Penggoda Dalam Rumah

Penggoda Dalam Rumah
Part 46 Luka Baru


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan. Ini tehnya," sapa Sri sembari meletakkan secangkir teh di meja samping aku duduk.


Kuhentikan aktivitas membaca majalah olahraga, sejenak kuarahkan pandangan ke wanita yang kini berdiri di hadapanku.


Seperti ada magnet yang menarikku untuk memperhatikan paras serta kulitnya. Sebagai gadis desa, Sri tak tampak seperti gadis yang datang dari desa pada umumnya.


Kulit dan wajahnya terawat, jauh dari kata kusam. Bahkan rambutnya juga terlihat ada bekas pernah diwarna. Aneh, mana ada gadis desa seperti itu?


"Maaf, Tuan. Ada yang salah dengan pakaian saya?" tanya Sri mengaketkan penelusuran netraku.


"Ehm ... tidak, tapi ada yang ingin aku tahu darimu."


"Apa, Tuan?"


Kupicingkan sebelah mata, sedikit mengernyit memandangnya. Tetap saja aneh dalam pemikiranku, Sri tak tampak layaknya gadis desa yang lugu.


"Apa kamu sudah lama tinggal di kota?"


"I-iya, Tuan. Saya bekerja di kota sejak usia enam belas tahun."


"Itu artinya sudah hampir empat tahun kamu hidup di kota?"


"Benar, Tuan. Maaf, kenapa Tuan Danu menanyakan hal tersebut?"


"Kenapa kamu keluar di majikan sebelumnya?"


"Eh, itu, Tuan ... karena ...." Wajah wanita muda itu tampak kebingungan.


Entahlah, aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Aku merasa Bobby sengaja mengirim wanita itu dengan tujuan tertentu.


Melihat gelagatnya yang kebingungan mencari jawaban, sudah dapat aku tebak. Ah, jiwa detektif ini kembali memberontak.


"Sejak kapan kamu kenal dengan Bobby?"


"Ehm ... saya baru kenal ketika Tuan Bobby datang ke rumah bersama Pak Nardi, paman saya."


"Kamu keponakan Pak Nardi?"


"Iya, Tuan."


"Baiklah, lanjutkan kerjamu."


"Baik, Tuan."


Setelah wanita bernama Sri itu melenggang masuk, aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri. Banyak kecurigaan yang muncul memenuhi benak.


Jika benar Bobby punya tujuan tertentu, pasti dengan mudah aku tebak. Ya, aku yakin ia mengirim Sri untuk menggodaku agar aku berpaling dari Arini.


Tapi jika benar kedatangan Sri dengan misi menggodaku, kenapa dandanannya begitu sederhana? Tingkah lakunya pun tak menunjukkan ingin menggoda hasrat kelelakianku.


Hampir satu bulan semua berjalan normal, tak ada gelagat yang menunjukkan indikasi ingin merusak rumah tanggaku. Bahkan saat berpapasan denganku, wanita itu menundukkan pandangan dan hormat.


Apakah aku yang terlampau menaruh curiga terhadap wanita itu? Sebaiknya aku tanya ke Pak Nardi, benarkah Sri adalah keponakannya atau bukan.


Beruntung aku menyimpan nomor seluler sopir pribadi Bobby itu. Pekerjaan yang terlalu sering berkaitan dengan Bobby membuatku terkadang butuh bantuan dari lelaki yang usianya hampir setengah abad itu.


Segera kuraih gawai, menekan nomor kontak untuk menghubungi Pak Nardi. Mengajaknya bertemu di sebuah tempat akan lebih baik dan leluasa aku mengorek keterangan tentang Sri.


Tanpa menunggu lama, segera kulajukan mobil menuju tempat untuk janji temu. Sebuah saung ikan bakar sengaja kupilih agar lebih santai.


Tak berapa lama, Pak Nardi yang bertubuh gempal itu datang menghampiriku. Ada raut kebingungan yang menaungi wajah berkulit sawo matang itu.


"Maaf, Tuan Danu. Ada apa tiba-tiba ingin bertemu saya?"


"Pak Nardi tahu Sri?"


"Sri yang sekarang bekerja di tempat Tuan Danu?"


"Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Pak Nardi kenal dia?"


"I-iya, Tuan. Dia keponakan saya. Tuan Rahman minta ke Tuan Bobby untuk mencarikan asisten rumah tangga yang akan di tempatkan di rumah Non Arini. Jadi, Tuan Bobby meminta saya untuk mencarikan."

__ADS_1


"Dan kamu merekomendasikan Sri?"


"I-iya, Tuan. Saya pikir Sri bisa bekerja dengan baik. Dia sudah bekerja sejak sekitar lima belas atau enam belas tahun, jadi dia punya pengalaman."


"Oh ... jadi itu sebabnya dia tidak kelihatan seperti gadis desa?"


"Maksudnya, Tuan?"


"Aku melihatnya tak seperti gadis desa yang baru pertama menginjakkan kaki di kota. Mungkin karena sudah empat tahun lebih tinggal di kota jadi dia tahu cara merawat diri."


"Tuan Danu ini seperti tak tahu anak jaman sekarang. Perubahan jaman itu cepat membawa pengaruh ke setiap lapisan masyarakat, Tuan. Tidak peduli dengan strata sosial."


Aku ternganga mendengar statement dari sopir pribadi mantan ayah mertua tiri ini. Tidak kusangka dia punya wawasan luas begitu.


"Ehm ... iya juga. Apalagi gadget membawa dampak dasyat terhadap perubahan tingkah laku."


"Itu Tuan Danu tahu. Jadi, jangan heran kalau gadis desa seperti Sri pandai merawat diri."


Aku hanya manggut-manggut. Mungkin benar, ini hanya akibat kecurigaan yang berlebih sehingga menimbulkan paranoid terhadap pikiran dan hatiku. Aku hanya tak ingin kejadian lama terulang lagi.


Jika benar Sri dikirim Bobby untuk menggodaku, maka aku harus mempersiapkan iman yang lebih kuat lagi agar tak terpikat oleh bujuk rayu setan yang akan menjeratku ke dalam buai asmara yang mungkin akan ditebar oleh Sri.


Pertemuanku dengan Pak Nardi membuat perasaan yang berkecamuk penuh duga menjadi sedikit lega, paling tidak yang dikatakan Sri bahwa ia adalah keponakan Pak Nardi itu benar.


****


Usaha bisnis properti yang aku kembangkan bersama Bobby semakin berkembang. Semakin banyak tender proyek yang berhasil kami menangkan seperti pembangunan perumahan, ruko, apartemen, dan lain sebagainya.


Keterlibatanku di dalam proyek membuat kesibukanku semakin meningkat. Seperti malam ini, aku masih berkutat dengan banyak file. Cahaya laptop masih berpendar, netra yang sebenarnya telah merasa lelah masih kupaksa memeriksa setiap detail data yang tercantum.


Kuhembuskan napas lelah kala memandang masih ada dua berkas file yang harus aku selesaikan. Sejenak kurenggangkan otot pinggang. Kulirik penunjuk waktu yang menggantung di dinding, hampir larut malam.


Tanganku meraih berkas dalam binder file berwarna kuning. Kembali kupaksa netra untuk menyelesaikan pekerjaan. Baru saja membuka lembar ketiga, pandanganku terpegun.


Sebuah foto yang mampu membuat darahku berhenti mengalir, jantung serasa dipaksa berdetak lebih cepat. Panas, perih, dan ....


Argh!


Kembali kutatap gambar yang menampilkan kemesraan antara Arini dengan Bobby. Meski hanya tampak punggung, namun bisa aku pastikan wanita itu adalah Arini. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian yang biasa Arini kenakan.


Ironisnya lagi, ada si kembar di dekatnya. Sudah semakin yakin bahwa itu memang benar Arini. Bagaimana bisa seorang ibu selingkuh di hadapan anak-anaknya?


"Arini, kamu keterlaluan!"


Kuremas foto itu, gemeretak gigi mengisyaratkan emosi yang meminta untuk diluapkan. Rasa sakit begitu menyesakkan dada, bahkan napas pun ikut memburu menahan semua kekecewaan yang teramat sangat.


Di tengah kecamuk rasa sakit dan amarah, tetiba muncul berbagai pertanyaan dalam benak. Bagaimana foto ini bisa ada di dalam binder ini? Lalu, siapa yang mengambil gambar mereka?


Itu artinya ada yang mengetahui perselingkuhan mereka dan berusaha memberitahuku dengan cara ini. Tapi siapa? Sejak kapan foto ini ada di sini?


"Baiklah, aku akan tahan semua amarah ini. Akan aku cari kebenaran perselingkuhan mereka. Harus dengan mata ini aku tangkap basah mereka," gumamku dengan penuh rasa yang tak menentu.


Sepertinya dugaanku salah. Tujuan Bobby bukan menyuruh Sri untuk membuatku jatuh cinta, melainkan membuat Arini banyak waktu untuk menemuinya.


"Licik kamu, Bobby! Akan kita lihat siapa yang akan menang, karena aku tak akan pernah membiarkan Arini menjadi milikmu!"


Aku harus cari cara, kurasa Sri bisa membantuku untuk menjadi mata-mata. Tapi ... bukankah Sri orang yang dikirim Bobby? Apa dia mau melakukan permintaanku?


Sejenak aku berpikir. Mata yang semula lelah, kini hilang kantuk. Kali ini aku tidak boleh bertindak ceroboh, tapi dari mana harus kumulai penyelidikan ini.


"Mas, sudah larut. Sebaiknya Mas Danu istirahat." Tiba-tiba suara Arini telah berada di belakangku.


Dengan buru-buru kusimpan kembali foto itu ke dalam binder dan menumpuknya dengan beberapa file. Bagaimana pun aku harus menyembunyikan semua untuk sementara ini.


Tangan Arini melingkari leherku sembari ia bergelayut manja di bahuku. "Mas Danu terlalu kerja keras, kalau terus-terusan memforsir diri untuk bekerja hingga larut begini, Mas Danu bisa sakit."


Aku hanya tersenyum masam. Tak kubalas gelayut manjanya. Dingin. Ya, hatiku menjadi dingin terhadap wanita yang sangat aku cintai selama ini.


"Mas Danu kenapa?" tanya Arini yang menyadari sikapku.


"Mas capek, Dek. Mau tidur sekarang." Kutepis perlahan tangan Arini, kemudian meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


"Mas, kamu kenapa? Aku pijitin, ya?" Arini yang mensejajari langkahku mencoba merayu.


Kuhentikan langkah, sejenak memandang lekat binar mata indah itu. Tatapannya masih sama, tak ada yang berubah. Tapi kenapa hati Arini diam-diam mampu berpaling ke pria lain?


Kupejamkan mata dan kuhela napas panjang. Kembali kubuka mata dan menatapnya tajam. Ingin rasanya kuungkap segala rasa yang menyiksa ini, namun kucoba menekannya dalam-dalam.


"Naiklah ke punggung Mas, Dek. Sudah lama aku tak menggendongmu untuk naik ke atas," pintaku sembari memberikan punggung untuk dinaiki.


"Mas sudah terlalu capek, nggak perlu melakukan itu."


"Tapi Mas mau kita seperti saat jadi pengantin baru. Mas nggak kuat membopongmu dengan kedua tangan ini, jadi Mas berikan punggung kokoh untuk menggendongmu. Naiklah."


Dengan senyuman manisnya, Arini meletakkan badan ke punggungku. Mulai kutapaki setiap anak tangga dan kudengarkan hembusan lembut napasnya yang mengalun teratur di telinga.


"Dek, jika Mas kelak tua dan tak mampu menggendongmu, jangan pernah pergi dariku, ya?"


"Pasti, Mas."


Aku tersenyum kala mendengar jawaban Arini. Ada nyeri yang justru menjalar ke setiap relung kalbu. Ketakutan akan kehilangan belahan jiwa begitu nyata terpampang jelas di depan mata.


Kubuka pintu kamar, membawa bidadari ke peraduan. Kali ini bukan untuk berlayar di lautan asmara, melainkan hanya mengantarkannya tidur.


Tangan Arini menarikku lembut ke pelukan, kerling nakal memberi isyarat akan hasrat. Namun, hati ini kini membeku setelah melihat gambar perselingkuhan antara dia dengan mantan ayah tirinya.


"Kita tidur saja, Dek. Mas sudah capek."


"Mas Danu yakin?"


"Hmm ...." kuanggukan kepalaku lemah, kemudian merebahkan tubuh memunggunginya.


Pikiranku kembali melayang pada foto itu. Apa saja yang sudah mereka lakukan? Sudah sejauh mana hubungan mereka?


Jangan-jangan Bobby memang sengaja membuatku sibuk dengan pekerjaan hingga terkadang harus menginap beberapa hari di luar kota, agar ia punya waktu untuk mendekati Arini.


Benar-benar licik kamu, Bobby! Lihat saja, aku akan buat kamu menyesal telah berani mengganggu kehidupan rumah tanggaku.


Kuremas selimut yang menutupi sebagian tubuh, kemudian menariknya hingga menutupi kepala. Kutenggelamkan wajah ke bantal, menahan segenap luka yang menganga.


Argh!


Aku tak tahan lagi. Kusingkap selimut dan bangkit meninggalkan Arini. Tak kuhiraukan panggilannya, bahkan saat ia menyusulku.


"Mas, kamu kenapa?"


Masih tak kuhiraukan pertanyaannya. Langkahku semakin cepat menuju kamar lain, masuk dan menguncinya.


"Mas Danu, cerita donk, Mas, kalau ada masalah. Jangan bikin aku khawatir."


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa muak mendengar suara Arini. Bagiku ucapannya hanyalah sandiwara untuk menutupi perbuatan bejatnya.


Tak pernah kusangka biduk pernikahanku akan mendapat ujian seberat ini lagi. Dulu aku mati-matian melawan hasrat dari godaan Bu Hera, tapi kenapa justru sekarang Arini tak mampu menolak cinta yang ditawarkan oleh Bobby.


Kubiarkan Arini membujukku dari balik pintu hingga ia lelah dan meninggalkan aku seorang diri, larut dalam rasa sakit yang mendera teramat dalam mencipta sayatan luka di setiap sudut ruang hati.


Arini, haruskah aku mempertahankanmu? Mampukah aku memaafkan penghianatanmu?


Entahlah ... aku tak mampu menahan kebencian yang mulai menguasai diri, mengalahkan besarnya lautan cinta yang pernah ada.


Luka baru tercipta, merengkuh luruh setiap kenangan indah yang pernah hadir, mengikis habis kepercayaan yang pernah terjaga dengan kekuatan kesetiaan.


Kini, hanya ada seorang Danu yang tengah kehilangan arah. Kemudi biduk mulai oleng, tak tahu harus berbuat apa. Hanya bisa diam membisu mencoba meredam segala rasa yang menyiksa jiwa.


Hembusan napas lelah mengakhiri pikiran yang terus berkelana. Kupejamkan mata mencoba menuju ke alam mimpi, mencari ketenangan semu.


Namun, gagal. Bayangan Arini yang sedang bermesraan dengan Bobby terus saja melintasi pikiran, membuat otak warasku hampir gila.


Tak kuat rasanya menahan itu semua, tak ayal seluruh barang di kamar menjadi sasaran pelampiasan kemarahan yang meledak-ledak. Setelah puas mengobrak-abrik kamar, tubuh lunglai dan terduduk di lantai.


Kini, justru kemarahan itu berganti dengan bulir bening yang mendesak keluar. Tangis tanpa suara mengalahkan sisi ketegaranku sebagai lelaki.


Aku merasa kalah dan telah dipecundangi.

__ADS_1


__ADS_2