Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Perselingkuhan


__ADS_3

"Jangan pernah lagi, kamu muncul di hadapanku Mas. Cukup sudah aku menahan perih di hati ini, tak kala aku tahu kamu berdusta di belakangku!"


"Silakan pergi, dan jangan pernah kembali lagi padaku. Apa pun yang terjadi, jangan pernah meminta rujuk padaku. Karena aku sudah mendapatkan pengantimu."


"Jangan pernah bermimpi, sampai kapan pun saya tidak akan kembali. Apa lagi dengan laki-laki rendahan seperti kamu. Kamu memang pantas berjodong dengan wanita rendahan seperti kekasihmu itu."


"Jaga mulutmu, jangan kamu rendahkan saya dengan kata-katamu. Dia bukan wanita remdahan. Dia adalah gadis pilihannku yang akan aku nikahi. Dan pastinya, aku akan bahagia."


"Semoga saja terwujud keinginanmu, Mas. Dan saya akan pergi bersama dengan Arka. Jika suatu saat kita bertemu. Aku tidak akan sudah melihat wajahmu."


itu lah kata-kata terakhir dari Bella mantan istriku. Yang pergi meninggalkan diriku, saat ia tahu aku bermain api di belakangnya.


Sudah 3 tahun kami berpisah, dan kini aku sudah menikah lagi dengan wanita pilihanku. Lebih tepatnya, dia adalah wanita simpananku. Saat aku masih bersama Bella.


Kini pernihakanku sudah berjalan 3 tahun lamanya. Setelah aku menikah dengan Ayu. Bukan kebahagian yang aku dapat, melainkan rasa kecewa dan juga emosi. Terlebih penyesalan yang paling besar menghampiriku, ternyata aku salah mengambil keputusan. Istriku yang sekarang bukanlah istri yang baik di mataku.


Bahkan ibuku saja menyesal telah membuang mantu seperti Bella. Karena dia juga lah yang mendukung aku untuk bermain api di belakang.


"Sudahlah, kamu lebih cocok sama Ayu. Buat apa kamu hidup bersama Bella, Istri enggak becus urus suami. Menjaga penampilan saja enggak bisa, padahal baru punya bayi satu."


"Yang Ibu katakan memang benar, Bella sudah tidak bisa lagi mengurus kebutuhan Gibran semenjak melahirkan, dia jadi sibuk sama bayinya dan melupakan kewajibannya untuk diriku."


"Kalau bisa cerain aja dia. Terus nikah sama Ayu, dia juga wanita cantik. Pekerja keras, pintar merawat diri. Enggak kaya Bella, tampilan kok urakkan kaya gitu." Atas saran dari Ibuku, akhirnya aku dan Ayu sering jalan keluar. Setiap pulang kerja, aku selalu pergi makan bersama dan nonton film bersama, sedangkan istriku tidak tahu kalau aku melakukan hal licik di belakangnya. Dan lebih parahnya lagi.


Setiap kali Bella membutuhkan bantuan, aku selalu saja menolakknya dengan alasan lelah saat pulang kerja.

__ADS_1


"Mas, aku mau mandi. tolong kamu jaga Arka ya," ujarnya, Arka terus saja merengkek dalam gendongannya. Hanya saja aku tidak peduli. Aku lelah dan baru saja pulang kerja. Apalagi aku habis jalan-jalan dengan pacarku.


"Aduh! Kamu enggak lihat, saya baru pulang kerja! Kamu bisa, 'kan jaga si Arka sendiri."


"Tapi Mas, aku mau mandi dulu sebentar. Kalau sudah selesai mandi, baru aku jagain Arka." Aku menggarukkan kepala yang sudah pusing, dengan terpaksa aku menjaga Arka.


"Buruan mandinya, aku juga cape nih!" Arka terus saja menanggis dalam gendonganku. Rasanya kepala ini mau pecah, apa seperti ini jika bayi menanggis?


"Jangan lama-lama, Arka nangis nih."


"Iya, Mas." Buru-buru istriku berlari ke  arah kamar mandi, sedangkan anakku yang masih berumur 3 minggu masih terus menangis. Hingga akhirnya ia tertidur pulas. Entah kenapa, saat melihat anakku tidur. Perasaan ini hanya biasa saja, bahkan aku menganggap anak ini adalah beban hidupku. Padahal dia adalah anak pertamaku dari pernikahan yang sah. Tapi, hati ini seperti menolakknya.


10 menit kemudian, Bella telah usai mandi. Kulihat badannya sangat kurus, bahkan tulang-tulangnya sedikit menonjol. padahal sebelum menikah, tubuh Bella sedikit berisi. Bahkan bentuk badannya sangat bagus walau pun ia memakai pakaian tertutup.


"Mas, aku sudah selesai mandi. Makasih sudah jagain Arka."


20 menit kemudian, aku selesai mandi. "Bell, tolong siapkan baju aku ya. Aku ada janji nih sama teman bisnis." Tak ada jawaban dari Bella, ia masih diam di pinggir ranjang. "Bell, kamu dengar enggak? tolong siapkan baju, aku mau pergi malam ini." Lagi-lagi, tak ada jawaban. Karena kesal, aku mendekat padanya dengan penuh emosi, maksudnya apa coba tidak menjawab ucapanku.


"Bella! kuping kamu tuli ya. Saya bilang, siapkan baju buat saya. Hari ini saya mau ketemu sama teman bisnis di luar." Ia tidak menjawabku, bahkan tatapannya begitu sangat dingin. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapannku tanpa berkedip sedikit pun.


"Apakah teman bisnis kamu bernama Mahandra?" Tiba-tiba saja aku tersentak mendengar ucapannya. "Sejak kapan teman bisnis mengajakk pergi, bahkan sampai menginap di hotel."


"Bella, kamu  ini ngomong apa sih. Maksud kamu apa coba. Jangan sembarangan bicara ya. Mahandra itu teman satu kerjaan." Aku mencoba memberi alasan agar ia tidak curiga padaku. Hanya saja, tatapannya tidak bisa dibohongi.


"Aku enggak sembarang bicara, tadi ada yang telepon.  Katanya dia enggak sabar mau ketemu sama kamu malam ini, sekaligus menginep di hotel. bahkan dia sudah boking tempat hotel yang akan kalian datangi." Mataku melotot saat ponselku ada di tangan Bella. Betapa bodohnya diriku meninggalkan ponselku di atas meja dekat ranjang.

__ADS_1


"Bella, kamu jangan salah paham. Aku berani sumpah kok, aku memang mau keluar dan ada urusan bisnis. Lagian kamu lancang banget sih, angkat telepon aku."


"Aku tanya sama kamu, Mas. Mahandra itu laki-laki atau perempuan?


" Itu--" Aku tidak bisa menjawab pertanyaan dia.


"Jawab aku, Mas!" pekiknya.


"Jangan kamu tinggikan suara kamu, Bel. Sudah Mas bilang. Kamu jangan lancang, kamu jangan sembarangan buka ponsel suami."


"Apa ada yang salah kalau aku melakukan hal itu? Terlebih lagi yang menelepon adalah seorang perempuan." Aku sangat gugup, aku bingung harus berbuat apa kalau sudah begini. kenapa aku bisa bodoh seperti ini.


"Bell, dengar dulu. Kamu jangan salah paham, Mas--" Bella mengangkat satu tangannya menandakan bahwa aku jangan bicara lagi.


"Tidak perlu kamu jelaskan, semuanya sudah jelas. Jika memang rumah tangga kita sudah tidak bisa dipertahankan. Kembalikan saya ke orang tua saya." Bagai disambar petir di siang bolong.  Bagaimana bisa ia mengatakan seperti itu.


"Bella, kamu kalau bicara jangan sembarangan ya. Kamu ini mikir enggak sih, kalau kita ini berumah tangga bukan pacaran! Jangan seenak jidat kamu bilang kaya gitu! " Ia tidak menanggapi ucapanku lagi, dan menyerahkan ponselku.


"Pergilah, selingkuhanmu sudah menunggu dari tadi. Jangan buat dia menunggu terlalu lama Mas. Mungkin dia sudah tidak tahan untuk mengotori tubuhnya dengan laki-laki sampah!"


"BELLA!" Aku mengepal tanganku dengan kuat. Tak kusangka Bella membuat hati ini panas dengan perkataanya. Sejak kapan mulutnya jadi seperti itu. "Jaga ucapanmu Bella. Kamu harus ingat, aku ini masih suami kamu!" Sebenarnya aku ingin memarahi dirinya lagi. Sayangnya Ayu terus saja meneleponku. Pada akhirnya aku pergi meninggalkan dirinya bersama Arka. Aku tidak mau dia menungguku terlalu lama, ini semua karena Bella.


...


"Sayang, kamu kenapa sih? Dari tadi cemberut aja," tanya Ayu. Ia terus saja bergelayutan di lenganku dengan manja.

__ADS_1


"Tadi kamu telepon ya?"


__ADS_2