
“Ayah, lepas. Bunda masih mau di sini, Bunda masih ingin bicara sama Gibran. Budan juga mau tuntun Gibran, dia sudah bikin wajah anak kita babak belur."
"Biarlah, anak kita memang pantas mendapatkanya dari Gibran, setidaknya, ini menjadi pelajar untuk dirinya."
"Kenapa Ayah bilang kaya gitu, seharusnya kamu tegas dong jadi orang tua. Masa membiarkan anak kita babak belur gitu. Ayo kita lapor polisi."
“Sudah cukup! Jangan bikin masalah.” Pak Rahmat terus menyeret istrinya hingga keluar rumah. Aku merasa lega, akhirnya mereka berdua telah pergi dari hadapanku.
"Akhirnya mereka berdua pergi juga. Ibu sudah lelah berurusan sama keluarga Ayu yang gila itu."
"Aku juga sama, Bu. Aku juga kapok."
Sudah 6 bulan aku berpisah dengan Ayu. Walau pun ia terus saja menerorku dengan pesan bernada mengancam.
[Mas, pokoknya kamu harus tanggung jawab atas kehamilan aku. Aku enggak mau rawat bayi ini sendirian]
[Kenapa pesan aku cuma dibaca, Mas. Lihatlah perutku, perut ini sudah besar. Sebentar lagi aku akan melahirkan bayi ini]
[Mas, kalau kamu tidak mau tanggung jawab. Bayi ini akan aku bunuh]
[Mas, aku kangen sama kamu. Tolong jangan tinggalkan aku, Mas. Aku enggak bisa hidup tanpa kamu, Mas]
Itulah sederet pesan yang dikirim oleh Ayu. Tapi aku tidak peduli. Biar lah ini semua menjadi ujian untuknya agar menjadi wanita baik di masa depan.
...
“Gibran?”
“Iya, Bu.”
“Ini ada undangan pernikahan dari mantan istri kamu Bella. Ibu dapat undangan ini dari seorang kurir.” Aku menatap nanar undangan itu, tak kusangkak. Bella akan menikah dengan pria lain. Dan Arka akan mempunyai ayah sambung yang baru.
Aku meraih undangan tersebut, tertera Bella Hairun dan Ahmad Ikbal. Nama calon suami Bella yang sekarang.
“Kamu enggak apa-apa, Nak?” tanya ibuku, ia pasti khawatir dengan raut wajahku yang mulai sendu.
“Aku enggak apa-apa, Bu.”
__ADS_1
“Yang sabar ya, Nak. Mungkin kamu belum bisa berjodoh sama Bella. Mungkin Allah sedang menguji kamu dengan masalah ini.”
“Iya, Bu. Gibran paham kok. Ibu mau datang? Acaranya 2 minggu lagi loh. Sekalian ketemu sama cucu ibu di sana.” Ia menganggukkan kepalanya, disertai air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.
"Ibu, mau. Ibu juga mau minta maaf sama keluarganya Bella." Kupeluk tubuh tuanya dalam dekapanku. Ibu terus saja menangis dengan semua ini.
2 minggu kemudian.
“Ibu sudah siap?”
“Sudah, Nak. Ayo kita berangkat sekarang. Acaranya lumayan jauh loh.” Selama perjalanan menuju acara pernikahan Bella. Ibu terus saja bercerita tentang cucunya. Ia tidak sabar jika bertemu cucunya. Ia akan memeluknya, bahkan sudah menyiapkan mainan untuk Arka.
“Bu, kita sudah sampai. Ayo kita turun.”
“Ayo.” Setelah turun dari mobil. Aku dan ibuku masih diam berdiri depan pintu hotel. Ada rasa ragu untuk masuk ke dalam, bahkan ibuku juga terlihat ragu.
“Bu.” Kugenggam tangannya, memberinya kekuatan agar ia siap masuk ke dalam.
“Ibu takut.”
“Jangan takut, ada aku di sini.” Akhirnya kami berdua masuk ke dalam, banyak sekali orang yang hadir di acara pernikahan ini. Ibuku masih takut-takut untuk masuk lebih dalam. Mungkin dia merasa tidak enak dengan keluarga Bella. Karena telah menyakiti anak perempuannya.
“Bu, kita salaman dulu sama pengantin.”
“Tapi, Nak. Ibu.”
“Enggak usah takut, mereka tidak akan menyakiti ibu, percayalah.” Ibuku pun setuju dengan ucapanku. Kami berdua melangkah ke pelaminan untuk bersalaman dengan kedua pengantin. Ketika sudah sampai, aku melihat kedua mantan mertuaku.
Ia begitu terkejut dengan kehadiran kami berdua. Walau pun kami pernah berseteru, aku tetap bersalaman dengan mantan mertuaku. Awalnya ia menolak, tetapi istrinya memberi keringanan untukku.
"Pak, sudahlah. Terima saja jabatan Gibran. Kita ini sedang berbahagia loh." Dengan napas panjangnya, ia terpaksa menerima jabatan tangan dariku. Begitu juga dengan ibuku ikut bersalama dengan mantan besannya.
Tibalah saat aku bersalaman dengan kedua pengantin. Pertama, aku bersalaman dengan suaminya. Setelah itu aku pindah ke arah Bella.
Ada desiran kecil menusuk hati ini. Kutatap wajah cantiknya. Ia masih sama cantiknya seperti dulu saat aku meminang dia pertama kali.
“Selamat atas pernikahan kamu, aku turut bahagia atas pernikahan kamu dengan suami kamu yang baru. Aku harap, kamu selalu berbahagia selamanya.”
__ADS_1
“Terima kasih, atas doanya. Dan terima kasih sudah jauh-jauh datang ke sini.”
“Mamah.” Aku menoleh ke arah sumber suara, ternyata ada anakku di sini. Aku kembali menoleh ke arah Bella. Sepertinya ia paham maksud dari tatapanku.
“Silakan kalau mau peluk Arka, aku tidak melarangmu khusus hari ini.” Senyumku terbuka lebar, aku senang ia memberiku izin untuk memeluk anakku.
Aku berjongkok di depan anakku, kurentangkan kedua tanganku. Dan ku peluk erat tubuh mungilnya. Kucium kedua pipinya.
“Arka, ini Ayah Nak. Ayah rindu sama kamu.”
“Ayah?”
“Iya, Nak. Ini Ayah.” Kupeluk tubuhnya sekali lagi, tak terasa air mataku ikut keluar membasahi pipiku. Suasana berubah menjadi haru. Orang-orang sekitar melihat ke arahku. Ada beberapa orang yang ikut merasakan harunya.
Kuserahkan Arka ke neneknya, neneknya tak kalah haru denganku. Aku juga meminta izin pada Bella untuk membawa Arka duduk makan bersamaku. Untungnya ia mengizinkanku.
Ibuku terlihat senang, bisa melihat cucunya lagi. Tak lupa ia memberikan mainan ke cucunya.
"Buat, Arka."
"Ye, terima kasih."
"Cucu Nenek memang anak yang hebat ya." Kubiarkan ibuku bermain dengan cucunya. Sedangkan diriku terus memperhatikan Bella yang tengah berbahagia dengan suami barunya. Jika mengingat masa lalu, betepa kejamnya diriku menyiksa Bella dan juga Arka.
Tibalah waktuku untuk pulang, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku langsung pamit pulang ke mereka semua.
"Aku pulang dulu ya, sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahan Mas di masa lalu dan juga sekarang. Kalau saja, Mas tidak melakukan ini semua. Mungkin kita masih bersama selamanya."
"Ini semua sudah terjadi, dengan kejadian ini. Kamu jangan pernah mengulagi hal yang sama dengan calon istri kamu nanti. Perlakukanlah dia dengan baik, jangan kamu siksa batinya saat bersamamu."
"Aku tahu itu, akan kuingat-ingat nasehat kamu." Akhirnya aku pulang Ini semua sudah berakhir. Semoga aku bisa menemukan jodohku dan akan kujadikan ratu dihidupku.
“Bagai mana perasaan kamu, Nak?”
“Sejujurnya, hatiku hancur, Bu. Melihat Bella bersanding dengan laki-laki lain. Apalagi Arka sudah mempunyai sosok ayah baru. Aku yakin sekali, laki-laki itu adalah pilihan terbaik untuk Bella dan juga Arka. Apalagi, ia menjadi janda cukup lama. Tidak seperti diriku yang hina ini.” Ibu mengusap punggungku dengan lembut, ia juga memeluk tubuhku dengan kasih sayangnya.
“Ibu doakan, semoga kamu bisa mendapatkan jodoh lagi. Dan ibu janji tidak akan ikut campur lagi dalam urusan rumah tangga kamu, ibu akan bersikap baik terhadap calon istri kamu dan memberikan kenyamanan agar dia betah tinggal di sini.”
__ADS_1
“Terima kasih atas doanya. Ibu memang paling terbaik dihidupku.”