
"Mau belanja bulanan untuk kebutuhan dapur, atau kebutuhan pribadi?" Ayu mengeritkan keningnya.
"Loh, kok kamu ngomong gitu sih sama aku. Aku minta uang sama kamu untuk kebutuhan bulanan lah. Stok dapur di kulkas sudah habis loh." Aku tahu dia bohong, masak saja tidak pernah. Untuk apa dia belanja bulanan.
"Masalah belanja bulanan kamu enggak usah khawatir, ada Ibu yang urus semuanya."
"Kenapa harus Ibu kamu yang atur uang belanja bulanan? Kan kita berdua yang menjalani rumah tangga, bukan Ibu kamu."
"Memang kenapa kalau saya yang atur belanja bulanan?" ujar ibuku tiba-tiba datang entah dari mana, melihat ibuku datang. Ayu langsung mencibirkan bibirnya tidak suka. Rasanya ingin sekali aku remas mulutnya. "Apa kamu bisa mengatur uang belanja bulanan? Masak saja kamu enggak pernah, kenapa tiba-tiba jadi repot urus uang belanja bulanan."
"Bu, aku ini Istri Mas Gibran. Wajar dong aku minta belanja uang bulanan sama Mas Gibran."
"Enggak bisa! Masalah uang belanja bulanan biar Ibu yang atur, kamu itu Istri yang enggak becus pegang uang. Bisa-bisa uang anak saya habis sama kamu!" Ayu membulatkan matanya, ia tidak terima saat dirinya dituduh menghabiskan uang suaminya.
"Bu! Kalau bicara jangan sembarangan ya! Maksud omongan Ibu itu apa, kenapa saya dituduh menghabiskan uang Mas Gibran!"
"Buktinya 3 hari yang lalu kamu curi uang anak saya di dompet beserta atmnya, kamu tahu, 'kan uang yang kamu ambil itu uang setoran untuk bayar hutang ke bank. Gara-gara kamu mau nikah di hotel dengan biaya mahal."
"Loh, kenapa jadi salah kan aku. Dari awal Mas Gibran sudah sanggup kok mau menikah di hotel. Kenapa baru protes sekarang!? Kalau enggak sanggup menikah sama saya, kenapa mau sama saya?" Ibu dan Ayu terus saja bertengkar, membuat kepala ini pusing tujuh keliling, seharusnya aku bisa istirahat dengan tenang.
"Dasar mantu enggak guna!"
"Apa!" Tak tahan dengan ocehan ibuku, Ayu hampir saja ingin gelut.
"Cukup! Jangan kamu teruskan ucapan kamu Yu, kamu tidak ada rasa hormatnya sama Ibuku! Berani sekali kamu berucap dengan nada tinggi!" Rahangku sudah mengeras, aku tak tahan ingin memberikan pelajaran terhadap Ayu atas sikapnya terhadap ibuku. Ayu hanya menatapku dengan sinis.
"Tuh, dengar kan apa kata suami kamu! Kamu jangan kurang ajar sama mertua. Bisa kualat kamu," tuduh ibuku, membuat Ayu tidak berkutik lagi. Tak lama senyum Ayu berkembang.
"Pantes saja mantan Istri kamu hidupnya serba kekurangan, tahunya mantan suaminya suka perhitungan, ditambah Ibunya suka ambil uang hak mantan Istri kamu!"
__ADS_1
"Kamu bilang apa barusan? Sembarangan kamu ya tuduh saya suka ambil uang hak Bella. jaga ucapan kamu!" Ibu berteriak terhadap Ayu, bisa-bisanya ia berbicara seperti itu.
"Bukannya itu kenyataan? Ibu pikir saya enggak tahu keadaan mantan mantu Ibu ketika masih menikah dengan Mas Gibran? Ibu suka ambil hak Mbak Bella, bahkan untuk beli baju saja dia tidak bisa!" Ibu yang sudah kepalang emosi, langsung maju ke depan dan ingin menampar wajah Ayu. Dengan cepat aku menahan tubuh ibuku untuk menghentikan tindakkannya.
"Bu, sudah cukup. Jangan ladenin Ayu."
"Lihat Istri kamu, punya mulut tapi kurang ajar sama mertuanya! Ibu enggak mau tahu, pokoknya kamu usir dia dari rumah ini. Bila perlu kamu ceraikan saja Ayu!"
Ayu tersenyum sinis mendengar perkataan ibuku. "Silakan saja kalau Mas Gibran mau ceraikan saya, toh. Saya tidak takut, masih banyak laki-laki yang mau mempersunting saya, bahkan lebih kaya dari Mas Gibran."
"Yu, jaga mulut kamu." Setelah mengatakan itu, Ayu langsung masuk ke kamarnya, aku pun menyusulnya ke kamar dan ingin menanyakan maksud dari perkataannya itu.
"Ayu, apa maksud kamu bicara seperti itu. Kamu benaran mau cerai dari saya?"
"Benaran, toh. Ibu kamu sudah bilang kaya gitu, kapan pun itu saya siap kok pisah sama kamu. Saya juga bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari kamu!"
"Aku enggak bercanda kok, dengar ya Mas. Selama aku menikah sama kamu, aku sudah janji sama diri aku sendiri. Aku enggak mau hidup menderita kaya mantan Istri kamu, aku enggak mau punya baju lusuh, jelek, bahkan warnanya saja sudah pudar kaya mantan Istri kamu." Aku tersentak kaget ketika ia mengetahui penampilan Bella.
"Kamu tahu dari mana kalau Bella punya baju lusuh?"
"Aku sering ketemu sama dia di jalan, bahkan penampilannya saja lebih buruk dari gembel! Dan aku tahu penyebab dia seperti itu. Pasti karena kamu menahan hak-haknya selama dia menikah sama kamu, itulah sebabnya aku selalu membangkang sama Ibu kamu yang selalu saja mengatur keuangan bulanan setiap kali kamu gajian."
"Yu, kamu--" Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang dikatakan Ayu memang benar, aku adalah suami yang dzolim. ketika Bella ingin meminta haknya untuk kebutuhan pribadinya, aku selalu saja menundanya bahkan menolaknya.
"Kenapa kamu diam Mas? Apa kamu sudah merasa bersalah atas sikap kamu terhadap mantan Istri kamu? Ingat Mas, aku enggak mau jadi gembel seperti mantan Istri kamu! Yang selalu menuruti ucapan ibu kamu untuk melakukan pekerjaan rumah ini?"
"Sudah cukup, jangan banyak bicara lagi. Hentikan omong kosong kamu, Yu!" Aku mencoba meredam emosiku, jangan sampai aku melakukan tindakan KDRT terhadap dirinya. Aku tidak mau repot, apalagi orang tua Ayu termasuk orang terpandang di tempat tinggalnya. Bisa celaka kalau aku melakukan sesuatu yang buruk padanya, itu lah sebabnya aku tidak bisa menceraikan dirinya.
"Kalau sudah selesai bicara, silakan keluar dari kamar ini," usirnya.
__ADS_1
"Aku enggak akan keluar dari kamar ini. Ini juga kamarku!"
"Aku enggak peduli, pokoknya kamu keluar dari kamar ini! Aku mau rebahan sambil nonton Drama Korea.” Ia terus saja mendorong tubuhku hingga aku pun keluar dari kamar, aku termenung dengan ucapan Ayu. Selama ini hak Bella selalu aku berikan untuk ibuku. Ya, Allah. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
....
“Mas, aku mau keluar dulu ya. Aku bosan di rumah terus.” Aku hanya melihat dirinya sekilas, lalu kembali melihat ponselku. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya, “Mas, aku mau pergi keluar loh.”
“Terus?” Ia pun mengentakkan kakinya ke lantai, tangannya pun menodong ke arahku. Aku tahu maksud dia apa.
“Mas, mana?”
“Apanya?” jawabku masih fokus memandangi ponselku.
“Uang! Aku minta uang! Kasih aku uang! Aku mau jalan-jalan ke luar, aku mau pergi ke mall!”
“Enggak ada! Bukannya diam di rumah. Malah keluyuran enggak jelas, kamu enggak lihat ibuku sibuk di dapur!”
“Aduh, minta duit sama kamu kok susah banget sih! Lagi pula itu hak aku loh. Kalau masalah ibu kamu ada di dapur, itu bukan urusanku. Pokoknya aku minta uang sama kamu!”
"Aku enggak akan kasih kamu uang! Selama sebulan ini, tidak ada uang buat kamu!"
"Loh, kenapa?"
"Kamu, kan sudah habis kan uangku dalam semalam. Sebagai gantinya aku enggak akan kasih uang nafkah sampai bulan depan."
"Mas! Jangan jadi suami dzolim ya! Kenapa kamu enggak kasih uang nafkah ke aku? Itu kan sudah kewajiban kamu!"
__ADS_1