Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 45 Lelaki Cerewet


__ADS_3

Hari demi hari kecurigaanku mulai terbukti. Kedatangan Bobby yang semula karena alasan urusan bisnis denganku, membuat semuanya menjadi dilema berkepanjangan.


Di sisi lain, aku masih ada ikatan kerjasama dengan pria itu. Namun, tak dapat kupungkiri bahwa perasaan Bobby ke Arini kian menyeruak dan tak dapat ia tahan.


Siang itu, kala mentari mulai mendekat di atas kepala ... Bobby mencuri start untuk datang ke rumah lebih awal. Seperti biasa dengan alasan ikut membantu menyiapkan sajian.


Kali ini dia membawa cukup banyak makanan catering. Ya, memang hari ini acara tasyukuran kecil-kecilan karena proyek kerjasama kami telah sukses. Semua relasi yang terkait saja yang diundang, termasuk Pak Rahman.


"Danu! harusnya kalau sudah kerepotan seperti ini, kamu cari asisten rumah tangga untuk bantu istrimu. Bukan malah hanya lihatin saja!" Bobby mulai dengan komplainnya.


Entahlah, aku merasa dia itu laki-laki tapi cerewetnya melebihi emak-emak. Sudah berapa kali ia mengkritik sikapku yang seolah tak mampu membuat Arini hidup nyaman.


"Kemarin Arini bilang mau pesan catering saja, Bang. Makanya aku nggak ikut bantu, kupikir nggak akan kerepotan lagi."


"Kenapa kamu nggak bisa mikir, Arini itu punya anak kembar. Tiap malam pasti sudah capek karena kurang tidur jagain anak-anak, tapi masih harus mengerjakan semua kerjaan rumah, ditambah untuk acara tasyukuran saja harus dia yang urus."


Semakin lama eneg juga dengar ocehan laki-laki yang cerewet itu. Sok tahu apa yang dirasakan Arini. Belum juga mulut ini mengucap kata kembali tetiba suara ayah mertua terdengar.


"Benar kata Bobby, Danu. Istrimu pasti sudah capek. Kamu ini sudah banyak rejeki, nggak akan susah untuk bayar asisten rumah tangga untuk bantu-bantu istrimu."


Aku menoleh. Pak Rahman telah berdiri di ambang pintu ruang tengah yang dijadikan tempat meletakkan stok makanan saji. Kedatangannya diikuti oleh tiga orang wanita dan dua orang laki-laki.


Mereka tanpa banyak dikomando langsung segera mengambil alih pekerjaan yang sedari tadi dikerjakan oleh Bobby. Dalam sekejap meja prasmanan telah tertata rapi lengkap dengan semua peralatan dan makanan saji.


"Eh, Ayah. I-iya, Yah. Tapi Arini tidak meminta. Coba saja nanti tanya Arini." Aku masih mencoba membela diri.


Jujur, aku mulai dongkol. Bagaimana bisa ayah mertua malah lebih memihak Bobby. Apa karena ia merasa hutang budi? Jangan-jangan dugaanku benar ... ada udang di balik batu.


Dengan gusar kutinggalkan mereka menuju kamar. Kutemui Arini yang sedang duduk dekat box bayi dan mengayunnya.


"Kenapa, Mas? Kok bibirnya manyun gitu?" tanya Arini ketika aku menghempas tubuh ke peraduan dengan kasar.


"Tuh! Ayah dan Ayah tirimu kompakan mojokin aku!"


"Mojokin gimana?"


"Katanya aku nggak peka, Dek. Sekarang Mas tanya, apa kamu butuh pembantu untuk menyelesaikan semua pekerjaan?"


Arini mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum. Sejenak tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh si kembar yang tengah terlelap dalam buai mimpi.


Sejurus kemudian, Arini membenahi hijab berwarna hijau army yang menutup kepala hingga melampaui dada. Hari ini kulihat wajah lelah itu lagi. Hembusan napas berat mampu kudengar meski perlahan.


"Kamu kelihatan capek banget, Dek?"


"Iya, Mas. Semalam Putri rewel."


"Kok, kamu nggak bangunin aku untuk gantian?"


"Nggak tega lihat Mas Danu juga dah capek seharian kerja."


Kuminta Arini duduk di sebelahku, kemudian kurengkuh tubuhnya. "Maafkan Mas, karena belum bisa membuatmu bahagia sepenuhnya. Besok kita cari asisten rumah tangga, ya?"


Arini menoleh dan menatapku keheranan. "Aku memang lelah dengan semua kerjaan, Mas. Tapi ...."


Ada keraguan dalam ucapan Arini. Entah apa yang sebenarnya ia pikirkan. Jelas, gurat wajah manis itu begitu sayu karena lelah. Tapi sepertinya ia tahan dan tak ingin membicarakannya.


"Tapi apa, Dek? Kita ini sudah dikasih rejeki lebih dari cukup. Jadi, kalau butuh pembantu sudah pasti bisa bayar. Kita ambil aja dua sekaligus, yang satu untuk bantu jagain Si Kembar, dan yang satu bantu beresin rumah."


"Iya, Mas. Aku tahu kita sudah mampu. Tapi ... aku belum siap ada orang lain masuk rumah kita lagi. Jujur, aku trauma dengan kejadian sebelumnya."


"Maksud kamu?"


"Mas, bukannya aku nggak percaya dengan keteguhan hati Mas Danu, bukan juga meragukan kesetiaan Mas, tapi ... jujur, aku takut kejadian sebelumnya akan terulang lagi."


"Ya ampun, Dek. Kamu ini sampai segitunya. Mas janji, semua akan baik-baik saja. Cinta Mas hanya untuk kamu seorang." Kembali kupeluk tubuhnya, kecupan hangat kudaratkan bertubi-tubi ke pipi yang mulai chubby itu.

__ADS_1


****


Aku masih berbelit handuk ketika suara bel pintu berbunyi. Kudengar langkah Arini di luar kamar sedang tergesa menuju pintu depan.


Tak berselang lama, Arini kembali dan membuka pintu kamar. Ia langsung menyuruhku segera memakai baju dan menemui ayah mertua.


Sebentar ... ayah mertua yang mana, ya? Yang tua apa yang muda?


"Dek, yang datang ayah siapa?" tanyaku sebelum ia menghilang kembali di balik pintu.


Kulihat justru Arini menepok jidat. Padahal, kan, aku sekedar tanya. Apanya yang salah?


"Mas Danu sehat? Apa perlu periksa ke dokter? Mungkin ada masalah dengan isi kepala Mas Danu."


"Lho ... gimana, sih? Mas ini tanya, Dek."


"Iya, pertanyaanmu nggak mutu. Sudah jelas kalau aku panggil 'Ayah' itu artinya Ayah Rahman. Kenapa masih tanya?"


Sedikit kukernyitkan dahi, "Oh, iya, ya ... Mas lupa, Dek. Kan, kalau ke ayah muda panggilnya 'Bang Bobby'. Ah, kenapa bisa jadi lupa, ya?"


"Sudah, buruan jangan pakai lama. Ayah sudah nungguin!"


"Iya, iya."


Segera kuambil baju dari lemari, kemudian menyisir rambut. Kulirik pintu, sudah tak ada lagi wanitaku. Sudah pasti dia ke dapur untuk menyiapkan minuman.


Segera langkah kuayun menuju 'Big Boss' yang selama ini memberiku banyak jalan menuju sukses. Siapa lagi kalau bukan ayah mertua yang siap mewariskan seluruh hartanya untuk istri dan anak-anakku.


Kujabat tangan lelaki penuh kharisma itu. Di sisi lain ada gadis muda yang cukup manis dengan dandanan yang sangat sederhana. Jika ditilik, usianya sekitar dua puluh tahunan.


Sejenak kuperhatikan gadis itu. Wah, jangan-jangan dia mau jadi ibu mertua tiri, nih. Bahaya, bisa-bisa menguasai harta Pak Rahman.


Netraku berpindah ke Pak Rahman yang masih menyeruput kopi buatan Arini. "Gila, nih, aki-aki. Masa mau nikahin gadis muda begini?" gerutuku dalam hati, ya jelas dalam hati lah ... mana berani aku ungkapin lewat bibir. Yang ada bisa-bisa aku dipecat jadi menantu.


Tampak wanita bernama Sri itu tersenyum dan sedikit mengangguk mengiyakan perkataan Pak Rahman.


"Bawa KTP?" tanya Arini dengan nada ingin menginterogasi.


"Sudah di tangan Tuan Rahman, Non."


"Nggak usah se-formal itu. Panggil saja aku 'Mbak Arini', aku nggak suka panggilan yang membedakan strata sosial kayak gitu."


"Eh ... iya, Mbak." Sri tampak masih kikuk, mungkin karena masih baru ketemu atau memang di tempat sebelumnya dia diharuskan memanggil dengan cara tuan-nyonya.


"Sudah ... jangan khawatir, Arini. Dia rekomendasi dari Bobby, jadi dijamin sip!" Pak Rahman menimpali.


"Apa? Rekomendasi Bobby, Yah?" Netraku membeliak, kenapa harus laki-laki itu lagi yang membantu?


"Kenapa, Dan? Selama ini pembantu di rumah Ayah juga rekomendasi dari dia. Dia carinya bukan di yayasan, tapi dia minta pembantu atau sopirnya untuk nyari ke desa mereka."


"Oh, begitu."


"Iya. Sejauh ini, orang-orang yang direkomendasi oleh Bobby kerjanya memuaskan dan yang pasti mereka betah kerja di tempat Ayah."


Aku hanya manggut-manggut mendengar penuturan ayah mertua yang ternyata sudah percaya sepenuhnya ke Bobby.


"Arini, ini KTP milik Sri. Nama lengkap dia Asriningsih, panggilannya Sri." Pak Rahman menyerahkan kartu tanda penduduk milik gadis empunya senyum berlesung pipit itu.


"Baiklah, Sri. Aku antar kamu ke kamar, istrirahatlah sejenak. Masalah kerjaan bisa kamu selesaikan setelah lelahmu hilang."


"Iya, Non. Eh ... Mbak. Maaf lupa."


Sri mengekori langkah Arini menuju kamar yang telah disediakan Arini. Bukan, bukan kamar dalam rumah. Melainkan paviliun kecil samping rumah.


Arini kala itu menyetujui adanya jasa asisten rumah tangga, namun ia tak mengijinkan untuk tinggal dalam satu rumah. Atas idenya, dibangunlah sebuah paviliun dalam waktu singkat.

__ADS_1


Ya, kekhawatiran Arini sangat masuk akal mengingat pengalaman pahit yang sempat menguji kekuatan cinta dan layar bahtera rumah tangga kala itu.


Aku tak menampik, trauma yang ditinggalkan oleh Bu Hera begitu membekas dalam ingatan. Dan sekarang, Arini jauh lebih waspada. Ah, ternyata wanitaku takut kehilangan suami tampan macam aku ini.


Aku berharap kali ini tak akan terjadi lagi. Aku pastikan hatiku akan tetap utuh hanya untuk Arini seorang. Akan kutepis setiap kekhawatiran yang menghinggapi hati belahan jiwaku.


Aku yakin, Tuhan tak akan menguji kesetiaanku lagi. Justru sekarang yang aku khawatirkan adalah Bobby. Perhatian dia sudah melebihi batas kewajaran, bahkan di matanya aku ini suami yang tak peka terhadap lelahnya istri.


Entahlah, sebenarnya itu hanya paranoid-ku saja atau memang Pak Rahman dan Arini yang tak mampu menangkap gelagat Bobby.


Tinggal kita lihat saja, apakah dugaanku yang benar atau mereka yang salah. Eh, sama saja, ya? Kan, pilihannya kalau aku benar ... sudah pasti mereka yang salah.


Ah, terserah lah ... otakku sudah terlampau lelah berpikir. Lebih baik aku ikut Si Kembar hanyut dalam buai mimpi saja, namun menunggu ayah mertua pulang tentunya.


"Bagaimana keadaanmu, Dan? Masih kontrol?" tanya Pak Rahman membuyarkan lamunanku.


"Sudah nggak, Yah. Alhamdulillah sudah cukup baik. Buktinya bisa ngerjain semua proyek." Kujawab pertanyaan ayah mertua yang seolah meragukan kondisi kesehatan otakku dengan sedikit jumawa.


"Iya juga, sih. Syukur kalau begitu."


"Kamu dan Bobby tidak ada masalah, kan?"


"Tentu nggak ada, Yah. Dia selama ini sudah jadi partner sekaligus pembimbing yang baik."


"Yakin?"


Sepertinya aku mulai paham arah pembicaraan Pak Rahman. Pasti karena sikapku selama ini ke Bobby.


"Ayah merasa kamu sepertinya nggak suka dengan Bobby, padahal dia yang selama ini bantu kita."


Huff ... benar dugaanku. Ayah pasti akan lebih percaya ke Bobby daripada aku yang menantunya. Jasa pria kaya itu begitu kuat menutup hati ayah mertua.


Saat ini, tak ada yang dapat aku lakukan selain menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan siapa Bobby sebenarnya.


Baiklah ... tunggu tanggal mainnya ayah mertua tiri. Kamu akan kubuat tersingkir, bahkan tersungkur.


Kulempar pandangan keluar rumah, menembus kaca jendela. "Ya, suatu saat akan aku buat lelaki itu tak berani lagi melewati pagar rumah ini," gumamku dalam hati.


Tak terasa tanganku mengepal, ada percikan dendam yang entah darimana datangnya. Aku tak mau menyalahkan setan yang membisiki hatiku, kasihan ia selalu jadi kambing hitam dari setiap kesalahan manusia.


"Mas, Ayah mau pamitan itu!" Tiba-tiba tangan Arini menepuk pundakku, membuat aku terkejut dan tergagap.


"A-apa, Dek?"


"Itu, Ayah mau pulang. Mas kenapa, sih?"


"Oh ... iya, Yah. Hati-hati, terimakasih sudah menjenguk cucunya," ujarku sembari berdiri.


Tapi aneh. Pak Rahman dan Arini malah saling bertukar pandang, sejurus kemudian Arini mengedikkan bahu.


"Mas Danu yakin baik-baik saja? Karena dari tadi sikap Mas Danu bikin aku khawatir, lho."


"Maksudnya, Dek?"


"Danu, sebaiknya kamu segera kontrol lagi. Ayah takut ada sesuatu dengan otak kamu. Coba kurangi aktivitas berpikir berat dulu, nanti beberapa proyek biar Ayah bantu handle," sahut Pak Rahman yang membuatku semakin tak mengerti.


"Iya, Mas. Besok pagi aku antar, ya?" Kembali Arini berujar.


"Kalian yang kenapa. Harusnya kalian yang periksa, bukan aku!" ketusku.


Argh! Sungguh mereka yang aneh, tapi malah menuduh otakku. Dengan kesal aku tinggalkan mereka dengan pandangan bingung.


Aneh! Harusnya aku yang bingung dengan tingkah mereka, tapi malah justru mereka yang menganggap aku bermasalah.


Sudahlah, tarik selimut saja!

__ADS_1


__ADS_2