
Tekadku telah bulat. Aku harus menangkap basah perselingkuhan antara Arini dengan Bobby. Sudah kuputuskan menggunakan Sri sebagai mata-mata.
Sengaja aku pergi setelah Sri keluar rumah untuk belanja sayuran ke pasar. Dengan sedikit tergesa kulajukan mobil dan berhenti tepat di dekat Sri berdiri menunggu angkutan.
"Tuan?" Tampak wajah Sri keheranan melihatku.
"Masuk!" titahku yang langsung dituruti oleh Sri.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku antar kamu ke pasar, sekalian ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
"Maaf, Tuan Danu. Mau bicara apa?"
"Kita cari tempat untuk bicara." Segera kuinjak gas untuk melajukan kembali mesin beroda empat.
Setelah aku rasa cukup jauh dari rumah, kutepikan mobil. Mulai kuambil napas untuk mengumpulkan kembali serpihan kekuatan hati yang hancur seketika saat melihat foto Arini dan Bobby.
"Sri, aku butuh bantuan kamu."
"Bantuan apa, Tuan?"
"Mengawasi Arini."
"Ada apa dengan Mbak Arini, Tuan?"
Huff ... kembali kuhembus napas kesal. Setiap mengingatnya, dada ini terasa begitu nyeri. Kuambil sebuah foto yang tersimpan di kotak dashboard, kemudian mengulurkan pada Sri.
"Maaf, Tuan. Apa ini?"
"Lihat betul-betul, maka kamu akan paham."
Sri mengambil foto itu dari tanganku. Sejenak bola matanya sibuk mengamati gambar dalam kertas, kemudian jarinya mengetuk-ngetuk dahi.
"Tuan, bukankah ini Tuan Bobby dan Si Kembar? Kalau untuk foto yang perempuan saya nggak berani memastikan, karena hanya kelihatan punggungnya saja, Tuan."
"Apa kamu nggak mengenali itu baju siapa?"
"Ini, kan, baju yang biasa Mbak Arini pakai. Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Nggak mungkin Mbak Arini semesra ini dengan Tuan Bobby, Tuan. Apalagi ada anak-anak."
"Itulah yang aku nggak habis pikir. Karena itu juga aku mau minta tolong ke kamu untuk awasi Arini. Nanti ada bonus buat kamu."
"Yang benar, Tuan?" Binar mata seketika muncul dalam kerjapan mata berbulu lentik itu.
Aku anggukan kepala sembari melempar senyum. Kukeluarkan lima lembar uang berwarna merah, "Ini sebagai bonus awal. Kalau kamu berhasil memastikan hubungan mereka, akan ada bonus yang lebih besar lagi."
"Wow ... siap laksanakan, Tuan Danu!" seru Sri kegirangan, bola manik itu tak henti berbinar kala menerima lembaran uang yang kuberikan.
Kubuang pandangan ke luar jendela mobil, menmbus kaca dan menerawang entah kemana. Senyum simpul yang disertai rasa nyeri di dada tersembul dari sudut bibir. Ya, ada yang sakit di dasar hati.
Kuharap hubungan Arini dan Bobby belum terlalu jauh. Dugaanku benar-benar meleset, Sri yang aku kira ditugaskan untuk menyeretku dalam lubang yang sama ternyata tidak memiliki andil apapun.
Aku merasa kecolongan dan telah dipencundangi oleh mantan ayah tiri yang ketampanannya menyaingiku. Sungguh ini di luar dugaan. Tanganku mengepal, gigi bergemerutuk menahan semua perasaan yang terus saja menghimpit dada.
"Tuan, saya harus buru-buru ke pasar, biar nggak kesiangan," ucap Sri membuyarkan lamunanku.
"Oh, iya. Tapi ingat tugas tambahanmu, ya?"
"Iya, Tuan. Beres!" Sri mengacungkan ibu jari seraya tersenyum lebar.
Kembali kulajukan mobil ke arah pasar untuk mengantar Sri, setelahnya memutar balik kendaraan beroda empat itu ke arah luar kota. Kali ini Bobby memintaku untuk memantau proyek yang ada di perumahan elite, letaknya sekitar tiga jam dari kota tempatku tinggal.
Entahlah, aku merasa ini adalah akal-akalan dari Bobby agar aku meninggalkan rumah. Pasti dia sudah merencanakan ini semua agar bisa menemui Arini dengan bebas.
Perjalananku kali ini serasa begitu berat. Kenyataan bahwa harus meninggalkan Arini untuk memberi kesempatan bertemu dengan seorang pebinor membuat konsentrasiku buyar.
Beberapa kali kutepikan mobil hanya untuk menetralisir setiap gejolak yang membuncah. Kali ini kuambil gawai, panggilan video call aku tujukan pada bidadari surgaku.
"Hallo, Sayang. Udah sampai tempat proyek, Mas?" tanya Arini seraya mengumbar senyum manis kala melihat wajahku di layar gawai.
"Belum, Dek. Mas ragu-ragu untuk pergi." Kutampilkan wajah lesu agar ia mengerti.
__ADS_1
"Kenapa? Mas sakit? Kalau sakit sebaiknya bilang ke Ayah, biar Ayah yang gantiin." Sorot netra khawatir dapat aku tangkap dari bola mata itu.
"Nggak, Dek. Hanya saja entah kenapa aku kangen sama kamu."
"Hahaha ... Mas Danu ini, nanti sore Mas pulang, kan?"
Aku hanya mengangguk lemah. Mendengar tawa Arini, aku merasa ia sedang meledekku. Entahlah, hati ini semakin sensitif saja.
"Gini aja, kalau Mas Danu capek ... aku telpon Ayah saja untuk gantiin Mas ke sana."
"Nggak usah, Dek."
"Atau aku telepon Bang Bobby saja?"
"Apa? Bobby? Kalian mau janjian ketemu?" Wajah lesu yang sedari tadi kutampakkan seketika berubah menjadi berang.
"Apaan, sih?"
"Oh, jadi begitu ... Bobby sengaja mengirim aku ke luar kota agar kalian bisa janjian?"
Arini menepuk jidat, kemudian tangan kanannya mengelus dada sembari bibirnya bergumam, "Sabar, sabar, sabar ...."
Harusnya aku yang mengelus dada dan bilang 'sabar', tapi kenapa justru dia.
"Mas Danu ini tingkat kepikunannya sudah mencapai level akut, ya?"
"Maksudmu?"
"Bukannya Bang Bobby sudah ada di sana sejak tiga hari lalu? Apa Mas Danu lupa percakapan Bang Bobby dengan Ayah saat di teras rumah?"
Aku mengernyitkan dahi, mencoba mengingat. Kini gantian aku yang menepuk jidat, jujur aku lupa percakapan terakhir sebelum Bobby pergi.
"Perasaan Mas Danu ada di dekat Ayah saat Bang Bobby mau pamitan dan cerita kalau dia akan memantau proyek selama seminggu di sana."
"I-iya, Dek. Maaf, Mas lupa."
"Mas Danu ... Mas Danu. Kamu ini semakin hari makin aneh, deh! Sudahlah, kalau nggak mau ke sana, ya, sudah pulang saja sekarang."
"Nggak, Dek. Mas mau lanjut aja sekarang. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam!"
Sekitar seminggu lalu Bobby datang ke rumah Ayah Rahman dan memintaku untuk datang juga. Aku ke sana bersama Arini dan Si Kembar, sekalian mengunjungi Pak Rahman.
Di sana membahas proyek pembangunan perumahan elite yang terletak di luar kota. Tapi kenapa aku lupa ucapan Bobby saat hendak berpamitan?
Hanya permintaan Bobby yang kuingat saat ia menyuruhku pergi ke area proyek setelah aku menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan ruko di dekat pusat kota.
Lalu, apa gunanya aku bayar Sri pagi ini? Kembali kutepuk jidat, menyesali sikap paranoid yang mengakar di dasar hati. Gegara itu semua, kekonyolan demi kekonyolan membuatku tampak bodoh di hadapan Arini.
Dengan mantap kulajukan kembali mobil kesayangan menuju ke luar kota. Kali ini hatiku lebih tenang.
****
"Masuk, Dan!" sambut pria kekar dengan ketampanan satu tingkat di atasku itu, senyum tipis ia ulas.
"Maaf terlambat, Bang."
"Iya, nggak apa-apa. Nyantai saja, Dan. Ini ada Rusli, dia yang aku percaya penuh untuk mengurus semua di sini."
Pria muda dengan wajah bersih itu berdiri, kemudian mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Kusambut uluran tangannya sembari mengucap nama.
"Nanti kamu beberapa hari menginap di sini, semua urusan akan dibantu oleh Rusli."
"Beberapa hari, Bang?"
"Iya, aku memintamu untuk menggantikan aku sebentar. Masih ingat Niko, kan?"
"Iya, kakaknya Arini."
"Dia aku tugaskan di kantor cabang Surabaya, tapi ada kendala di sana. Jadi, Papa memintaku untuk menyelesaikan semuanya di sana."
"Ooh ... aku kira hanya hari ini aku di sini." Kugaruk kepalaku yang tak gatal.
"Rencana awal memang hanya sehari, hanya memantau dan menyelesaikan laporan ke Pak Rahman. Tapi ternyata aku ada kerjaan lain. Nggak apa-apa menggantikan aku sementara di sini?"
__ADS_1
"Aku nggak bawa baju ganti."
"Halah, kamu ini kayak orang nggak punya duit saja! Nanti sore kamu ke mall beli beberapa setel, kalau sayang duit nanti aku ganti!"
"Kalau nunggu diganti kelamaan, Bang. Mending kasih duitnya sekarang aja." Kukerjabkan mata ke arah Bobby, biar saja dia keluar uang. Seenaknya saja menyuruh beli pakaian tanpa kasih modal.
Kuabaikan bola mata yang mendelik. Bobby meski kesal, akhirnya uang lembaran merah berpindah dari dompet Bobby ke tanganku. Kuhitung ada sepuluh lembar, seketika insting mencium bau uang mengarahkan indra penciumanku.
"Nah, gini, donk. Lumayan, bisa ganti duitku tadi pagi yang kukasih untuk Sri."
"Untuk apa kamu kasih uang ke Sri? Bukannya ini belum waktunya gajian?"
Ups! Keceplosan lagi. Ini mulut memang susah diajak jaga rahasia.
"I-itu ... ehm ... Sri butuh duit, kata dia untuk dikirim ke desa karena ibunya sakit."
"Ibunya Sri sakit? Kok, Pak Nardi nggak cerita?"
Duh, malah salah kasih alasan pula. Bahaya kalau Bobby kroscek ke Pak Nardi. Kalau sampai Pak Nardi telepon ke keluarga Sri, bakalan kebongkar kebohonganku.
"Sri bilangnya begitu, kalau ternyata nggak sakit ... ya, mungkin saja Sri yang bohong." Aku mencoba menyelamatkan diri, terpaksa kukambing hitamkan saja wanita yang kutugasi untuk mengawasi Arini.
"Ya, sudahlah. Ini nanti kamu aku ajak keliling sekalian kujelaskan apa saja yang bisa kamu lakukan di sini," ucap Bobby seraya tangannya menata kembali dokumen-dokumen yang berserakan di meja.
"Iya, Bang." Kuanggukan kepala, sedikit merasa lega karena Bobby tak memperpanjang pertanyaan.
Setelah semua beres, ia mengajakku menaiki mobil menuju area proyek. Sebagai orang yang menerima intruksi, aku lebih banyak diam memperhatikan penjelasan Bobby. Sesekali Rusli ikut menimpali ketika ada beberapa hal yang Bobby lewatkan.
Pekerjaan selesai tepat ketika matahari telah siap ke peraduan. Semburat jingga mewarnai langit senja, mengingatkanku pada wanita yang pernah menyandarkan kepalanya ke bahuku untuk menikmati suasana sore hari. Arini, wanita penguasa hatiku.
Kulepas kepergian Bobby dengan pandangan yang penuh sirat rasa lega. Segala kekhawatiran mampu kutepis dan menjauh. Kembali kudapatkan ketenangan.
Bobby tak akan ada waktu untuk ketemu dengan Arini karena ia harus ke Surabaya. Aku bisa tenang mengurus pekerjaan di sini tanpa khawatir Arini bertemu dengan Bobby.
Kuulas kembali sebuah senyum mewakili suasana hati. Malam itu, selepas maghrib kuminta Rusli menemaniku untuk membeli beberapa stel pakaian, lumayan dapat pakaian gratis karena beli pakai uang Bobby.
"Pak Danu sudah lama kenal dengan Pak Bobby?" tanya Rusli ketika kami selesai berbelanja pakaian dan lanjut dengan makan di food court.
"Sudah cukup lama. Dia itu mantan ayah mertua tiriku."
"Maksunya, Pak?"
"Iya, dia itu mantan suami dari ibu mertuaku."
"Lho, kayaknya usia Pak Danu dengan Pak Bobby nggak terpaut jauh?"
Kuhentikan suapan, netraku menatap lekat ke arah lelaki kepo di hadapanku. Setelah kuambil napas, kembali kugerakkan bibir setengah berbisik.
"Ssttt ... jangan bilang siapa-siapa. Bang Bobby itu 'pejantan mentok' alias pecinta janda tua nan menggoda dan montok."
"Hah? Yang benar, Pak?"
"Iya. Ibu mertuaku meski sudah usia 45 tahun, tapi bodinya ... wow, bahenol habis." Tanganku ikut menggambarkan tubuh sintal Bu Hera, sekilas ingatanku kembali padanya.
"Memangnya usia Ibu mertua Pak Danu dengan Pak Bobby terpaut berapa tahun?"
"Sepuluh tahun, lebih tua Ibu mertuaku."
"Nggak nyangka Pak Bobby seleranya dengan janda tua. Benar kata Pak Danu, dia 'pejantan mentok' alias ...."
"Pecinta janda tua nan menggoda dan montok," sahutku cepat yang disambut gelak tawa dari Rusli.
"Makanya sampai sekarang Pak Bobby nggak menikah lagi. Rupanya ia belum bisa move on dari janda montok." Kembali Rusli berkomentar sembari kepalanya manggut-manggut seolah ada yang baru saja ia sadari.
"Bagaimana mau move on, aku aja yang pernah ngerasain bibir Ibu mertua yang padat berisi itu juga belum bisa lupa sampai sekarang."
"Hah? Pak Danu pernah dicium Ibu mertua?" Bola mata yang melotot heran penuh rasa kepo itu berujung membuatku tersadar dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut.
Lagi-lagi mulut ini keceplosan. Kenapa malah membuka masa lalu pada orang yang baru ku kenal hari ini.
"Ehm ... itu kejadian lama. Sudahlah, aku nggak mau ingat-ingat kenangan pahit akibat orang yang mau menghancurkan rumah tanggaku." Kupasang wajah sedih agar Rusli tak tertarik lagi dengan cerita itu.
"Maaf, Pak Danu."
"Iya, nggak apa-apa. Ayo makan lagi, setelah ini kita pulang dan tidur. Aku juga sudah capek."
__ADS_1
"Iya, Pak."
Makan malam yang tidak romantis itu kami tutup dengan saling diam. Berawal dari ngerumpi tentang Bobby dan berakhir dengan keceplosan yang membuatku kembali mengingat masa di mana pernah kurasakan buluk kuduk meremang karena sensasi bibir seksi milik Bu Hera.