Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi

Penyeselanku Datang Ketika Ia Sudah Pergi
Gibran menyesal menikah dengan Ayu


__ADS_3

AYO WARGA TIKTOK, HADIR LAH DI NOVEL INI🄰 JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE YA


3 tahun sudah berlalu, saat aku sudah berpisah dengan Bella dan membangun rumah tangga dengan Ayu. Sayangnya, selama berumah tangga dengan Ayu. Bukan ketenangan atau kedamaian yang aku dapatkan, melainkan rasa kecewa, marah, lelah, bahkan rasanya dirinya ini ingin mati menjalani biduk rumah tangga dengan Ayu.


"Yu, kenapa sarapan belum kamu siapin? Kamu tahu kan aku mau berangkat kerja." Aku tengah sibuk, mencari baju kerjaku yang entah di mana di letakan oleh Ayu. Dia bilang baju kerjaku ada di lemari, nyatanya tidak ada satu pun.


"Beli aja Mas, aku lagi sibuk nih. Kamu enggak lihat aku lagi perawatan kuku?" Aku mendesah pelan melihat tingkah Ayu yang semakin menjadi-jadi, bukannya melayaniku dengan baik. Dia malah mengurusi dirinya sendiri.


"Yu, mau sampai kapan Mas beli sarapan di luar terus? Selama kita menikah kamu enggak pernah masak buat aku, bahkan Ibuku saja sampai turun tangan untuk masak.


"Aduh, Mas! Kamu ini orangnya ribet banget sih! Kamu punya duit 'kan? Tinggal beli aja sih, kamu enggak lihat aku lagi sibuk. Aku ini lagi perawatan kuku, aku enggak mau kalau kuku aku sampai rusak." Aku mengusap wajahku dengan kasar, kenapa aku bisa menikahi wanita seperti Ayu yang hanya bisa mempercantik dirinya.


"Yu, kamu bilang baju kerja, Mas ada di lemari. Kok aku cari enggak ada." Sekilas Ayu menoleh padaku dan mengeritkan keningnya.


"Masa sih?" Setelah bicara singkat, ia kembali merawat kukunya dan tidak peduli lagi denganku, padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seharusnya aku sudah di jalan menuju kantor.


"Yu, tolonglah suamimu ini. Aku mau kerja, tapi baju kerja aku enggak ada di lemari. Kamu bilang baju kerja aku sudah dicuci plus digosok. Tapi kenapa kosong." Tiba-tiba saja Ayu menghentikan kegiatanya. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah dapur. "Loh, Yu? Kamu mau ke mana? Kenapa malah pergi ke arah dapur?"


"Sebentar, Mas," teriak Ayu tergesa-gesa menuju dapur. Aku pun mengikutinya dari belakang. Saat sudah dekat dengan Ayu, ia hanya diam mematung sambil melihat ke arah mesin cuci yang sudah tertumpuk baju kotor.


"Mas," lirihnya disertain wajah sendu, ia memasang wajah memelas.

__ADS_1


"Kenapa, Yu? Baju kerja aku mana? Kenapa kamu malah lihat mesin cuci?" Aku menatapnya heran, ia masih saja memasang wajah memelas.


"Itu--" Ayu menunjuk ke arah mesin cuci. Aku pun menghampiri mesin cuci yang sudah tertupuk baju. Saat aku melihat tumpukkan baju, betepa terkejutnya aku melihat baju kerjaku masih ada di mesin cuci terkabung dengan baju kotor lainnya.


"Maaf, Mas. Ayu lupa cuci baju kamu. Seingat aku, aku sudah cuci baju kerja kamu." Aku mengusap wajahku dengan kasar, menahan emosi yang sudah aku tahan dari dulu. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam, agar emosiku tidak keluar. "Mas, jangan marah ya. Nanti deh baju, Mas aku cuci," ujarnya bergelayut manja, membuatku muak setengah mampus.


"Kenapa kamu bilang sama, Mas. Kalau bajunya sudah dicuci? Kalau semua baju kerja kotor, lalu aku pakai baju kerja apa?"


"Pinjam saja dulu ke teman, Mas."


"Matamu itu!" Aku berdesis dengan idenya, dia pikir temanku tidak kerja apa, "kalau begitu, cuci baju aku sekarang. Aku akan minta sama bos, untuk masuk siang hari ini." Aku berlalu pergi meninggal kan Ayu sendirian di ruang mesin cuci.


"Gibran, kamu sudah sarapan?" tanya Ibu, baru saja bangun tidur. aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Gibran belum makan Bu, kata Ayu aku harus beli sarapan di luar." Ibu hanya berdengus kesal.


"Ya, sudah. Untuk sementara kamu berangkat saja dulu. Kamu beli saja makan di luar. Sana berangkat kerja, nanti bisa telat loh." Aku masih diam di depan ibuku. Membuat ia keheranan atas sikapku, "loh, kenapa diam? Sana berangkat kerja, kamu mau bolos kerja? Ingat, Bran. Utang kamu masih banyak, jangan sampai kamu dipecat dari perusahaan. Ibu enggak mau rumah ini diambil sama Bank!"


"Gimana Gibran mau kerja, Bu. Baju kerja aku saja masih kotor, tidak ada satu baju pun yang bersih. Ayu bilang, sudah dia cuci kemarin. Nyatanya baju kerja aku masih di mesin cuci."


"Apa kamu bilang? Ayu cuci baju? Kapan?"

__ADS_1


"Kemarin, dia bilang kemarin cuci baju kerja aku kok." Ibu hanya menggelengkan kepala, dan tertawa lepas, "ibu kok ketawa? Ada yang lucu."


"Gibran, Gibran. Kamu mau saja dibohongi oleh Ayu. Kemarin itu, istri kamu tidak ada di rumah seharian. Dia pergi entah ke mana, Ibu enggak tahu. Yang jelas, dia baru saja pulang. Saat kamu baru saja sampai rumah."


"Masa sih, Bu? Kemarin dia bilang, cape. Habis mengerjakan pekerjaan rumah seharian. Bahkan Ibu tidak mau membantu Ayu." Dengan kuat ibu memukul lenganku.


"Heh! Jangan fitnah sembarangan ya! Kamu tahu tidak, seharian itu. Yang mengerjakan pekerjaan rumah itu Ibu! Bukan Ayu! Kamu itu sudah dibohongi sama istri kamu!" Ibu terlihat kesal saat aku menceritakan tentang Ayu. Yang katanya beres-beres rumah seharian. Nyatanya dia pergi entah ke mana, dan membiar kan ibuku bekerja di rumah.


Aku yang sudah kepalang kesal, memutuskan untuk menemui Ayu di dapur, sekaligus melihat pekerjaanya. Apakah ia sudah mencuci bajuku atau belum.


"Ayu, kamu sudah selesai cuci baju, Ma--" ucapanku terhenti saat aku melihat mesin cuci masih tertumpuk. Bahkan belum dibilas sama sekali, "ke mana dia? Kenapa dia enggak ada di sini? Katanya mau cuci baju kerja aku." Aku berjalan ke mesin cuci, ternyata bajuku belum ia cuci. Ya, Allah. Apakah ini hukuman untukku karena aku telah membuang Bella dan juga anakku? Gara-gara keegoisan diriku untuk menikah dengan Ayu? Apakah ini karma untuk ibuku yang selalu saja memperlakukan Bella dengan buruk dan engkau kirim Ayu untuk jadikan ibuku pembantu di rumah sendiri?


"Ayu! BUKA PINTUNYA! MAS TAHU KAMU ADA DI KAMAR! BUKA PINTUNYA!" Aku terus menggedor pintu kamar, aku tahu dia sedang di kamar sambil nonton drakor di laptopnya, "AYU, BUKA PINTU! KALAU KAMU TIDAK BUKA PINTU KAMAR INI. AKAN AKU HANCURKAN PINTU INI!" ancamku, tak berapa lama. Ia pun membuka pintu dengan wajah masamnya.


"Apa sih, Mas! Kamu jangan kaya orang gila. Kenapa kamu teriak di depan kamar kita?"


"Ini." Aku memperlihatkan baju kotor di tanganku, "kenapa baju aku tidak kamu cuci? Aku suruh kamu cuci baju kerja, Mas. Kenapa kamu enggak laksanakan perintah saya?" Ia hanya mencibikkan bibirnya dan melihat kukunya yang baru saja ia rawat.


"Mas, bisa lihat kuku aku kan? Mas tahu enggak? Aku habis rawat kuku ini loh. Kalau aku cuci baju kotor di mesin cuci, aku takut kuku aku rusak. Makanya, baju Mas enggak aku cuci."


"AAAA......!!!!" Aku menjambak rambutku dengan keras dan berteriak kencang meluapkan emosi yang sudah aku pendam lama.

__ADS_1


__ADS_2