudah, Bu. Lupakan yang sudah terjadi, sekarang Ibu harus sembuh dulu."


"Dosa Ibu sangat besar, Niko." Air mata mulai menggenang di kelopak netra wanita yang kini terbaring lemah.


"Ibu masih punya kesempatan untuk berubah."


"Apa semua orang akan bisa memaafkan Ibu?"


Niko menghela napas panjang. Kedua tangan merengkuh jemari milik ibunya. Tatapan teduh berusaha ia berikan untuk wanita yang rupanya kini tengah berada pada fase penyesalan. Wow ... apa yang terjadi sehingga Hera telah berubah? Sepertinya aku ketinggalan sesuatu, deh!


"Berubahlah karena takut dosa, Bu. Bukan karena takut dibenci. Tuhan Maha Pengampun, bertobatlah dan minta ampunan-Nya."


"Iya, Nak. Ibu harap kamu tidak akan membiarkan Ibu menjalani sisa hidupku seorang diri."


"Niko janji akan selalu menjaga Ibu, asal ...."

__ADS_1


"Asal apa? Jangan beri syarat yang berat lagi, Ibu mohon."


"Tidak, Bu. Asal Ibu mau berubah menjadi lebih baik dan mau membenahi hati, itu cukup bagi Niko."


Hera merengkuh kepala Niko, begitu mengharukan menyaksikan kesabaran Niko yang terus menyemangati ibunya. Sungguh ia anak yang baik.


"Beruntung kamu, Hera. Kamu memiliki dua anak yang semuanya tetap menyayangimu meski kamu mengabaikan mereka," gumamku trenyuh menyaksikan semua adegan itu.


Sejurus kemudian Hera melepas pelukan, ia tatap lekat netra pria muda di hadapannya. "Bagaimana dengan Arini? Apa ia membenci Ibu?"


"Tidak, Bu. Dia anak yang baik. Hanya saja, ia tidak kuberitahu kalau Ibu dirawat di sini."


"Kenapa?"


"Kasihan dia. Saat ini ia masih larut dalam kesedihan karena Danu hingga kini masih belum sadar."


"Apa? Apa yang terjadi dengan Danu?" Wanita itu mengernyitkan dahi.


Apa? Dia tidak tahu kalau aku sekarat? Karena ulahnya aku jadi roh bergentayangan begini.


"Ternyata nggak nyadar juga dia! Bikin emosi aja, tuh, Nenek semlohai!" umpatku tak terima.


"Ya, Tuhan ... semua karena salahku. Kenapa aku begitu bodoh sampai melukai menantuku, hiks ... hiks ... hiks ...."


"Halah! Pura-pura menangis. Akting aja kerjaannya!" cibirku sinis, tentu saja ia tak menghiraukan cibiranku.


"Niko, bawa aku ke ruangan Danu dirawat." Dengan susah payah wanita itu berusaha bangkit dari posisinya, namun kondisi tubuh yang masih lemah membuat ia tak bisa banyak bergerak.


"Jangan dulu, Bu. Kondisi Ibu masih lemah."


"Ibu takut, Niko. Ibu takut jika Arini akan menjadi janda muda."


Bola mataku membelalak bulat sempurna, bagaimana bisa ia berpikir aku akan mati?


"Besok akan diadakan doa bersama, setelah itu dokter akan melepas alat bantu yang menempel di tubuh Danu."


Apa? Kenapa Niko bisa berkata seperti itu? Siapa yang punya ide ingin mengakhiri hidupku? Tidak! Aku tidak akan biarkan semua itu terjadi!


"Kenapa harus dilepas?"


Niko kembali menarik oksigen sebanyak mungkin ke paru-paru, sepertinya ia butuh persiapan untuk menjawab pertanyaan Hera.

__ADS_1


"Hari ini sudah dua puluh satu hari dia koma. Keluarganya tak tega lagi melihat keadaan dia yang berada antara hidup dan mati."


"Kalau begitu, besok antarkan Ibu ke sana. Ibu ingin minta maaf sebelum ia pergi." Niko mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


"Enak saja minta maaf, sampai mati juga nggak bakalan aku maafkan!" Aku mendengus kesal.


Kutinggalkan mereka dengan hati yang dongkol. Aku tak bisa biarkan mereka memaksaku untuk mati. Aku harus segera kembali ke raga itu. Harus!


Tuhan, tolong berikan satu kali lagi kesempatan untukku hidup. Aku belum siap untuk mati, amalku masih sedikit. Rasanya tak sanggup jika harus mati dengan dosa yang masih menggunung.


Langkah gontaiku kembali menuju ruangan di mana jasad itu masih menungguku di sana. Detak itu masih ada, napas lemah juga masih bisa dirasakan. Lalu apa yang salah dengan semua ini? Kenapa kesadaran begitu sulit menghampiri otakku?


Kutatap wajah yang kelelahan itu. Ia istirahatkan tubuhnya di sofa sudut yang pastinya tak begitu nyaman untuk tidur, apalagi ada Danu junior di dalam rahimnya. Rasa pusing dan mual membuat morning sickness hampir tiap hari ia alami.


Cekungan mata dengan lingkar hitam masih jelas kulihat sebagai pertanda lelahnya. Pipi Arini juga terlihat lebih tirus, entah sudah berapa kilogram berat badannya turun.


"Arini, tolong jangan pernah putus asa mendoakanku. Aku akan berjuang untuk kembali. Mas tidak rela jika harus meninggalkanmu dengan buah hati kita, Mas ingin hidup bahagia denganmu hingga rambut kita berubah menjadi putih."


Pandanganku kembali nanar terhalang bulir bening. Berharap besok mereka tak akan melanjutkan rencana melepas alat bantu kehidupanku. Semoga masih ada kesempatan untukku. Aku yakin keajaiban kuasa Tuhan itu pasti ada.


***


Mentari telah menjemput fajar, semburat keemasan mulai berpendar memberi tanda kehidupan baru dimulai kembali. Suasana masih hening kala kulihat netra itu mulai membuka mata.


Ia bergegas mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Ya, sedikit telat ia bangun. Tubuhnya terlalu lelah hingga tak mendengar panggilan adzan subuh.


Selesai melakukan kewajiban pada Sang Khalik dan memanjatkan sebait doa, ia melangkah mendekatiku. Cukup lama ia diam memandangiku, sesekali punggung tangannya menyeka bulir bening yang tak mampu ia tahan.


"Maaf, Mas. Terpaksa aku menandatangi surat persetujuan untuk melepas semua alat bantumu. Mungkin ini yang terbaik, kamu tak akan tersiksa lagi dengan sakitmu." Sangat lirih, namun masih dapat kudengar suara penuh keputusasaan itu.


"Jangan, Dek. Jangan lakukan itu. Tolong batalkan! Berikan aku kesempatan, yakinlah bahwa kita masih bisa hidup bersama." Aku meminta dengan sangat, mencoba meraih tangan yang masih tertutup mukena itu.


"Aku ikhlas jika memang ini takdir Tuhan. InshaAllah aku kuat untuk hadapi semua cobaan ini."


"Tidak, Dek. Tolong jangan bilang seperti itu."


Tangan Arini meraih jemari lemahku, ia letakkan telapak tanganku di perutnya yang masih rata. "Tapi ... bagaimana dengan anak kita, Mas? Dia akan kehilangan kasih sayang seorang ayah. Dia pasti akan sedih jika besar nanti."


Perlahan ia menjatuhkan kepalanya di dadaku, pelukan yang ia berikan kali ini begitu kuat, seakan tak ingin melepasku pergi.


"Jangan biarkan Mas pergi, Dek." Lemah rasanya persendianku mendengar ucapan Arini. Ia telah putus asa, lalu bagaimana dengan nasibku? Sungguh aku belum ingin mati.

__ADS_1


__ADS_2