Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 41 Apa Salahnya?


__ADS_3

Kala bintang itu terus berputar dan menimbulkan rasa nyeri di kepala, segera kuteguk minuman yang telah tersaji di hadapanku. Perlahan pusing itu berkurang, kupijit pelipis dan kembali meneguk air.


"Kenapa, Mas? Mas Danu nggak enak badan?" Tampak Arini begitu khawatir, mungkin karena keadaanku yang belum benar-benar fit.


"Nggak, Dek. Kepala Mas hanya sedikit pusing." Kugelengkan kepala dan masih memijat pelipis.


"Mau pulang saja?" Ia genggam jemariku, tatapannya penuh kecemasan.


"Nanti saja, Dek. Nggak enak dengan Niko."


"Ya, sudahlah. Tapi kalau memang Mas nggak kuat, kita bisa pulang."


Sekali lagi kugelengkan kepala. Rasa penasaran lebih menguasai pikiranku. Aku tak boleh melewatkan sedikit pun cerita yang terjadi.


"Selamat sore semua, terimakasih telah hadir dalam perayaan ulang tahun Yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda yang ke-36 tahun." Niko memulai sambutannya.


"Sebagai anak asuh yang telah mendapat bantuan dari panti asuhan ini, saya benar-benar berterimakasih kepada semua pengurus panti asuhan dan juga para donatur. Berkat kalian, banyak anak-anak yang kehilangan kasih sayang orang tua menemukan keluarga baru di sini."


Sejenak Niko terdiam, menjeda pidato untuk menghela napas. Seulas senyum ia hadirkan.


"Spesial terimakasih untuk Bang Bobby dan keluarga yang selama ini telah mengadopsi aku, bahkan dikuliahkan hingga luar negeri dan dapat belajar bisnis." Kembali senyuman bahagia mengembang dari bibir pemuda lajang itu, pandangannya ke arah Bobby yang duduk dengan Pak Rahman.


"Terimakasih juga untuk Ayah Rahman yang selalu menyayangi aku meski bukan anak sendiri, bahkan berkenan membimbing Niko dalam merintis usaha dan memberikan modal yang cukup besar untuk mengembangkan bisnis." Kepala Niko menunduk sejenak memberi penghormatan pada Pak Rahman yang tentunya dibalas dengan acungan jempol oleh Pak Rahman.


Mendengar itu semua satu persatu pertanyaan yang memenuhi ruang pikiran mulai mendapat jawabnya. Bola netra ini tak lepas dari sosok muda yang telah sukses itu.


"Tuhan Maha Adil. Tuhan mengganti semua duka dengan sejuta kebahagiaan. Aku mendapatkan kasih dari orang-orang yang menyayangiku. Dan sekarang pun Tuhan masih baik karena Dia mengembalikan Ibuku."


Netraku mengekori arah tangan kanan Niko menunjuk ke meja yang ada di ujung ruangan. Hera? Wow! Penampilannya, MashaAllah ... sangat jauh berbeda dengan biasanya.


Wanita dalam balutan gamis syar'i maroon itu berdiri memberi salam kepada yang hadir, kemudian langkahnya maju ke panggung. Niko menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman di pipi kiri dan kanan.


"Ini adalah Ibuku. Beliau rela berpisah denganku demi kehidupanku yang layak. Tak ada cacat dalam dirinya di mataku. Dan sekarang, Ibu telah kembali dan memilih untuk mengabdikan diri di panti asuhan ini."


Niko merengkuh bahu wanita itu, tampak terulas senyum bahagia di bibir keduanya.

__ADS_1


"Ibu memilih menjauh dari kehidupan mewah, beliau tak tergiur dengan kesuksesan yang aku miliki sebagai anaknya. Terimakasih, Ibu. Tetaplah jadi Bu Hera yang sekarang." Senyuman Niko kali ini penuh arti, bulir bening yang mengambang di kelopak netra segera ia seka sebelum jatuh.


Lagi-lagi aku tercengang. Wanita itu telah berubah begitu drastis. Ia yang dulu pemuja harta dan nafsu kini justru telah berani mengambil keputusan untuk berhijrah dan meninggalkan kehidupan mewah.


Keputusan untuk mengabdikan diri di panti asuhan bukan suatu hal yang mudah kurasa, mengingat bagaimana perangainya selama ini.


Niko mengakhiri semua sambutan, ia menggandeng ibunya untuk turun dari atas panggung. Langkah mereka menuju meja di mana aku dan Arini berada bersama Pak Rahman serta Bobby.


"Arini, maafkan Ibu. Maafkan semua kesalahan yang pernah Ibu perbuat. Ibu tahu, Ibu sudah keterlaluan. Namun, berikan Ibu kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap wanita itu saat tiba di hadapan kami.


Apa? Maaf? Enak saja dia minta maaf setelah membuatku sekarat hingga dua puluh satu hari. Harusnya dia kena karma dahulu, baru insaf.


"Wanita tidak tahu malu!" semprotku seketika seraya berdiri dan menggebrak meja, tak sabar lagi aku ingin meluapkan emosi yang dipenuhi dendam ini.


Tak kupedulikan tatapan orang-orang yang secara serempak menjadikanku pusat perhatian.


"Mas!" Arini memegang tanganku, ia berusaha menghentikan emosiku. Namun, itu percuma karena aku telah menahan hasrat ingin menghajar wanita jahanam itu sejak lama.


"Kamu pikir membuat aku koma hingga berhari-hari itu hal yang mudah dimaafkan? Tidak wanita jahat! Kamu membuatku sekarat dan ketakutan jika malaikat pencabut nyawa itu datang!" teriakku tak terkontrol lagi.


"Hidupmu itu penuh drama! Harusnya kamu tidak di sini, tapi harusnya kamu membusuk di penjara untuk mendapatkan karma dari semua ulahmu! Dasar wanita jahat! Tidak punya malu! Binal!"


"Danu! Stop menghina Ibuku!" Niko menarik kerahku dan kepalan itu siap membogemku, kilatan merah padam di netranya mengisyaratkan ia tidak terima jika ibunya mendapat hinaan dariku.


Kutepis tangan kekar itu dengan kasar dan mendorong tubuh Niko. "Kamu tahu yang dilakukan Ibumu, semua perkataanku tentang Ibumu itu benar adanya!"


"Tapi tidak perlu kamu umbar aib Ibu di sini, di depan orang banyak!" Niko masih saja membela wanita jahanam itu.


"Mas, Ibu sudah ingin berubah. Sudahlah, kita lupakan semua yang terjadi, kita mulai lagi dari awal. Beri Ibu kesempatan." Arini menggamit lenganku dan mengelus bahuku.


Kucoba menarik seluruh oksigen di ruangan itu, menghelanya kuat-kuat untuk menghilangkan sesak di dada yang begitu menghimpit. Rasanya tidak rela membiarkan mereka memaafkan wanita itu dengan mudah.


"Aku ingin pulang! Tak akan pernah sudi melihat wajah penuh drama macam dia!" Aku melenggang keluar meninggalkan ruangan yang tetiba berasa panas sembari menarik tangan Arini.


"Mas, tunggu ... kasihan Ibu. Sudah sewajarnya kita memaafkan."

__ADS_1


"Nggak, Dek! Sekali tidak tetap tidak! Ingat, siapa yang berusaha merusak rumah tangga kita? Dia! Ibu kamu sendiri yang tega merayu menantunya!" teriakku makin histeris tak peduli dengan orang-orang yang terperanjat mendengar semua ocehanku.


Bisik-bisik para tamu undangan mulai terdengar. Ada yang memandang jijik bahkan sinis terhadap wanita itu. Biarkan saja, wanita itu pantas diperlakukan seperti itu.


"Danu! Cukup kamu permalukan ibuku! Pergi kamu dari sini!" usir Niko seraya mendorongku kasar.


"Tanpa kamu usir pun aku akan pergi!" Kutepis kasar tangan kekar itu. "Arini, kamu mau pulang atau tetap ingin di sini, terserah kamu!"


Kulangkahkan kaki penuh emosi, kuabaikan teriakan Arini yang mencoba memanggilku. Sejenak kemudian suasana riuh karena wanita jahanam itu pingsan.


Tak kuhiraukan keadaan yang kacau itu, bahkan Arini yang sedang kebingungan antara memilih mengikutiku atau menolong ibunya sengaja kubiarkan ia memilih.


Netraku tak lepas memandangi Niko dan Bobby yang mengangkat tubuh Bu Hera dan membawanya ke mobil. Mungkin akan dibawa ke rumah sakit.


"Jantung Ibu kambuh, Mas," ujar Arini dengan wajah duka, mendung itu jelas bergelayut di bola mata sayu.


Aku hanya bisa menghela napas panjang. Antara senang dan ... entahlah, aku tak tahu perasaan apa ini. Yang pasti aku merasa wanita itu pantas mendapatkan karma dari semua ulahnya.


"Kenapa Mas Danu nggak punya hati?" Tetiba Arini memukul lengan atasku.


Tak ada kata-kata yang dapat kuucap. Apakah tindakanku tadi salah? Apakah aku tidak berhak meluapkan semua rasa yang kupendam selama ini?


Semua sikapnya selama ini masih terekam dalam jejak ingatanku. Bagaimana ia menjadikanku sasaran setiap ancaman, membuat hidupku tak pernah tenang.


Lebih parahnya saat ia ingin menghabisiku dengan vas bunga. Sudah sepantasnya ia hidup di balik jeruji penjara karena ulah barbar yang melampaui batas.


Lalu, sekarang Arini bilang aku tidak punya hati? Ya, Tuhan ... apa wanita itu tak pantas menerima karma?


Kutatap lekat wanitaku. Kepalan tanganku mengeras, gemeretak gigi menandakan begitu dalam emosi yang aku rasakan. "Sampai kapan pun, aku akan membenci ibumu, Dek."


Kata-kataku membuat Arini tercengang, seolah ia tak percaya bahwa seorang Danu ketika sudah mendendam maka keraslah hati.


Ya, aku Adarga Handanu ... tak bisa menerima segala kesalahan ibu mertua yang sudah melampaui batas kewajaran. Aku sekarat karena ulahnya, dan sekarang ia pun harus merasakan hal yang sama. Mungkin saja sekarang ia tengah ketakutan karena sedang menghadapi malaikat pencabut nyawa.


Entahlah ... hatiku sudah tak ada empati lagi. Kutinggalkan Arini yang memilih menaiki mobil Pak Rahman untuk menyusul ke rumah sakit.

__ADS_1


Ya, istriku memilih ibunya. Ibu yang hendak merusak mahligai rumah tangganya. Biarlah ... biar waktu yang akan membuka mata hati Arini.


__ADS_2