
Setelah berhasil menjebak Bu Hera dengan pertanyaan yang mampu menggiring pengakuan wanita licik itu, Arini langsung menghapus video rekaman yang dijadikan senjata wanita haus belaian tersebut.
Sungguh lega hati ini melihat begitu cerdasnya Arini mengurai benang kusut akibat ulah ibu mertuaku yang kelakuannya sudah abnormal. Tak bisa kubayangkan jika Arini lebih percaya pada ibunya, aku tak akan pernah siap kehilangan wanita yang telah mengalihkan duniaku.
Kini, perhatianku kembali tertuju pada sosok wanita yang membuatku berdecak kagum. Baru kali ini aku menyaksikan kecerdasan istriku, layaknya detektif Conan yang sedang membuka tabir misteri penuh alibi.
Baru saja aku dibuat terperanjat oleh aksinya, sekarang aku dibuat penasaran oleh sebuah video yang ia kirim ke ibunya. Banyak tanda tanya besar yang berputar di otak memenuhi ruang rasa ingin tahu.
Arini menyerahkan kembali gawai Bu Hera dan memintanya untuk membuka video yang ia kirim melalui aplikasi whatsapp. Kali ini selain penasaran, hatiku juga ikut berdetak kencang. Jangan-jangan itu video ....
Netraku seketika mengedar, menyapu seluruh ruangan mencoba menemukan sesuatu yang mungkin diletakkan tersembunyi. Apa mungkin Arini memasang kamera CCTV?
"Sebentar, Dek. Aku mau ke belakang dulu." Tanpa menunggu jawaban Arini aku bergegas pergi dari ruang keluarga.
Kupasang tajam manik mata untuk memeriksa dengan teliti setiap sudut ruang yang kemungkinan dapat digunakan untuk menyembunyikan kamera. Setiap ruangan kumasuki dan kembali pandangan mengedar meneliti inci demi inci setiap ruangan.
Nihil.
Tak satupun aku temukan kamera pengintai terpasang. Artinya, apa yang diperbuat ibu mertua saat menciumku tak terekam oleh apapun. Aku menghela napas lega. Paling tidak Arini tak melihat adegan itu. Bisa mati kutu kalau sampai dia tahu.
Aku kembali melangkah menuju ruang keluarga. Tapi ... kurasa aku ketinggalan sesuatu. Aaah! Bodohnya aku kenapa malah pergi di saat momentum terbaik melihat video yang dikirim Arini ke wanita licik itu.
Empat bola mata itu memandangku secara bersamaan ketika aku duduk kembali di sebelah Arini. Wajah Arini masih sama, ekspresi datar. Berbeda dengan wanita di seberangnya, wajahnya makin pucat pasi.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kepalaku jadi berpikir berat karena pertanyaan itu. "Kalian kenapa?" Akhirnya kuputuskan untuk bertanya daripada selamanya dihantui rasa penasaran.
"Kamu mau lihat juga videonya, Mas?" tanya Arini seraya mengulas senyum.
Duuuh ... bagaimana bisa ia tetap bisa tersenyum dalam situasi seperti ini? Tak ia lihatkah ekspresi ibunya? Dalam dugaanku, pasti ada hal besar yang terjadi dalam video itu sampai-sampai wanita itu diam seribu bahasa dengan wajah pias.
"Video apa, Dek?"
"Nih, liat aja sendiri."
Kuterima gawai yang disodorkan oleh Arini. Sebelum netra ini melihat video yang penuh misteri, kembali kutatap ibu mertua. Beribu kekhawatiran jelas tersirat disorot netra yang semakin meredup sayu.
"Mau lihat nggak?" tanya Arini mengagetkanku.
"Iya, Dek. Sebentar Mas putar."
"Dilihat baik-baik dan jangan kaget."
"Maksudnya apa, Dek?" Dahiku melipat, kedua alis bertaut.
Arini berhasil membuatku semakin penasaran tingkat dewa, bahkan pernyataan dia barusan seperti pukulan telak yang mengancam. Kembali jantung ini memompa lebih kencang.
"Kamu itu aneh, Mas. Kalau pengen tahu ... ya tinggal buka saja terus tonton."
Dengan hati tak menentu, kuberanikan untuk membuka galeri di gawai Arini. Antara harap-harap cemas dan rasa takut berbaur menjadi satu.
Apa? Ya, Tuhan ... ini adalah video saat wanita licik itu menjebakku untuk kesekian kalinya. Video yang kala itu ia sedang berpura-pura sakit, namun saat di tolong justru ....
Mataku membeliak dan mulut menganga lebar. Pantas saja Bu Hera wajahnya langsung pucat pasi, ternyata oh ternyata.
Tapi, tunggu! Darimana Arini dapat video itu, ya? Dia kan masih di luar kota, tidak mungkin ia merekam video itu. Kuamati kembali video itu, jelas perekam ada di balik jendela kaca. Itu artinya ada yang diam-diam merekam dari luar.
Aku rasa nggak mungkin Arini datang kemudian merekam, karena secara logika ia tidak tahu rencana ibunya yang licik itu. Huff ... kepalaku makin pusing.
"Dek, kamu dapat ini dari siapa?"
"Pertanyaan kalian sama, jadi aku jelaskan sekarang, ya. Biar kalian masing-masing bisa jaga sikap, terutama Ibu." Dengan penuh penekanan Arini mencoba memberi peringatan yang membuat aku terdiam bak patung dan wanita liar itu menunduk dalam.
__ADS_1
"Tak perlu kalian tahu aku dapat video itu dari siapa, karena suatu saat kalian akan tahu dengan sendirinya. Masih ada misi lain yang harus ia lakukan, yaitu mengamati gerak-gerik kalian dan melaporkannya padaku."
Apa? Jadi, Arini selama ini menyewa detektif untuk mengawasi kami? Ah, lebay amat, sih! Nggak mungkin, mana ada detektif di kota kecil ini. Tapi ... kalaupun iya, siapa orang yang disewa Arini untuk menjalankan tugas ini?
Lalu bagaimana orang itu bisa mengawasi kami tanpa masuk ke rumah? Masih tak habis pikir, bagaiman dia bisa tahu apa yang ibu mertua lakukan bahkan membuat rekaman itu tanpa seorang pun tahu? Apa benar Arini menyewa detektif profesional? Karena jika ditilik dari cara kerjanya, pekerjaannya begitu rapi.
"Dan sekarang, yang sudah pasti adalah keburukan Ibu sudah terbongkar," lanjut Arini sembari tersenyum masam.
"Aku nggak nyangka saja kalau pelakor yang ingin menghancurkan rumah tanggaku adalah ibuku sendiri." Arini menghela napas dalam-dalam.
Aku tahu perasaan Arini pasti sakit, namun ia mencoba untuk tetap tenang dan menahan semua rasa. Tapi dalam hal ini aku tidak bersalah, wanita ****** itulah biang keladi dari semua kekisruhan rumah tanggaku.
"Aku pikir, ancaman terbesar dalam rumah tanggaku adalah wanita di luar sana. Tapi aku salah, justru ancaman itu datang dari ibu kandungku sendiri. Astaghfirullah ...." Tetiba netra itu tak mampu membendung cairan bening yang merembes dari sudut kelopak.
Ada yang sakit menusuk ulu hatiku kala melihat air mata yang luruh di pipi Arini. Aku mendekat dan merengkuhnya, berharap dekapan ini akan membuatnya lebih tenang.
"Maafkan Ibu, Arini. Ibu khilaf karena melihat ketampanan suami kamu." Tampak Bu Hera menjatuhkan diri ke lantai dan memohon.
"Bukan karena ketampanan suamiku yang menjerat Ibu, tapi Ibu yang terjerat oleh nafsu sampai tak bisa mengendalikan."
"Maaf, Arini. Maafkan, Ibu. Ibu janji tidak akan mengulangi lagi."
"Aku tidak tahu bisa memaafkanmu atau tidak, karena sakit hatiku terhadapmu di masa lalu juga masih menganga. Selama ini, tak ada upaya sedikit pun dari diri kamu sebagai wanita penuh dosa yang ingin memperbaiki diri. Tak ada upaya sama sekali sebagai ibu yang ingin menyembuhkan luka yang kau toreh dalam-dalam pada anakmu ini."
"Apa yang harus Ibu lakukan, Arini? Katakan saja, ibu akan lakukan untuk menebus seluruh kesalahan Ibu selama ini."
Arini mencoba menetralisir suasana hati, sejurus kemudian ia telah kembali tenang. "Mudah. Berikan nomor Hp suami ke empatmu," ucap Arini dengan nada menekan.
Wanita yang telah kehilangan muka itu sontak mendongak, menelisik wajah Arini seolah mencari sesuatu di manik mata wanitaku.
"Untuk apa kamu minta nomor Bobby?"
"Dia ayahku juga, tak ada masalah aku minta nomor Hp-nya."
"Kalian sudah bercerai?"
"Belum. Ibu hanya meninggalkan dia saat ia tidur, gitu aja."
"Sama, ya? Dulu Ibu meninggalkan aku dan Ayah juga saat kami tertidur pulas." Tajam kata-kata Arini menohok hati wanita yang seharusnya ia hormati, tapi sepertinya luka itu sangatlah lebar dan kini Arini hendak melampiaskan dengan caranya.
"Ibu tahu, Ibu salah. Tapi tak perlu kamu ungkit lagi masalah itu."
"Torehan luka yang Ibu tinggalkan terlalu dalam, Bu. Ibu tidak tahu bagaimana setiap hari aku menangis mencari Ibu, ayah mencoba menenangkan aku meski sering gagal." Emosi Arini mulai tak terjaga, ia mulai mengaitkan jemari dan memainkan ibu jari.
"Di tengah malam kala aku terjaga, kulihat Ayah menangis di dekatku. Bahkan ketika mencium dahiku, bisa aku rasakan tetesan air matanya." Luruh sudah buliran bening itu tanpa bisa ia tahan.
"Umurku saat itu memang masih dua tahun, Bu. Tapi luka itu terekam baik dalam memoriku, karena hingga usiaku sepuluh tahun aku masih mengharapkanmu kembali." Arini terisak, kembali kurengkuh bahunya mencoba menenangkan.
"Harapanku pupus saat paman menceritakan semua kenyataan pahit yang terjadi. Kamu tahu, Bu, kenapa aku di asuh oleh Paman?"
Bu Hera menatap putrinya dengan pandangan sendu. Mungkin saja curahan hati Arini menyentuh dasar kesadarannya.
"Karena Ayah tak mampu menahan beban batin yang harus ia tanggung. Ayah shock karena harus kehilangan usaha yang ia bangun bertahun-tahun demi wanita ****** yang ia angkat derajatnya!"
"Cukup, Arini! Aku bukan wanita ******!" Teriak Bu Hera sembari berdiri, mata sendu itu kini berubah nyalang.
"Lalu sebutan apa yang pantas untukmu?" Sinis Arini membalas.
"Darwin pasti sudah mencuci otakmu!"
"Hahaha ... untuk apa Paman mencuci otakku? Justru paman yang menyadarkan aku dari kebodohanku selama ini."
__ADS_1
"Cukup, Arini. Kamu hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa."
"Anak kecil yang hampir saja suaminya ibu curi, ya?"
Hampir saja aku tertawa mendengar ucapan Arini. Pandai sekali wanitaku membalikkan kata. Kalau debat denganku, sudah bisa dipastikan aku bakalan kalah telak. Beruntung selama ini dia tidak pernah mengajakku berdebat.
Kulihat wajah Bu Hera memerah. Antara malu dan ingin marah. Wajahnya sudah mirip kepiting rebus, hahaha ....
"Siapa juga yang mau mencuri suamimu? Ibu kan sudah bilang, Ibu khilaf bukan hendak mau mencuri suami anak sendiri."
"Oh, ya? Itu kalau tidak ketahuan mungkin udah parah kali, ya?"
"Dasar, anak kurang ajar!" Hampir saja tangan wanita ****** itu mendarat di pipi mulus Arini, dengan sigap aku menangkis tangan setan pemuja nafsu.
"Cukup, Bu. Sebaiknya Ibu pergi dari rumah ini," ucapku seketika yang justru disambut tawa oleh wanita tak tahu malu itu.
Hei, apanya yang lucu? Kok, malah dia tertawa?
"Danu, Danu ... kamu ini sama aja numpang, nggak ada hak kamu mengusirku."
Benar juga, ya? Duh, nasib ... begini amat nasib suami yang tinggal di rumah istri. Jadi tidak punya taring kalau caranya begini.
"Aku suaminya Arini, jadi aku berhak melakukan apapun demi melindungi dia!" ucapku membela harga diri, demi menutupi rasa malu yang sempat hinggap.
"Mas Danu suamiku, Bu. Dia sudah berusaha menjaga hatinya untukku. Aku percaya dia, karena aku lebih tahu siapa suamiku."
Yes! Arini membelaku. Ingin rasanya segera kupeluk dia erat-erat dan mengajaknya ke lautan asmara. Ups, saking senangnya nih hati sampai pengen ....
"Denger itu, Ibu mertua yang hobinya menggoda," ejekku penuh kemenangan.
"Arini, aku ini ibumu. Kuwalat kalau kamu mengusir ibumu sendiri. Bisa jadi anak durhakan nanti."
Sumpah, jujur aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Benar-benar wanita tak tahu malu.
"Berikan nomor suami ke empat Ibu, biar Arini hubungi. Dia harus jemput ibu, karena ibu adalah tanggung jawabnya."
"Tidak Arini, jangan lakukan itu. Ibu nggak mau tinggal dengan Bobby."
"Apa Ibu mau jadi istri durhaka selamanya?"
"Arini, tolong jangan ... Ibu mohon. Ibu janji nggak akan godain Danu lagi."
"Janji?"
"Iya, Ibu janji. Tapi jangan telepon Bobby."
"Jadi, namanya Bobby? Pegangi Ibu, Mas!" Seru Arini sembari merebut gawai yang ada di tangan Bu Hera.
Paham dengan maksud Arini, aku langsung menghalangi Bu Hera yang hendak mengambil lagi gawainya. Dengan cepat Arini menyalin nomor seluler yang bernama Bobby.
"Sudah aku salin, jadi ... kalau Ibu macam-macam lagi, tinggal aku hubungi dia."
"Licik kamu, Arini!" Dengkus wanita itu kesal dan hendak berlalu dari hadapan Arini.
"Ibu mau menata pakaian?" tanya Arini setengah mengejek.
"Nggak! Ibu mau tidur!"
"Eits! Emangnya ini rumah Ibu?" Arini mencoba menghadang ibunya.
"Tau, ah! Peduli amat! Dah, minggir!" Wanita itu menepis tangan Arini.
__ADS_1
Kulihat Arini tersenyum puas. Aku ayun langkah mendekati wanita superku. Kuacungkan dua jempol untuknya dan dibalas dengan senyum datar. Seketika hatiku menciut. Apa dia marah padaku?
"Awas kalau kamu mau dicium Ibu lagi? Kupotong habis bibirmu!" ucap Arini yang membuatku melongo, kok dia tahu?