
Aku bersyukur kehidupanku telah kembali normal. Kebahagian menaungi rumah tanggaku dengan Arini. Semakin lengkap ketika istriku melahirkan dua Danu junior alias kembar.
Sungguh nikmat yang tiada tara. Lahirnya Darin Saputra dan Darin Saputri membuat Arini harus resign dari pekerjaannya. Sedangkan aku, oleh Pak Rahman dipercaya mengurus bisnis kuningan yang pangsa pasarnya sudah internasional.
Pak Rahman banyak mengajariku ilmu bisnis, bahkan belajar cara mendesain kerajinan dari bahan kuningan juga ia berikan. Sungguh Tuhan telah mengganti semua cobaan dengan nikmat yang tak terhingga.
Sore itu aku bersama istri dan anak-anak berkunjung ke Pak Rahman. Sampai di depan gerbang segera kutepikan mobil. Sejenak memperhatikan kendaraan roda empat yang tak asing bagiku.
"Kenapa, Mas? Kok, nggak langsung masuk?"
"Itu sepertinya mobil Ayah mertua muda, Dek?"
"Bang Bobby?"
"He-um."
"Memangnya kenapa kalau itu mobil Bang Bobby? Kan, masih luas halaman parkirnya."
Sungguh istri yang tidak peka. Apa dia tidak memahami desiran cemburu yang telah lama mengendap di sanubari? Masih kuingat bagaimana Bobby memperlakukan Arini saat aku sedang koma, tatapan yang tak biasa.
"Jadi masuk, nggak?" tanya Arini sedikit ngegas.
Dengan tergagap akhirnya kembali kulajukan mobil untuk memasuki halaman rumah, memarkir kendaraan di sisi mobil sport mewah milik Bobby.
Rasanya begitu berat untuk turun dari mesin beroda empat ini. Namun, netra Arini sudah mendelik memintaku untuk membantu menurunkan stroller lipat Si Kembar dari bagasi mobil.
Kuturunkan stroller sembari berdoa agar ayah mertua muda segera pulang, agar ia tak berlama-lama memandangi wanitaku. Tapi ternyata sia-sia, tak jua ia keluar berpamitan.
"Dek, nanti di dalam jangan balas senyum Bang Bobby, ya?" pesanku kepada Arini.
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Nggak suka aja!"
"Merasa tersaingi senyumnya?" Arini seolah sedang meledekku.
"Senyum aja tersaingi. Omonganmu nggak mutu banget, Dek!" Aku mulai senewen, emosi mudah tersulut kalau seperti ini.
"Mas Danu yang nggak mutu. Orang, kok, paranoid banget."
Percakapan terhenti kala langkah mulai memasuki teras. Di ambang pintu Pak Rahman dengan binar penuh cinta menyambut dua cucunya yang begitu menggemaskan.
Kujabat tangan lelaki yang telah memasuki usia senja itu dengan takzim. Ia mempersilahkan masuk, tentunya sudah ada pria tampan yang selisih satu level denganku.
"Apa kabarnya, Dan? Makin tua aja sekarang!" sapa pria kekar berotot itu.
"Kalau aku tua, apa kabarnya dirimu?" ketus kujawab.
"Ah, bisa aja kamu ini, Dan." Ia memukul pelan lenganku, meski pelan tetap saja terasa sedikit sakit di otot lembekku.
"Halo, Arini junior ... wajah kalian benar-benar mirip Ibumu," puji Bobby sambil mengelus pipi kedua bayiku.
"Yang satu itu cowok, artinya Danu junior, sudah pasti wajahnya mirip aku!" Kuhempas tubuh ke sofa dengan kasar, menahan sesak di dada akibat ucapan rival yang tak punya malu itu.
"Apa kabarmu, Arini?" Pandangan Bobby beralih ke wanitaku yang masih berdiri di belakang stroller.
"Baik, Bang. Abang sendiri gimana kabar?"
"Alhamdulillah ... Abang juga baik."
"Sudah lama di sini?"
"Belum, baru tiga puluh menitan. Urusan dengan Ayahmu belum selesai."
Kuperhatikan percakapan mereka, sudah jelas bakalan lama Bobby di sini. Ayah Rahman kalau bahas bisnis bisa berjam-jam, apalagi laptop juga masih terbuka di atas meja bersanding dengan tumpukan beberapa dokumen.
"Memangnya lagi bahas bisnis apa?" Akhirnya jiwa kepo muncul juga, tahu sendiri jika dalam tubuh ini bersemayam ruh detektif conan.
"Begini, Danu. Ada proyek yang akan kamu tangani bareng dengan Bobby." Pak Rahman menjelaskan sembari duduk di sofa seberang meja.
__ADS_1
"What?" Aku sontak terperanjat, tak pernah aku bayangkan akan bertemu dengannya setiap saat.
"Kamu ini kenapa? Biasa saja, nggak usah lebay," protes Pak Rahman.
Aku terdiam. Tak ada alasan membantah ucapan pria yang penuh kharisma itu. Arini tampak menggeleng-gelengkan kepala, kemudian turut duduk di sebelahku.
"Begini, Ayah sengaja mengatur pertemuan dengan Bobby bertepatan dengan rencana kalian ingin ke sini." Pak Rahman berhenti sejenak, menghela napas mengatur jeda.
"Bobby menawarkan bisnis properti. Ada lahan yang akan dijual, kita bisa buat kavling dan jadikan perumahan. Untungnya cukup besar, karena letak lahan cukup strategis."
"Di mana, Yah?" tanyaku penasaran.
"Nanti kamu dengan Bobby bisa survei lokasi."
"Apa? Aku dan dia?" Kupandang wajah itu dengan sengit.
"Danu, kamu itu kenapa? Dari tadi lebay alay kalau bicara dengan Bobby." Lagi-lagi Pak Rahman menegur sikapku.
Tampak Bobby hanya tersenyum santai, sedangkan Arini menepok jidat. Aku bukan lebay alay, tapi tak siap saja jika harus berhadapan dengan pria yang hendak menaruh rasa pada istriku.
"Bobby sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, dia lebih paham dari Ayah. Dan kamu, kamu harus banyak belajar dari dia," tutur Pak Rahman lagi.
"Iya, Yah." Hanya kalimat itu yang mampu kuucap, tak dapat kutolak titah ayah mertua yang telah mewariskan tahta bisnisnya ke tanganku.
"Nggak ada salahnya, Mas, belajar dari Bang Bobby." Arini ikut mendukung keputusan ayahnya tanpa memikirkan apa yang aku rasa.
"Iya, Dek. Mas siap belajar dari mantan Ayah mertua muda," ucapku dengan bibir setengah mencebik.
Gelak tawa dari mereka pecah. Entah apa yang lucu dari ucapanku.
"Ya sudah, Danu. Besok kamu siap-siap ikut aku ke lokasi. Nanti kita juga akan bertemu dengan beberapa pihak yang terlibat dalam pembangunan real estate itu. Kamu akan banyak belajar tentang bisnis properti." Bobby ikut menjelaskan dan hanya kubalasa dengan anggukan kepala.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu Mas Rahman. Untuk file sudah saya copy di laptop. Nanti biar Danu pelajari." Bobby berdiri untuk berpamitan.
"Siap, Bob." Pak Rahman menyambut tangan Bobby yang hendak mengajak salaman.
Keakraban dua orang itu tampak jelas. Sebagai mantan nenek semlohai, mereka bisa menepis rasa cemburu masing-masing. Tak ada sakit hati yang tersirat, justru akrab layaknya dua sahabat.
"Hish! Siapa juga yang mau jadi cucumu!" tukasku ketus yang mengakibatkan Arini menyiku perut tak sixpack ini.
"Arini, aku pulang dulu. Jangan lupa, nanti sampai rumah mulut suami kamu disemprot pakai desinfektan, ya."
"Heh! Memangnya kenapa mulut aku?"
"Siapa tahu bibir kamu terpapar virus corona akibat bersentuhan dengan bibir seksi nenek bohay, hahaha ...."
Panas merebak ke dalam telinga mendengar ejekan dari pria menjengkelkan itu. Bagaimana bisa dia menjadikan hal menakutkan sebagai bahan lelucon. Sama sekali nggak lucu!
Lebih aneh lagi, justru Arini dan Pak Rahman malah tergelak oleh ucapan pria sialan dengan mulut nyinyir itu. Kalau tidak ingat ada ayah mertua, ingin rasanya kulempar sandal ke arah dia.
Pertemuan hari itu menjadi awal semakin seringnya aku bertemu dengan Bobby. Terkadang rumahku dijadikan tempat pertemuan untuk membahas proyek real estate itu.
Aku akui, bisnis properti merupakan pengalaman pertamaku. Ternyata bukan hanya sekedar jual beli yang dibahas, melainkan arsitektur bangunan hingga tata letak pun harus detail masuk dalam pemantapan rencana.
Dari Bobby aku banyak mendapatkan pengalaman. Benar kata Pak Rahman, bahwa aku harus mengembangkan ilmu bisnis demi masa depan keluargaku. Meski harus belajar dari lelaki yang kuanggap rival, namun pada kenyataannya Bobby adalah orang yang profesional.
Pantas saja ia sukses di usia muda. Ternyata dia sosok yang tekun dan ulet, ide brilian selalu menghampiri otaknya.
Hari ini adalah pertemuan kelima, agendanya yaitu membahas ulang tata letak real estate kemudian menyusun anggarannya, sehingga bisa menentukan harga konsumen.
Seperti biasa, Arini menyiapkan makanan untuk sekalian makan siang. Beberapa camilan juga telah di sediakan di ruang tamu. Kulihat wanitaku begitu menikmati aktivitas hariannya.
Kulirik penunjuk waktu di pergelangan tangan, dua puluh menit lagi mereka akan datang. Namun, tak berselang lama terdengar deru mobil memasuki halaman rumah.
Segera aku bangkit. Ternyata Bobby, ia datang dengan kedua tangan penuh dengan bawaan.
"Dan, istrimu nggak usah repot-repot masak. Kasihan dia punya anak kecil, nanti kecapaian. Ini, bawa aja ke dalam." Bobby menyerahkan empat kantong plastik bawaannya.
"Tapi Arini sudah masak, Bang."
__ADS_1
"Kamu ini, tega banget membiarkan istri kecapaian mengerjakan banyak hal." Ucapan Bobby serasa bagai tamparan keras.
Aku tak membantah ucapannya, hanya menerima bungkusan dan membawanya ke belakang. Dengan kesal kuletakkan keempat plastik ke atas meja makan.
"Itu apa, Mas?" tanya Arini sembari mengangkat penggorengan.
"Dari mantan Ayah mertua muda. Katanya biar kamu nggak kecapaian, Dek. Jadi, nggak usah repot-repot masak," tuturku dengan sewot.
"Pengertian amat dia. Eh, Mas Danu kenapa kok manyun, gitu?"
"Sebel! Kata dia, Mas tega biarin kamu kecapaian ngerjain apa-apa sendiri."
"Lha, kan, memang bener. Dari tadi Mas Danu hanya liatin Arini masak, kan?"
"Iya juga, sih!" Kugaruk kepalaku yang tak gatal, ada rasa malu tiba-tiba menyusup.
"Arini, tolong siapkan wadah. Biar aku tata makanan yang masih dalam kardus ini." Tiba-tiba Bobby sudah berada di belakangku, bikin kaget saja.
"Iya, Bang." Arini bergegas menyiapkan wadah dan membawanya ke meja makan.
Dengan cekatan Bobby menata potongan ayam goreng dan lalapan. Buah-buahan yang ia bawa juga telah tersusun rapi dalam beberapa keranjang buah.
Coktail aneka buah dan rumput laut ia tuang di wadah besar, ia tambahkan susu kental manis dan sirup di dalamnya. Membuatku menelan saliva, membayarkan kesegaran es coktail lengkap itu.
"Lain kali, kamu nggak perlu nyiapin apa-apa. Maaf kalau kemarin-kemarin sudah merepotkan kamu."
"Nggak apa-apa, Bang. Selama Arini bisa, inshaAllah Arini kerjakan."
"Eh, di mana Arini junior?" tanya pria itu sembari meletakkan kembali botol sirup.
"Masih bobok di kamar. Hari ini mereka nggak rewel, kayaknya tahu kalau mamanya bakalan sibuk hari ini."
"Syukur, deh!"
Lagi-lagi aku hanya bisa memaku menyaksikan mereka berdua yang sibuk menyiapkan sajian. Bobby sepertinya tahu bagaimana cara mengambil hati perempuan.
Ia begitu peka dengan kerepotan Arini. Harusnya aku yang saat ini berdiri di sana membantunya, namun justru aku malah terpaku duduk diam menyaksikan percakapan mereka yang sesekali diselingi tawa.
Kuhembuskan napas, dengusan yang kulirihkan. Tak ingin mereka mendengar atau menangkap rasa tidak suka ini. Berharap pemandangan itu segera berakhir.
Sungguh, waktu begitu lambat melaju kurasa kala netra ini melirik kembali penunjuk waktu. Sekali lagi kutarik napas dalam-dalam, memenuhi ruang dada dengan seluruh oksigen.
Huff ... masih ada yang terasa sesak dan nyeri kurasa. Hingga akhirnya aku tak sabar, kudekati Arini dan menariknya ke kamar.
Kubiarkan Bobby melepas pandangan dengan gelengan kepala, tak kupedulikan pula Arini yang berusaha melepas tangan dari cengkeramanku.
"Kamu ini kenapa, sih, Mas?" tanya Arini sesampainya di kamar.
"Mulai sekarang, aku larang kamu berdekatan dengan Bobby!" Kukeluarkan ultimatum tegas.
"Memangnya kenapa?"
"Aku tidak suka!"
"Mas Danu ini kayak anak kecil. Aku dan Bang Bobby tidak melakukan hal di batas kewajaran, kan?"
"Iya, tapi aku nggak suka kalau kamu dekat-dekat dengan dia!" Suaraku masih ngegas, sampai-sampai Si Kembar menggeliat hampir bangun dari mimpinya.
"Mas nggak suka lihat kamu dekat dengan mantan Ayah mertua muda." Akhirnya aku pelankan suara.
Arini menatap lekat. Bola netra itu menelisik wajahku, seolah sedang mencari sesuatu. Telapak tangan kanannya menyentuh keningku, beberapa kali ia bolak balik telapak tangan itu.
"Are you ok, Mas?" Kembali tampak kernyitan di dahi Arini, ia juga memicingkan mata dengan penuh keheranan.
"Besok kita ke dokter, ya? Aku khawatir ada apa-apa dengan kepala Mas Danu."
"Aargh ...." geram rasanya menghadapi wanita di hadapanku, kenapa justru menganggap ada gangguan pada otakku?
Ya, Tuhan ... kenapa Arini begitu naif. Kenapa ia tidak peka dengan perasaanku. Apa benar aku yang berlebihan menganggap kedekatan mereka sebagai sesuatu hal yang tak wajar?
__ADS_1
Tell me! Whats wrong?