
"Ini--" Mulutku terkunci saat melihat wajah anak laki-laki ini wajahnya mirip sekali dengan seseorang, terutama dari hidung dan matanya. Saat aku mencoba menenangkan anak laki-laki ini, dari arah jauh terdengar suara memanggil nama Arka.
"Arka!" Aku melihat ke arah lain, ada satu wanita mendekat ke arahku sambil memanggil nama Arka.
"Arka, kamu kenapa mainnya jauh banget." Tiba-tiba mulutku terbuka lebar, saat wanita itu semakin dekat denganku.
"Arka, kamu kenapa Nak. Kok nangis?" ujarnya tanpa melihat diriku sedikit pun.
"Bella?" lirihku, wanita itu pun akhirnya melihatku dan menatapku dengan wajah biasa saja. Setelah menatapku cukup lama, ia kembali melihat Arka.
"Kamu kenapa bisa ada di sini? Kok kamu nangis sih?"
"Atu bis toh Mah."
"Jatuh, ya ampun. Makannya hati-hati dong, ya sudah, Mamah gendong ya." Ketika dia mengendong Arka, ia langsung pergi. Namun aku menahannya.
"Bell, apa itu Arka?" tanyaku menghentikan langkahnya, sayangnya ia tidak membalikkan badannya. "Bell, ini Mas. Apa kamu lupa sama aku?" Aku terus saja berucap, namun tidak digubris olehnya. "Bell." Kupanggil namanya sekali lagi, akhirnya dia membalikkan badannya.
"Mohon maaf, apa kita saling kenal?"
DEG...!
"Bell, kenapa kamu bisa ngomong kaya gitu sama aku. Ini aku, Gibran. Mantan suami kamu, anak yang kamu gendong itu Arka, 'kan? Anak kita?" Ia masih terdiam, tapi tidak dengan diriku. Aku begitu senang saat berjumpa dengan Bella, aku benar-benar sangat merindukannya ya Allah.
"Gibran?" Aku menoleh, ternyata ibuku yang memanggilku. "Kamu lagi apa Nak, dari tadi Ibu nungguin kamu foto loh."
"Bu, itu ada Bella sama Arka."
"Apa, mana?" Saat mata ibu melihat Bella, ia begitu terkejut melihat mantan mantu dan cucunya ada di depan matanya. "Ya, ampun. Itu benaran Bella? Ya, Allah. Kok bisa ya kita ketemu." Ibu berjalan mendekati Bella dan cucunya, ia sangat senang ketika bertemu mantan mantunya setelah 3 tahun berpisah.
"Bell, Ibu kangen sama kamu. Selama ini kamu ke mana saja." Saat ibuku ingin memeluk Bella, ia langsung menghindar melangkah mundur ke belakang.
"Jangan dekati saya, anda siapa? Saya tidak pernah kenal anda. Kenapa anda tiba-tiba bersikap sok akrab, seakan-akan kita saling kenal." Ibuku langsung shock mendengar ucapan Bella, begitu juga dengan diriku. segitunya kah dia menaruh benci terhadap ibuku.
"Bell, ini Ibu loh. Masa kamu lupa, dulu kamu pernah tinggal bareng sama kami."
"Maaf, sekali lagi saya tidak kenal. Jadi saya mohon pamit." Ia pergi meninggalkan kami berdua. Wajar saja jika dirinya bersikap sepeti itu terhadap kami, mungkin rasa benci dan dendam sudah tertanam di hatinya.
"Bran, kok Bella jadi seperti itu ya sama Ibu? Padahal, Ibu kangen banget sama dia. Ibu pengen peluk dia, kalau bisa Ibu pengen dia kembali lagi ke kita." Aku tidak menanggapi ucapan Ibu, aku masih fokus melihat Bella yang sudah pergi jauh. Bella benar-benar sudah berubah, ia semakin cantik ketika berpisah denganku. Bahkan tubuhnya semakin terisi tidak seperti dulu saat bersamaku.
Hari sudah semakin sore, saat aku ingin pulang. Mataku tak sengaja melihat ke arah parkiran mobil di ujung, aku melihat ada Bella sedang bersiap-siap ingin pulang juga. Tak ingin kehilangan kesempatan, aku jalan menuju ke arahnya.
"Mas Gibran, mau ke mana? Mas?" Ayu terus memanggilku, tapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa bertemu lagi dengan Bella.
"Bella? Kamu mau pulang ya?" tanyaku, ia langsung menoleh ke arahku sekilas dan kembali mengabaikanku. "Bell, boleh aku tanya. Sekarang kamu tinggal di mana? Apa kamu masih tinggal di rumah orang tua kamu?"
"Bella, ayo masuk! Kita semua sudah mau berangkat," ujar suara laki-laki di dalam. Tak lain adalah mertuaku dulu, saat ia melihat ke arahku, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi masam. Aku pun langsung memberikan senyuman kepadanya, sayangnya ia tidak peduli. "Bella, ayo pulang. Nanti di jalan bisa macet."
"Iya, Pak." Saat Bella ingin masuk ke dalam mobil, entah kenapa, tanganku langsung menahannya.
"Bell, ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Tolong jangan pergi dulu."
__ADS_1
"Lepas, kamu siapa? Jangan sentuh saya!" Dengan kuatnya ia menepis tanganku, lagi-lagi aku menahan lengannya. Tiba-tiba mertuaku turun dari mobil dengan wajah yang penuh emosi.
Ia langsung menarik Bella untuk masuk ke dalam mobil, sedangkan tubuhku langsung di dorong hingga aku mundur ke belakang. "Pergi kamu dari hadapan anak saya dan juga saya! Jangan pernah kamu muncul di depan saya!"
"Pak, saya minta maaf. Saya cuma mau ketemu sama Bella dan juga Arka."
"Apa hubungan kamu dengan anak dan cucu saya? Di mata anak saya, kamu itu orang asing."
"Pak, saya ini Ayah dari cucu Bapak. Bapak tidak berhak berkata seperti itu, apa pantas seorang Kakek berkata seperti itu." Aku terus membela diriku karena tak terima, aku disebut orang asing, biar bagai mana pun. Arka adalah anak kandungku, darah dagingku.
"Puih..!" Ia membuang air liurnya ke sembarang tempat. "Persetan dengan Ayah kandung, selama ini cucu saya tidak pernah mempunyai Ayah. Dia selalu hidup dengan Ibunya selama 3 tahun sampai sekarang tanpa bantuan Ayahnya, tiba-tiba ada laki-laki tak tahu diri mengkaku sebagai seorang Ayah dari cucuku. Jangan mimpi kamu!"
"Tapi, Pak--"
"Pergi kamu dari hadapan saya, dan urus Ibumu dan juga Istri kamu!" Dari arah jauh, ada ibu dan juga Ayu menghampiri aku. Ibu kaget melihat ada orang tua dari Bella.
"Pak Sugeng?" ujar ibu. "Ya, Allah. Ini benaran Pak Sugeng, Ayah dari Bella, 'kan?" Ayah Bella tidak menanggapi ucapan ibuku, ya ada tatapannya justru sangat dingin. Ketika ibuku ingin bersalaman dengan ayah Bella, ia langsung menghindar.
"Anda siapa? Kenapa tiba-tiba sebut nama saya? Memangnya kita saling kenal?"
"I-ini saya, Ibunya Gibran. Saya Ratih Pak."
"Hoh, Ibu Ratih." Ibuku tersenyum lebar saat Pak Sugeng ingat ibuku. "Ibu Ratih, yang dulu pernah bikin anak saya menderita setiap hari ya? Ibu Ratih yang dulu suka fitnah anak saya ke semua orang kalau anak saya pemalas dan kerjanya Cuma habis kan uang suami kan?" ujarnya membuat ibuku tersentak, apakah Bella mencerita kan semua keadaan rumah tangganya yang dulu.
"Ma-maksud Pak Sugeng?"
"Jangan pura-pura lupa, saya sudah tahu semuanya tentang perlakuan Ibu terhadap anak saya. Selama anak saya menikah dengan anak anda, Anak saya setiap hari selalu dijadikan babu. Bahkan anak saya selalu saja dihina dan difitnah oleh anda, sampai semua orang menganggap anak saya mantu kurang ajar!" Ibuku langsung tergagap kita Pak Sugeng mengetahui semuanya tentang ia memperlakukan Bella di rumahku.
"Pak Sugeng, tolong jangan salahkan anak saya. Anak saya tidak tahu apa-apa, yang salah adalah saya. Saya menyesal telah melakukan hal buruk sama Bella, maka dari itu saya mau minta maaf sama dia."
“Tidak perlu kalian meminta maaf, semua sudah hancur. Semua orang tahunya anak saya mantu tidak berguna di mata orang lain. Dan sekarang anda ingin meminta maaf kepada anak saya? Jangan mimpi!”
“Tolong kasih saya kesempatan, saya rindu sama cucu saya dan juga Bella. Apa yang harus saya lakukan agar Bella mau memaaf kan saya?” Ibu terus saja memohon bahkan air matanya sudah keluar dari matanya. Rasanya dada ini begitu sakit melihat sikap ibu.
“Jika ingin mendapat kan maaf dari anakku, bersih kan nama baiknya. Umum kan pada semua orang yang ada di kampung anda. Katakan pada mereka semua, bahwa anakku bukanlah seperti yang anda fitnah.” Ibuku langsung tergagap dengan ucapan pak Sugeng. Bagai mana bisa ia membersih kan nama Bella yang sudah jelek di mata orang-orang. Hampir satu kampung tahu, jika Bella bukanlah mantu baik di mata ibuku. Akibat fitnah ibuku, Bella menjadi bahan gosip dan namanya jadi jelek.
“Pak, saya memang salah. Saya salah karena melakukan hal buruk terhadap Bella. Seharusnya saya tidak melakukan hal itu terhadap Bella. Saya khilaf, Pak. Tolong salah kan saya saja. Jangan anak saya.” Ibu menangis menahan pedih akibat perbuatannya.
"Dua-duanya salah, kalian berdua enggak ada yang benar di mata saya! Kalian berdua manusia hina di mata saya. Sekarang juga, kalian pergi dari hadapan saya. Atau saya tebas leher kalian berdua!" Buru-buru aku menyeret ibuku untuk menjauh dari pak Sugeng. Dia kalau sudah marah bisa bahaya. Untungnya saat aku menceraikan anaknya, ia tidak datang menemuiku. Kalau sampai datang menemuiku, mungkin hidupku sudah melayang ke dunia lain.
Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan Bella. Entah kenapa rasa rindu ini begitu besar.
"Bran, apa Bella benar-benar benci ya sama Ibu. Sampai dia dan orang tuanya tidak mau bertemu sama Ibu." Aku hanya menggelengkan kepala, aku malas untuk menjawab pertanyaan ibuku. Yang jelas, rasa ini ingin sekali bertemu dengan Bella dan juga anakku. hanya saja terhalang oleh orang tua Bella, terutama ayahnya. Terlihat dari raut wajahnya, rasa marah, kecewa, benci terpancar jelas di wajahnya.
"Mas, Mas Gibran."
"Apa, Yu," jawabku malas.
"Dari tadi kamu diam saja sih. Pasti kamu lagi mikirin mantan Istri kamu ya."
"Kamu ini ngomong apa sih."
__ADS_1
"Habisnya dari tadi kamu diam terus, ditanya ini itu jawabnya cuma deheman aja."
"Maaf, Yu. Mas lagi malas bicara, tolong kamu diam sebentar. Sedikit lagi kita sampai rumah."
"Dih, kamu kok makin nyebelin sih! Kalau kamu mau ketemu sama mantan istri kamu. Ya sudah sana, balikan saja, pulang kan aku ke rumah orang tuaku sekarang!" omelnya, membuatku gagal fokus menyetir, alhasil mobilku sedikit oleng ke pinggir jalan. Untung saja masih bisa aku kendalikan, kalau tidak. Bisa dipastikan mobil ini akan terguling.
"Mas! Kalau bawa mobil itu yang benar dong! Aku ini masih sayang nyawaku, aku enggak mau mati konyol sama kamu ya. Aku masih mau hidup!"
"KAMU BISA DIAM TIDAK!" bentakku dengan penuh emosi. "KALAU KAMU INGIN HIDUP LEBIH LAMA, SILAKAN KELUAR DARI MOBIL INI," teriakku lagi, Ayu hanya bisa terdiam seribu bahasa melihatku yang sudah kepalang emosi. Kuhembuskan napasku untuk menurunkan kadar emosiku, "tolong, jangan pancing emosi saya. Saya lelah, kepala saya pusing." Hening sudah, tidak ada satu orang pun yang berbicara termasuk ibuku.
Sepulang dari puncak, aku langsung masuk kamar tamu. Aku lagi malas tidur di kamar bersama dengan Ayu.
"Yu?" Ayu menoleh ke arah mertuanya, "tolong jangan cari gara-gara sama anakku. Dia itu lagi pusing, harusnya kamu jangan banyak bicara. Apalagi bikin dia emosi, untung kita masih bisa selamat sampai rumah. Kalau tidak, bisa habis nyawa kita tadi." Ayu hanya berdengus kesal dengan perkataan mertuanya. Jujur saja, ia merasa sakit hati ketika suaminya membentak dirinya. Apalagi suaminya sempat ketemu sama mantan istrinya. Membuat ia takut, jika suatu saat suaminya akan kembali dengan mantan istrinya.
"Terus aku harus bagai mana, Bu? Aku enggak mau, Mas Gibran ingat sama mantan istrinya. Aku takut suamiku bakal balikan lagi sama mantan istrinya." Bu Ratih mengeritkan keningnya saat mantunya mengatakan hal itu.
"Maksud kamu?"
"Ih, Ibu. Masa kaya gitu aja enggak paham sih. Bu, jangan sampai Mas Gibran balikan lagi sama mantan istrinya, kalau sampai Mas Gibran ketemu sama Bella, aku enggak akan tinggal diam!" Bu Ratih hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Ayu.
"Kalau kamu mau tetap jadi istrinya Gibran, bersikaplah layaknya mantu baik. Jadi lah istri yang patuh sama suami, jangan jadi istri manja, jadi lah istri berguna."
"Maksud Ibu, aku harus seperti si Bella. Yang selalu disuruh ini itu. Terus jadi babu gratisan di rumah ini?"
"Kok kamu bisa berpikir seperti itu sih?"
"Kalau aku bersikap seperti mantan menantu Ibu, saya yakin. Ibu akan memperlakukan hal buruk sama aku, jelek-jelekin nama aku ke semua orang, fitnah sana sini, aku bakal jadi bahan gosip di kampung ini." Bu Ratih terkejut dengan pikiran Ayu. Kenapa ia bisa berpikir seperti itu terhadap dirinya.
"Yu, kok kamu tega sekali sama Ibu? Pikiranmu kok picik sekali ya. Mana mungkin Ibu melakukan hal itu sama kamu." Ayu tersenyum tipis melihat mertua membela dirinya.
"Bu, jangan lupa ya. Sebelum saya menikah dengan anak Ibu, Ibu selalu saja menceritakan keburukan Bella di depanku. Menceritakan aib Bella denganku saat kita makan di resto dulu. Apa ibu lupa? Itu lah sebabnya saya tidak mau bersikap seperti Bella, yang harga dirinya selalu Ibu injak-injak hingga ia pergi dari rumah ini." Selesai bicara, Ayu memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia sudah lelah dengan perjalanan jauhnya setelah pulang dari puncak.
Sedangkan bu Ratih, hanya bisa menatap kesedihan setelah Ayu mengatakan hal itu padanya. Memang benar yang diucapkan oleh Ayu. Semua keburukkan Bella, aibnya, bahkan sikapnya selalu ia ceritakan ke Ayu semua.
"Pantas saja sikap Ayu tidak bisa diatur, ia selalu saja membangkang ketika disuruh melakukan pekerjaan rumah. Ternyata, semua ini memang salahku. Penyebab Ayu bersikap buruk karena ulahku sendiri." Perlahan bu Ratih menjatuhkan bobot tubuhnya ke lantai, ia tertunduk menahan tangis pilu, "ya, Allah. Ya, Tuhanku. Maaf kan semua kesalahanku yang lalu, andai kan aku tidak melakukan hal buruk terhadap Bella. Mungkin ini semua tidak akan terjadi." Lagi-lagi bu Ratih menangis atas penyesalannya.
...
“Mas, kenapa kamu tidur di kamar tamu?” Tiba-tiba saja Ayu masuk ke dalam kamarku. Bodohnya aku lupa mengunci pintu.
“Maaf, Yu. Aku lagi malas tidur sama kamu. Tolong tutup pintunya, Mas cape Yu.” Ia menghentakan kakinya dan berjalan keluar. Tak lupa ia membanting pintu kamar tamu hingga tembok rumahku bergetar.
“Dasar, cewek bar-bar.” Dengan rasa lelah, aku merebah kan diriku di atas kasur dan menatap langit kamar.
Aku jadi ingat kata-kata mantan mertua. Apa yang dikatakan beliau memang benar, selama aku menikah dengan Bella dan tinggal di sini bersama dengan Ibuku. Ia selalu saja mendapatkan fitnah dari orang sekitar dekat rumah. Bahkan, saat dirinya mengeluh tentang dirinya di fitnah, aku malah cuek dan tidak peduli dengan dirinya.
"Mas, tolong bilang sama Ibu kamu. Kenapa dia tega sebar fitnah tentang aku ke tetangga sekitar?" keluh Bella, disertai tangisnya.
"Kenapa sih Bell, masalah gitu aja dibesar-besarkan."
"Ibu kamu tega banget sama aku, masa aku dibilang mantu kurang ajar, gara-gara dia enggak aku urus makanannya, padahal setiap hari aku selalu sediakan makanan buat Ibu kamu." Ia hanya bisa menangis sesenggukan sampai bernapas saja sulit, sayangnya aku tidak peduli. Aku lebih memilih keluar kamar dari pada harus mendengar keluhan tentang dirinya yang selalu difitnah oleh orang sekitar. Saat aku keluar dari kamar, ibu sudah berdiri di depan pintu kamarku.
__ADS_1
"Istri kamu kenapa tuh? Ibu kaya dengar suara di nangis? Kenapa lagi dia?" ibuku terlihat kesal.