
“Bran, itu di depan rumah mobil siapa ya? Kok parkir di halaman rumah kita.” Aku mengikuti arah telunjuk ibu.
“Iya, kok bisa ada mobil? Kusipitkan mataku agar terlihat jelas, mobil siapakah yang terparkir di halaman rumahku, “ya, sudah. Gibran turun duluan ya. Soalnya mobil enggak bisa masuk.” Saat aku sudah mendekati mobilnya, aku baru sadar. Mobil ini milik orang tua Ayu. Kupercepat langkahku untuk melihat ke dalam rumah, apalagi pintu rumahku terbuka lebar.
Setelah mengucapkan salam, kedua orang tua Ayu menoleh ke arahku. Ternyata benar, mereka berdua
datang ke sini.
“Bapak, Ibu? Sudah lama ada di sini?” tanyaku, hanya saja tatapan mereka berdua tidak bersahabat. Aku mencoba untuk bersalaman ke mertuaku hanya saja ditolak.
“Enggak usah salim, langsung saja ke intinya. Ibu kamu di mana? Kata anak saya, kamu jalan-jalan ya ke Mall? Kok anak saya enggak kamu ajak?” tanya mertua laki-laki, bernama pak Rahmat. Sebelum aku menjawab pertanyaan mertuaku, tiba-tiba saja Ayu datang.
“Mas, kamu baru pulang? Kok lama sih? Dari tadi aku nungguin kamu loh.”
“Tadi di jalan macet, jadinya lama pulang ke sininya.” Seketika wajah Ayu langsung berubah sedih. Aku menatap heran dengan ekspresi wajahnya yang tidak biasa, tak lama, ibuku masuk
ke dalam setelah mengucapkan salam.
“Loh, ada orang tuanya Ayu toh? Jadi mobil yang ada di halaman itu punya kalian?”
“Iya, memangnya kenapa? Tidak boleh, kalau mobil suami saya terparkir di halaman rumah.” Ibuku tersentak kaget dengan ucapan ibu Ayu yang begitu ketus menurutku.
__ADS_1
“Bu-bukan begitu. Saya Cuma tanya saja. Saya kan tidak tahu, kalau mobil itu punya suami. Yang saya tahu kan model mobil suami Ibu bukan yang ini.”
“Mobil yang biasanya lagi ada di rumah, kebetulan ini mobil baru yang kemarin dibeli sama suami saya,” Ibuku memutar bola matanya ke arah lain, ia malas mendengar besanya selalu saja pamer dengan harganya.
“Baru punya mobil kayak gitu aja sombong! Dasar pamer.” Gerutunya, membuat bunda Ayu mengerikan keningnya.
“Nak, sini. Kamu duduk sama Bunda saja. Jangan dekat dengan mertua dan suami kamu. Bisa-bisa kamu diperlakukan buruk sama mereka.”
“Maksud perkataan Ibu apa ya? Kenapa bicara seperti itu?” Jujur saja, emosiku sudah mulai terpancing saat kedua orang tua Ayu berkata ketus terhadap ibuku.
“Gibran? Langsung ke intinya saja, bisa kah kamu duduk dulu.”
“Iya, Pak.” Aku langsung duduk berhadapan dengan mertuaku, begitu juga dengan ibuku.
“Saya bukannya tidak mau ajak Ayu jalan-jalan, niat saya memang ingin jalan-jalan berdua dengan ibu saya. Apakah saya salah?”
“Salah, dong! Harusnya kamu ajak anak saya jalan-jalan. Selama anak saya menikah sama kamu, anak saya selalu kamu tinggal. Bahkan tidak boleh
pergi ke mana-mana sama kamu.”
“Apa!” Spontan aku menatap Ayu, ia pun langsung membuang muka. Bahkan pura-pura main hp.
__ADS_1
“Kalau memang kamu tidak mau ajak dia jalan-jalan. Setidaknya izin kan dia untuk pergi keluar bersama teman-temannya. Kamu jangan jadi suami dzolim ya, ingat dosa!”
“Maaf, Pak Rahmat! Sepertinya ada yang salah paham. Sejak kapan saya tidak mengizinkan anak Bapak untuk keluar rumah? Asal Bapak tahu ya, hampir setiap hari. Anak Pak Rahmat selalu keluar rumah. Bapak tahu, jam berapa dia pulang ke rumah? Jam 12 malam!” Sengaja kutekan kata 12 malam, agar orang tuanya paham dengan kelakuan anaknya.
“Yah, jangan percaya sama ucapan Mas Gibran. Dia bohong!” ujar Ayu disertai dengan tampang sesedih mungkin, aku tahu dia hanya berpura-pura di depan orang tuanya agar dia bisa mendapat pembelaan.
“He, Ayu! Kamu jangan fitnah anak saya, ya!” ibuku langsung menunjuk ke arah mantunya dengan wajah sangarnya.
“Jangan tunjuk anak saya!” Bahkan bundanya Ayu saja tidak terima anaknya ditunjuk oleh ibuku, “ mana mungkin anak saya bohong, dia cerita sama saya sambil nangis-nangis, katanya dia sering disuruh sama ibu untuk bersihin rumah sampai seharian, bahkan anak saya tidak diberi jatah istirahat oleh ibu!” mata Ibuku langsung melotot sempurna setelah mendengar perkataan besarnya.
“Siapa yang bilang kalau saya suruh Ayu untuk bersihkan rumah ini selama seharian bahkan tidak ada istirahatnya? Siapa yang bilang? Justru anak Ibu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah selama menikah dengan anak saya! Setiap kali saya meminta tolong, dia tidak pernah mau membantu, bahkan menganggap saya mertuanya itu sebagai pembantu.”
“Ibu jangan bohong ya sama saya. Anak saya ini adalah anak baik-baik Dia adalah anak yang rajin!” Perdebatan terus saja berlanjut, bahkan ibunya Ayu dan juga ibuku tidak ada yang mau mengalah karena sama-sama membela anaknya. Tak tahan dengan perdebatan mereka berdua akhirnya aku meluapkan emosiku.
“KALIAN BERDUA TOLONG DIAM!” Mendadak mereka semua kaget dengan teriakanku. Hening tidak ada yang bicara satupun, “ Tolong jangan ada keributan lagi saya sudah lelah dengan semua ini, dan untuk kedua orang tua Ayu silakan pergi dari rumah saya, untuk saat ini saya tidak ingin banyak bicara!” seketika Bapak Mertuaku langsung berdiri dengan tatapan tajamnya ke arahku.
Lancang sekali mulut kamu Gibran! Kami berdua ini mertua kamu, jangan coba-coba usir kami! Kami ke sini itu datang baik-baik untuk membicarakan anak saya yang selalu diperlakukan buruk sama ibu kamu! Saya sebagai orang tua Ayu, jelas tidak terima jika anak saya diperlakukan buruk oleh ibu kamu, kami saja sebagai orang tuanya aja tidak pernah tuh memperlakukan anak kami dengan buruk.”
“Saya kasih tahu ya sama bapak bagaimana kelakuan anak bapak yang sebenarnya, selama dia menikah dengan saya dia tidak pernah melakukan apa-apa di rumah, yang dia lakukan hanyalah masuk ke dalam kamar, rebahan, main HP sambil nonton drama Korea, justru Ibu saya lah yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah bahkan menyiapkan makanan untuk saya, selama Ayu menikah dengan saya, dia tidak pernah masak untuk saya.”
Loh, terus kamu menikah dengan Ayu tujuannya untuk ap kalau untuk beres-beres rumah, siapkan makanan untuk kamu, kenapa nggak sewa pembantu saja, kenapa harus anak Saya mengerjakan itu semua? Anak saya aja tidak pernah saya suruh untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Di rumah sudah ada pembantu.”
__ADS_1
“Oh pantes aja anaknya nggak pernah beres-beres rumah, ternyata didik orang tuanya kayak gini toh.” cetus Ibuku membuat kedua orang tua Ayu langsung menatap tak suka padanya.
“Maksud Ibu Ratih ngomong kayak gitu tuh apa? Memangnya salah kalau saya tidak pernah menyuruh Ayu untuk beres-beres rumah? Saya juga Sama kok tidak pernah disuruh melakukan apa-apa di rumah sama orang tua saya, karena di rumah saya ada pembantu.” Ibuku mengangkat bibirnya lalu tersenyum ke arahnya dengan tampang meremehkan.