
Setelah mendengar itu mereka sangat bahagia, dan tentunya juga bersyukur karena telah di anugrahi seorang guru yang penuh kasih sayang seperti ibu kandung mereka sendiri.
Tiba-tiba Safar bertanya;
"O.. iya Bu...? mayat-mayat yang meninggal di dalam pohon suci itu jika ditinggalkan seperti senior ibu dulu, apakah mereka akan tetap disana atau bagaimana? "
"Benar yang dikatakan Safar..! monster-monster itu tidak memakan manusia sama sekali, berarti bisa jadi mereka masih utuh dan secara alami daging mereka akan menyusut dan menguap sedikit demi sedikit, darah dan daging mereka akan sama seperti lilin yang dibakar, perlahan meleleh tapi pasti." Kata Ravit tiba-tiba menanggapi pertanyaan safar.
Tidak aneh lagi perkataan Ravit begitu seram, dia sedikit psikopat, karena masa kecilnya penuh dengan cerita pembunuhan, bagaimana tidak dia tinggal bersama pembunuh bayaran dan tentunya dia di didik untuk kejam dan kejam.
"Ravit...! kamu jangan menakut nakuti Loli, lihat dia sampai gemetaran begitu karena ketakutan." Kata Rozi sambil melihat kearah Loli yang ketakutan didalam pangkuan Bu Mut.
"He.. he... he...! Maaf...." Kata Ravit dengan wajah polos tanpa bersalah sedikitpun.
Setelah itu Bu mut angkat bicara; "Sebenarnya apa yang dikatakan Ravit itu tidak sepenuhnya salah. Setelah tewas mayat yang ditinggal disana itu akan mengering seperti mumi, tetapi darahnya tidak akan meleleh, itu karena pengaruh suhu dipohon itu."
"Akan tetapi, ada beberapa dari mayat kering itu yang dirasuki oleh roh jahat, tentunya setelah itu mereka akan menjadi mayat berjalan. Setiap petualang pasti pernah bertemu dengan mayat berjalan tersebut." kata Bu Mut.
"Itu sangat menakutkan..! " kata kakak Loli berbisik satu sama lain.
"Apa...? Mayat berjalan..? bukankah itu zombie seperti di film film yang aku tonton semasa hidup di bumi dulu..! Bahkan di dunia ini zombie itu nyata...? Aku rasa sensasi di film itu suatu saat akan aku rasakan." gumam Refo di dalam hati yang sedikit ngeri dan penasaran.
Ravit kembali angkat bicara; "Terus bagaimana dengan senior ibu dulu...? apakah mereka juga menjadi mayat berjalan sampai saat ini...?" kata Ravit yang juga penasaran dengan mayat berjalan tersebut. Saat itu Ravit sangat bersemangat, karena di dalam pikirannya mayat-mayat itu berjalan sambil bersimbah darah dengan organ yang berada diluar tubuh.
Segera Bu Mut menjawab pertanyaan Ravit sambil tersenyum, dan memaklumi kegilaan muridnya yang satu itu;
"Ibu yakin...! mayat ketiga senior kami itu sampai sekarang masih berdiri kokoh disana. Karena ibu dengar, ada beberapa petualang yang sudah sampai disana, dan mereka menemukan beberapa mayat beku yang hanya tinggal tulang beserta pakaian mereka saja."
__ADS_1
"Mayat... beku...?" Kata mereka kompak.
"Benar...! Setelah di teliti, ternyata ada beberapa mayat yang tidak dirasuki oleh roh jahat. Beberapa tahun setelah itu, maka mayat-mayat itu akan diselimuti oleh getah pohon suci tersebut, tentunya pada saat itu daging dan kulit mereka akan diserap pohon itu untuk dijadikan sebagai nutrisi."
"Karena itulah mereka hanya menemukan tulang utuh beserta pakaian dari mayat itu saja, yang terbungkus rapi seperti sebuah pajangan di dalam lemari kaca." Kata Bu mut menjelaskan.
Setelah mendengar itu mereka semua mengangguk paham, berbeda dengan Ravit yang sedikit kecewa, karena penjelasan Bu Mut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Berarti jika mayat-mayat itu masih terbungkus rapi di dalam getah itu, maka petualang yang meneliti mereka itu tentunya sudah menyelamatkan mereka dan mengubur mereka secara wajar. Tentunya setelah itu mereka juga mendapatkan keuntungan dari barang barang beharga milik mayat itu kan Bu...?" Kata Loli yang sudah tidak ketakutan lagi.
"Tidak semudah itu Loli.... dari apa yang ibu dengar, getah pohon suci itu sangat keras sama seperti batang pohon tersebut. Oleh karena itu belum ada yang mampu menggores mayat beku itu sedikitpun, makanya petualang tersebut tidak akan bisa menyelamatkan mayat mayat itu, apalagi mengambil barang barang beharga milik mereka, seperti cincin ruang dan benda beharga apapun yang ada di dalamnya."
"Ibu sangat yakin..! yang diteliti petualang itu adalah mayat senior senior ibu dulu. Karena dilantai itu dalam kurun waktu yang cukup lama mereka lah yang tewas disana." Kata Bu mut yang sedikit sedih karena mengingat masa lalu lagi.
Refo yang melihat itu, lansung mencairkan suasana dan bertanya;
"Bu...? bagaimana bentuk pohon suci itu.? apakah sama seperti pohon biasa yang ada didalam hutan sihir..?" kata Refo yang sebenarnya juga penasaran.
"Pohon itu sebenarnya hampir sama seperti pohon pada umumnya, memiliki: akar, batang, ranting, dan daun, akan tetapi pohon itu sangat besar dan keras. Bahkan karena besarnya, sebagian lantai dungeon itu di dominasi oleh pohon suci tersebut."
"Pohon itu mengeluarkan cahaya berwarna putih, tetapi tidak terlalu terang. Jika dilihat Dari luar akan terlihat jelas di dalam batang pohon besar itu mengalir jutaan batu sihir bewarna warni keseluruh ranting, dan aliran itu akan berputar dalam waktu yang lama dipohon tersebut." Bu Mut berhenti sejenak karena melihat Rozi mengangkat tangan.
"Iya..! kenapa Rozi..?" kata Bu mut.
"Bu...! kenapa batu-batu sihir yang berada di dalam batang pohon itu bisa terlihat begitu saja..? biasanya pohon memiliki kulit dan kayu sebagai daging pohon yang akan menutupi pandangan kita untuk melihat aliran getah dan nutrisi dari pohon tersebut. Apakah pohon suci itu tidak memiliki kulit dan daging pohon..?" kata Rozi penasaran.
Yang lain juga mengangguk setuju dengan pertanyaan Rozi, karena mereka juga penasaran tentang itu.
__ADS_1
"Pohon suci itu tentunya memiliki kulit pohon juga, namun tidak memiliki daging pohon seperti kayu, yang artinya didalam batang itu setelah kulit pohon lansung terdapat aliran nutrisi dan batu-batu sihir tersebut. Batu batu sihir itu bisa dilihat dengan jelas karena kulit pohon itu transparan seperti kaca." Kata Bu mut menjelaskan sambil tersenyum.
Setelah mendengar itu mereka semua kagum, dan ingin sekali melihat pohon suci itu secara lansung dimasa depan. Karena dari penjelasan Bu Mut saja, mereka bisa membayangkan bentuk pohon suci tersebut sangat menakjubkan.
"Kalau begitu, kenapa batu-batu sihir itu tidak diambil secara lansung saja dari pohon tersebut Bu..? kenapa harus menambang di tanah disetiap tingkat di atas dahan pohon tersebut..?" kata Refo yang kembali bertanya.
Refo menambahkan; "Apa mungkin batang pohon itu juga keras seperti getah pohon tersebut, seperti yang ibu jelaskan tadi..?"
"Kamu pintar sekali Refo..! apa yang kamu katakan itu benar..!" kata Bu mut memuji Refo.
Bu Mut melanjutkan; "Daun beserta batang pohon itu memang keras sama seperti getahnya yang menyelimuti mayat yang ibu jelaskan tadi. Tentunya tidak akan bisa dirusak, meski sudah di coba oleh petualang terkuat, jangankan rusak atau hancur, sedikitpun tidak pernah tergores."
"Kalaupun bisa di rusak dan di ambil, maka usaha itu akan sia-sia saja, karena batu yang masih berada dalam pohon itu adalah batu yang masih belum matang dan belum memiliki energi sihir."
"Maaf bu....! Bukankah pohon itu belum ada yang bisa menggoresnya, terus kenapa mereka bisa tahu batu di dalam batang pohon itu belum jadi, bahkan tidak memiliki energi sihir...?" Kata Safar yang mewakili teman temannya yang juga penasaran.
"Orang-orang bisa tahu batu yang masih mengalir di dalam batang pohon tersebut tidak berguna, karena juga ada beberapa dari jutaan batu sihir yang belum jadi tersebut terjatuh keluar dari pohon itu, itu sama halnya seperti padi yang tidak memiliki isi. Mereka yang menemukan batu sihir ampas itu pertama kali karena jatuh lansung ke kepala mereka dari ranting pohon tersebut, sejak saat itulah mereka tahu batu batu sihir didalam batang itu masih belum jadi."
"Pohon itu sangat kuat dan kokoh, jika ada yang mencoba melakukan hal gila seperti merusak pohon itu, maka dalam sekejab akan diketahui oleh monster penjaga tingkatan tersebut, tentunya monster monster itu lansung memasngsa orang tersebut. Namun berbeda jika kelompok petualang itu sudah pernah mengalahkan bos monster di tingkat itu, tentunya akan di biarkan saja."
"Yang sering menjadi korban adalah beberapa petualang pemula yang baru saja masuk kesana. Karena keserakahan mereka dan juga tidak mengetahui informasi tersebut, makanya mereka mencoba menyerang pohon itu untuk mengambil batu sihir secara instan, akan tetapi malah tewas karena di cabik-cabik monster di atas pohon tersebut." Kata Bu mut yang masih saja bersemangat menjelaskan pada muridnya.
Loli dan kakak-kakaknya dari tadi tidak berkata kata lagi, karena mereka sudah membayangkan bahwa dungeon dan pohon suci itu sangat mengerikan. Oleh karena itu mereka sangat ketakutan dan masih tenggelam dalam fantasi mereka tentang kematian didalam pohon suci tersebut.
........................................................
...:) (:...
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Terimakasih.🙏🤗