Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Perpisahan Bella dan Gibran.


__ADS_3

"Saat aku mencoba bersalaman dengan keluarga Bella, terutama mantan Bapak mertua. Ia langsung menepis tanganku dengan kasar.


“Laki-laki pengecut! Puih!” Bapak mertua membuang ludahnya ke sembarang tempat. “Laki-laki pecundang, datang mengambil anakku dengan baik. Kau buang bagai sampah dengan seenak jidat kau! Kalau bukan karena anakku Bella. Nyawamu sudah habis di tanganku!” Ia mengepalkan tangannya dengan kuat dan ingin meninjuku dengan tangan besarnya. Untungnya ibu mertua menghalangi suaminya agar tidak terjadi keributan.


“Sudah, Pak. Jangan kamu kotori tanganmu dengan laki-laki rendahan seperti dia. Biar kan dia hidup dengan wanita pilihannya. Anak kita sudah terselamat kan dari laki-laki penzina seperti dia.”


Deg


Kata-kata ibu mertuaku begitu tajam, rasanya sakit, marah, kecewa dengan ucapannya yang begitu merendah kan diriku. Ku kira Ibu mertuaku itu tipe orang pendiam, nyatanya kata-katanya sungguh menyakit kan.


"Kamu benar, Mah. Anak kita memang tidak pantas memiliki laki-laki pengecut seperti dia!" Lagi-lagi ia menunjukku dengan jarinya. "Hei, laki-laki pengkhianat! Lihatlah saya! Walau pun saya telah gagal menjadi seorang pria baik di mata masyarakat sekitar, tapi saya berhasil menjadi kepala keluarga yang terhormat untuk anak dan Istriku. Pantang bagiku menduakan seorang Istri yang telah berjuang untuk suami dan anaknya." Suara mertuaku begitu lantang dan keras, jujur saja. Aku begitu sangat malu dengan beliau. Walau pun dia mantan narapidana. Tapi dia mampu menjaga martabatnya sebagai kepala keluarga.


Aku hanya bisa tertunduk malu dan tak berdaya. Aku pun bingung dengan keadaan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan? Ya, Allah tolonglah aku. Aku tidak sanggup menghadapi kedua orang tua Bella.


"Gibran?" Aku langsung mengangkat wajahku saat namaku dipanggil oleh mertuaku.


"Setelah resmi bercarai dengan Bella anakku, jangan pernah kamu bertemu dengan Bella dan juga cucuku. Jika kamu nekat bertemu dengan mereka berdua. Maka leher kamu yang akan saya tebas dengan parang!" Mataku terbelalak dengan ancaman mertuaku. Mulutku tergagap dengan ucapan beliau yang tidak main-main.


"Seharusnya kamu tidak melakukan hal ini terhadap Bella. Kamu ambil anakku dengan baik-baik. Lalu kenapa kau buang dia bagai seonggok sampah, bahkan kamu tidak mengantarkan dia padaku, Ayahnya."


"Sa-saya minta maaf, Pak. Saya sadar bahwa ini semua salah saya. Saya menyesal, telah melepaskan Bella tanpa saya antar ke Bapak dan juga Ibu."

__ADS_1


"Manusia picik dan serahkah sepertimu, tidak akan pernah puas dengan apa yang Tuhan berikan padamu. Tuhan memberikan kamu dengan sebongkah berlian. Dengan bodohnya kamu mengambil seongok sampah di pinggir jalan! Dan mengotori tubuhmu dengan wanita murahan!" Mertuaku berkacak pinggang dengan emosi yang sudah tidak terkendali lagi. bahkan napasnya saja sudah naik turun.


"Gibran?" Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata ada ibuku dan juga Ayu. Di saat mereka mendekat padaku, ibuku begitu terkejut dengan kehadiran mantan besannya.


“Loh, Pak Sugeng dan Ibu Sri. Ternyata datang juga ya ke sini? Apa kabar?” tanya ibuku, basa-basi hanya saja dianggap angin lalu oleh kedua orang tua Bella. Dan membuat wajah ibuku memerah Manahan malu.


“Bu, kita pergi dari sini. Sebentar lagi persidangan akan dimulai.” Kembali aku menatap kedua mertuaku dan tersenyum padanya. “Bu, Pak. Saya pamit dulu. Acaranya persidangan sudah mau dimulai.”


“Pergi lah, saya juga sudah muak dengan laki-laki model pecundang kaya kamu. Jangan pernah lagi kamu muncul di hadapan kami semua!”


“Heh, Pak tua! Apa maksudnya bilang suami saya pecundang? Kalau bicara jangan sembarangan ya!” ujar Ayu tak terima. Wajar saja dia marah, karena suaminya sudah direndahkan oleh mantan mertuanya.


“Yu, tolong jaga sikap kamu sama mertuaku.” Ayu sedikit terkejut dengan ucapanku. Ia baru tahu, bahwa di depan matanya adalah orang tua Bella.


“Loh, kenapa pula aku harus jaga sikap sama bapak tadi, dia  itu sudah jadi mantan mertua, Mas. Mertua kamu itu ibu, bapakku. Ingat itu.” Ia melipat kan kedua tangannya di dada, aku tahu dia kesal. Hanya saja aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah lah,Yu. Jangan buat keributan lagi. Aku mau pulang, aku sudah lelah." Akhirnya Ayu menuruti kata-kataku, walau pun mulutnya terus mengerutu tidak jelas. Selang beberapa menit, acara sidang di mulai.


Saat sudah memasuki ruangan, aku melihat Bella. Ia terus menatap ke depan tanpa menoleh ke arahku. Aku juga bisa melihat Arka tengah digendong oleh ibu mertuaku. Saat aku melihat Arka dalam gendongan neneknya. Hati ini seperti ada yang berdesis, ada rasa sakit saat melihat anakku berada jauh dariku. Rasanya aku ingin memeluk anakku, hanya saja aku tidak bisa melakukannya.


1 jam kemudian, hakim mengetuk palu menandakan bahwa aku dan Bella resmi bercerai tanpa adanya mediasi lagi. Padahal aku ingin mencoba bermediasi dengan Bella, hanya saja ia menolak dengan keras.

__ADS_1


“Dengan ini, saudara Gibran dan juga Bella Hairun sudah resmi bercerai. Dan kalian sudah bukan lagi suami Istri,” ujar hakim disambut bahagia oleh keluarga Bella. Ayu dan ibuku hanya diam sambil menatap sinis ke mantan besannya. Sebelum memutus kan pulang, aku mencoba menghampiri keluarga Bella untuk bertemu dengan Arka anakku.


“Pak?” Ia menoleh padaku dan menatap tajam ke arahku.


“Mau apa kamu, Hah! Kurang puas kah kamu bikin anak saya menderita!? Apa kamu lupa apa yang saya bilang tadi? Kau sudah bercerai dengan anakku Bella. Kalau kamu muncul di hadapan saya, saya tak segan-segan tebas leher kamu dengan parang!" Mertuaku langsung maju dan ingin menyerangku.


“Pak, tenang dulu. Saya datang ke sini hanya ingin bertemu dengan anak saya, Arka.” Aku mencoba berbicara dengan dirinya, walau pun nyawa ini jadi taruhannya.


“Puih!” lagi-lagi ia meludah ke samping. “Masih ingatkah kamu dengan Arka anak kamu sendiri? Masih punya muka juga kamu ingin menemui cucuku! Selama kamu bersama dengan anak saya, apakah kamu ingat dengan anak kandungmu ini!” Ia menunjuk cucunya yang saat ini tengah digendong oleh neneknya.


“Saya tahu, ini salah dan semua ini memang salah saya. Saya benar-benar menyesal. Maka dari itu izin kan saya bertemu dengan Arka, saya ingin peluk dia saya ingin lihat dia.” Mertuaku masih menatapku dengan kebencian, tak lama ia menatap istrinya. Istrinya menganggukkan kepalanya. Tanda ia memberi kesempatan padaku untuk memeluk Arka.


"Kasih, Yah. Biar bagai mana pun. Arka anak dia."


"Tapi, Mah dia sudah--" ucapan Pak Sugeng langsung terhenti ketika istrinya memberi isyarat untuk diam. Tak ku sangka. Bapak mertuaku yang terlihat menyeramkan langsung nurut dengan istrinya.


Perlahan, aku meraih Arka dari gendongan neneknya. Aku begitu terharu, untuk sekian lama, akhirnya aku bisa memeluk anakku.


“Jangan lama-lama gendong cucu saya,” ujar mertua perempuanku. Aku hanya menganggukkan kepala. Akhirnya aku bisa memeluk anakku dan mendekapnya. Ini adalah sebuah anugerah untukku. Kenapa di saat aku sudah berpisah dengan Bella. Aku jadi merasa berat jauh dengan Arka. Kenapa? Kenapa rasa penyesalan ini muncul saat mereka berdua sudah jauh dariku.


“Berikan cucuku, kami semua mau pulang.” Dengan berat hati aku memberikan anakku, tanpa sengaja mataku melihat ke arah keca jendela. Aku melihat Bella sedang menatapku tak lama ia menutup pintu kaca mobilnya. Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan ku sendiri di sini. Itulah terakhir aku bertemu dengan Bella, bahkan surat akte cerai pun sudah datang ke rumahku begitu juga dengan Bella.

__ADS_1


__ADS_2