
POV Bobby
Kala itu musim penghujan. Awan hitam bergelayut di langit, hampir tak membiarkan mentari memberikan sinarnya pada bumi.
Begitupun hatiku, tertutup oleh luka akibat penghianatan bertubi-tubi. Rasa sakit itu tak pernah membiarkan aku melupakan setiap sayatan yang Hera toreh. Dendam itu telah mengakar.
Sore itu, saat matahari mendapat kesempatan sinarnya menerobos senja kelabu, langkahku menuju sebuah panti asuhan terlaksana. Tekad memanfaatkan bocah lelaki itu sudah masuk dalam rencana jangka panjang.
Kedatanganku disambut ramah oleh ibu panti. Ia memberikan kesempatan padaku untuk bicara banyak dengan Niko. Ya, anak lelaki yang menginjak usia remaja itu bernama Niko.
"Niko, aku adalah suami ibumu." Kata-kata itu yang pertama meluncur dari mulutku untuk memperkenalkan diri pada Niko.
Netra itu membulat tak mengerti. Menurutnya, suami ibu adalah lelaki yang dipanggil Mas Jack, bukan aku. Pengakuannya tentang Hera cukup membuatku tercengang.
Ternyata korban Hera bukan aku saja, melainkan ada Rahman. Pria yang telah menolongnya keluar dari lubang keterpurukan. Rahman adalah laki-laki baik yang dengan senang hati mengangkat harkat dan derajat keluarganya.
Baru kusadari bahwa bejatnya wanita tak bermoral itu memang seperti sudah menjadi watak yang melekat dan tak bisa hilang begitu saja. Bukan karena harta semata, namun juga ia memperturutkan nafsu syahwat.
"Niko, ibumu tidak akan ke sini lagi. Dia telah pergi meninggalkan aku dan juga kamu. Ikutlah denganku, aku akan biayai sekolah dan seluruh keperluanmu."
Ada cairan bening yang menggenang di sudut netra bocah itu. Ternyata ia sudah sejak lama memendam rasa kecewa terhadap ulah ibunya yang tega menitipkannya di panti asuhan.
Ah, sepertinya misiku akan semakin lancar. Baiklah, sudah saatnya aku membawa Niko dengan alasan mengadopsinya sebagai anak. Sengaja aku berpesan pada ibu panti untuk menyembunyikan siapa adopter itu dengan kesepakatan setiap bulan aku akan menyumbang untuk anak-anak panti.
Niko remaja aku bawa ke rumah orang tuaku, tentu saja dengan sebuah kebohongan baru. Tak ada yang tahu jika bocah itu adalah anak Hera. Papa dan mama menerima kehadiranku kembali bersama Niko.
Alasanku saat itu adalah dengan dalih keberadaanku sebagai anak tunggal yang butuh teman. Beruntung Niko anak yang cerdas, ia tahu harus bagaimana bersikap. Ia pandai mengambil hati orang tuaku sehingga kasih sayang berlimpah ia dapatkan.
Sebagai anak tiri, ia tetap menghormatiku sebagai ayahnya. Namun, demi keamanan sebuah rahasia Niko terpaksa memanggilku dengan sebutan 'Abang'. Bagiku tak apa, karena itu jauh lebih baik.
Kupikir semua rencanaku akan berhasil, namun ternyata tidak. Wanita itu memang datang ke panti asuhan mencari anaknya, tapi setelah tahu Niko sudah ada yang mengadopsi justru ia menghilang begitu saja.
__ADS_1
Beberapa kali aku mencoba menghubungi nomor ponselnya, namun selalu saja ia tolak bahkan diblokir. Nomor-nomor baru telah aku gunakan, hasilnya tetap nihil. Kala itu terpaksa kutahan semua hasrat balas dendam, kupikir kelak Niko yang akan membalaskannya untukku.
Masa demi masa terlewati dengan luka yang belum juga mengering. Bukan karena gagal move on, melainkan lebih pada obsesi membalas rasa sakit yang ia toreh terus saja memenuhi ruang hati yang telah lama hampa.
Penantian panjang itu tak sia-sia. Bagai gayung bersambut, semua tiba tepat pada masanya. Sore itu, sebuah telepon masuk. Suara lembut dari seorang wanita di seberang sana cukup membuatku berpikir, siapakah dia.
Dengan sopan ia memperkenalkan diri. Arini. Ya, dia menyebut dirinya sebagai Arini, anak dari Hera. Sontak otak ini langsung merespon dengan cepat. Tanpa pikir panjang lagi aku mengiyakan ajakan untuk bertemu dengannya.
Sungguh, kesempatan itu aku manfaatkan sebaik mungkin untuk mendapat celah bertemu dengan wanita penghianat itu. Kali ini rencanaku harus berhasil.
Pertemuanku dengan Arini di sebuah cafe memberi kesan yang cukup menarik sekaligus terkejut dengan kenyataan yang sedang menimpanya. Hera, wanita budak nafsu itu benar-benar telah mati hatinya. Ia tega merusak rumah tangga anaknya sendiri dengan menggoda Danu, menantunya.
Wanita yang dulu kupuja itu kini tak lebih bagai wanita ****** yang menjijikkan. Teramat menjijikkan. Untuk menyentuhnya pun aku sudah tak sudi lagi.
Arini yang tak pernah tahu dengan rencana terselubungku, ia justru mempermudah setiap langkahku. Ia meminta bantuan dariku untuk membuat ibunya pergi dari rumah. Mungkin Arini berharap bahwa aku akan bersedia membawa ibunya pergi dan memperbaiki hubungan.
Tidak, Arini. Bukan itu tujuanku. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu. Membuat Hera membayar setiap goresan luka yang ia sematkan di seluruh bagian hati, pembalasan yang tak akan pernah ia lupakan hingga nyawa di ujung napas.
Kedua orang tuaku tak luput dari rasa keterkejutan ketika aku membuka sebuah rahasia tentang Niko. Rasa kecewa sempat hinggap di hati mereka, namun setelah bertemu dengan Arini yang menceritakan semua tentang perihal ulah Hera, papa dan mama akhirnya menerima rencana itu.
Cukup lama aku menanti giliranku memainkan peran. Arini yang terlalu bermain cantik membuatku tak sabar menunggu, tapi aku harus tetap menahan setiap rasa yang membuncah demi rencana berjalan mulus.
"Bang, aku sudah tidak tahan lagi. Ibu benar-benar sudah keterlaluan. Malam ini Abang bisa datang ke rumah. Selesaikan saja semuanya malam ini." Suara Arini dari ujung sambungan telepon terdengar penuh emosi.
Aku bisa merasakan bagaimana sakit dan kecewa yang tengah ia rasakan. Suaminya dirayu oleh wanita yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri. Entahlah, hingga kini aku masih tak memgerti kenapa Tuhan belum menghukum wanita dengan tabiat binatang itu.
Tak membuang waktu lagi, segera kutemui papa dan mama untuk membahas rencana malam nanti. Aku meminta mereka untuk bersiap-siap jika kedatangan menantu durhakanya.
Malam itu aku sengaja datang ke rumah Arini dengan pakaian yang lusuh dan sebuah motor butut. Sudah dua puluh menit menunggu kode dari Arini karena ia sedang membuat rencana agar ibunya bisa keluar rumah.
Rencana Arini membuat kesal ibunya dengan masakan pedas, berhasil memaksa Hera harus keluar membeli makanan. Saat wanita itu keluar, maka semua permaianan akan segera dimulai.
__ADS_1
Benar saja, wanita itu seketika histeris dan mengamuk tak terkendali. Ia menyalahkan Arini dan mengumpat. Ucapan sumpah serapah serta ancaman ia lontarkan. Sangat luar biasa ucapan Hera terhadap anak perempuan yang telah memberinya tempat berteduh selama ini.
Wanita tidak tahu malu, tidak tahu diri, bejat, tidak bernurani, dan segala bentuk umpatan muncul dalam hatiku. Mulas rasanya ketika aku harus berpura-pura masih mencintainya, merayu wanita itu agar mau kembali.
Aku tahu, rayuanku tak akan mempan karena Hera pasti akan melihat dari segi penampilanku. Ia masih berpikir aku lelaki bodoh yang tak punya apa-apa. Ah, biarkan saja. Toh, masih ada rencana B.
Niko, dia menjadi senjata pamungkas yang telah lama aku siapkan. Aku yakin dia pasti merindukan anak lelaki yang sangat ia sayangi itu.
Hatiku bersorak tatkala melihat reaksi Hera yang sontak terkesima dengan kejutan dariku. Ya ... meski ia kesal mengetahui akulah yang selama ini menyembunyikan anaknya. Tapi semua rencana berhasil membawa Hera keluar dari rumah Arini.
Puncak amarah Hera adalah saat mengetahui Niko menolak kehadirannya. Dengan kata-kata yang menohok hati, Niko merasa malu dengan semua sikap ibunya.
Aku tersenyum saat air mata Hera menetes, rasa sakit ditolak oleh anak yang dulu pernah ia besarkan pasti sangat dalam terasa. Bagaimana ia tak akan sakit, demi mencukupi kebutuhan Niko ia rela jual diri bahkan rela menahan lapar demi Niko. Namun, balasan yang ia terima justru hujatan dari sang anak.
Puas rasanya melihat itu semua. Tapi itu semua belum cukup. Kamu akan menerima yang lebih menyakitkan dari ini, yaitu rasa kecewa yang teramat sangat, karena aku akan mempermainkan kehidupanmu.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Misi yang hampir berjalan sempurna keluar dari dugaan. Hera yang termakan emosi justru menyerang Danu yang berusaha membela Arini. Hantaman vas bunga keramik bertubi-tubi mengenai kepala pria malang itu.
Aku dan Niko yang tak siap dengan kejadian itu segera menarik paksa tubuh sintal wanita siluman yang tengah kesetanan itu.
Terlambat. Danu tergeletak tak berdaya. Bergegas kuperiksa nadinya, masih ada detak. Itu artinya Danu hanya pingsan.
"Niko, panggil polisi untuk segera menangkap wanita ini!" seruku saat itu. Seketika wanita iblis itu ketakutan dan berusaha lari keluar rumah, menghilang di kegelapan malam.
Tak ada niatan untuk mengejar karena keselamatan Danu lebih penting. Dia pria baik, lagipula kasihan Arini yang histeris ketakutan akan kehilangan suaminya.
Dengan dibantu Niko dan papa, kugotong tubuh Danu yang melemah. Darah tak berhenti juga mengalir dari tengkorak belakang. Dugaanku salah, Danu tak hanya pingsan. Ia ternyata mengalami luka parah pada otak belakang akibat benturan brutal yang dilakukan Hera.
Pendarahan membuat Danu harus kehilangan kesadarannya dalam waktu yang lama. Ya, luka di otak itulah yang mengakibatkan ia koma hingga sekarang.
Kuhembuskan napas panjang, mengistirahatkan hati dan pikiran sejenak. Mungkin rencanaku harus terhenti sementara waktu. Tak mungkin aku teruskan dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
Baiklah. Aku masih harus bersabar lagi.