
POV Bobby
Kejadian yang menimpa Danu membuat rencanaku harus terhenti sementara waktu. Aku juga tak tega melihat Arini yang tengah bersedih karena melihat suaminya harus terbaring lemah dengan alat bantu menempel pada tubuhnya.
Kasihan wanita muda itu. Sejak kecil sudah kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua, dan kini harus menerima kenyataan pahit bahwa ibu yang sangat ia harapkan kepulangannya justru membawa bencana dalam rumah tangga yang baru saja ia bangun.
Arini sangat berbeda dengan Hera, baik dari penampilan maupun karakter. Di mataku ia wanita tangguh dan juga cerdas. Cara memajemen emosi begitu apik. Pembawaannya kalem dan tenang, tidak suka mengedepankan emosi.
Yang aku suka dari Arini adalah cara ia menghadapi masalah. Aku belajar banyak hal darinya, termasuk bagaimana cara menghadapi Hera yang arogan. Banyak hal yang aku kagumi dari sosok muda nan lincah itu.
Ah, diam-diam kehadiran Arini mengusik pikiranku. Seandainya takdir mempertemukanku dengannya sebelum Hera hadir dalam kehidupanku. Tapi rasanya itu tak mungkin. Ya, aku tahu ... itu semua hanyalah sebatas kata andai saja.
Aku sadar, ada banyak hal yang akan menghalangi perasaan itu. Salah satunya adalah statusku sebagai ayah tiri, dan juga keberadaan Danu sebagai suami Arini. Hmm ... laki-laki itu memang beruntung dapat memiliki Arini.
Menurutku, Danu itu lelaki payah. Tampang oke tapi otaknya minta ampun, dah! Sudah lemot, sok pahlawan pula. Entahlah, setiap mengingat Danu justru emosi yang ada.
Arini tidak melibatkan ia dalam rencana karena kebiasaan Danu yang suka keceplosan. Tak wajar saja, dia laki-laki tapi seperti punya kebiasaan latah. Mungkin kalau masuk lambe turah cocok banget, tuh!
Jujur, aku sebagai sesama pria merasa Danu bukanlah lelaki tulen. Namun, terlepas dari semua keburukannya, ada satu hal yang patut diacungi jempol. Danu memiliki kesetiaan yang begitu kuat, ia mampu menolak pesona tubuh molek Hera.
Matahari telah melampaui batas antara pagi dengan siang. Namun, masih kulihat Arini memeluk lengan Danu. Sesekali ia menyeka rinai bening di pipi. Sungguh tak tega melihat pemandangan menyedihkan seperti itu.
Baiklah, aku tak boleh membiarkan dia larut dalam kesedihan. Kubuka pintu dan mengajaknya keluar. Aku rasa angin di luar ruangan dapat menyegarkan otak dan mengembalikan mood dia.
Semangkok soto telah masuk ke perutnya, senyum yang sejak kemarin malam hilang kini mulai muncul lagi. Cukup membuatku sedikit tenang, meski tak dapat dipungkiri ada kekhawatiran melihat wajah Arini yang pucat.
Menurut pengakuan Arini, ia mual dan pusing sejak kemarin. Apa mungkin dia hamil? Jika benar itu artinya aku harus benar-benar mengubur seluruh rasa yang muncul di permukaan hati.
Beberapa hari aku menemani Arini di rumah sakit, membuatku ingin terus melindunginya. Bahkan aku rela tidur dalam dingin hembusan angin di rumah sakit, semua demi dia. Semua kebutuhan aku cukup telepon Niko atau Pak Nardi, sopir keluargaku.
Semua kulakukan untuk Arini, sebelum akhirnya kedua mertua Arini datang. Tak ingin mereka menaruh curiga, aku harus mengalahkan rasa ingin terus berada di sisi Arini. Aku harus meredamnya.
***
__ADS_1
Hari ini adalah kelanjutan dari misi yang sempat tertunda. Semua telah diatur secara rapi. Seperti perkiraan, Hera tak akan pernah sanggup hidup susah. Ia pasti akan menemui Niko untuk menumpang hidup enak.
Hera, wanita gila harta dan budak nafsu itu dengan mudah masuk perangkap. Ia mendatangi Niko dan menyetujui semua persyaratan yang diajukan Niko. Meski syarat yang diajukan oleh Niko untuk membuat ibunya berubah, namun aku tak yakin Hera bisa.
Terbukti ... baru tiga hari ia merawat Rahman, ia sudah naik pitam. Semuanya terbongkar kala aku datang ke sana dan berpura-pura tak mengenal pria berusia setengah abad yang pernah kubantu beberapa tahun yang lalu.
Ya, semua kepura-puraan Hera tersingkap sudah. Wanita itu teramat sulit berubah, di hatinya masih tetap menomorsatukan harta. Dia memang tak pantas mendapatkan cinta tulus, dia sama sekali tak pantas mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
Cukup sudah rasanya mengetahui semua. Rahman pun kurasa akan berpikir hal yang sama denganku. Kini, Hera kehilangan seluruh harapan. Tak akan ada lagi pria yang mau menerima kehadirannya. Ia telah menyia-nyiakan kesempatan hidup yang lebih baik.
Kulangkahkan kaki pergi dari rumah Rahman, meninggalkan masa lalu yang harus aku sirnakan dalam ingatanku. Puas rasanya membuat Hera kehilangan segalanya. Kini, ia tak akan punya tempat berteduh karena aku tak akan pernah mengijinkan Niko membawa ibunya ke rumah.
Aku berhak melarang karena segala fasilitas yang digunakan Niko berasal dari orang tuaku. Meski Niko telah dianggap anak di keluargaku, namun tak sedikit pun harta yang menjadi haknya.
Senyum penuh kemenangan mengembang, inilah saatnya aku memulai masa yang baru. Lepas dari bayang dendam masa lalu. Dapat melihat hidup Hera sengsara menjadi gelandangan di jalanan sudah cukup membuatku puas.
***
Gawaiku bergetar ketika pandanganku sedang menikmati syahdunya debur ombak di laut. Menikmati semburat jingga langit senja membuatku melepas segala beban.
Pandanganku kembali ke laut lepas menembus batas cakrawala, menyaksikan sang mentari yang mulai memasuki peraduan dan berganti tugas dengan rembulan yang muncul membentuk sabit.
Kuabaikan segala rasa yang membuncah dan memilih menghabiskan waktu di dalam mobil hingga petang berlalu. Lirik lagu 'Tak Ingin Dia' milik Dewi Sandra mengiringi anganku yang menerawang jauh.
“Apapun alasanmu kuingin kau sengsara tuk selama-lamanya. Kuyakin kau kini akan menyesali, walau memohon tuk kembali silakan saja kau bermimpi.”
Penggalan lirik itu begitu mewakili perasaanku selama ini. Pembalasan telah usai, kini waktunya menata kembali yang pernah terlewat sia-sia.
Kuputar kemudi dan melajukan mobil, kembali membelah jalanan tengah malam menuju rumah sakit tempat Arini yang sedang menanti Danu sadar dari koma.
Sesampai di depan rumah sakit, kuurungkan niat untuk masuk ketika pandanganku menatap sosok Niko sedang berdiri gelisah. Berkali-kali ia menatap gawai seolah ada yang ia tunggu.
Baru aku ingat, sedari sore gawaiku bergetar berkali-kali namun kuabaikan. Kuraih gawai yang ada di sampingku, mencoba melihat notifikasi yang masuk.
__ADS_1
Dua puluh tiga panggilan dari Niko. Ah, tapi aku masih belum berminat mendengar apapun tentang dia dan ibunya. Sebaiknya aku kembali ke rumah saja.
***
Keesokan harinya ....
Kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan juga koridor rumah sakit. Namun, wanita yang kucari tak dapat kutemukan.
Kususuri kembali balkon rumah sakit yang ada di lantai tiga ini. Hmm ... ternyata dia sedang menikmati sinar mentari pagi. Ia tersenyum saat melihat kedatanganku.
Pagi ini, aku sengaja membawakan sarapan bubur ayam dan sebotol susu sapi. Sebuah kejutan berupa testpack juga aku hadiahkan untuknya. Apapun hasilnya, aku akan turut bahagia.
Selesai menikmati sarapan, seperti anjuranku ia bergegas ke toilet untuk melakukan test urine. Seperti dugaanku, ia memang hamil. Senyum hambar kulepas saat menyaksikan ia bersemangat lari menuju ruang ICU.
Ya, ia melampiaskan kebahagiaan dengan raga Danu yang tak juga terbangun. Aku tahu ia berharap setelah Danu mendengar berita kehamilannya, Danu akan merespon.
Benar, Danu merespon meski hanya dengan gerakan jari sejenak. Namun, respon itu cukup membuat Arini heboh kegirangan. Meski setelahnya ia harus menelan kembali kekecewaan.
Ingin sekali langkah ini mendekat, namun sebuah tangan mencegahku. "Bang, tolong Ibu. Dia terkena serangan jantung, kondisinya kritis." Suara Niko membuyarkan seluruh inginku.
"Maksud kamu, Hera sakit?" Alisku bertautan mendengar ucapan Niko.
"Iya, Bang. Ibu tidak sanggup menerima kenyataan setelah tahu kita menjebaknya. Dia sekarang kritis dan aku butuh biaya untuk pengobatan Ibu." Wajah Niko penuh kekhawatiran, aku tahu ia masih menyayangi ibu yang telah tega menitipkannya di panti asuhan.
"Tenanglah, jaga ibumu. Jangan pikirkan biayanya."
"Terimakasih, Bang. Maafkan semua kesalahan Ibu. Aku sebagai anak dengan sangat meminta maaf untuknya."
"Niko, sudahlah. Ibumu sudah mendapat pelajaran. Sekarang yang terjadi adalah apa yang ia tuai dari semua perbuatannya."
"Aku tahu, Bang. Tapi bukan ini yang aku harapkan. Aku hanya ingin Ibu berubah."
"Tapi kamu lihat sendiri, kan? Dia justru makin parah. Sekarang doakan saja dia, semoga ia punya kesempatan untuk bertobat sebelum napas menyangkut di kerongkongan."
__ADS_1
Niko hanya terdiam. Kesedihan jelas tersirat. Antara sedih dan kecewa dengan apa yang telah terjadi. Kutepuk bahunya untuk menguatkan hati yang mungkin kini rapuh.
Kutemani ia melangkah ke ruang lain, tampak Hera masih menutup mata dan selang oksigen terpasang di hidungnya. Wanita yang dulu begitu aku cinta kini bernasib tragis. Ia harus menerima balasan yang tak pernah ia sangka.